Curah Hujan – Pengertian, Jenis dan Metode Perhitungan

Curah hujan yang turun ke bumi tidak lepas dari suatu proses alami berkelanjutan, yaitu siklus hidrologi. Siklus hidrologi yang juga dikenal dengan siklus air, adalah proses yang diawali oleh menguapnya air ke atmosfer. Kemudian air dalam bentuk gas akan membentuk awan.

Selanjutnya, air dalam bentuk awan akan kembali turun ke bumi. Air yang turun ke bumi ini dikenal sebagai hujan, baik berbentuk hujan air, hujan salju atau hujan es.

Sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki musim kemarau dan penghujan yang dikatakan seimbang. Adanya dua jenis musim ini memberi pengaruh terhadap kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup di Indonesia. Oleh sebab itu, pentingnya mengerti dan memahami kondisi curah hujan setiap musim sangat diperlukan agar kegiatan berjalan lancar, khususnya dalam bidang pangan.

Pengertian Hujan

Hujan adalah rangkaian proses presipitasi cairan, yaitu fenomena alam terjadinya kondensasi uap air pada atmosfer yang mengalami penambahan uap air dan pendinginan, kemudian mengalami tabrakan satu sama lain, sehingga menjadi sebuah peristiwa yang disebut hujan.

Air yang menguap ke atmosfer dan terkumpul disebut awan. Awan merupakan substansi massa aerosol yang terdiri dari kondensasi uap air, debu, garam laut, asap, dan berbagai macam zat mikroskopik higroskopis lain yang terangkat ke atmosfer.

Ketika jumlah awan semakin banyak, membesar dan semakin berat, serta mendapat pengaruh tarikan gravitasi bumi, maka awan kembali turun menjauhi atmosfer.

Saat awan menuruni atmosfer, maka suhu sekelilingnya tidak lagi berada pada titik beku. Oleh sebab itu, awan yang berbentuk massa padat akan terkondensasi menjadi hujan (jika udara di sekelilingnya berada diatas suhu 0⁰ C) atau salju (jika udara di sekelilingnya berada dibawah suhu 0⁰ C).

Hasil kondensasi awan tidak selalu menyebabkan terjadinya hujan, terutama bila massa uap air tidak lebih besar dan cepat dari aliran udara ke atas. Agar uap air dapat mencapai bumi dan menjadi hujan, maka dibutuhkan butiran atau tetes berukuran sekitar 500 mikrometer.

Pada wilayah dengan iklim tropis dan subtropis, biasanya hujan turun secara musiman (pembagian tahun berdasarkan iklim, biasanya berlangsung selama 3 sampai 6 bulan per musim). Sementara pada wilayah lainnya yang berada di atas garis ekuator atau pada belahan utara dan selatan, biasanya hujan turun tidak menentu. Sehingga pada wilayah tersebut tidak mengenal musim penghujan.

Terdapat pula kawasan yang disebut hutan hujan tropis. Jenis hutan ini memiliki curah hujan sangat tinggi. Hujan selalu turun secara merata sepanjang tahun.

Proses Terjadinya Hujan

Turunnya hujan merupakan bagian dari siklus hidrologi yang terus berulang. Daur air ini dipengaruhi pula oleh faktor lain seperti suhu, cahaya matahari dan angin dalam pembentukan hujan.

Berikut ini adalah proses terbentuknya hujan secara sederhana, yaitu:

1. Penguapan / Evapotranspirasi

Proses terjadinya hujan berawal dari penguapan air yang ada di bumi, baik dalam bentuk air permukaan (danau, laut, sungai) serta benda-benda lain yang mengandung air menguap ke atmosfer.

Pada proses ini terjadi perubahan bentuk zat yang berasal dari cairan menjad gas atau uap.

2. Pembentukan Awan

Uap air yang berasal dari porses penguapan akan naik hingga pada ketinggian atmosfer tertentu dan mengalami kondensasi. Kondensasi adalah proses perubahan zat gas atau uap menjadi cair. Udara yang terkondensasi tersebut akan membentuk butiran air dalam ukuran tertentu.

3. Perpindahan Awan

Oleh karena pengaruh angin, kumpulan titik-titik air di atmosfer akan berpindah tempat mengikuti arah tiupan angin. Dalam perjalanan tersebut, kemungkinan awan akan bertemu satu sama lain dan akan membentuk kumpulan awan yang lebih besar.

