Agroforestri – Pengertian, Manfaat Serta Tujuan

Agroforestri adalah solusi untuk masalah konversi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian. Konversi lahan yang mengakibatkan masalah lingkungan seperti banjir, kekeringan, erosi tanah, kelangkaan / kepunahan keanekaragaman hayati, penurunan kesuburan tanah hingga perubahan lingkungan dapat dikurangi dengan sistem agroforestri.

Pengertian Agroforestri

Agroforestri adalah sistem budidaya tanaman kehutanan yang dilakukan bersama dengan tanaman pertanian / peternakan. Tanaman kehutanan yang dimaksud adalah tanaman pepohonan, sedangkan tanaman pertanian berkaitan dengan tanaman semusim.

Pengertian agroforestri dapat dijelaskan secara lebih luas, yaitu penggabungan sistem budidaya kehutanan, pertanian, perikanan, dan peternakan.

Istilah agroforestri berasal dari kata serapan bahasa Inggris, yakni “agroforestry”. Agro yang berarti pertanian, sedangkan forestry berarti kehutanan.

Di Indonesia, sistem ini seringkali disebut dengan istilah “wanatani” yang merupakan gabungan dari kata “wana” dan “tani” yang berarti hutan tani. Pada prakteknya, agroforestri ialah suatu sistem pengelolaan lahan yang berguna untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Agroforestri Menurut Ahli

Selain pengertian agroforestri secara umum diatas, ada beberapa definisi lain yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:

  • Menurut Hudges (2000), agroforestri adalah bentuk menumbuhkan dengan sengaja dan mengelola pohon bersama dengan tanaman pertanian dan atau pakan ternak dalam sebuah sistem dengan tujuan berkelanjutan secara ekolohi, sosial dan ekonomi. Dengan sederhana, dapat dikatakan menanam pohon dalam sistem pertanian.
  • Menurut Reinjntjes (1999), agroforestri merupakan pemanfaatan tanaman kayu tahunan meliputi pepohonan, belukar, palem, atau bambu secara seksama pada unit pengelolaan lahan yang sama dan layak tanam. Kegiatan ini dilakukan dengan pengaturan ruang secara campuran atau lokasi yang sama secara berurutan dan berkelanjutan.
  • K.F.S King dan M.T Chandler (1979) menjelaskan jika agroforestri ialah sistem pengelolaan lahan berkelanjutan dan mampu meningkatkan produksi lahan secara menyeluruh. Agroforestri merupakan kombinasi produksi tanaman pertanian dengan tanaman hutan dan atau hewan ternak secara bergiliran atau bersamaan pada bidang lahan sama dengan teknik pengelolaan praktis sesuai budaya setempat.
  • Lundgren dan Raintree (1982) mengartikan agroforestri sebagai istilah kolektif untuk sistem dan teknologi penggunaan lahan secara terencana pada unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu seperti pohon, perdu, bambu dan palem dengan tanaman pertanian dan atau hewan ternak yang dilakukan pada waktu bersamaan atau bergiliran sehingga timbul interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen.
  • Naik PKR (1933), menurutnya agroforestri adalah sistem penggunaan laahn terpadu mencakup aspek sosial dan ekologi yang dilakukan melali kombonasi pepohonan dengan tanaman pertanian dan atau hewan ternak secara bersamaan atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan dapat tercapai hasil ganda dan optimal secara berkesinambungan.
  • Huxley (1999), agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu atau bisa pula dengan rerumputan, ternak dan hewan lain sehinga tercipta interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen.

Konsep Agroforestri

Konsep agroforestri merupakan rintisan dari tim Canadian International Development Centre yang melakukan kegiatan identifikasi prioritas pembangunan dalam bidang kehutanan di negara berkembang pada kisaran tahun 1970-an. Tim ini menyimpulkan jika hutan di kawasan berkembang belum cukup dimanfaatkan dan hanya terbatas pada aspek, yaitu:

  • eksploitasi selektif hutan alam
  • tanaman hutan secara terbatas

Oleh sebab itu, agroforestri diharapkan mampu mengoptimalkan penggunaan lahan dan mencegah perluasan lahan terdegradasi, melestarika sumber daya hutan, meningkatkan mutu pertanian dan menyempurnakan intensifikasi serta diversifikasi silvikultur.

