Badak Sumatera – Taksonomi, Habitat, Sebaran Populasi, Perilaku & Kelangkaan

5/5 - (2 votes)

Ada lima spesies badak yang dapat dijumpai di dunia, salah satu diantaranya hidup dan menjadi hewan asli Indonesia. Spesies tersebut adalah Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang hidup endemik Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Berbeda dengan spesies badak lainnya, Badak Sumatera memiliki karakteristik sendiri dibanding badak serumpunnya.

Keberadaan spesies dengan status dilindungi ini menjadi keunikan tersendiri bagi keragaman hayati Indonesia, akan tetapi kini populasinya banyak mengalami penurunan. Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan populasi Badak Sumatera, sehingga banyak pihak yang terus berupaya untuk melakukan konservasi.  

Taksonomi

Berikut ini adalah taksonomi dari Badak Sumatera atau yang juga dikenal dengan nama latin Dicerorhinus sumatrensis.

Kingdom:Animalia
Filum:Chordata
Sub-filum:Vertebrata
Kelas: Mamalia
Super-ordo: Mesaxonia
Ordo:Perissodactyla
Super-famili: Rhinocerotides
Famili: Rhinocerotidae
Genus: Dicerorhinus
Spesies: Dicherorhinus sumatrensis

Kata pertama dari nama latin Badak Sumatera berasal dari dua kata, yaitu ‘di’ yang artinya adalah “dua” dan kata ‘cero’ yang artinya “cula”. Penggabungan dua kata tersebut kemudian menghasilkan Dicerorhinus yang bisa diartikan sebagai badak bercula dua. Jadi selain Badak Sumatera, spesies ini juga dikenal dengan nama Badak Asia Bercula Dua dan Badak Berambut.

badak sumatera badak.or.id

Satu hal yang menarik dari hewan ini adalah spesiesnya yang kembali terbagi menjadi tiga jenis atau tiga sub-spesies. Ketiga jenis tersebut adalah Badak Barat Sumatera, Badak Timur Sumatera,dan Badak Utara Sumatera.

  • Badak Barat Sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis yang tersebar di sepanjang kawasan Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
  • Badak Timur Sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis harrissoni yang tersebar di daratan Pulau Kalimantan.
  • Badak Utara Sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis lasiotis yang dapat dijumpai di kawasan Myanmar hingga bagian timur Pakistan.

Habitat

Badak Sumatera merupakan satwa yang mampu hidup pada berbagai kondisi lingkungan, baik kering ataupun basah. Habitat satwa ini kebanyakan dijumpai di kawasan hutan sekunder dan hutan primer yang berada pada ketinggian maksimal 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl). 

Selain itu satwa yang juga dikenal sebagai badak bercula dua ini mampu hidup di habitat sekitar rawa-rawa, tepi laut atau pantai, hutan pegunungan, dan bahkan hutan dataran rendah. Selama kawasan tersebut mempunyai pasokan makanan, air, dan dapat menjadi tempat berteduh maka satwa ini bisa hidup.

Biasanya satwa ini akan turun dan tinggal di kawasan hutan dataran rendah untuk mencari makanan. Sebab jenis hutan tersebut cenderung mempunyai persediaan makanan yang cukup. Selain itu tumbuh-tumbuhan yang menjadi konsumsi Badak Sumatera juga tumbuh rendah, sehingga dapat menjangkaunya dengan mudah.

Pada saat memasuki usia dewasa, Badak Sumatera membutuhkan area semak belukar dan juga hutan sebagai wilayah mencari makanan. Setidaknya satwa ini memerlukan area seluas 5 hingga 6 hektar untuk mencukup daya jelajah dan aktivitas lain. Total luas kawasan yang diperlukan jika seluruh kegiatannya diakumulasikan adalah 700 hektar.

Satwa ini adalah hewan yang mempunyai naluri jelajah tinggi. Dalam satu hari, Badak Sumatera mampu menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer hanya dalam waktu 20 jam. Oleh sebab itu kawasan hidupnya harus luas dan memadai.

baca juga:  7++ Rumah Adat Sunda - Filosofi, Gambar & Penjelasan Lengkap

Populasi dan Sebaran

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Badak Sumatera terbagi dalam tiga subspesies dan tersebar di beberapa negara selain Indonesia, seperti Semenanjung Malaysia, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Laos, Tiongkok, dan Bangladesh. Hanya saja ada banyak hal yang membuat persebaran satwa ini kian menyempit.

