Burung Rangkong – Satwa Endemik Indonesia Semakin Langka

Burung Rangkong atau juga disebut Enggang, Julang atau Kangkareng adalah spesies burung besar yang tersebar di Asia beriklim tropis, Afrika dan Papua Nugini. Burung yang memiliki ciri badan besar, paruh besar dan panjang ini juga menjadi kekayaan fauna Indonesia, namun populasinya semakin terancam punah akibat perburuan.

Oleh Suku Dayak, rangkong termasuk burung yang dianggap suci dan menjadi lambang persatuan masyarakat. Perannya bagi kelestarian hutan pun sangat penting, yaitu sebagai penebar biji yang mempercepat regenerasi hutan.

Di Indonesia tersebar beberapa jenis rangkong dan berstatus sebagai burung endemik, meliputi wilayah hutan Sumatera, hutan Kalimantan, dan hutan Jawa. Salah satunya adalah burung rangkong terbesar, yaitu Rangkong Gading.

Taksonomi

Secara ilmiah, rangkong diklasifikasikan sebagai berikut:

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasAves
OrdoBuceritoforme
FamiliBucerotidae
Sub FamiliBucerotinae, Bucorvinae
GenusTropicranus, Tockus, Ocyceros, Anthracoceros, Buceros, Rhinoplax, Anorrhinus, Penelopides, Berenicornis, Aceros, Rhyticeros, Bycanistes, Ceratogymna dan Bucorvus

Morfologi

Penampilan fisik rangkong atau enggang cukup unik, terutama bagian atas paruh (balung) dan warnanya. Keunikan ini hanya dimiliki oleh burung ini dan tidak dimiliki oleh burung lainnya.

Balung atau Casque adalah tonjolan yang berada di atas paruh rangkong. Fungsi dari organ ini adalah sebagai ruang dengung suara karena balung mempunyai struktur berongga.

rangkong Pixabay

Jika dibandingkan dengan spesies burung pada umumnya, ukuran tubuh rangkong dikatakan besar, terutama spesies Rangkong Gading. Sebagian besar jenis Burung Enggang memiliki paruh besar, panjang, melengkung dengan bobot ringan. Bentuk paruhnya sangat unik dan karena keunikan inilah banyak pemburu yang mencarinya dan mengancam populasi burung langka ini.

Tubuh rangkong dapat tumbuh antara 65 sampai 170 cm tergantung jenis, sedangkan beratnya berkisar antara 290 hingga 4.200 gram. Meskipun memiliki tubuh yang besar dan berat, ternyata burung rangkong termasuk jenis burung dengan kemampuan terbang.

Untuk membedakan rangkong jantan dan betina, kita dapat melihatnya dari warna bulu. Enggang jantan memiliki warna bulu yang lebih mencolok dibanding dengan enggang betina. Seluruh tubuh rangkong ditumbuhi bulu yang sebagian besar berwarna hitam, abu-abu, dan putih serta terdapat bulu warna merah dan kuning pada bagian leher, kepala dan lingkar mata. Fungsi warna yang lebih mencolok pada burung jantan adalah untuk menarik perhatian betina.

Sebaran

Terdapat 62 jenis rangkong yang tersebar di kawasan Afrika, Asia wilayah tropis, Indonesia dan Papua. Di kawasan Asia tropis terdapat 32 jenis dan secara khusus Indonesia memiliki 13 jenis rangkong yang 3 diantaranya merupakan endemik Indonesia.

Di Indonesia rangkong tersebar di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Papua, dan Sumba. Sebaran terbanyak ada di Pulau Sumatera, yaitu 9 jenis rangkong.