Akan tetapi, jauh sebelum itu sistem agroforestri telah dilakukan oleh petani di Indonesia selama berabad-abad dengan istilah berbeda.

Dari pengertian agroforestri maka dapat disimpulkan jika sistem ini sangat bervaraisi dan dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteris-kriteria sebagai berikut:

  1. Secara Struktural adalah berkaitan dengan komposisi komponen, seperti sistem agrisilvikultur, silvopastur, agrisilvopastur dan lainnya
  2. Secara Fungsional adalah terkait fungsi atau peranan utama suatu sistem, terutama komponen tanaman kayu
  3. Secara Sosial Ekonomis adalah berkaitan dengan tingkat masukan dalam suatu pengelaolan, meliputi masukan rendah atau tinggi, intensitas dan skala pengelolaan, tujuan usaha, sub sistem, komersial dan intermedier
  4. Secara Ekologis adalah menyangkut kondisi lingkungan dan kesesuaian ekologis penerapan sistem agrisilvikultur, silvopastur, agrisilvopastur dan lainnya

Dapat disimpulkan pula bahwa komponen utama agroforestri terdiri dari kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan.

Manfaat Agroforestri

Pengembangan wanatani dilakukan agar memberikan manfaat kepada masyarakat. Adanya agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah dalam hal pengembangan pedesaan.

sasaran agroforestri PERHUTANI

Berikut ini beberapa manfaat dari agroforestry:

  • Membantu penggunaan lahan secara optimal sehingga dapat memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat
  • Meningkatkan daya dukung ekologi manusia terutama di daerah pedesaan. Agroforestri juga bisa dimanfaatkan untuk menjamin dan memperbaiki kebutuhan pangan
  • Meningkatkan persediaan pangan pada tiap musim, sehingga petani dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun untuk memperoleh manfaat ini, maka petani harus memperhatikan kualitas nutrisi, pemasaran serta setiap proses yang terjadi pada agroforestri
  • Memperbaiki penyediaan energi lokal terutama produksi kayu bakar
  • Meningkatkan dan memperbaiki produksi bahan mentah hasil kehutanan maupun pertanian. Umumnya peningkatan produksi bahan mentah ini dilakukan secara kualitatif dan diversifikasi. Selain itu, biasanya juga dilakukan dengan memanfaatkan berbagai jenis pohon dan perdu
  • Memperbaiki kualitas hidup terutama di daerah pedesaan, terutama di daerah miskin. Agroforestri dapat meningkatkan pendapatan serta tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat
  • Meningkatkan kinerja usia produktif (usia muda) di pedesaan sehingga kualitas hidup dapat meningkat
  • Memelihara dan memperbaiki kemampuan dan kelestarian lingkungan setempat. Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya erosi tanah dan degradasi lingkungan

Selain itu, adanya agroforestri juga berkontribusi terhadap program Tantangan Tanpa Kelaparan PBB untuk menyudahi kelaparan global, mengurangi gizi buruk dan membangun sistem pangan berkelanjutan.

Tujuan Agroforestri

Agroforestri memiliki tujuan positif, terutama bagi lingkungan hidup. Salah satunya adalah sebagai upaya perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Sistem wanatani dapat menghasilkan keanekaragaman yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa.

Selain itu, agroforestri juga bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah serta mengelola sumber air agar tetap lestari dan menjadi lebih baik. Program ini bermanfaat pula sebagai pohon peneduh dan pohon pelindung, serta pagar hidup.

Seluruh tujuan yang menjadi target agroforestri akan tercapai jika pengelola atau petani mampu melakukan teknik pengembangan dengan baik.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar sistem wanatani berjalan dengan baik. Misalnya, mengadakan interaksi positif antara berbagai komponen penyusun, meliputi pohon, produksi tanaman pertanian, dan hewan atau ternak.

Interaksi positif juga dapat dilakukan antara komponen-komponen penyusun dengan lingkungannya. Interaksi tersebut sebaiknya dilakukan secara optimal agar pengembangan agroforestri dapat berjalan dengan baik.