Ketika awan telah berada dalam kondisi jenuh kadar airnya, maka akan terjadi perubahan warna menjadi kelabu atau sering kita sebut mendung.

4. Hujan Turun

Awan yang mengandung butira-butiran air yang telah jenuh akan semakin berat. Karena pengaruh gravitasi, maka titik-titik air tersebut jatuh ke permukaan bumi atau disebut dengan hujan.

Jenis Hujan

Hujan memiliki berbagai macam jenis, baik dari segi struktur dan volume, serta dari penyebab terjadinya uap air yang membentuk hujan.

A. Hujan Berdasarkan Ukurannya

Berikut adalah jenis hujan berdasarkan ukuran diameter titik air hingga sampai ke daratan.

1. Gerimis

Butiran air dan halus yang turun dari langit disebut dengan gerimis. Air gerimis emiliki diameter kurang dari 500 mikrometer. Hujan jenis ini berasal dari bagian awan dengan ketinggian sedang, yaitu awan alto stratus yang memiliki ketinggian 2.000 hingga 7.000 kaki di atas permukaan laut.

2. Hujan Deras

Jenis hujan deras cirinya adalah air yang turun memiliki diameter sekitar 700 hingga 1.000 mikrometer per butir dan terkondensasi dalam volume yang besar. Hujan kategori deras berasal dari awan cumulonimbus dengan ketinggian 2.000-16.000 kaki diatas permukaan laut.

3. Hujan Es

Hujan es adalah hujan lokal yang jarang terjadi dan biasanya terjadi kurang lebih 10 menit . Penyebabnya adalah pengembunan mendadak. Hujan jenis ini dapat dialami oleh seluruh wilayah di dunia, termasuk wilayah tropis. Ukuran hujan es sekitar 6 cm per bongkahan. Hujan es berasal dari awan cumulonimbus yang bertumpuk secara vertikal hingga mencapai ketinggian 30.000 kaki atau lebih.

4. Salju

Salju adalah hujan yang berbentuk padat, berasal dari awan nimbostratus. Nimbostratus merupakan awan dengan ketinggian sedang yang berada pada daerah dingin (wilayah di atas garis ekuator).

salju merupakan hujan yang berbentuk padat hasil dari awan nimbostratus Pixabay

B. Hujan Berdasarkan Penyebab Terjadinya

Selain dibedakan dari ukuran atau volume hujan. Hujan juga dapat dibedakan dari penyebab penguapan uap air yang naik ke atmosfer hingga menyebabkan hujan.

1. Hujan Siklonal

Hujan ini hanya terjadi pada wilayah yang dilalui oleh garis ekuator. Hujan siklonal terjadi ketika terjadi penguapan karena cuaca panas hasil pertemuan angin pasat tenggara dan angin pasat timur laut. Uap air kemudian naik ke atas dan membentuk gumpalan awan gelap yang mengandung banyak uap air. Hujan yang turun sangat deras dan disertai angin, biasanya hanya berlangsung beberapa saat.

2. Hujan Orografis

Merupakan hujan yang terjadi di wilayah dataran tinggi dan pegunungan. Hujan ini umumnya turun di daerah lereng gunung.

Hujan orografis terjadi akibat massa udara di pegunungan yang banyak mengandung uap air dipaksa bergerak ke atas menyesuaikan topografi. Semakin ke atas, suhu akan terus menurun, sehingga uap air terpresipitasi membentuk awan.

Awan yang terbentuk akan semakin berat dan kembali turun tertarik oleh gravitasi. Kemudian awan tersebut dipengaruhi oleh angin fohn yang hangat dan bertiup diantara pegunungan, sehingga awan terkondensasi menjadi hujan.

3. Hujan Muson

Disebut dengan hujan muson, karena hujan ini terjadi saat angin muson di wilayah sekitar samudera hindia dan asia sebelah selatan bertiup karena suhu daratan lebih panas dibandingkan dengan suhu lautan. Angin yang bertiup disebabkan oleh tekanan udara yang rendah.

Tekanan udara rendah mampu menciptakan angin yang besar, kuat, konstan dan bertiup dalam periode tertentu. Angin dengan kondisi tersebut merupakan ciri angin muson (musim).

