Burung Cendrawasih – Taksonomi, Habitat, Sebaran Populasi & 21 Jenis Bidadari Papua

Pesona dan eksotisme wilayah Indonesia bagian timur meliputi panorama alam, adat budaya, serta flora dan fauna sungguh sangat memukau. Bahkan kawasan ini dijuluki sebagai potongan surga di bumi. Predikat itu sepertinya tidak berlebihan, karena Papua memiliki keunikan yang luar biasa, salah satunya adalah Burung Cendrawasih.

Cendrawasih adalah burung yang menyandang status sebagai “Bird of Paradise” atau burung dari surga karena keindahannya yang diibaratkan turun dari surga,

Mengenal Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih adalah kelompok burung yang masuk dalam anggota keluarga Paradisaeidae dan ordo Passeriformes. Jenis burung ini dapat ditemukan di Pulau Papua, kepulauan Maluku, kepulauan Selat Torres, Papua Nugini hingga Australia bagian timur.

Secara lebih spesifik, Cenderawasih dari famili Paradisaeidae memiliki keunikan yaitu burung jantan mempunyai bulu yang panjang dan pola rumut yang tumbuh di bagian sayap, kepala dan paruhnya.

Sedangkan Burung Cendrawasih yang terkenal contohnya adalah jenis Cendrawasih Buning Besar (Paradisaea apoda). Burung ini dulunya diperdagangkan oleh masyarakat pribumi Papua kepada orang-orang Eripa dengan membuang sayap dan kakinya agar bisa dijadikan hiasan. Dari perlakukan inilah spesies ini memiliki nama ilmiah “apoda” atau tanpa kaki.

Cendrawasih Raggiana hbw.com

Oleh masyarakat Papua, Burung Cenderawasih dianggap sebagai titisan dari surga. Keelokan warna-warna bulunya yang begitu indah pasti membuat orang terpukau ketika melihatnya. Berdasarkan arti nama atau etimologinya, Cendrawasih merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “cendra” yang berarti dewa atau dewi dan “Wasih” yang berarti utusan.

Burung Cenderawasih terdiri dari beberapa genus dan spesies, yaitu 14 genus dan 43 spesies. Meski dapat ditemukan di Papua Nugini hingga Australia, sebagian besar spesies Cendrawasih berada di wilayah Indonesia, yaitu 30 spesies dan 28 diantaranya berasal dari Papua / Irian Jaya. Sedangkan di kepulauan Maluku dan Halmahera terdapat 2 spesies burung surga ini.

Bangsawan Eropa telah mengenal burung ini sejak tahun 1522 dan menjulukinya sebagai “Bird of Paradise”. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, burung asli Papua ini pernah menjadi komoditas perdagangan untuk diambul bulunya sebagai penghias topi wanita Eropa.

Selain itu, bulu-bulu Cendrawasih juga digunakan sebagai hiasan kepala oleh suku-suku pedalaman Papua ketika melakukan upacara adat, seperti penyambutan tamu, acara pernikahan dan sebagainya.

Akan tetapi, tumbuhnya kesadaran akan pentingnya melestarikan satwa ini menjadikan Burung Cendrawasih harus dilindungi. Sebagai wujud dari hal itu, Cendrawasih kemudian dijadikan maskot dan simbol kebanggaan masyarakat Papua. Sehingga penggunaan bulu Cendrawasih saat ini digantikan dengan bulu imitasi.

