Angin – Pengertian, Proses Terjadi, Faktor Pengaruh, Jenis & Penyebab

Jenis Angin – Hembusan angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara di wilayah permukaan bumi serta dipengaruhi rotasi bumi. Perbedaan tekanan ini mengakibatkan pergerakan aliran massa udara dari daerah dengan tekanan udara tinggi menuju daerah bertekanan udara rendah.

Pengertian Angin

Angin adalah aliran udara dalam jumlah besar akibar rotasi bumi dan pengaruh perbedaan tekanan udara di permukaan bumi. Angin akan bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah. Tekanan udara yang tidak sama akan menyebabkan udara mengalir atau bergerak.

hembusan angin Pixabay

Angin terdiri dari beberapa jenis dan umumnya diberi nama sesuai asal datangnya, seperti angin darat, angin lembah, angin gunung, angin laut, dan sebagainya.

Proses Terjadinya Angin

Jika suatu kawasan mengalami cuaca panas, maka udara akan memuai sehingga lebih ringan dan naik ke atmosfer. Jika hal tersebut terjadi, maka tekanan udara akan menurun kerena massa udaranya berkurang. Selanjutnya, udara dingin disekitarnya akan mengalir ke tempat udara bertekanan rendah.

Setelah itu, udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke permukaan tanah. Setibanya diatas permukaan tanah, maka udara kembali panas sehingga dan naik kembali. Kondisi aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin tersebut disebut konveksi.

Faktor Proses Terjadinya Angin

Dalam proses terjadinya angin yang telah dijelaskan, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ptoses tersebut, antara lain:

  • Gradien Barometris, yaitu bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 isobar dengan jarak 111 km. Semakin besar gradien barometris, maka semakin cepat tiupan angin yang terjadi.
  • Lokasi Angin – Kecepatan angindi dekat khatulistiwa lebih cepat dari tempat yang berada jauh dari garis khatulistiwa.
  • Ketinggian Lokasi – Semakin tinggi suatu tempat maka tiupan angin akan semakin kencang. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh gaya gesek yang menghambat laju udara.
  • Angin pada siang hari cenderung bergerak lebih cepat daripada angin di malam hari.

Jenis Angin

Gerakan angin di permukaan bumi terdiri dapat dibedakan menurut faktor-faktor yang berpengaruh serta tipe sirkulasi yang terjadi. Namun secara umum, angin bisa dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Angin Umum

Angin umum adalah suatu gerakan massa udara yang selalu berembus sepanjang tahun dengan cakupan wilayah yang sangat luas. Jenis angin dengan gerakan seperti ini adalah angin pasat, angin anti pasat, angin muson barat, dan angin muson timur.

– Angin Pasat

Angin pasat atau trade wind adalah jenis angin yang berembus di sekitar wilayah beriklim tropis, seperti halnya di Indonesia. Angin ini dapat berembus secara tetap di sepanjang tahun, mulai dari daerah subtropik hingga menuju daerah ekuator atau khatulistiwa.

baca juga:  Hari Mencuci Tangan Sedunia - 15 Oktober

Angin pasat terjadi karena adanya perbedaan kerapatan udara di wilayah sekitar lintang 30o dengan tekanan maksimum dan sekitar lintang 10o yang bertekanan minimum, baik itu lintang utara maupun lintang selatan.

Angin pasat yang terjadi di kawasan utara garis khatulistiwa disebut angin pasat timur laut. Sementara angin pasat yang terjadi di daerah selatan khatulistiwa disebut angin pasat tenggara. Umumnya, daerah pertemuan antara angin pasat timur laut dan angin pasat tenggara berada di sekitar lintang 10o LU – 10o LS yang juga dikenal sebagai daerah tak berangin.

Daerah di sekitar garis khatulistiwa ini sering disebut sebagai zone massa udara tenang atau doldrum. Bisa juga dikatakan sebagai Daerah Konvergensi Antar Tropik atau DKAT. Lokasinya tidak tetap karena bisa terjadi pergeseran ke arah utara ataupun ke selatan mengikuti arah gerak matahari. Namun, pergeseran terseby hanya sebatas wilayah 10o LS dan 10o LU.