Jenis Burung Rangkong

Berikut ini adalah jenis-jenis rangkong yang ada di Indonesia, antara lain:

  1. Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) berasal dari Sulawesi (endemik)
  2. Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatusI) berasal dari Sulawesi (endemik)
  3. Julang Sumba (Rhyticeros everetti) berasal dari Sumba (endemik)
  4. Enggang Klihingan (Annorrhinus galeritus)
  5. Enggang Jambul (Berenicornis comatus)
  6. Julang Jambul Hitam (Rhabdotorrhinus corrugatusI)
  7. Julang Emas (Rhyticeros undulates)
  8. Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus)
  9. Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris)
  10. Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)
  11. Enggang Gading (Rhinopkex vigil)
  12. Rangkong Papan (Buceros bicornis)
  13. Julang Papua (Rhyticeros plicatus)

Makanan

Burung Enggang adalah jenis burung frugivora, yakni burung pemakan buah-buahan. Burung ini dapat memakan 3 jenis buah, seperti buah berkulit keras (husked), buah berdaging (drupaceus) yang mengandung banyak lemak tinggi dan fig (ficus) yang mengandung protein, karbohidrat, kalsium dan air. Contohnya adalah buah keanri, buah pala dan buah beringin.

burung enggang Pixabay

Cara burung ini memakan buah-buahan juga unik, yaitu degan memasukkan dan melumat buah di dalam paruh kemudian biji dikeluarkan setelah daging buah ditelan. Selain itu, cara makan lainnya adalah dengan menelan buah sekaligus dan mengeluarkan bijinya bersama kotoran, namun cara ini biasa dilakukan untuk buah-buah berbiji kecil atau halus.

Selain memakan buah-buahan, ternyata burung ini juga pemakan serangga. Biasanya hal ini dilakukan jika buah-buahan di hutan sulit ditemukan sehingga rangkong mencari serangga untuk dimakan.

Selain itu, ketika memasuki masa berkembangbiak, burung ini juga lebih sering memakan serangga. Beberapa contoh serangga makanan burung rangkong adalah jangkring, semut, belalang, kroto, rayap, ulat, larva kumbang, laba-laba, kumbang dan sebagainya.

Habitat & Daya Jelajah

Burung rangkong umumnya tinggal di kawasan hutan dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 1.000 mdpl, serta kawasan hutan tropis. Daya jelajah burung ini juga cukup luas, yaitu mencapai 100 km2. Kemampuan ini sangat menguntungkan bagi regenerasi hutan karena buah serta biji yang dimakan rangkong dapat tersebar pada luasan tersebut.

Kondisi hutan sangat berpengaruh terhadap kehidupan rangkong, karena burung ini membutuhkan tempat hidup berupa virgin forest atau hutan perawan sehingga dapat bebas mencari makan serta membuat sarang untuk mengerami telurnya.

Kerusakan hutan akibat defoforestasi atau kegiatan manusia lainnya secara langsung maupun tidak akan menurunkan populasi Burung Rangkong di alam. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan Enggang yang membuat sarang pada lubang pohon yang berdiameter besar. Berkurangnya tegakan pohon pasti akan membuat rangkong sulit untuk menemukan sarang yang tepat.

Perilaku

Salah satu perilaku unik burung ini adalah bersarang di lubang pohon. Sarang tersebut digunakan oleh Burung Rangkong betina untuk mengerami telur, kemudian ditutupi dengan lumpur, tanah, semak rumpu atau sisa makanan untuk melindungi telur dari pemangsa. Selain itu burung ini juga menghasilkan suara unik dan terdengat seperti panggilan “Calling”.

Perkembangbiakan

Saat memasuki musim kawin dan bertelur, sarang akan dibuat oleh burung jantan di batang pohon yang tinggi. Kebiasaannya adalah membuat sarang di pohon dengan diameter lebih dari 45 cm dengan ketinggian 20 hingga 50 diatas permukaan tanah. Selama betina mengeram telur, burung jantan akan memberi makanan melalui lubang sarang.

Pemberian makan tersebut dilakukan hingga telur menetas dan anak rangkong tumbuh dewasa dan siap untuk pisah dengan induknya. Setelah itu, burung muda akan keluar dan mencari makan bersama burung jantan, sedangkan burung betina akan menggugurkan bulu dan mengerami telur berikutnya.

