Anoa – Taksonomi, Asal, Perkembangbiakan, Kelangkaan & Konservasi

Sekilas melihat hewan ini, mungkin kita akan terkecoh menyebutnya sebagai sapi atau kerbau. Anoa merupakan satwa liar endemik Sulawesi yang memang mirip dengan sapi atau kerbau namun dengan ukuran yang lebih kecil atau cebol. Spesies ini juga dianggap berkerabat dengan banteng oleh ahli satwa bernama Groves pada tahun 1969.

Selain hidup endemik di wilayah Sulawesi dan telah menjadi maskot daerah tersebut, ternyata anoa juga dapat ditemukan di wilayah Indonesia bagian tengah (peralihan) atau daerah Wallace, seperti Maluku, Pulau Buton, Halmahera, Kepulauan Nusa Tenggara dan pulau lain disekitarnya.

Taksonomi

Klasifikasi ilmiah anoa adalah sebagai berikut:

KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoArtiodactyla
FamiliBovidae
SubfamiliBovinae
GenusBubalus
SpesiesBubalus quarlesi dan Bubalus depressicornis

Jenis Anoa

Anoa adalah hewan berkuku belah dan memamah biak dari keluarga Bovidae. Hewan ini berkerabat dekat dengan satwa-satwa lain, seperti antelop, rusa, bison, banteng, kerbau, kambing, domba, sapi dan hewan berkaki empat lainnya.

Meski memiliki kemiripan dengan hewan-hewan ternak, anoa memiliki sifat agresif sehingga sulit didomesikasi atau dipelihara menjadi hewan ternak.

Terdapat dua jenis anoa, yaitu anoa pegunungan atau mountain anoa (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah atau lowland anoa (Bubalus depressicornis). Keduanya dapat dibedakan berdasarkan ukuran tubuh dan bentuk tanduknya.

Anoa pegunungan memiliki tubuh yang lebih kecil, berbulu lebat, warna bulu lebih gelap, berekor panjang, berkaki putih dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga. Sedangkan anoa dataran rendah tubuhnya cenderung lebih besar, ekornya pendek dan lembut, serta tanduknya melingkar.

Asal

Menyandang status sebagai hewan endemik Sulawesi dan sekitarnya, maka asal hewan ini telah dapat dipastikan berasal dari wilayah ini. Anoa merupakan binatang liar kawasan peralihan antara benua Asia dan Australia.

Sebaran

Anoa tersebar secara terbatas di kawasan Indonesia tengah, terutama di Pulau Sulawesi dan Pulau Buton dimana populasinya cukup tinggi. Menurut Burton er al. 2005, binatang ini tidak ditemukan di pulau-pulau lain disekitar Sulawesi.

anoa dataran tinggi dionbata.com

Pendapat dari Groves 1969 menyatakan jika anoa pegunungan juga ditemukan di semenanjung utara dan sebagian semenanjung tenggara Pulau Sulawesi. Sedangkan menurut Gamawan 1996, anoa terdapat di Pulau Sulawesi meliputi Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

Populasi anoa di alam liar cenderung merosot tajam terutama di wilayah Sulawesi bagian utara. Data tersebut diperoleh dari peta sebaran yang menunjukkan kawasan yang seharusnya menjadi area konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam Gunung Ambang, Cagar Alam Tangkoko Batuangus, dan Cagar Alam Manembo-nembo justru mengalami kepunahan secara lokal.

Wilayah konservasi dan perlindungan lain yang masih menjadi habitat anoa antara lain Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Pegunungan Takolekaju, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Suaka Margasatwa Nantu, Pegunungan Latimojong, Pegunungan Quarles, hutan lindung di sekitar Danau Towuti dan Danau Matano, hutan Tanjung Peropa, hutan di Kolaka, dan Pegunungan Abuki.

Selain itu, anoa juga hidup di habitat lain berupa hutan-hutan Sulawesi yang masih perawan dan belum terjamah manusia.

Habitat

Anoa dataran rendah dan anoa pegunungan memiliki dua jenis habitat yang berbeda. Anoa dataran rendah hidup di daerah pesisir pantai, hutan rawa, padang rumpur, hutan hujan tropis serta lembang-lembah hingga ketinggian 1.000 mdpl. Sedangkan anoa pegunungan berada di habitat tutupan hutan pegunungan Sulawesi hingga ketinggian 2.300 mdpl.

Hewan yang memiliki sifat agresif ini umumnya mendiami hutan-hutan yang belum terjamah dan dieksploitasi oleh manusia. Lingkungannya berada pada kisaran 22 sampai 27 derajat Celcius.

Wilayah jelajah anoa meliputi daerah aliran sungai dan hutan-hutan yang memiliki sumber air dengan ketinggian yang beragam. Topografi Pulau Sulawesi yang bergunung-gunung dan berbukit-bukit merupakan habitat yang cocok bagi binatang ini. Selain itu kebutuhan makanan juga tercukupi karena tanah Sulawesi termasuk tanah subur yang banyak ditumbuhi vegetasi hijau.

