Burung Hantu – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Jenis & Kelangkaan

Meski tidak berinteraksi secara langung, burung hantu merupakan salah satu binatang yang keberadaannya cukup dekat dengan kehidupan manusia. Kelompok aves ini dikenal sebagai satwa buas yang tergolong dalam jenis karnivora atau pemakan daging. Akan tetapi tidak jarang penghobi yang menjinakkan satwa ini untuk dijadikan hewan peliharaan.

Sama halnya dengan kelelawar, burung hantu juga masuk dalam jenis hewan nokturnal, yaitu hewan yang beraktivitas di malam hari. Burung ini seringkali dijadikan simbol tertentu di beberapa wilayah karena sifat dan karakteristiknya yang khas. Sebaran burung ini cukup luas di dunia dan terbagi menjadi beberapa jenis.

Taksonomi

Tidak ada sumber pasti yang menyebutkan mengapa satwa dengan nama lain owl ini diberi nama burung hantu. Hanya saja sudah menjadi rahasia umum di masyarakat Indonesia jika binatang yang aktif pada malam hari dianggap sebagai pertanda maut. Alasan inilah yang paling banyak diyakini oleh masyarakat luas.

burung hantu terbang Pixabay

Namun pada kenyataannya tidak semua wilayah di Indonesia menyebut satwa ini sebagai burung hantu. Contohnya, di Jawa burung pemakan daging ini dikenal sebagai dares dan manuk dares yang artinya tidak berkaitan sama sekali dengan maut. Bahkan di Indonesia wilayah barat justru dianggap sebagai simbol kebijaksanaan.

Berikut ini adalah taksonomi dari burung hantu, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumChordata
SuperkelasTetrapoda
KelasAves
SuperordoStrigimorphae
OrdoStrigiformes
FamiliStrigidae
GenusKetupa
SpesiesKetupa ketupu  

Morfologi

Ciri morfologi burung hantu terletak pada bagian wajahnya, yaitu satwa ini memiliki mata yang sangat unik dan berbeda dengan jenis burung lainnya. Jika kebanyakan kelompok aves memiliki mata menghadap ke samping, maka mata burung ini menghadap ke depan. Selain itu ukuran matanya juga sangat besar dengan warna kuning terang.

Sebagai jenis karnivora, burung hantu mempunyai bentuk paruh mirip dengan burung elang jawa. Paruh tersebut berbentuk bengkok dan tajam menyesuaikan dengan jenis makanannya, yaitu daging.

Hal unik juga terletak pada bagian leher burung ini, yakni dapat berputar hingga 180 derajat. Oleh karena itu jangan heran jika saat tubuhnya menghadap ke depan, namun wajahnya menghadap ke belakang.

Pixabay

Area wajah burung ini dikelilingi oleh bulu-bulu dan karakter wajahnya berbentuk love. Hal tersebut menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi binatang malam ini, namun sekaligus membuatnya tampak menyeramkan. Umumnya warna bulu satwa ini adalah cokelat dan abu-abu yang dipadukan dengan bercak hitam putih.

Ekor burung hantu rata-rata berukuran pendek. Akan tetapi satwa dengan nama Latin Ketupa ketupu ini memiliki sayap yang luar biasa besar dan sangat lebar. Ketika burung ini merentangkan sayapnya, maka lebarnya bisa setara tiga kali dari panjang tubuhnya sendiri.

Selain itu kaki burung hantu juga dikenal sangat kuat dan cekatan, sehingga mampu mencengkeram sesuatu dengan begitu eratnya. Kekuatan cengkeraman dan paruh tajam inilah yang dimanfaatkan untuk berburu dan menangkap mangsa dengan cepat.

Habitat dan Sebaran

Burung hantu termasuk jenis satwa yang dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan, kecuali gurun dan wilayah kutub. Akan tetapi binatang nokturnal ini sebenarnya lebih senang tinggal di habitat terbuka seperti tepi sungai, pekarangan, perkotaan, kebun, padang rumput, semak-semak, sawah, serta area atau pinggir hutan yang tidak begitu lebat.