Beberapa diantaraya adalah kemampuan reproduksi Badak Sumatera yang rendah, perburuan liar yang marak terjadi, serta habitatnya mengalami perubahan. Oleh sebab itu, keberadaan spesies badak ini sudah jarang dijumpai di kawasan tersebut dan bahkan beberapa diantaranya dinyatakan punah.

badak bercula dua thoughtco.com

Hanya hutan Indonesia dan Malaysia yang masih menjadi habitat Badak Sumatera sampai sekarang. Di Indonesia satwa ini dapat dijumpai di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan baik hidup secara liar di alam bebas, maupun di area konservasi seperti Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Way Kambas, dan Taman Nasional Bukit Barisan.

Total populasi Badak Sumatera yang hidup di sepanjang daratan Pulau Sumatera tidak lebih dari 200 ekor dan selebihnya berasal dari Pulau Kalimantan serta Semenanjung Malaysia dan total seluruhnya di bawah 300. Salah satu program untuk menangani kelangkaan populasi satwa ini yaitu Program Konservasi Badak Indonesia pada kawasan Rhino Protection Unit atau RPU.

Pada sensus di beberapa taman nasional pada tahun 2001, diketahui bahwa jumlah Badak Sumatera adalah sebagai berikut:

  • Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) jumlah Badak Sumatera 5 sampai 7 ekor dengan tingkat kerapatan atau density adalah 2.500 hingga 3.500 hektar per ekor badak.
  • Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) jumlah Badak Sumatera berkisar 60 hingga 85 ekor dengan tingkat density sebesar 850 hingga 1.200 hektar per ekor badak.
  • Taman Nasional Way Kambas (TNWK) jumlah Badak Sumatera yang hidup sekitar 30 sampai 40 ekor dengan tingkat density antara bada adalah 700 hingga 1.000 hektar per ekor badak.

Sementara itu menurut hasil observasi lapangan selama tahun 1997 hingga 2004 di kawasan Rhino Protection Unit diperkirakan bahwa jumlah Badak Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah sekitar 60 sampai 80 ekor, sedangkan di Taman Nasional Way Kambas sebanyak 15 hingga 25 ekor.

Status Kelangkaan

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature atau IUCN Red List, Badak Sumatera berstatus sebagai satwa yang sedang berada di ambang kepunahan, yaitu Critically Endangered atau kritis. Hal itu dikarenakan total satwa ini tidak mencapai 300 ekor.

Sebelum berstatus kritis sebenarnya Badak Sumatera sempat berada dalam kelompok satwa yang terancam atau Endangered. Status tersebut diberikan pada awal tahun 1960 silam. Akan tetapi banyaknya situasi yang tidak memadai, maka pada tahun 1996 statusnya berubah menjadi kritis atau Critically Endangered.

Ada banyak hal pemicu turunnya populasi Badak Sumatera di alam. Salah satunya adalah kegiatan berburu yang menjadi faktor utama. Tidak hanya membunuh satwa ini, perburauan juga menyebabkan hilangnya tempat hidup dari satwa dengan sebutan Badak Bercula Dua tersebut.

Tujuan perburuan Badak Sumatera semata-mata untuk mengambil culanya, karena dianggap mengandung khasiat yang bagus bagi kesehatan. Hanya saja sampai saat ini belum ada satu penelitian ilmiah yang berhasil menemukan bahwa cula satwa ini mempunyai manfaat dalam bidang kesehatan.