Agroforestri merupakan suatu teknik yang baik dan menjadi pilihan petani untuk meningkatkan kualitas dari produktivitas lahan di tengah keterbatasan lahan. Selain itu, upaya ini juga berdampak baik untuk lingkungan. Sebab, metode ini dapat melindungi keanekaragaman hayati, serta tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Ruang Lingkup Agroforestri

Seperti yang telah disampaikan diatas, wanatani terdiri dari 3 komponen, antara lain kehutahan, pertanian, dan peternakan. Gabungan dari 3 komponen tersebut dapat menjadi:

  1. Agrisilvikultur adalah kombinasi antara komponen kehutanan dan pertanian
  2. Agropastura adalah kombinasi antara komponen pertanian dan peternakan
  3. Silvopastura adalah kombinasi antara komponen kehutanan dan peternakan
  4. Agrosilvopastura adalah kombinasi antara komponen pertanian, kehutanan, dan peternakan
contoh agroforestri Google Image

Terciptanya 4 sistem kombinasi tersebut, tidak seluruhnya merupakan bagian dari agroforestri atau wanatani, sebab agropastura tidak melibatkan komponen kehutanan. Agroforestri atau wanatani merupakan salah satu sitem alternatif yang perlu dikembangkan untuk menikmati jasa lingkungan hutan dan pangan dari sumber komponen pertanian.

Namun selain 4 sistem kombiansi diatas, masih ada sistem lain dalam agroforestri menurut Nair (1987), yaitu:

  1. Silvofishery adalah kombinasi antara komponen kehutanan dan perikanan
  2. Apiculture adalah kombinasi antara komponen kehutanan dengan serangga, misalnya lebah

Keunggulan Agroforestri

Ada beberapa keunggulan dari pengembangan agroforestri, antara lain rendahnya modal dan biaya tenaga kerja yang akan digunakan. Sebab, produktivitas lahan melalui siklus unsur hara dan perlindungan tanah mampu dilakukan dengan modal yang murah dan sedikit tenaga kerja.

Selain itu, agroforestri juga dapat meningkatkan nilai output pada suatu area lahan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya penanaman campuran antara pohon dan spesies lainnya.

Agroforestri juga dapat mendiversifikasi kisaran output dengan tujuan untuk meningkatkan swasembada. Diversifikasi dapat mengurangi hilangnya pendapatan yang mungkin terjadi terutama ketika cuaca buruk atau karena pengaruh faktor biologi dan faktor pasar.

Adanya diversifikasi bertujuan mendistribusikan kebutuhan input tenaga kerja secara lebih merata. Tentu saja hal ini tepat dilakukan di daerah pertanian tropis seperti di Indonesia.

Diversifikasi dapat pula menyediakan produktivitas untuk lahan, tenaga kerja ataupun untuk modal yang belum sempat dimanfaatkan. Melihat kelebihan tersebut, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak pengelolaan dan pengembangan lahan untuk agroforestri sehingga mencapai hasil yang maksimal.

Agroforestri pada akhirnya akan berdampak positif pada kehidupan sosial masyarakat yang memperoleh penghasilan dari penjualan hasil lahan.

jenis tanah sumur resapan Pixabay

Kelemahan Agroforestri

Selain memiliki kelebihan, tentunya agroforestri juga memiliki beberapa kelemahan, misalnya dapat mengurangi hasil tanaman pokok karena pohon-pohon yang ada akan bersaing dalam perolehan zat hara, cahaya matahari dan air.

Selain itu, sistem ini juga menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian pohon dengan kegiatan pertanian, contohnya aktivitas pembakaran dan pemakaian lahan bersama yang akan membuat perlindungan terhadap pohon menjadi berkurang.

Pohon-pohon di hutan juga akan merintangi tanaman pertanian, hal ini dapat berujung pada meningkatnya biaya tenaga kerja saat proses pengolahan. Di samping itu, keberadaan pohon yang merintangi tanaman juga akan menghambat kemajuan sistem pertanian. Maka dalam pelaksanaan agroforestri harus dilakukan dengan langkah dan perhitungan yang tepat agar tidak memberikan kerugian.

Agroforestri sebaiknya dilakukan dengan lebih teliti agar penerapannya dapat berjalan secara proporsional agar kelebihannya dapat diperoleh dan kelemahan dapat diminimalkan. Penerapan sistem agroforestri yang benar dan tepat tentu akan memberikan hasil optimal.