Air Permukaan – Pengertian, Jenis, Bentuk, Contoh & Manfaat

Air permukaan adalah air yang berkumpul pada suatu permukaan tanah. Air jenis ini terbuka secara alami ke atmosfer bumi dan dapat berasal dari aliran sungai, laut, danau, ataupun lahan basah lainnya. Cadangan air ini dipengaruhi oleh faktor curah hujan yang kemudian masuk melalui resapan tanah dan penguapan.

Air permukaan merupakan salah satu sumber daya alam yang penting untuk kebutuhan makhluk hidup, misalnya air minum, irigasi, hingga keperluan industri seperti tenaga thermoelectric untuk mendinginkan peralatan penghasil listrik.

Akan tetapi para ilmuwan mengatakan bahwa keseimbangan permukaan air harus dijaga agar tidak terganggu akibat pengambilan atau pemanfaaatan yang berlebihan.

Setiap kualitas air permukaan dapat berbeda-beda secara substansial antara satu dan lainnya. Oleh sebab itu, pemanfaatannya harus melalui tahapan uji klinis untuk menentukan apakah air tersebut benar-benar aman untuk digunakan secara langsung oleh makhluk hidup, terutama manusia.

Pengertian Air Permukaan

Air permukaan adalah air alami yang belum menembus lapisan tanah bagian terbawah. Jenis air ini tidak seperti air tanah yang terdapat di lapisan akhir tanah atau telah meresap hingga ke permukaan bumi paling dasar. Contoh yang bisa kita temui secara langsung adalah sungai, danau, lautan, dan juga lahan basah lainnya.

air permukaan Pixabay

Sebagian besar air permukaan berasal dari curah hujan atau limpasan pada kawasan sekitarnya. Tidak semua limpasan ini berakhir di sungai, ada beberapa diantaranya yang menguap, beberapa diserap oleh tanaman, dan sebagian lainnya mengalir kembali ke tanah untuk mengisi ulang sistem air tanah di sekitarnya atau meresap kembali ke dasar sungai.

baca juga:  Leuwi Jurig - Keindahan Aliran Sungai dan Kolam Setan di Garut

Jenis Air Permukaan

Setidaknya ada tiga jenis air permukaan dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Permanen (Perennial)

Air permukaan permanen merupakan perairan di permukaan yang selalu tersedia hampir di sepanjang tahun. Jenis ini biasanya ditemukan dalam bentuk danau, mata air, sungai, ataupun rawa. Ketika suatu kawasan mengalami musim kemarau, maka permukaan air ini dipertahankan oleh kontribusi air tanah.

2. Semi-Permanen (Ephemeral)

Air permukaan semi-permanen biasanya berupa perairan yang hanya mampu menampung air selama setahun. Jenis ini berbentuk anak sungai kecil, lubang air, laguna, atau daerah dataran rendah di beberapa zona kering.

3. Buatan Manusia (man made)

Sesuai dengan namanya, air permukaan buatan manusia disimpan secara khusus dalam struktur buatan. Contohnya adalah bendungan, danau, rawa, ataupun kolam pengolahan limbah.

Contoh Air Permukaan Permanen

Berdasarkan jenis-jenis yang telah dijelaskan di atas, berikut ini adalah penjelasan mengenai contoh-contoh air permukaan permanen yang ada di lingkungan sekitar, antara lain:

1. Sungai

Seperti yang diketahui, sungai merupakan aliran air alami berupa air tawar yang mengalir menuju samudera, laut, danau, ataupun sungai lain di sekitarnya. Pada beberapa kasus, sungai mengalir kembali masuk ke tanah dan pada akhirnya menjadi kering diujungnya tanpa melewati genangan air lainnya.

daerah aliran sungai Pixabay

Para ahli berpendapat, sungai adalah bagian dari siklus hidrologi. Umumnya, air sungai berasal dari hujan yang melalui cekungan drainase dari limpasan permukaan ataupun sumber lainnya, seperti mata air, pelepasan air yang tersimpan di dalam es alami, kantong salju, ataupun air tanah.

baca juga:  Taman Nasional Kelimutu dan Pesona Danau Tiga Warna

Studi ilmiah yang fokus terhadap sungai adalah potamologi. Umumnya, sebagian besar kota besar di dunia selalu berada tepat di tepi sungai. Hal tersebut disebabkan karena sungai sering dijadikan sumber utama air demi mendapatkan makanan ataupun jalur transportasi.