  1. Angin Muson Barat adalah angin yang bertiup dari benua Asia menuju ke benua Australia.
  2. Angin Muson Timur adalah angin yang bertiup dari benua Australia menuju ke benua Asia.

Angin muson yang menjadi penyebab turunnya hujan muson adalah angin muson barat. Angin ini bertiup saat matahari berada pada selatan bumi dan bergerak melewati banyak perairan, seperti lautan, samudera, dan daratan luas yang memiliki tekanan udara tinggi (dingin), sehingga banyak membawa massa uap air, dan menyebabkan hujan muson pada daerah yang dilewati garis ekuator.

4. Hujan Asam

Jenis hujan ini merupakan yang paling berbahaya bagi kekayaan flora dan fauna air. Hujan asam terbentuk dari hasil penguapan emisi gas yang berasal dari hasil proses industri, seperti pabrik, pembangkit tenaga listrik dan asap knalpot yang dihasilkan kendaraan bermotor.

Gas yang menguap akan beroksidasi dan berdifusi menuju atmosfer. Ketika bercampur dengan air, unsur-unsur tersebut akan membentuk asam sulfat dan asam nitrat, kemudian turun menjadi hujan turun. Hujan asam memiliki level keasaman atau kadar pH 5,6.

5. Hujan Frontal

Dalam bidang meteorologi, terdapat istilah front yang menjadi dasar dari nama hujan frontal. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan transisi 2 sifat massa udara, yaitu panas menuju dingin dan sebaliknya.

Kondisi front biasanya terjadi di wilayah subtropis yang mengakibatkan perubahan cuaca yang ekstrim dengan curah hujan sangat tinggi.

Terdapat dua dari lima macam kondisi front yang masuk dalam kategori penyebab hujan frontal, yaitu:

  1. Warm Front: Hujan frontal yang terjadi akibat massa udara panas menggantikan massa udara dingin, sehingga akan membentuk awan cirriform dan stratiform. Akibatnya, akan terjadi hujan gerimis yang berlangsung selama 2-3 hari.
  2. Cold Front: Hujan frontal yang terjadi akibat massa udara dingin menggantikan massa udara panas, sehingga akan membentuk awan cumulonimbus dan cumulus. Akibatnya, akan terjadi hujan deras disertai kilat yang berlangsung selama 2-3 hari.

6. Hujan Zenithal

Hujan zenithal, hujan konveksi atau hujan naik tropis adalah satu jenis hujan yang sama. Hujan ini hanya terjadi pada wilayah tropis yang dilalui oleh garis ekuator, yaitu berada pada lintang 23,5 LU – 23,5 LS.

Hujan ini terjadi akibat panas yang sangat terik dan berlangsung dengan cepat sehingga uap air membentuk awan cumulonimbus. Akibatnya,hujan akan turun dengan deras disertai dengan petir.

Dari penjelasan mengenai jenis-jenis hujan diatas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas curah hujan tinggi berada pada wilayah tropik. Terutama pada daerah sekitar atau yang dilalui oleh garis ekuator.

Curah hujan yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kekayaan flora, sehingga juga turut mempengaruhi kekayaan fauna.

Pengertian Curah Hujan

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh pada periode tertentu. Pengukurannya dilakukan dengan satuan tinggi diatas permukaan tanah horizontal yang diasumsikan tidak terjadi penguapan atau infiltrasi, run off, atau evaporasi.

Pengertian curah hujan juga sering disebut dengan presipitasi juga diartikan sebagai jumlah air hujan yang turun pada wilayah tertentu dan pada kurun waktu tertentu. Jumlah curah hujan adalah volume air yang terkumpul pada permukaan bidang datar pada periode tertentu, seperti harian, mingguan, bulanan serta tahunan.

Definisi lain curah hujan, yaitu jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi milimeter (mm) di atas permukaan horizontal.

Secara lebih rinci, curah hujan memiliki pengertian sebagai air hujan dengan ketinggian tertentu yang terkumpul menjadi satu dalam penakar hujan, tidak meresap, tidak mengali dan tidak menyerap (utuh dan tidak mengalami kebocoran).

Tinggi air yang jatuh dinyatakan dalam satuan milimiter. Contohnya adalah curah hujan 1 milimeter merupakan ketinggian air hujan dalam luasan penampung 1 meter persegi. Jika dihitung, maka dalam 1 meter persegi akan terkumpul 1 liter air.