Taksonomi

Burung yang terdiri dari 14 genus dan 43 speises ini memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:

KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasAves
OrdoPasseriformes
FamiliParadisaeidae
GenusAstrapia, Cicinnnurus, Drepanornis, Epimachus, Lophorina, Lycocorax, Paradisaea, Manucodia, Paradigalla, Paradisaea, Parotia, Pteridophora, Semioptera, Seleucidis

21 Jenis Burung Cendrawasih

Berikut ini adalah jenis-jenis Cendrawasih, meliputi endemik wilayah tertentu maupun tidak, yaitu:

  1. Cicinnurus respublica (Cendrawasih Botak), endemik pulau Waigeo, Raja Ampat.
    Burung ini termasuk mungil karena ukurannya hanya sekitar 21 cm dan ukuran betina lebih kecil lagi. Pejantan memiliki bulu berwarna hitam dan pada bagian leger terdapat garis kuning, bagian kakinya biru, paruhnya hijau dan punya sepasang ekor berwaena ungu.
  2. Cicinnurus regius (Cendrawasih Raja), Papua dan pulau sekitarnya.
  3. Cicinnurus magnificus (Cendrawasih Belah Rotan), Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
    Ukuran Cendrawasih Belah Rotan sekitar 26 cm. Bulu jantan berwarna hijau di bagian dada, kuning terang pada sayap, dan kaku berwarna biru. Terdapat pula 2 bulu biru kehijauan melengkung pada bagian ekornya. Untuk burung betina berwana cokelat dan menghasilkan telur berwarna krem.
  4. Drepanornis bruijnii (Cendrawasih Pale Billed Sicklebill), Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  5. Astrapia nigra (Cendrawasih Astrapia Arfak), endemik Papua, Indonesia.
  6. Lophorina magnifica (Cendrawasih Toowa Cemerlang) Indonesia, Papua Nugini, dan Australia.
    Ukuran burung ini sekitar 23 sampai 25 cm dan tersebar di Indonesia, Papua Nugini serta Australia. Burung jantan memiliki bulu berwarna ungu berkilau di dada atas dan perunggu di dada bagian bawah, kepalanya biru kehijauan. Sedangkan burung betina warnanya cenderung pucat, gelap kecokelatan.
  7. Lophorina superba (Cendrawasih Kerah), Papua, Indonesia.
    Burung ini berasal dari genus Lophorina dengan ukuran sekitar 26 cm. Burung jantan berwarna hitam dengan mahkota hijau kebiruan, sedangkan betina berwarna cokelat kemerahan. Burung betina sangat pemilih dalam menentukan pasangan, dari 15 hingga 20 pejantan, hanya jantan terakhir yang dipilihnya. Burung ini dikenal memilki sistem asmara yang rumit.
  8. Lycocorax pyrrhopterus (Cendrawasih Gagak), endemik Maluku.
    Burung Cendrawasih Gagak berukuran 34 cm dengan bulu gelap yang halus. Paruhnya hitam dan suaranya mirip gonggongan anjing. Jantan dan betina penampilannya sangat mirip, namun ukuran betina lebih kecil.
  9. Epimachus fastuosus (Cendrawasih Paruh Sabit Kurikuri), Papua.
  10. Epimachus albertisi (Cendrawasih Paruh Sabit Hitam), Papua.
  11. Manucodia ater (Manukodia Mengkilap), Indonesia dan Papua Nugini.
    Burung ini bersifat penyendiri atau berpasangan. Ukurannya sekitar 42 cm dengan bulu hijau, ungu dan biru yang mengkilap, paruhnya berwarna hitam, matanya merah dan ekornya panjang.
  12. Manucodia comrii (Cendrawasih Manukod Jambul Bergulung)
  13. Semioptera wallacii (Bidadari Halmahera), endemik Maluku.
  14. Seleucidis melanoleuca (Cendrawasih Mati Kawat), Papua.
  15. Paradigalla carunculata (Cendrawasih Paradigala Ekor Panjang), Papua.
  16. Paradisaea minor (Cendrawasih Kuning Kecil), Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
    Jenis ini berukuran sedang dengan panjang 32 cm. Warna tubuh bagian depan merah kecokelatan, sedangkan bagian belakangnya cenderung kekuningan. Pada betina area kepala berwarna cokelat dan terdapat bulu putih di dadanya. Untuk burung jantan memiliki bulu hijau disekitar tenggorokan dan sepasang bulu ekor panjang pugih dan kuning.
  17. Paradisaea apoda (Cendrawasih Kuning Besar), Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  18. Paradisaea raggiana (Cendrawasih Raggiana), Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
    Burung ini hidup di Papua bagian tenggara dan berukuran sekitar 34 cm. Bulunya berwarna kombinasi merah, cokelat, abu-abu pada bagian kaki dan mata berwarna kuning. Perbedaan jantan dan betina terletak pada postur dan warna bulu sekitar tenggorakan. Betina berukuran lebih kecil dan sang jantan memiliki mahkota kuning dan bulu hijau di lehernya.
  19. Paradisaea rubra (Cendrawasih Merah), endemik pulau Waigeo, Indonesia.
    Burung ini berasal dari Raja Ampat dengan ukuran 33 cm. Ukuran betina lebih kecil dari jantan. Ciri warna Cendrawasih Merah adalah berbulu merah, paruh kuning, serta diatar mata terdapat bulu hjau tua. Di bagian erkotnya terdapat sepasang ekor yang bentuknya sangat khas.
  20. Parotia sefilata (Cendrawasih Parotia Arfak), endemik Papua, Indonesia.
  21. Pteridophora alberti (Cendrawasih Panji), Papua.
    Cendrawasih Panji hanya sekitar 22 cm dan lebih kecil dari jenis lainnya. Akan tetapi ada bulu yang tumbuh di bagian kepala mencapai 41 cm untuk menarik betina. Tubuhnya berwarna hitam, kaki abu-abu dan matanya kuning. Sedangkan burung betina ukurannya lebih kecil lagi, yakni 19 cm. Habitat burung ini ada di pegunungan Jayawijaya.

