Badak Sumatera adalah badak Asia satu-satunya yang memiliki dua cula. Jenis badak yang memiliki nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis ini merupakan badak dengan ukuran terkecil dibandingkan semua sub spesies badak di dunia.

Badak Sumatera masuk dalam daftar merah spesies yang terancam punah (critically endangered) oleh lembaga konservasi dunia, IUCN dengan penyebaran terbanyak di Sumatera, dan beberapa di Sabah dan Semenanjung Malaya.

Badak Sumatera Terancam Punah

Seperti yang kita ketahui, perburuan liar adalah ancaman utama bagi Badak Sumatera. Perburuan ini ditujukan untuk mengambil cula atau bagian tubuh lain dari badak yang dipercaya dapat menjadi obat tradisional. Selain itu, hilangnya habitat alami juga menjadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya.

badak terancam punah Pixabay

Badak Sumatera hidup pada habitat alami di wilayah hutan rawa dataran rendah hingga perbukitan atau hutan sekunder, namun biasanya memilih berada di wilayah dengan vegetasi yang lebat.

Badak merupakan hewan penjelajah dengan sumber makanan utama buah-buahan seperti mangga dan fikus (ara), daun-daunan, ranting kecil dan kulit kayu. Badak Sumatera memiliki sifat menyendiri (soliter) atau hidup dalam kelompok kecil.

Harapan Baru, Penyelamatan Badak Sumatera

Sebuah aliansi yang beranggotakan lembaga konservasi internasional terkemuka yang tergabung dalam Sumatran Rhino Rescue, telah berhasil menyelamatkan dan mereloaksi Badak Sumatera yang berjenis kelamin betina dalam kondisi sehat. Badak tersebut ditempatkan di Kalimantan berkat dukungan dari para mitra lokal.

baca juga:  Kepunahan Massal Diawali Punahnya Serangga

Penyelamatan Badak Sumatera adalah kegiatan utama dari program konservasi pembiakan unutk menyelamatkan spesies ini dari ancaman kepunahan. Selain itu, hal ini juga merupakan upaya untuk meningkatkan populasi Badak Sumatera agar dapat kembali dilepas ke habitat liarnya.

Saat ini, jumlah Badak Sumatera di dunia tidak lebih dari 80 ekor. Dengan jumlah tersebut, maka badak bercula dua ini berada pada titik kritis akibat perburuan dan hilangnya habitat alami sebagai tempat tinggal dan mencari makanan.

Populasi Badak Sumatera tersebut tidak berada dalam satu lokasi, namun tersebar dan terisolasi sehingga menyulitkan untuk menemukan pasangan dan melakukan perkawinan. Pembiakannya juga menemui kendala karena memiliki risiko tinggi terhadap kesuburan badak karena masa isolasi yang lama.

status konservasi iucn IUCN

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, disimpulkan bahwa translokasi adalah langkah awal dalam upaya untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang berada pada situasi kritis.

Usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia tidah hanya penangkaran, namun juga menjaga habitat alami dengan harapan populasi Badak Sumatera dapat dikembalikan ke alam liar di masa yang akan datang.

Ketua Komisi Penyelamatan Spesies IUCN, Jon Paul Rodriguez menyampaikan hal senada, dimana pemerintah Indonesia yang saat ini didukung oleh Sumatran Rhino Rescue dengan semangat, usaha kolaboratif, dan ilmu yang dipelajari di penangkaran dan alam liar menegaskan proyek ini akan sukses kedepannya.

baca juga:  Penyebab Kelangkaan dan Kepunahan Spesies

Adanya program dan upaya penyelamatan dari pemerintah dan pihak-pihak terkait, tentu membuka harapan baru bagi keberlangsungan populasi Badak Sumatera.

Referensi: https://www.wwf.or.id/ruang_pers/pressrelease/?70402/Penyelamatan-Badak-Sumatera-yang-Terancam-Punah-Membawa-Harapan-Baru-Bagi-Spesies-Ini

Badak Sumatera Masih Punya Harapan
5 (100%) 21 vote[s]