– Angin Anti Pasat

Sebutan lain dari angin anti pasat adalah angin barat atau westerlies yang merupakan kebalikan dari angin pasat. Pada dasarnya, gerakan angin barat berasal dari daerah subtropis yang berada di sekitar lintang 30o LU dan 30o LS. Angin ini mempunyai tekanan maksimum ke wilayah lingkaran kutub sekitar 60o LU dan 60o LS yang jadi daerah pusat tekanan rendah.

Ketika berada di daerah sekitar lintang 20o – 30o LU dan LS, angin anti pasat akan kembali turun secara vertikal sebagai angin kering. Angin ini kemudian menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya dari adanya angin ini adalah terbentuknya gurun di bumi, seperti gurun-gurun di Arab Saudi, Australia, dan Afrika.

– Angin Muson

Angin muson atau angin musim merupakan jenis angin yang terjadi secara periodik atau angin yang arahnya selalu berganti secara berlawanan pada jangka waktu tertentu.

Angin muson terbentuk akibat perbedaan tekanan udara yang sangat kontras. Perlu diketahui, permukaan bumi terdiri dari dua jenis, yaitu daratan dan lautan. Dua permukaan yang saling bertolak belakang ini memiliki kemampuan berbeda dalam menerima energi panas.

Wilayah daratan mempunyai kemampuan lebih mudah menyerap dan melepaskan energi panas. Sementara wilayah lautan cenderung lebih sulit untuk menerima serta melepaskan energi panas karena berbentuk cairan.

Sifat fisik antar kedua wilayah inilah yang mengakibatkan terjadinya perbedaan kerapatan dan tekanan udara. Akibat perbedaan tekanan udara yang antara daratan dan lautan, maka terjadilah aliran massa udara yang kemudian dikenal sebagai angin muson atau monsoon.

Di Indonesia ada dua jenis angin muson, yaitu angin muson barat dan angin muson timur dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Angin Muson Barat
baca juga:  Infografis - Polusi Udara Membunuh 7 Juta Nyawa Tiap Tahun

Pada bulan Oktober hingga April, letak matahari akan bergeser ke belahan bumi selatan. Hal ini mengakibatkan benua Australia mengalami musim panas sehingga tekanan udara menjadi rendah. Sebaliknya, benua Asia akan mengalami musim dingin sehingga tekanan udaranya lebih tinggi.

Kedua fenomena ini akan menyebabkan angin muson barat mengalir dari wilayah Asia ke Australia melalui Samudera Hindia dan sebagian besar Kepulauan Indonesia. Kadar uap air muson barat akan meningkat karena melewati samudera yang luas. Uap air ini kemudian jatuh berbentuk hujan dengan intensitas tinggi di atas wilayah Indonesia, sehingga mengalami musim hujan.

  • Angin Muson Timur

Pada bulan April hingga Oktober, letak matahari akan bergeser ke belahan bumi utara. Hal ini mengakibatkan benua Asia mengalami musim panas sehingga tekanan udara menajdi rendah. Sebaliknya, benua Australia akan mengalami musim dingin sehingga tekanan udaranya lebih tinggi.

Fenomena ini menyebabkan angin muson timur mengalir dari Australia ke Asia melalui laut-laut sempit di sekitar Kepulauan Indonesia bagian selatan khatulistiwa. Oleh karena melewati wilayah laut yang sempit, maka angin muson timur mengandung uap air dengan kadar rendah untuk dijatuhkan sebagai hujan. Akibatnya, Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau.

jenis angin Pixabay

2. Angin Lokal

Angin lokal adalah JENIS angin yang hanya berembus di wilayah dan waktu tertentu, seperti angin darat ataupun angin laut. Selain itu, ada pula jenis angin lokal lainnya, yaitu angin gunung, angin lembah, angin siklon, angin anti siklon, dan angin fohn.