Ciri dan Morfologi

Ciri utama Burung Cenderawasih adalah bulu-bulunya yang indah, khususnya oada Cendrawasih jantani. Biasanya bulu burung ini berwarna cerah, yaitu campuran atau kombinasi hitam biru, kuning, merah, cokelat, ungu, hijau dan putih.

Secara fisik ukuran Burung Cendrawasih sangat beragam, mulai dari ukuran 15 cm hingga 110 cm dan beratnya antara 50 gram sampai 430 gram sesuai jenis spesiesnya.

Cendrawasih Belah Rotan hbw.com

Contohnya adalah Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius) yang tubuhnya berukuran kecil atau sektiar 15 cm dengan berat 50 gram. Sedangkan Cendrawasih berukuran besar adalah jenis Cendrawasih Paruh Sabit Hitam (Cicinnurus regius) yang tumbuh mencapai 110 cm, serta Cendrawasih Manukod Jambul bergulung (Cicinnurus regius) dengan bobot 430 gram.

Bentuk kaki Burung Cenderawasih adalah tipe petengger dengan ciri jari kaki panjang dan telapak kaki datar. Bentuk tersebut memidahkan burung ini untuk bertengger di ranting-ranting pohon. Untuk tipe peruhnya adalah tipe pemakan biji dengan ciri paruh tebal dan runcing yang berfungsi untuk memecah biji.

Habitat Burung Cendrawasih

Cendrawasih umumnya menghuni kawasan hutan dataran rendah hingga pegunungan di daerah Indonesia Timur. Habitatnya berada di hutan hujan triopis dengan vegetasi lebat di wilayah kelupauan Selat Tores, Pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini) serta Australia Timur.

Burung ini menyukai kawasan dengan tegakan tinggi dan percabangan yang agak rapat serta terdapat beberapa jenis tumbuhan merambat disekitarnya. Beberapa jenis pohon yang dijadikan tempat tinggal Cenderawasih adalah pohon beringin (Ficus benjamina), Myristica sp., Pandaus sp., Instia sp., Palaquium sp., dan Hapololobus sp.