Ketinggian habitat yang disukai oleh satwa ini adalah dataran rendah pada ketinggian 1.500 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut. Meski berada di ketinggian tersebut, burung ini akan memilih wilayah yang tidak memiliki suhu rendah. Berdasarkan naluri, rata-rata burung hantu menghindari hutan karena tingkat perburuan di kawasan tersebut sangat tinggi.

Meski menyukai habitat terbuka, faktanya burung hantu membangun sarang di wilayah yang jauh dari pemukiman penduduk. Sarang tersebut berada di atas ranting pohon-pohon yang sangat tinggi, di mana terdapat lubang atau celah, salah satunya jenis pohon suntuk sarang burung ini adalah pohon palem.

Sebagian burung hantu juga membuat sarang di atap bangunan atau bagian-bagian rumah yang jarang terjamah oleh manusia. Lokasi ini akan memudahkan untuk keluar setelah hari gelap. Satwa ini akan meninggalkan sarangnya pada waktu malam hari untuk beraktivitas mencari mangsa.

Area terbuka disenangi oleh burung ini karena memudahkan binatang malam ini untuk mencari mangsa, misalnya di sekitar sungai dan wilayah persawahan. Keberadaan burung hantu di persawahan memiliki manfaat besar bagi petani, sebab burung ini akan memangsa hama seperti tikus, kodok, dan serangga yang merusak tanaman. Oleh karena itu, burung ini juga disebut sahabat petani.

Persebaran satwa ini nyaris terdapat di berbagai belahan bumi kecuali kutub dan gurun. Mulai dari Amerika Utara selain Kanada, Amerika Selatan, Amerika Tengah, sebagian besar Benua Eropa, kawasan sub-sahara di Benua Afrika, India, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Timor Leste.

Status Kelangkaan

Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, diketahui bahwa burung hantu atau owl dengan nama Latin Ketupa ketupu masuk dalam kategori Least Concern atau LC. Status tersebut diperoleh hewan nokturnal ini pada tahun 2016 silam.

Maksud dari status Least Concern adalah memiliki risiko rendah, artinya spesies ini tidak masuk dalam satwa kategori terancam atau hampir punah. Kondisi ini tidak lepas dari fakta ada begitu banyak spesies yang tersebar di berbagai belahan dunia. Hanya saja status kelangkaan tersebut mungkin berbeda untuk spesies burung lainnya.

Perilaku & Karakteristik

Burung hantu adalah pengintai yang sangat tajam dan cerdik. Satwa ini terkenal berperilaku diam dan tidak mengeluarkan bunyi bahkan pada saat terbang. Burung ini lebih sering dijumpai mematung serta tidak banyak melakukan gerakan. Hal tersebut menjadikan keberadaan satwa nokturnal ini sulit untuk dideteksi.

Ada beberapa spesies burung hantu dengan kemampuan mengukur jarak buruan serta posisi mangsanya secara akurat dalam kondisi gelap total. Kemampuan ini diperoleh dari pendengarannya yang tajam dan bulu-bulu wajah yang berfungsi seperti radar untuk mengarahkan pada sumber suara.

Rata-rata fauna ini melakukan perburuan mangsa di waktu malam. Akan tetapi ada juga yang berburu menjelang subuh atau ketika kondisi hari sudah mulai remang-remang. Asa hal yang juga menarik, yaitu ada beberapa spesies yang justru berburu pada sore hari atau krepuskular dan juga siang hari.

Pada siang hari burung hantu akan menghabiskan waktu dengan tidur di dalam sarangnya yang terlindungi oleh dedaunan. Kemudian pada saat malam tiba binatang ini akan mulai mengeluarkan suara dari dalam sarangnya dan hal ini terus berlangsung termasuk ketika satwa ini keluar dan mengelilingi sarangnya sambil terbang.

Binatang nokturnal ini juga memiliki kebiasaan untuk melindungi wilayah teritorialnya. Upaya menandai wilayah kekuasan ini jugalah yang membuat burung hantu akan mengeluarkan suara dan mengelilingi sarangnya pada waktu malam hari. Apabila ada musuh yang mendekat wilayah teritorinya, maka satwa ini akan bersiaga untuk melakukan perlawanan. 