Morfologi & Ciri Fisik

Jika dilihat melalui gambar atau foto, sebagian besar dari kita mungkin akan terkecoh ketika diminta membedakan anoa dan kerbau. Hewan herbivora ini memiliki kemiripan dengan kerbau karena memang berkerabat dekat.

anoa dataran rendah zoogalaxy.net

Satwa endemik Sulawesi ini mempunyai warna kulit terang hingga kecokelatan seperti kerbau. Jenis anoa dataran rendah atau Bubalus depressicornis memiliki tinggi pundah sekitar 80 hingga 100 cm dengan berat sampai 300 kg. Sedangkan anoa gunung atau Bubalus quarlesi mempunyai tinggi pundak 60 sampai 75 cm dengan berat 150 kg.

Struktur bentuk kepala satwa ini mirip dengan sapi dan bentuk kaki serta kukunya menyerupai banteng. Kaki depan anoa berwana putih seperti sapi bali akan tetapi terdapat garis hitam dibawahnya.

Tanduk anoa Sulawesi memiliki penampang seperti kerbau, yaitu mengarah ke belakang mirip penampang segitiga. Fungsi tanduk pada anoa, sapi maupun kerbau adalah untuk menyibak rumput atau semak serta menggali tanah. Selain itu, tanduk juga berfungsi untuk membela diri dan bertahan hidup dalam persaingan di alam liar.

Anoa dataran rendah memiliki tanduk berbentuk triangular, berkerut dan pipih dengan panjang 1,83 sampai 3,73 cm. Pada anoa pegunungan tanduknya berbentuk bulat tanpa jalur cincin pada pangkal tanduk dan panjang antara 14,6 sampai 19,9 cm.

Anoa jantan maupun betina semuanya mempunyai tanduk di kepala. Perbedaan jenis kelamin anoa biasanya dibedakan melalui perbedaan warna kulit, sang jantan berwarna lebih gelap dibanding betina.

Reproduksi anoa termasuk lambat, hal tersebut juga menjadi salah faktor menurunnya populasi satwa ini di alam liar. Betina mengandung antara 275 hari sampai 315 dan umumnya melahirkan satu anak saja serta sangat jarang melahirkan dua anak.

Makanan

Rerumputan adalah makanan pokok bagi hewan herbivora seperti anoa, sapi, kerbau, kambing dan lainnya. Selain itu, anoa juga memakan tumbuhan lain seperti semak, herba, daun-daun mudah tumbuhan, buah-buahan, tunas pohon serta umbi-umbian.

Satwa asli Sulawesi ini merupakan hewan memamah biak atau ruminansia. Kebutuhan garam dan mineral satwa langka ini diperoleh dengan cara menjilat batu-batuan sekitar pegunungan. Sedangkan bagi anoa daratan rendah, mereka mencukupi kebutuhan garam dan mineral dengan meminum air laut.

Anoa yang berada di penangakran atau kebun binatang biasanya diberi makan berupa sayuran bayam atau kangkung, serta ubi jalar, kumis kucing, daun ketela pohon, buah mangga, kedongong, kulit pisang, daun nangka, daun cabai dan jenis-jenis rerumputan.

Di habitat alaminya, anoa cenderung memiliki sifat pemakan semak daripada pemakan rumput. Hal tersebut sejalan dengan pengamatan yang dilakukan di Kebun Binatang Ragunan yang menyimpulkan bahwa anoa termasuk penyuka makanan campuran daripada makanan tunggal.

Sifat & Perilaku

Kehidupan hewan langka asal Indonesia adalah soliter atau semisoliter karena jarang ditemukan hidup dalam kawanan besar atau berkelompok, biasanya hanya sendiri atau setidaknya dalam kawanan kecil dua sampai lima ekor. Kelompok tersebu terdiri dari sepasang individu, anoa yang mengandung atau induk bersama anaknya.

Biantang endemik ini umumnya hidup di kawasan hutan yang lebat, dekat aliran sungai, hutan rawa, serta sumber air seperti danau atau sumber air panas yang mengandung mineral garam di pesisir pantai Sulawesi.

Kebiasaan unik hewan satwa langka ini adalah sering menjilati batu-batuan di habitat mereka. Tujuannya adalah untuk mengambil garam dan mineral dari bau guna mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh.

Untuk menandai wilayah kekuasaannya, spesies jantan akan membaut tanda di pohon dengan tanduknya dan akan kencing dan menggaruk tanah di sekitar pohon tersebut. Hewan ini akan semakin agresif ketika masa birahi, terluka, mengandung, serta melindungi anaknya dari ancaman.

Perkembangbiakan

Seperti mamalia pada umumnya, masa kehamilan anoa sekitar 275 hingga 315 hari. Induk betina rata-rata hanya melahirkan satu bayi dan sangat langka melahirkan dua bayi.

konservasi anoa wirralglobe.co.uk

Bayi anoa yang baru lahir memiliki bulu cokelat kekuningan atau keemasan dengan bulu yang sanga tebal. Setelah beranjak dewasa maka warnanya akan semakin gelap.