Cendrawasih Botak Pinterest

Pohon tersebut dijadikan tempat bernaung, bertengger, berlindung dan bersarang atau meletakkan telur-telurnya. Contohnya adalah jenis Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) yang berkembang biak di pohon beringin.

Burung ini cocok hidup di daerah hutan primer, sehingga jika habitat yang ditempatinya telah berubah dan tidak lagi disukai maka akan berpindah ke wilayah lain yang sesuai dengan karakteristik hidup Burung Cendrawasih.

Makanan sehari-hari burung ini adalah bijian-bijian, buah berry, serangga, serta ulat. Di alam liar, kelangsungan hidup Cendrawasih sangat tergantung pada kondisi alam hutan, oleh karena itu burung ini sangat rentah terhadap perubahan fungsi hutan.

Sebaran Populasi

Burung Cendrawasih secara umum tersebar di Indonesia bagian timur, Papua Nugini dan Australia bagian timur. Sedangkan sebaran jenis spesies tertentu kadang terbatas dan endemik pada pulau-pulau tertentu.

Misalnya Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) yang hidup di pulau Papua dan tersebar mulai bagian barat meliputi Waigeo, Salawati, Batanta, Kofiau, Misool, Gagi, Gebe, kemudian kepualaun di Teluk Cendrawasih seperti Numfor, Biak, Yapen, dan Meosnum, hingga keplauan Aru sampai barat daya Papua.

Cendrawasih Kuning Kecil medium.com

Sedangkan Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) tersebar di daerah dataran rendah hingga perbukitan di Papua bagian barat daya dan kepulauan Aru. Upaya penyelamatan burung ini pernah dilakukan pada tahun 1909 sampai 1912 dengan membawanya ke Pulau Tobago Kecil di Karibia oleh William Ingram untuk mengindari kepunahan akibat pengambilan bulunya, akan tetapi laporan pada tahun 1958 menyatakan burung ini telah punah.

Ada pula Burung Cendrawasih endemik yang hanya ditemukan di Kepulauan Maluku dan Pulau Seram. Cendrawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus) yang bisa ditemukan di kepulauan Maluku Utara, kemudian Cendrawasih Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) yang bisa ditemukan di Taman Nasional Ake Tajawe.

Berdasarkan Buku Pandungan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea, Cendrawasih Gagak dibagi menjadi tiga sub species, antara lain:

  • Lycocorax pyrrhopterus pyrrhopterus yang berada di Halmahera, Bacan, dan Kasiruta
  • Lycocorax pyrrhopterus morotensis yang ditemukan di Rau dan Morotau
  • Lycocorax pyrrhopterus obiensis yang berada di Obi dan Bisa

Karakteristik Perilaku

Sifat Burung Cendrawasih cenderung soliter atau hidup dalam kelompok kecil dan akan berkumpul ketika datang musim kawin. Contohnya adalah Cendrawasih Kuning Kecil yang umumnya hidup dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri lebih dari 2 ekor, baik sepasang janatan dan betina ataupun berjenis kelamin sama.

Cendrawasih Merah Flickr

Ketika Cendrawasih jantan dan betina akan kawin, maka sang jantan akan melakukan tarian untuk menarik perhatian betina. Sebelum melakukan tarian, burung jantan akan membersihkan paruh dan lingkungan sekitar sarang, kemudian menari dan mempertontonkan bulu-bulunya yang indah.

Selain perilaku berupa tarian, burung jantan juga akan mengeluarkan suara kicauan khas. Burung Cenderawasih adalah burung dimorfik seksual, yaitu akan berpoligami.

Data mengenai jumlah telur Cendrawasih sulit diketahui, namun pada umumnya burung berukuran besar akan menghasilkan satu telur, sedangka burung jenis kecil akan menghasilkan 2 sampai 3 telur.

Aktivitas Cendrawasih dimulai dari matahari terbit dan akan mulai beristirahat ketika cuaca panas dan menjelang sore. Burung yang tergolong aktif ini biasa bertengger di percabangan rendah hingga miring dengan kebiasaan meregangkan sayap.