Reproduksi

Ketupa ketupu atau burung hantu adalah kelompok ovipar, yaitu perkembangbiakannya dilakukan dengan cara bertelur. Jumlah telur yang dihasilkan pun tidak begitu banyak, yaitu hanya sekitar satu butir hingga empat butir saja. Namun jumlah telur tersebut bergantung pada spesies dari burung itu sendiri.

Kematangan reproduksi akan dimulai minimal setahun setelah menetas dari telurnya. Waktu yang cukup seimbang dengan jumlah telur yang dihasilkan. Umumnya setiap burung hantu yang memiliki telur akan merawat anaknya hingga usia dewasa dan baru melepaskan setelah dirasa mampu untuk mencari makan sendiri.

Masa perkembangbiakan burung hantu bergantung pada jenis spesiesnya, seperti pada musim semi di kawasan beriklim sedang. Kegiatan ini juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca di tempat tinggal, penyakit yang dimiliki, ketersediaan bahan makanan, tingkat persiangan dengan burung lain, serta kecocokan dengan pasangan.

Tidak jauh berbeda dengan binatang lainnya, burung hantu juga akan mengeluarkan suara tertentu ketika ingin kawin. Jantan akan melakukan usaha untuk menarik perhatian betina melalui beberapa cara tertentu. Selain bersuara, hewan ini akan mengubah perilaku seperti gaya terbang khusus dan memberi makanan. Usaha ini dianggap berhasil jika betina datang ke sarang jantan.

Jenis Burung Hantu

Burung hantu atau owl terbagi menjadi beberapa spesies yang sangat variatif. Apabila dikonversi jumlah yang sudah terverifikasi mencapai kurang lebih 222 jenis. Semua spesies tersebut menyebar di berbagai penjuru dunia dan masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Secara umum burung hantu dibagi menjadi dua, yaitu Strigidae atau burung hantu sejati dan Tytonidae atau burung hantu serak. Berikut ini adalah beberapa jenis burung hantu dari berbagai jenis yang ada di dunia, antara lain:

1. Burung Hantu Serak Jawa

Burung Hantu Serak Jawa merupakan bagian dari kelompok Tytonidae. Nama Latin dari jenis ini adalah Tyto alba dan dikenal memiliki kecantikan yang sangat khas. Daya tariknya terletak pada bagian wajah yang berbentuk hati, sehingga membuatnya sangat mudah dikenali.

Burung Hantu Serak Jawa Pixabay

Ukuran tubuh Burung Hantu Serak Jawa sekitar 34 cm dan memiliki tekstur bulu yang sangat menawan. Bulu spesies ini sangat halus apabila diraba, sedangkan bulu di bagian sayapnya memiliki tekstur licin dan berwarna kecokelatan. Bulu di bagian bawahnya sedikit berbeda dengan warna putih berpadu bintik-bintik hitam.

Jenis burung hantu ini banyak menjadi predator tikus di sawah dan perkebunan, khususnya di Indonesia. Maka dari itu pemerintah mulai mencanangkan program penangkaran Burung Hantu Serak Jawa untuk membantu menjaga tanaman petani dari serangan hama. Sebab setelah melalui analisis ternyata kelompok aves ini lebih efektif mengendalikan hama tikus dibanding satwa lainnya.

2. Burung Hantu Celepuk Reban

Burung Hantu Celepuk Reban adalah kelompok burung hantu sejati atau Strigidae dengan nama Latin Otus lempiji. Spesies satu ini menyebar di sepanjang kawasan Asia Selatan dan dapat pula ditemukan di Indonesia. Misalnya di Sunda, disebut sebagai bueuk dan di Jawa dengan nama manuk kuwek.

Burung Hantu Celepuk Reban Pixabay

Jenis burung hantu ini menempati habitat di wilayah ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Umumnya mereka bersarang di lubang kayu yang berada di atas pepohonan tinggi. Burung Hantu Celepuk Reban sering beraktivitas di sekitar perkebunan dan pekarangan rumah.

