Burung Puyuh – Taksonomi, Morfologi, Ciri, Jenis & Reproduksi

Hampir semua orang tentu mengenal burung puyuh. Spesies yang menjadi burung budidaya ini dikenal sebagai salah satu satwa penghasil telur. Di alam liar burung dengan bentuk unik dan berukuran kecil ini juga mempunyai kebiasaan tersendiri.

Burung puyuh memiliki ukuran telur yang sangat kecil jika dibanding telur ayam, selain itu telurnya juga mempunyai corak hitam pada bagian cangkangnya. Meski berukuran lebih kecil, di pasaran justru harga telur puyuh lebih mahal dibanding telur ayam.

Burung puyuh sebagai penghasil telur puyuh merupakan kelompok unggas yang diternakkan untuk diambil telurnya. Harga mahal telur puyuh sebenarnya sepadan dengan kandungan nutrisi yang dimilikinya.

Taksonomi

Burung puyuh adalah jenis satwa yang dapat dijumpai hampir di berbagai belahan dunia. Sedangkan mengenai budidaya burung puyuh, sejarah mencatat pertama kali dilakukan di Amerika pada kisaran tahun 1870. Sejak saat itu negara lain pun mulai mencoba untuk membudidayakan burung yang dikenal dengan nama song birds ini.

Pixabay

Indonesia adalah salah satu negara yang ikut beternak puyuh. Meski di Indonesia burung ini dapat dijumpai hidup liar di kawasan hutan dan perkebunan, tetapi peternakan burung puyuh baru pertama dilakukan dengan mengimpor bibit puyuh ke dalam negeri pada tahun 1979.

Berikut ini adalah taksonomi atau sistem klasifikasi dari burung puyuh, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasAves
FamiliPhanasianidae
OrdoGaliformes
GenusCoturnix
SpesiesCoturnix japonica

Morfologi

Ciri fisik burung puyuh sebenarnya bergantung pada spesiesnya, karena masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Ciri utama dari kelompok unggas ini adalah ukuran tubuhnya layaknya burung hias. Rata-rata panjang badannya hanya sekitar 19 cm dan pada beberapa spesies ada yang mencapai 28 cm.

Tidak hanya tubuh yang berukuran pendek, bentuknya juga gemuk sehingga tampak membulat, selain itu bagian kaki burung puyuh juga berukuran pendek.

Pixabay

Meski kakinya berukuran pendek, ternyata kaki tersebut mempunyai kemampuan kuat untuk berlari kencang. Pada kakinya terdapat jari-jari seperti yang dimiliki burung lainnya dengan jumlah empat jari.

Warna bulu burung puyuh juga sangat bervariasi, namun paling umum adalah berwarna cokelat kekuningan atau cokelat kemerahan. Selain itu pada bulunya juga terdapat corak khusus yang berbeda-beda antar spesies. Corak ini biasanya berwarna putih, abu-abu, kuning, dan merah.

Burung puyuh jantan dan betina mempunyai perbedaan mendasar pada ukuran tubuhnya, tubuh jantan lebih kecil dibanding betina. Selain itu bulu dada jantan berwarna cokelat polos, sedangkan pada betina terdapat corak kemerahan. Perbedaan lainnya adalah adanya tonjolan di atas kloaka jantan yang dapat mengeluarkan cairan putih mirip pasta ketika ditekan.

Habitat dan Sebaran

Meski jarang dijumpai di alam, burung puyuh sejatinya termasuk satwa yang menyukai hidup di wilayah terbuka. Beberapa tipe lingkungan yang disukai satwa dengan nama lain song birds ini antara lain stepa, padang rumput, dan juga area lereng gunung dengan kondisi kering tetapi dekat dari sumber air.

Untuk suhu lingkungan yang sesuai dengan habitat burung puyuh berkisar antara 24 sampai 30 derajat Celcius dan kelembabannya kurang lebih sebesar 85%. Namun fakta di lapangan tidak menutup kemungkinan jika habitat puyuh dapat bervariasi sesuai dengan spesiesnya, seperti Gambles Quail yang hanya hidup di Amerika Utara.