Sungai juga sering dijadikan perbatasan suatu wilayah, ukuran pertahanan, sumber tenaga air untuk menggerakkan mesin, dan beragam keperluan mendasar lainnya.

2. Danau

Danau adalah badan air yang dikelilingi oleh daratan luas di sekitarnya. Jutaan danau tersebar di seluruh permukaan bumi. Danau juga bisa ditemukan di setiap benua dan berbagai jenis lingkungan, seperti gunung, gurun, dataran tinggi, hingga pantai.

danau kelimutu manusialembah.com

Sebagian besar orang bahkan sering mengartikan danau sebagai air yang diisi air. Area ini terlokalisasi dalam cekungan yang dikeliling tanah terlepas dari outlet lain yang berfungsi untuk mengairi ataupun mengeringkan danau tersebut.

Danau selalu terletak di daratan dan tidak menjadi bagian dari lautan. Oleh sebab itu, danau berbeda dengan laguna, bahkan jauh lebih besar dan dalam ketimbang kolam meski tidak ada definisi resmi ataupun ilmiah tentang jenis air permukaan permanen ini. Perbedaan danau dan sungai cukup kontras, salah satunya adalah air yang terdapat di danau tidak mengalir seperti air sungai.

Danau alami umumnya ditemukan di zona retakan, pegunungan, ataupun kawasan dengan penipisan berkelanjutan. Sementara danau lainnya ditemukan pada cekungan endorheic atau endorheic basins.

Selain danau alami, ada juga danau buatan yang memang sengaja dibangun untuk keperluan industri ataupun pertanian, pembangkit listrik tenaga air, pasokan air rumah tangga, hingga untuk tujuan estetika.

3. Rawa

Rawa dikenal sebagai lahan basah yang sekilas tampak seperti hutan belantara. Tak sedikit rawa yang terbentuk di sekitar sungai besar di mana rawa-rawa ini sangat bergantung pada fluktuasi ketinggian air alami. Sementara itu, ada juga beberapa rawa lain yang muncul di tepi danau besar.

baca juga:  Kecapi - Taksonomi, Morfologi, Habitat, Manfaat Buah & Kayu
rawa gambut bestahumendala

Sebagian rawa memiliki tonjolan lahan kering yang ditutupi oleh vegetasi air atau vegetasi yang memang masih mentolerir genangan periodik atau saturasi tanah.

Rawa dikenal memiliki karakteristik air yang bergerak lambat ke arah air yang tergenang. Biasanya, air di dalam rawa berupa air tawar, air laut, ataupun air payau. Beberapa rawa terbesar dan terpopuler di dunia ditemukan di sepanjang sungai besar, seperti Kongo, Mississippi, dan Sungai Amazon yang mendunia.  

Secara tradisional, rawa memiliki nilai ekonomi yang sangat rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan padang rumput, ladang, ataupun hutan. Sebab, rawa memiliki reputasi sebagai tanah tidak produktif yang tidak bisa digunakan secara mudah oleh manusia. Misalnya, para petani harus mengeringkan rawa terlebih dulu untuk bisa mendapatkan lebih banyak lahan yang hendak digunakan untuk menanam tanaman.

Tak sedikit masyarakat yang pada akhirnya menyadari peran rawa begitu penting untuk ketersediaan air bersih dan juga oksigen. Bahkan, rawa juga dikenal sebagai salah satu habitat atau tempat berkembang biak bagi banyak spesies makhluk hidup lainnya.