Selain mengeluarkan suara untuk menarik perhatian burung betina, pejantan juga punya kebiasaan berkicau pada sore hari menjelang matahari terbenam.

Status Kelangkaan

Ancaman terhadap populasi Cendrawasih sebagian besar datang dari kegiatan perburuan liar untuk diperdagangkan. Hal itu dilakukan dengan latar belakang keindahan bulu-bulunya. Selain itu, alih fungsi lahan hutan untuk pertambangan, perkebunan, pemukiman dan pembangunan infrastruktur turut menggaggu ekosistem di hutan.

Cendrawasih Panji charismaticplanet.com

Kategori kelangkaan Burung Cendrwasih dapat dibagi berdasarkan jenisnya, berikut ini adalah status konservasi Cendrawasih menurut IUCN (International Union For The Conservation of Nature), yaitu:

  • Paradisaea apoda (Cendrawasih Kuning Besar) – Least Concern
  • Paradisaea minor (Cendrawasih Kuning Kecil) – Least Concern
  • Lycocorax pyrrhopterus (Cendrawasih Gagak) – Least Concern
  • Semioptera wallacii (Bidadari Halmahera) – Least Concern
  • Cicinnurus magnificus (Cendrawasih Belah Rotan) – Least Concern
  • Pteridophora alberti (Cendrawasih Panji) – Least Concern
  • Astrapia nigra (Cendrawasih Astrapia Arfak) – Least Concern
  • Lophorina superba (Cendrawasih Kerah) – Least Concern
  • Epimachus albertisi (Cendrawasih Paruh Sabit Hitam) – Least Concern
  • Parotia sefilata (Cendrawasih Parotia Arfak) – Least Concern
  • Manucodia comrii (Cendrawasih Manukod Jambul Bergulung) – Least Concern
  • Paradisaea rubra (Cendrawasih Merah) – Near Threatened
  • Paradigalla carunculata (Cendrawasih Paradigala Ekor Panjang) – Near Threatened
  • Cicinnurus respublica (Cendrawasih Botak) – Near Threatened

Dari daftar tersebut dapat kita lihat jika status konservasi Cendrawasih menurut IUCN adalah LC atau Least Concern dan NT atau Near Threatened. LC adalah status untuk spesies dengan risiko rendah menghadapi kepunahan, sedangkan NT adalah status untuk spesies yang hampir terancam punah.

CITES (Convention  On International Trade In Endangered Species) memasukkan katefori Cendrawasih pada Appendix II. Artinya adalah Cendrawasih tidak terancam punah, namun akan terancam punah jika perdagangan dilakukan secara terus-menerus tanpa aturan yang jelas dan tegas.

Upaya Konservasi

Meski menurut IUCN sebagian besar status konservasi Cendrawasih berisiko rendah menghadapi kepunahan, namun jika perburuan dan perdagangan tidak dikendalikan serta semakin parah kerusakan habitat hutan maka akan memperbesar peluang kepunahan Cendrawasih di masa depan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya konservasi untuk menjaga satwa ini.

Cendrawasih Kerah Twitter

Agar langkah konservasi berhasil harus didukung oleh peraturan hukum. Secara hukum, burung ini dilindugi oleh pemerintah melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Perlindungan dan Pelestarian Burung Cendrawasih.

Aturan pemanfaatan burung juga diberlakukan, yaitu masih diperbolehkan namun terbatas untuk kepentingan masyarakat lokal yakni hiasan pakaian adat. Kesadaran masyarakat juga mulai tumbuh dengan mengganti hiasan bulu Cendrawasih dengan bulu-bulu imitasi untuk tetap menjaga kelestariannya.

Kerjasama pemerintah, masyarakat serta oragnisasi atau lembaga peduli satwa sangat diperlukan untuk menjaga populasi Cendrawasih, burung dari surga.