– Angin Darat dan Angin Laut

Bagi yang mungkin tinggal di daerah pesisir pantai pasti tidak asing dengan adanya angin darat dan angin laut. Angin jenis ini biasa digunakan para nelayan tradisional untuk mengembangkan layar dan pergi melaut untuk mencari ikan.

Sesuai dengan namanya, angin darat bertiup dari daratan ke laut. Begitu pula sebaliknya, angin laut adalah angin yang bertiup dari laut menuju ke darat.

Seperti yang kita ketahui, daratan merupakan benda padat sehingga lebih mudah menerima ataupun melepas energi panas. Akibatnya, saat malam tiba, maka suhu di daratan menjadi lebih dingin ketimbang laut sehingga tekanan udaranya pun jauh lebih besar. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya aliran angin dari darat menuju laut. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai angin darat.

Saat siang hari, daratan lebih cepat menerima energi panas dibandingkan dengan laut. Dengan begitu, tekanan di daratan menjadi lebih rendah dibandingkan lautan. Peristiwa ini mengakibatkan aliran angin dari laut menuju darat yang kemudian dikenal dengan sebutan angin laut.

baca juga:  Musim Dingin - Pengertian, Waktu Terjadi, Dampak Positif & Negatif

– Angin Gunung dan Angin Lembah

Jenis angin lokal berikutnya adalah angin gunung dan angin lembah yang biasanya terjadi di sekitar wilayah pegunungan. Kedua jenis angin ini terbentuk sebagai akibat adanya perbedaan suhu.

Di pagi hingga menjelang siang hari, bagian lereng atau punggung pegunungan lebih dulu mendapat paparan sinar matahari daripada wilayah lembah. Akibatnya adalah wilayah lereng menjadi lebih cepat panas dan menjadi pusat tekanan rendah.

Sementara suhu udara di daerah lembah masih relatif dingin sehingga menjadi pusat tekanan tinggi. Dengan demikian, massa udara akan bergerak dari lembah ke lereng atau bagian punggung gunung. Nah, massa udara yang bergerak inilah yang kemudian dikenal sebagai angin lembah.

Sedangkan pada malam hari, suhu udara yang ada di wilayah gunung menjadi sangat rendah sehingga terjadi pengendapan massa udara padat dari gunung ke lembah yang masih relatif hangat. Pergerakan udara ini disebut sebagai angin gunung.

– Angin Siklon dan Angin Anti Siklon

angin siklon merupakan hembusan udara dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Angin ini biasanya berputar ke arah berlawanan dengan jarum jam di bumi bagian utara dan berputar searah jarum jam di bumi bagian selatan.

Sebaliknya, angin anti siklon adalah angin yang berputar dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum dengan arah ke luar. Di bagian bumi utara, angin anti siklon berputar searah jarum jam dan di bumi bagian selatan, angin anti siklon berputar berlawanan dengan arah jarum jam.

– Angin Fohn

Nyaris serupa dengan angin gunung dan angin lembah, angin fohn adalah angin yang bergerak menuruni pegunungan. Selain bersifat membawa panas dan kering, angin ini terjadi dalam satu rangkaian yang sama dengan hujan orografis atau hujan yang terjadi di daerah pegunungan.

Angin fohn terjadi saat gerakan massa udara dari wilayah pantai yang mengandung uap air naik melalui lereng gunung. Setiap massa udara bergerak naik, maka suhunya menjadi semakin berkurang.

Akibat penurunan suhu yang terjadi secara terus menerus, pada ketinggian tertentu terjadilah proses kondensasi atau pengembunan. Proses tersebut membentuk awan yang selanjutnya jatuh sebagai hujan orografis di daerah lereng pegunungan yang menghadap pantai.

Massa udara yang kering karena uap airnya telah jatuh sebagai hujan tersebut akan terus bergerak menuruni lereng pegunungan yang membelakangi pantai. Nah, massa udara yang bergerak turun tersebut dinamakan angin fohn atau angin jatuh.

Gerakan angin yang terus turun dari ketinggian menyebabkan suhu angin meningkat. Inilah yang kemudian menyebabkan angin fohn bersifat panas dan kering.