Faktor lain adalah berkurangnya lahan tinggal Badak Sumatera akibat kegiatan manusia yang melakukan alih fungsi lahan untuk lokasi pertanian dan sebagainya. Belum lagi kebijakan untuk pembangunan perkebunan, jalan, dan pertambangan yang juga menjadi pemicu penyusutan spesies ini hingga mencapai 50% hanya dalam waktu 20 tahun.

baca juga:  Ikan Mujair - Penemu, Taksonomi, Morfologi, Ciri, Habitat & Manfaat

Selain itu Badak Sumatera mempunyai cara hidup yang berpencar dalam kelompok kecil atau soliter yang semakin memicu penurunan populasi. Kini dengan statusnya sebagai satwa kritis dan dilindungi, Badak Sumatera sudah tidak boleh diperdagangkan secara internasional berdasarkan statusnya pada CITES, yaitu Appendix 1.

Morfologi dan Perilaku

Secara fisik dan perilaku Badak Sumatera mempunyai karakteristik unik yang membedakannya dengan satwa lain. Salah satu yang cukup menarik dari segi fisik adalah keberadaan cula dua. Khusus untuk perilaku fauna ini ada dua yang cukup menonjol yaitu kebiasaan berkubang dan cara menandai wilayah teritorialnya.  

1. Ciri-Ciri Fisik

Morfologi tubuh paling unik dari Badak Sumatera adalah jumlah cula yang dimilikinya sekaligus menjadi pembeda dengan spesies badak lain. Satwa ini mempunyai dua cula berwarna coklat tua kehitam-hitaman pada bagian atas hidungnya. Semakin dewasa usia badak, maka warna tersebut akan semakin menghitam.

Cula tersebut berderet ke belakang, cula yang berada pada bagian belakang memiliki panjang kurang atau sama dengan 12 cm, sedangkan cula yang terletak di depan ukurannya lebih panjang, yaitu berkisar antara 20 cm hingga 28 cm. Bentuk bibir satwa ini juga unik, karena bibir atasnya melengkung dan saling mengait di atas.

Kulit satwa ini tampak sangat jelas dan jika diraba teksturnya terasa kasar dengan warna coklat kemerah-merahan. Tepat di bagian perut dan kaki terdapat lipatan kulit yang jelas. Menariknya kaki-kaki Badak Sumatera umumnya sangat pendek dan tiga jari memiliki kuku serta berbentuk melingkar.

Pada beberapa bagian tubuh terdapat rambut-rambut halus yang tubuh. Khususnya di bagian wajah seperti pada area telinga, sepanjang kulit tubuh, dan juga perut. Rambut-rambut tersebut sangatlah tipis dan terasa halus.

Ukuran tubuh Badak Sumatera termasuk kecil, karena tingginya terhitung dari telapak kaki sampai punggung hanya sekitar 1 sampai 1,5 meter. Sedangkan dari ujung ekor sampai ke bagian mulutnya memiliki panjang 2 sampai 3 meter. Sedangkan bobot tubuhnya berada pada kisaran antara 600 sampai 1000 kg.

2. Perilaku Berkubang

Badak Sumatera mempunyai kebiasaan berkubang pada area berlumpur. Biasanya dalam sehari satwa ini akan berkubang sebanyak dua kali. Perlu diketahui bahwa aktivitas ini mempunyai tujuan tertentu, yaitu sebagai upaya perlindungan diri dari sengatan sinar matahari dan gigitan serangga seperti nyamuk.

Uniknya Badak Sumatera juga mampu membuat kubangan lumpur sendiri ketika sedang melakukan aktivitas jelajah. Area yang dijadikan sebagai kubangan adalah yang bertekstur lunak, lembab, dan cenderung basah. Satwa ini akan mengais-ngais tanah tersebut dengan menggunakan kaki hingga akhirnya kubangan basah terbentuk.

Satu ekor badak biasanya mempunyai dan menggunakan kubangan yang sangat banyak, karena aktivitas ini sudah pasti dilakukan sama seperti menjelajah. Kubangan yang sudah terbentuk tersebut kemudian ditutup dengan pohon atau akarnya dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang cukup panjang.

baca juga:  Rusa Bawean - Taksonomi, Morfologi, Habitat, Kelangkaan & Konservasi

3. Perilaku Menandai Teritorial

Satwa yang disebut Badak Bercula Dua ini juga memiliki kecenderungan untuk memperlihatkan eksistensinya kepada individu yang lain. Oleh sebab itu badak mempunyai perilaku untuk menandai area yang menjadi teritorialnya. Selain itu dengan membuat tanda badak merasa lebih mudah untuk menemukan kembali jalur jelajah atau tempat makannya.