Prakiraan Hujan

Terdapat beberapa metode untuk melakukan prakiraan acurah hujan. Ada 5 unsur yang perlu ditinjau untuk menentukan apakah curah hujan pada satu wilayah tertentu akan sama dampaknya, bila dibandingkan dengan curah hujan pada wilayah lainnya dalam kawasan tropik.

daerah aliran sungai Pixabay

Unsur-unsur tersebut harus terdata dengan baik, sehingga dapat digunakan untuk penelitian yang valid. Adanya prakiraan cuaca membantu manusia untuk menentukan wilayah persebaran yang cocok bagi tanaman pangan. Selain itu, juga untuk menanggulangi dampak negatif yang muncul dari curah hujan yang tinggi.

Ilmu hidrologi adalah cabang ilmu geografi yang mempelajari siklus air (sumber, pergerakan, distribusi, dan kualitas) yang ada di bumi. Salah satu hal yang dipelajari dalam hidrologi adalah pendataan dan analisis curah hujan. Pengukurannya dilakukan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), mulai dari hulu hingga muara.

5 unsur yang didata dan diukur pada DAS, antara lain:

  • Intensitas Laju Hujan: Melakukan pengukuran konsentrasi curah hujan pada wilayah tertentu, yaitu dengan mengukur seberapa banyak milimeter air yang turun dalam kurun waktu menit, jam, dan hari.
  • Durasi Curah Hujan: Penghitungan berdasarkan berapa lama waktu curah hujan turun dalam kurun waktu menit dan jam.
  • Ketinggian Curah Hujan: Pengukuran yang dilakukan setelah hujan reda dengan melihat ketebalan atau kedalaman air dalam milimeter pada bidang datar.
  • Frekuensi Periode Curah Hujan: Pengukuran yang dilakukan dengan pengamatan selama beberapa tahun untuk menentukan periode curah hujan yang berlangsung secara konsisten setiap tahunnya.
  • Cakupan Wilayah Curah Hujan: Mengamati frekuensi periode hujan terhadap cakupan luas geografis wilayah yang terkena hujan.

Alat Pengukur Curah Hujan

Pengukuran curah hujan dapat dilakukan dengan bantuan alat bernama ombrometer. Penakar hujan tersebut adalah alat pengukur jumlah curah hujan yang turun dalam skala per satuan luas.

Prinsip dan cara kerja alat ini adalah mengukur tinggi jumlah air yang tertampung atau tergenang. Misalnya pengamatan hujan dilakukan di kawasan tertentu dan mendapatkan air tampungan setingga 20 mm, maka lokasi tersebut memiliki curah hujan sebesar 20 mm.

Berdasarkan mekanismenya, alat ombrometer dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ombrometer manual dan ombrometer otomatis / perekam.

1. Ombrometer Manual

Ombrometer manual adalah alat penakar hujan manual berupa ember atau panampung yang telah diketahui ukuran atau diameternya.

Pengukuran curah hujan secara manual ini dilakukan dengan mengukur volume air secara berkala dan jangka waktu tertentu untuk memperoleh hasil curah hujan suatu wilayah.

Ombrometer manual dibagi menjadi dua jenis, antara lain:

  • Ombrometer Biasa

Ombrometer ini adalah alat penakar dengan cara kerja yang sangat sederhana. Bahan pembuatnya dari seng dengan tinggi 60 cm dan pipa paralon dengan tinggi 100 cm.

Air yang ditampung oleh penakar kemudian dibagi berdasarkan parameter luas mulut dan volume air hujan. Dalam penggunaannya, alat sederhana ini diletakkan di ketinggian 120 hingga 150 cm, namun tentu saja belum mampu mencatat secara otomatis.

  • Ombrometer Observatorium

Salah satu jenis ombrometer manual adalah penakar hujan observatorium. Pengukuran curah hujan dilakukan dengan menggunakan gelas ukur dan menjadi standar yang biasa digunakan di Indonesia.

Pengggunaan alat ini cukup mudah dan pemeliharaanya murah. Namun ombrometer observatorium memiliki kelemahan, yaitu data yang terbatas karena hanya dapat digunakan untuk mengukur curah hujan selama 24 jam.