Contoh lain adalah spesies Coturnix japonica yang tersebar di sepanjang kawasan Asia Timur seperti Mongolia, Baikal dan Vitim di Rusia, Pulau Sakhalin, Cina Timur, Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang.

Hanya saja spesies ini dikenal suka bermigrasi saat musim dingin berlangsung menuju wilayah selatan seperti Asia Tenggara, India, dan Cina Selatan.

Status Kelangkaan

Berdasarkan data yang diambil dari International Union for Conservation of Natura (IUCN) Red List, spesies burung puyuh dengan nama Latin Coturnix japonica masuk ke dalam kelompok satwa dengan status Near Threatened atau NT. Status ini ditujukan untuk spesies hampir terancam, tetapi belum masuk dalam kategori terancam punah.

anak puyuh Pixabay

Status Near Threatened diberikan pertama kali pada spesies puyuh Coturnix japonica pada tahun 2010 lalu dan telah diperbaharui sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2012 dan 2016. Catatan pertama IUCN tentang spesies ini adalah pada tahun 2004 dengan status Least Concern (LC) atau masih aman.

Alasan yang melatarbelakangi masuknya burung puyuh ke dalam jenis satwa yang hampir terancam yaitu akibat penurunan populasi berlangsung sangat cepat. Hal ini bisa dilihat dari data tahun 2009 dengan status masih aman, tetapi tahun berikutnya berubah menjadi hampir terancam. Selain itu tingkat perburuan burung puyuh juga sangat tinggi dan budidaya burung ini juga perlahan mulai menurun.

Karakteristik & Perilaku

Puyuh merupakan kelompok aves yang banyak diternakkan selain ayam dan bebek. Tidak seperti burung pada umumnya yang memiliki kemampuan terbang, burung puyuh justru tidak bisa terbang. Kondisi ini sama halnya dengan ayam yang juga tidak memiliki kemampuan untuk terbang.

Akan tetapi pada waktu terdesak unggas ini sesekali dapat menunjukkan kemampuan terbangnya, misalnya ketika ada musuh yang mendekat. Kecepatan terbangnya pun sangat cepat, akan tetapi karena tidak terbiasa terbang maka jarak tempuhnya juga tidak terlalu jauh.

Khusus untuk spesies Coturnix japonica kemampuan terbangnya sedikit lebih baik, sehingga jarak tempuhnya lebih jauh dibanding spesies puyuh yang lain. Biasanya burung puyuh akan berjalan mencari makan di atas area terbuka. Jenis makanan burung ini cukup bervariasi, mulai dari serangga hingga biji-bijian.

Fauna ini mempunyai kebiasaan yang cukup unik, yaitu sangat menjaga kebersihan bulunya. Bahkan dalam sehari burung puyuh dapat membersihkan bulunya pada siang dan malam hari. Tidak hanya itu, burung yang banyak diternakkan ini juga dikenal memiliki ketahanan tubuh sangat baik dari gangguan penyakit.

Perkembangbiakan

Burung puyuh mulai berkembangbiak saat usianya sudah memasuki 42 hari atau sekitar satu setengah bulan. Kemudian pada saat berusia 50 hari sistem reproduksi burung ini sudah sangat matang. Sejak usia tersebut puyuh betina akan mengalami peningkatan reproduksi sebanyak 98,5% hingga mencapai puncaknya pada usia empat sampai lima bulan.

Setelah melewati usia empat atau lima bulan, kinerja reproduksi akan menurun secara perlahan hingga penurunannya mencapai 70% pada usia sembilan bulan. Kelompok aves ini mampu menghasilkan kurang lebih 200 butir telur pada tahun pertama kehidupannya, yaitu sekitar 9 sampai 12 bulan.

ternak puyuh Pixabay

Induk puyuh biasanya tidak mengerami telur yang dihasilkan, sehingga telur tersebut dapat menetas berkat bantuan kondisi alam dan lingkungan. Telur yang dihasilkan umumnya akan menetas pada hari ke-16.

Jadi tidak heran jika telur puyuh banyak ditemukan bertebaran di areal persawahan atau hutan. Setelah itu anak burung puyuh yang baru menetas mempunyai kemampuan untuk mencari makan sendiri dan melindungi dirinya sendiri.

