Burung Ciblek – Taksonomi, Morfologi, Habitat, Sebaran & Populasi

4.7/5 - (3 votes)

Burung ciblek atau juga bernama perenjak jawa adalah jenis burung pengicau dari keluarga Cistcolidae. Burung dengan nama latin Prinia familiaris ini mudah dijumpai di area perkebunan, persawahan dan permukiman warga yang masih asri.

Hampir di seluruh wilayah Indonesia burung bersuara nyaring ini bisa ditemukan. Dalam bahasa Inggris, burung prenjak jawa disebut dengan istilah Bar-winged Prinia karena adanya garis putih di kedua sayapnya.

Taksonomi

Berdasarkan klasifikasi ilmiah, burung ciblek atau perenjak jawa dapat dikategorikan sebagai berikut:

KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasAves
OrdoPasseriformes
FamiliCisticolidae
GenusPrinia
SpesiesP. familiaris
Nama BinominalPrinia familiaris

Di alam bebas burung ciblek terdiri dari beberapa jenis dengan ciri khasnya masing-masing, antara lain:

  • Ciblek Kristal
  • Ciblek Semi
  • Ciblek Alang-alang
  • Ciblek Gunung

Morfologi

Burung perenjak jawa tubuhnya berbentuk ramping dengan panjang sekitar 13 cm. Warna coklat kehijauan terlihat hampir di seluruh bagian tubuhnya. Pada sisi tenggorokan hingga ke dada bulunya berwarna putih, tetapi di beberapa bagian dada dan paha warna bulunya cenderung keabu-abuan.

perenjak jawa Pixabay

Ciri khas burung ini tampak dari garis putih yang terdapat di masing-masing sayapnya. Selain itu, ekor panjang dengan ujung berwarna hitam dan putih juga membuatnya mudah dikenali.

Pada bagian wajahnya terdapat paruh panjang dan runcing dengan warna kehitaman di sisi atas dan bawahnya berwarna kekuningan. Kaki burung ciblek berwarna cokelat kemerahan atau merah muda dengan struktur terlihat rapuh dan langsing.

baca juga:  Jalak Bali - Taksonomi, Morfologi, Habitat Endemik, Status Konservasi

Ada beberapa perbedaan ciri pada burung ciblek jantan dan betina, antara lain:

  • Postur tubuh burung jantan biasanya lebih panjang dan ramping, sedangkan yang betina lebih telihat gemuk.
  • Warna bulu pejantan telihat lebih tegas, sedangkan spesies betina sebaliknya.
  • Ciblek jantan lebih sering menaik-turunkan ekor dibanding yang betina.
  • Warna paruh bawah pada burung betina adalah putih pucat.
  • Warna paruh bawah putih dengan ujung yang hitam merupakan ciri khusus burung jantan yang masih muda.
  • Kuku jari kaki pada burung jantan muda terlihat kusam.
  • Kuku jari kaki pada burung betina muda terlihat lebih bersih.

Habitat dan Sebaran

Habitat utama burung ciblek adalah daerah semak atau tempat terbuka seperti pekarangan , tepi sawah, hutan sekunder dan hutan bakau. Burung pemakan serangga kecil ini juga sering ditemui di perkebunan teh.

prenjak Pixabay

Burung prenjak jawa bergerak secara lincah saat mencari makan. Dua burung ciblek atau lebih akan berkejaran di sela-sela kegiatannya memangsa serangga kecil yang ada di sekitar semak-semak. Mereka berkicau keras dan menggerakkan ekornya yang tipis ke atas.

Perenjak jawa merupakan burung dengan persebaran terbatas atau endemik. Burung ini hanya bisa ditemukan di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatra. Di Sumatra, ciblek tinggal di daerah dengan ketinggian sekitar 900 mdpl. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali biasanya menghuni wilayah dengan ketinggian 0 hingga 1.500 mdpl.

baca juga:  Elang Jawa / Garuda - Taksonomi, Morfologi, Habitat, Sebaran, Reproduksi, Ancaman Kepunahan & Konservasi

Makanan

Seperti burung pengicau lainnya, makanan utama burung ciblek adalah serangga kecil, seperti jangkrik, ulat, kroto, lalat belalang, dan capung. Burung ciblek akan berburu makanan di permukaan tanah hingga ke tajuk pepohonan. Saat dipelihara dalam kandang. biasanya mereka diberi pakan berupa voer atau pisang.

Populasi

Sebelum tahun 1990, burung ciblek masih banyak terbang bebas dengan liar layaknya burung gereja dan burung pipit. Sifatnya yang mudah beradaptasi dan jinak membuat burung mungil ini memiliki populasi yang cukup banyak di berbagai wilayah.

ciblek Pixabay

Namun karena kicauannya yang merdu, menjadikan orang-orang tertarik sehingga mulai banyak memburunya untuk diperjualbelikan, terutama di wilayah Jawa. Karena merupakan burung liar yang jinak dan habitatnya yang mudah dijumpai, maka membuat burung ciblek mudah untuk ditangkap.

Burung ini mudah stress dan mati jika dipelihara dengan cara yang salah. Faktor penyebabnya biasanya adalah orang yang memeliharanya kurang berpengalaman. Namun masalah ini tak menyurutkan minat para pemburu burung. Hingga saat ini, burung ciblek masih banyak ditangkap meskipun tak mudah untuk dikembangbiakkan atau dibudidayakan.

Eksploitasi berlebihan menyebabkan burung prenjak kini sulit ditemukan di wilayah tertentu, seperti pinggiran Jakarta dan Bogor. Burung ciblek juga kian jarang terlihat di taman-taman dan hanya ada di daerah yang masih dekat dengan hutan.

baca juga:  Bonsai - Bentuk, Ciri, 21 Jenis, Pembuatan dan Harga