Selain itu, derajat kesalahan pengukuran satu alat dengan alat lainnya juga kerap terjadi dan menunjukkan hasil yang berbeda.

2. Ombrometer Otomatis

Penakar curah hujan ini telah beroperasi dengan mekanisme otomatis dalam pencatatannya. Hasil perhitungan yang diperoleh lebih akurat dibandingkan ombrometer manual. Selain itu, alat ini juga sanggup mengukur kondisi curah hujan tinggi maupun rendah dan melakukan pencatatan dalam waktu tertentu.

Contoh ombrometer otomatis, antara lain:

  1. Penakar Hujan Tipe Hellman
  2. Penakar Hujan Tipping Bucket
  3. Penakar Hujan Tipe Bendix
  4. Penakar Hujan Tipe Weighing Bucket
  5. Penakar Hujan Tipe Optical
  6. Penakar Hujan Tipe Tilting Siphon
  7. Penakar Hujan Tipe Floating Bucket

3. Automatic Weather Station

Selain ombrometer, terdapat pula alat pengukur cuaca otomatis yang jauh lebih efisien dan memiliki kemampuan lebih. Alat ini mampu mengukur suhu, curah hujam kelembaban, lama penyianran matahari, kecepatan dan arah angin, serta pengukuran lainnya.

Automatic Weather Station terdiri dari sensor-sensor yang bekerja dalam sebuah sistem. Penggunaan alat ini biasanya diperuntukkan ketika cuaca ekstrim seperti kemarau panjang dan badai.

Pencatatan otomatis secara real time dan akurat merupakan keunggulan dari Automatic Weather Station. Selain itu, pada beberapa tipe Automatic Weather Station telah dilengkapi alam pengukur ketinggian awan (ceilometer)

Metode Pengukuran Curah Hujan

Untuk menganalisa jumlah curah hujan suatu wilayah, kita dapat menggunakan metode sebagai berikut:

1. Metode Aritmatik

Ini adalah metode yang paling sederhana dan sangat mudah diterapkan. Metode aritmatik memiliki beberaoa kelemahan, yaitu kurang akurat karena bergantung pada distribusi hujan terhadap ruang dan ukuran daerah aliran sungai (besar atau kecil).

Selain itu, metode ini memiliki syarat kondisi agar bisa mendapatkan hasil perhitungan, seperti banyaknya jumlah tempat yang dibutuhkan dengan konsistensi dan konsentrasi curah hujan yang merata.

Metode ini dapat menentukan curah hujan rata-rata pada daerah aliran sungai dengan membagi beberapa wilayah pada DAS atau disebut dengan stasiun. Kemudian, pada masing-masing stasiun dilakukan penghitungan curah hujan

Selanjutnya, jumlah curah hujan pada setiap stasiun akan ditotal, kemudian dibagi dengan jumlah wilayah perhitungan curah hujan dilakukan. Sehingga diperoleh hasil rata-rata curah hujan pada wilayah DAS yang sudah ditentukan.

terdapat 5 metode pengukuran curah hujan Pixabay

2. Metode Poligon Thiessen

Merupakan metode penghitungan yang lebih baik daripada metode aritmatik. Pada metode ini, dilakukan perhitungan pengaruh letak wilayah persebaran curah hujan terhadap stasiun DAS yang sudah ditentukan dan diukur luasnya.

Meski lebih baik dari metode aritmatik, namun metode ini lebih cocok digunakan untuk pada wilayah dengan curah hujan sedikit dan tidak merata persebarannya.

Sama halnya dengan metode aritmatik, metode ini juga mencari jumlah rata-rata curah hujan. Namun perhitungan dilakukan dengan mengalikan curah hujan stasiun dengan luas daerah (yang sudah ditentukan dan dibatasi) stasiun.

Kemudian hasil masing-masing perhitungan setiap stasiun dijumlahkan dan dibagi dengan total luas wilayah stasiun yang masuk dalam perhitungan.

3. Metode Isohyet

Perhitungan dengan metode ini jauh lebih kompleks dibandingkan 2 metode lainnya. Sehingga penggunaan metode isohyet harus menggunakan komputer agar data yang diperoleh akurat dan hasil analisa dapat terjaga konsistensinya.