Anak anoa akan terus bersama induknya antara 6 bulan sampai 9 bulan dan akan hidup mandiri ketika dewasa. Hewan ini memiliki harapan hidup sampai 20 atau 30 tahun dan telah mampu bereproduksi ketika menginjak umur 2 atau 3 tahun.

Status Kelangkaan

Populasi anoa yang terus menurun akibat faktor alam maupun manusia menjadikannya sebagai hewan langka yang terancam punah, sehingga memerlukan perhatian khusu.

International Union for Conservation Of Nature (IUCN) pun telah memasukkan anoa pada kategori kelangkaan dengan status Endangered Spesies sejak tahun 1986. Status tersebut menandakan bahwa satwa endemik Sulawesi ini tengah menghadapi risiko tinggi terhadap kepunahan di alam liar.

Meski cukup sulit untuk menghitung keberadaan jumlahnya di alam secara akurat. IUCN memperkirakan terdapat 5.000 individu dewasa yang terbagi menjadi 2.500 anoa pegunungan dan 2.5000 anoa dataran rendah yang tersebar di wilayah Sulawesi.

Berdasarkan laporan tahun 2013 oleh Kementrian Kehutanan Indonesia, penurunan populasi anoa terjadi di seluruh Sulawesi terutama di semenanjung selatan dan timur laut karena hilangnya habitat serta perburuan oleh manusia.

Dari kedua jenis satwa endemik Sulawesi ini, anoa dataran rendah adalah yang paling terancam karena hidup di habitat yang mudah diakses oleh manusia, sedangkan anoa pegunungan sedikit lebih aman karena hidup di wilayah yang sulit diakses.

Perburuan yang dilakukan oleh manusia umumnya untuk mencari daging serta mengambul tanduk. Alih fungsi hutan untuk lahan perkebunan, pertanian dan pemukiman semakin memperparah ancaman terhadap anoa terhadap kepunahan. Bahkan ada data yang mengatakan sekitar 275 anoa dewasa mati akibat perburuan setiap tahunnya.

Konservasi Anoa

Anoa yang tersebar di alam liar Sulawesi tidak lebih dari 2.500 pada masing-masing jenis. Lajut penurunan populasinya sekitar 20% dalam kurun waktu 14 – 18 tahun terakhir. Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan penduduk di Sulawesi yang kian meningkat.

Pembukaan lahan hutan untuk kegiatan perkebunan, pertambangan, pertanian dan pemukiman membuat populasi anoa semakin terdesak dan daya jelajahnya semakin sempit. Kondisi ini sangat disayangkan, karena di alam liar anoa adalah predator puncak yang tidak diburu oleh predator lainnya.

anoa sulawesi flickr.com

Setidaknya setiap tahunnya ada 275 individu dewasa mati akibat perburuan. Masyarakat sekitar menjual daging hasil buruan seharga Rp 50.000 sampai Rp 80.000 per kg. Sedangkan anoa utuh dijual dengan harga 8 sampai 10 juta per ekor.

Murahnya harga daging satwa langka ini menjadi alternatif bagi warga yang ingin mengonsumsi daging. Perdagangan daging anoa masih dapat kita temukan di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

IUCN atau International Union for Conservation Of Nature telah memasukkan anoa ke dalam daftar hewan yang terancam punah sejak tahun 1986. Sedangkan CITES atau Covention of International Trade of Endangered Species of Wild Flora and Fauna memasukkannya ke dalam Appendix I pada tahun 2008, artinya spesies ini tidak boleh diperjualbelikan secara bebas.

Ancaman kepunahan spesies telah disadari sejak dulu, hal tersebut terbukti dengan adanya peraturan Ordinasi Perlindungan Binatang liar yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1936. Dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa anoa wajib dilindungi dan karena sebaran dan populasinya terbatas di alam.

Pemerintah Indonesia juga melindungi anoa melalui Peraturan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Eksosistemnya. Upaya perlindungan terus berkembang dengan diterbitkannya Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) No. 54 Tahun 2013 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) anoa Tahun 2013 – 2022.

Melalui peraturan tersebut, KLHK diberikan mandat untuk meningkatkan populasi spesies asli Sulawesi ini sebesar 10% melalui upaya konservasi.

Selain upaya dari pemerintah dengan landasan hukum, cara lain yang dapat ditempuh adalah melakukan penangkaran. Konservasi secara ex-situ bertujuan untuk memperbanyak populasi dengan mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran ini banyak dilakukan oleh pengelola Taman Nasional di wilayah Sulawesi.

Anoa Breeding Center

Salah satu lokasi terkenal penangkaran satwa langka ini adalah Anoa Bredding Center yang berada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK) di Manado. Penangkaran ini diresmikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2015. Disini terdapat 5 ekor jantan dan 2 ekor betina yang ditangkarkan.

Anoa Breeding Center terbentuk karena kesadaran masyarakat akan pentingnya menyelamatkan spesies yang menjadi ikon Sulawesi serta mewujudkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlessi) 2013-2022.