3. Burung Hantu Salju Putih

Burung Hantu Salju Putih adalah kelompok salah satu jenis yang banyak diperjualbelikan karena memiliki tampilan yang cantik dan menawan. Sesuai dengan namanya, burung satu ini hanya dapat hidup di kawasan yang mempunyai musim salju, misalnya di kawasan Eropa.

Burung Hantu Salju Putih Pixabay

Bulu spesies ini berwarna putih bersih layaknya salju dan memiliki bentuk tubuh elegan dan rapi. Ukuran tubuhnya tidak terlalu besar, hanya sekitar 30 sampai 35 cm. Seperti burung hantu lain, wajahnya berbentuk hati dan sering dijadikan sebagai peliharaan oleh manusia.

4. Burung Hantu Ketupa

Burung Hantu Ketupa Pixabay

Burung Hantu Ketupa juga disebut sebagai buffy fish merupakan salah satu jenis burung yang kerap diperdagangkan. Ukuran tubuh spesies ini sekitar 50 cm dan memiliki bulu indah. Warna bulunya meliputo krem hingga cokelat dengan bulu yang menjuntai ke bawah memberi kesan mewah.

5. Burung Hantu Kelabu Besar

Burung Hantu Kelabu Besar adalah kelompok Strigidae dengan karakter wajah yang menyeramkan. Spesies ini adalah satu-satunya kelompok yang digambarkan dalam kisah perjalanan keliling dunia Johann Reinhold Foster pada tahun 1722.

Jenis ini juga biasa disebut dengan nama great gray owl dan strixx nebulos. Arti kata ‘nebulos’ adalah berkabut, makna ini diambil dari warna bulu Burung Hantu Kelabu Besar yang menyerupai kabut. Beberapa nama lain dari jenis ini adalah phantom of the north, lapland owl, cinerous owl, sooty owl, spruce owl, bearded owl, dan grear gray ghost.

Burung Hantu Kelabu Besar Pixabay

Nama tersebut bergantung pada wilayah yang ditinggali oleh burung hantu ini. Persebarannya meliputi wilayah Kanada, California, Amerika Serikat, dan juga Alaska. Mangsa dari spesies ini yaitu vole, binatang pengerat yang menyerupai tikus tetapi bertubuh bundar dan berukuran kecil.

Spesies ini adalah salah satu burung hantu yang aktif tidak hanya di malam hari, tetapi juga pada saat remang-remang menjelang subuh dan siang hari ketika sedang bertelur. Saat musim dingin binatang ini memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan mangsa lebih banyak dibanding pada musim panas.

Ukuran tubuh Burung Hantu Kelabu Besar sekitar 64 sampai 68 cm dengan berat badan 790 sampai 1.454 gram. Jika hidup di dalam penangkaran, satwa ini dapat bertahan sangat lama, yaitu hingga usia 40 tahun. Akan tetapi ketika berada di alam liar tidak jarang ditemukan mati akibat kurangnya persediaan makanan. 

6. Burung Hantu Pere David

Burung hantu Pere David adalah salah satu kelompok burung hantu sejati dengan nama Latin Strix davidi yang memiliki morfologi berbeda dari spesies yang hidup di Indonesia. Satwa ini diketahui hidup di sepanjang wilayah pegunungan China Tengah tepatnya di Qinghai dan Sichuan.

Terdapat fakta menarik tentang Burung Hantu Pere David, yaitu spesies ini dikenal sebagai satwa yang dianggap mendatangkan petaka. Bahkan berdasarkan kisah dari bangsa Romawi Kuno, diketahui bahwa burung ini dipercaya sebagai burung pemakan daging dan darah seperti vampir.

7. Burung Hantu Elang Andaman

Burung Hantu Elang Andaman masuk dalam kelompok Strigidae. Spesies ini masuk dalam genus Ninox dan merupakan satwa endemik yang hanya dapat hidup pada wilayah tertentu di dataran India. Banyak orang yang juga memasukkan spesies ini dalam jenis Pere David.