Cara perhitungan metode ini adalah dengan menentukan dan membagi daerah-daerah sepanjang DAS yang memiliki intensitas hujan yang sama. Besaran curah hujan antara stasiun pertama dan kedua dijumlahkan dan dibagi dua, kemudian dikalikan dengan luas DAS stasiun pertama yang dibagi dengan luas DAS total stasiun.

Hasil tersebut ditambahkan dengan hasil perhitungan selanjutnya dengan cara yang sama (stasiun 2 + 3 terhadap luas DAS stasiun 2, dan seterusnya saling berkaitan antar stasiun). Sehingga, didapatkan hasil rata-rata curah hujan pada daerah aliran sungai.

Itulah ketiga metode perhitungan curah hujan pada daerah aliran sungai (DAS). Metode perhitungan ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui periode curah hujan.

Klimatologi Global

Secara keseluruhan, total curah hujan di dunia adalah 990 milimeter. Akan tetapi sebaran dari curah hujan tersebut tidaklah merata antara wilayah satu dengan lainnya.

Kondisi klimatologi global berdasarkan curah hujan dibagi menjadi empat tipe, yaitu:

1. Wilayah Gurun

Gurun merupakan dataran yang sangat luas dan sebagaian besar wilayah berupa padang pasir. Suhu disini sangat ektrim antara siang dan malam hari. Curah hujan di gurun kurang lebih hanya 250 mmper tahun.

2. Wilayah Basah

Wilayah basah adalah kawasan yang tanahnya selalu basah karena mengandung kadar air tinggi atau jenuh air. Umumnya wilayah basahh memiliki suhu rendah dengan curah hujan yang tinggi.

3. Wilayah Westerlies

Wilayah westerlies adalah kawasan terdampak angin westerlies, yaitu angin yang berhembus ke arah barat. Angin ini terjadi di wilayah Atlantik Utara menuju wilayah Eropa Barat yang menyebabkan curah hujan tahunan mencapai 2500 mm di Bergen, Norwegia.

4. Wilayah Lembab

Salah satu daerah terlembab di dunia adalah Cherrapunji yang berada di East Khasi Hills, India. Kawasan ini memiliki curah hujan mencapai 11430 mm.

Selain itu, daerah lain yang juga memiliki kondisi sangat lembab adalah Mount Belleden Ker di Australia dengan curah hujan sekitar 8000 mm per tahun, serta Pulau Kaua’i di Kepulauan Hawaii dengan intensitas hujan 11680 mm per tahun.

Curah Hujan di Indonesia

Berikut ini adalah data curah hujan rata-rata di berbagai kota besar di Indonesia.

KotaJumlah Curah Hujan Tahunan (mm/ tahun)Jumlah Hari Hujan (hari)
Medan975,90105,00
Padang3548,00185,00
Palembang1947,20138,00
Lampung1628,10151,00
DKI Jakarta2169,50121,00
Kota Bogor4000,00320,00
Bandung2199,30177,00
Semarang1620,70140,00
Surabaya2024,70133,00
Bali1133,80124,00
Samarinda1406,0082,00
Pontianak2757,70215,00
Banjarmasin2509,60166,00
Menado1807,00127,00
Palu460,9068,00
Makasar3382,00155,00
Kupang1163,00103
Jayapura1265,90168,00

Dengan mengetahui manusia dapat menentukan jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat ditanam pada wilayah tertentu dan pada waktu tertentu, membangun infrastruktur yang tepat, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga air, selokan, dan tempat penampungan air.

Hujan yang turun ke bumi merupakan suatu berkah yang besar, namun juga dapat menjadi bencana bagi makhluk hidup yang ada di bumi. Curah hujan cukup, akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan makhluk hidup, serta akan membersihkan daratan bumi dari segala partikel zat yang berbahaya akibat polusi industri dan kendaraan bermotor.

Namun, jika curah hujan turun terlalu tinggi, maka bukan tidak mungkin dapat menyebabkan banjir, gagal panen, kerusakan infrastruktur akibat akumulasi hujan yang turun tidak dapat ditampung.

Wilayah dengan kondisi kekurangan air hujan juga memiliki potensi ancaman kekeringan. Kondisi kekeringan menyebabkan suatu daerah menjadi gersang dan kering, hingga yang paling parah akan menjadi daerah gurun dan hujan tidak turun sama sekali.