Cara perlindungan diri yang dilakukan anak puyuh adalah dengan bersembunyi di balik semak belukar sambil mencari serangga sebagai mangsa. Sayangnya kebiasaan induk puyuh yang mengabaikan telurnya tersebut berimbas pada peluang predator untuk memakan telur puyuh semakin besar.

Ketika memasuki usia dewasa muncul perbedaan antara ciri-ciri puyuh jantan dan betina. Burung puyuh jantan menandai masa kedewasaannya dengan mulai mengeluarkan suara kokok, sedangkan burung puyuh betina bisa dilihat dengan keaktifan memproduksi telur.

Jenis Burung Puyuh

Burung puyuh terbagi menjadi beberapa spesies, akan tetapi jenis putuh yang umum diternakkan berasal dari famili Phasianidae, misalnya spesies Coturnix coturnix japonica.

Selain itu ada pula spesies lain yang berasal dari famili Odontophoridae dan Turnicidae yang ditetapkan sebagai burung puyuh karena memiliki perlikau mirip.

Berikut ini beberapa jenis burung puyuh, antara lain:

1. Burung Puyuh Mahkota

Burung Puyuh Mahkota bernama Latin Rollulus roulroul. Puyuh ini dikenal sebagai spesies bertubuh paling indah. Seperti puyuh pada umumnya, ukuran tubuhnya hanya sekitar 25 cm dan berbentuk bulat. Bulunya berwarna cokelat keabu-abuan dengan bercak putih dan abu-abu di depan tubuhnya yang menyerupai sisik ikan.

Dengan bentuk fisik seperi itu, spesies yang juga disebut scaled quail ini kerap dijadikan burung hias. Habitat hidup Burung Puyuh Mahkota berada di kawasan hutan Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Malaysia, dan Thailand pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

2. Burung Puyuh Tegalan Loreng

Burung Puyuh Tegalan Loreng atau bernama Latin Turnix suscitator adalah salah satu spesies puyuh tubuhnya berukuran kecil. Diketahui bahwa panjang tubuhnya hanya sekitar 16 cm dan mempunyai mahkota unik dengan bercak kecokelatan. Sementara itu bagian dagu dan leher spesies ini berwarna hitam.

Ukuran tubuh betina Burung Puyuh Tegalan Loreng sedikit lebih besar dibanding jantan. Burung betina umumnya mempunyai lebih dari satu pasangan.

Spesies ini tersebar di sepanjang kawasan India, kemudian ke China dan Jepang, serta di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia spesies ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.

3. Gambels Quail

Gambles quail atau puyuh bernama Latin Lophortix Gambelli adalah burung puyuh yang dikenal sangat lucu sehingga juga cocok dijadikan sebagai burung hias. Tubuh spesies ini pendek dan gemuk dengan ukuran sekitar 25 sampai 28 cm. Di bagian atas kepalanya terdapat jambul yang sebenarnya adalah bulu panjang.

Warna tubuhnya juga unik, yaitu pada bagian kepalanya berwarna cokelat dengan bercak putih, dada berwarna kuning gelap dengan bercak hitam, dan badannya berwana kemerahan. Kakinya berukuran kecil tetapi sangat kuat. Spesies ini hanya bisa hidup di kawasan Amerika Utara yang tandus dan memiliki semak-semak.

4. Burung Puyuh Gonggong Jawa

Burung Puyuh Gonggong Jawa juga biasa disebut chesnut bellied partridge dengan nama latin Arborophila javanica. Sesuai namanya spesies ini hidup di Pulau Jawa dan mempunyai karaktersitik berupa bentuk cincin hitam di kepalanya. Ukuran tubuhnya 25 cm, bulunya berwarna kemerah-merahan, ekornya abu-abu, dan sayapnya cokelat bercak hitam.

5. Burung Puyuh Kuning

Spesies puyuh lainnya adalah Burung Puyuh Kuning atau Turnix syvatica. Puyuh ini mempunyai tubuh sangat mungil. Ukurannya hanya sekitar 14 cm dan berasal dari famili Turnicidae atau puyuh kancing. Habitat hidupnya cukup luas mulai dari kawasan Spanyol Selatan, Afrika Selatan, hingga Asia pada wilayah terbuka dan semak belukar.