Untuk membuat penanda, badak akan menggosok-gosokkan kakinya di tanah. Kadang juga memanfaatkan urin dan kotorannya. Dengan indera penciuman yang peka dan sangat sensitif, badak akan menemukan area yang sudah ditandainya.

Indera penciuman tesebut juga akan membantu Badak Sumatera untuk mendeteksi keberadaan objek asing yang mendekati area teritorialnya. Selain itu satwa ini juga biasanya akan menghindari apabila ada objek asing yang mendekat ke arahnya. Jadi tidak heran jika satwa ini sulit dijumpai di alam liar.

Makanan Badak Sumatera

Badak Sumatera adalah kelompok fauna herbivora yang memakan tumbuhan. Satwa ini bisa memakan berbagai bagian tumbuhan mulai dari ranting-ranting muda, cabang-cabang muda, buah, daun, dan bahkan mahkota bunga. Bagian tersebut menjadi makanan makanan pokok badak dan juga biasanya memakan semak-semak.

badak berambut matadornetwork.com

Ranting-ranting muda dan dedaunan merupakan bagian yang paling disukai oleh satwa dilindungi ini. Apabila ranting yang ingin dimakan berada pada posisi tinggi dan sulit untuk diraih, maka badak akan memanfaatkan kepalanya untuk membengkokkan dan mematahkan ranting tersebut agar bisa dimakan.

Diketahui ada sekitar 102 jenis tanaman yang menjadi makanan favorit Badak Sumatera. 82 jenis diantaranya merupakan tanaman yang daunnya bisa dimakan, 17 jenis buahnya dimakan, 7 jenis kulit batang muda dan batangnya dimakan, dan dua jenis sisanya bunganya yang dimakan.

Beberapa spesies tanaman yang paling disukai satwa liar ini adalah pohon nangka (Artocarpus integra), bunga tenglan (Scarrapa sp.), dan rengas (Mellnorrhea sp.). Ada juga lateks yang merupakan bagian dari rengas yang menjadi favorit satwa ini. Badak yang sudah berusia dewasa memerlukan pasokan makanan sebanyak 50 kg per hari.

Kegiatan mencari makanan biasanya dilakukan Badak Sumatera menjelang pagi hari, pagi, dan menjelang malam hari. Sementara pada waktu siang hari satwa ini lebih senang melakukan kegiatan penjelajahan hutan sesuai dengan jalur jelajah masing-masing. Meski begitu waktu makannya lebih banyak dibanding waktu jelajah.

Selain makan, satwa liar Badak Bercula Dua ini juga melakukan kegiatan menggaram. Aktivitas ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi pasokan mineral yang ada di dalam tubuhnya.     

Perkembangbiakan

Badak Sumatera akan mulai bereproduksi pada usia enam hingga tujuh tahun, kemudian akan masuk masa tidak produktif pada usia 32 tahun. Sayangnya gaya hidup yang soliter dan kemampuan bereproduksi rendah membuat jumlah populasi satwa liar ini terus mengalami penurunan, belum lagi usia kehamilan yang cukup lama.

Satwa liar ini mengandung selama 15 sampai 16 bulan atau setahun lebih. Setelah melahirkan anak tersebut akan tumbuh dan hidup dengan sang induk sampai akhirnya dilepas pada usia empat tahun. Interval kehamilan Badak Sumatera adalah 5 tahun sekali.

Ketika anak badak sudah bisa dilepas pada usia empat tahun, maka saat itu juga induknya telah mampu untuk hamil kembali. Jadi secara sederhana dalam kisaran waktu 10 sampai 11 tahun, badak hanya bisa hamil dan melahirkan sebanyak dua kali saja. 

Induk Badak Sumatera dikenal sangat protektif terhadap anaknya, sehingga jika ada objek asing yang mendekat, maka sang induk akan segera menghindar. Selain itu anak yang baru saja lahir akan disembunyikan sampai mencapai usia dua bulan oleh sang induk. Tempat persembunyiannya pun sangatlah aman dari segala bentuk gangguan.