Telur rangkong dierami antara 25 hari hingga 150 hari tergantung spesies, wilayah serta ukurannya. Semakin besar ukuran burung rangkong makan lama waktu pengeraman akan semakin panjang.

Contohnya adalah Rangkong Julang Emas yang membutuhkan waktu pengeraman 40 hari, Rangkong Badak sekitar 37 hingga 46 hari, serta Rangkong Gading selama 150 hari dan menjadi pengeraman paling lama dibanding rangkong lainnya.

Berikut adalah 5 tahaman bersarang Burung Rangkong menurut Poonswad (1993), yaitu:

  • Pre-nesting, yaitu proses perkawinan dan proses menemukan sarang untuk mengerami telur.
  • Pre-laying, yaitu proses peletakan telur pertama dan betina mulai mengurung diri.
  • Egg incubation, yaitu masa pengeraman telur yang memerlukan waktu hingga 4-6 minggu.
  • Nesting, yaitu masa betina keluar dari sarang untuk mencari makan.
  • Fledging, yaitu masa anakan siap keluar dari sarang dan masa pemecahan sarang yang telah dibuat.

Status Kelangkaan

Populasi burung rangkong di Indoensai saat ini berada dalam kondisi terancam punah dan jumlahnya di alam liar sangat jauh berkurang, terutama beberapa tahun belakangan ini.

IUCN memasukkan spesies Rangkong Gading ke dalam kategori Critically Endangered (CR) atau terancam punah. Sedangkan jenis Enggang lainnya masuk dalam kategori Vulnerable (VU), Near Threatened (NT) serta Least Concerned (LC).

rangkong gading Pixabay

Kelangkaan burung ini disebabkan oleh tingginya angka perburuan, perdagangan satwa liat, serta kondisi hutan yang rusak. Faktor utama rangkong menjadi fauna buruan adalah keunikan dan banyak kolektor ingin mengoleksinya secara illegal.

CITES memasukkan burung rangkong ke dalam status Appendix I, artinya spesies ini terancam dari segala bentuk perdagangan.

Upaya Konservasi

Untuk menjaga populasi dan kelestarian rangkong, upaya konservasi seperti Strategi dan Rencana Konservasi (sRAK) untuk Rangkong Gading telah dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara.

Peraturan perundangan yang menjaga keberadaan burung ini juga terdapat dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mengenai sanksi perburuan liar, yaitu barangsiapa yang melakukan perburuan hingga menyebabkan perubahan terhadap ekosistem hutan akan mendapatkan hukum pidana yang sesuai. Pada undang-undang tersebut juga disertakan jumlah denda hingga ancaman kurungan penjara yang bervariasi.

Burung rangkong (keluarga Bucerotidae) juga termasuk dalam jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang perubahan atas Peraturan menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi juga memasukkan jenis-jenis burung rangkong, antara lain:

  • Enggang Klihingan
  • Kangkareng Perut Putih
  • Kangkareng Hitam
  • Enggang Jambul
  • Enggang Papan
  • Enggang Cula
  • Enggang Jambul Hitam
  • Kangkareng Sulawesi
  • Rangkong Gading
  • Julang Sulawesi
  • Julang Sumba
  • Julang Irian
  • Julang Emas.

Lambang Kesucian Suku Dayak

Orang Dayak di Kalimantan sangat menghormati burung ini. Salah satunya adalah Rangkong Badak yang dijadikan simbol kesucian, kekuatan dan kekuasaan masyarakat Dayak. Burung ini memiliki penampilan unik dan istimewa, serta sering digunakan untuk upacara sipiritual adat setempat.

Warga dayak percaya pada mitos zaman dahulu yang menganggap rangkong mampu menjadi perantara komunkasi dengan arwah leluhur. Roh yang melindungi Pulau Kalimantan dan Suku Dayak dikatakan sering menampakkan diri dalam wujud burung rangkong raksasa. Hal itu juga yang mempengaruhi kesenian tari serta kebudayaan Dayak melalui motif rangkong yang sering ditemukan.