Pengertian Deforestasi

Deforestasi merupakan proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan guna mengambil hasil kayu dengan mengubah peruntukan lahan hutan tersebut menjadi non-hutan.

Deforestasi erat kaitannya dengan penebangan liar atau pembalakan liar. Sehingga jika dibiarkan maka dapat mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup. Baik ancaman bagi tumbuhan, hewan maupun manusia. Kerusakan hutan ini umumnya disebabkan oleh kebakaran hutan yang disengaja atau pun yang terjadi secara alami.

Penyebab Deforestasi

Deforestasi dapat terjadi karena desakan konversi lahan yang bertujuan untuk pembangunan pemukiman, infrastruktur, atau bahkan karena adanya industri. Selain itu, deforestasi juga bisa disebabkan kepentingan untuk pembukaan lahan perkebunan, pertanian, peternakan, bahkan pertambangan tanpa melakukan upaya reboisasi atau penanaman kembali.

hasil kelapa sawit

Namun berdasarkan catatan organisasi lingkungan, faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya deforestasi antara lain sebagai berikut:

  • Konversi Pertanian –Populasi manusia yang terus bertambah mempengaruhi peningkatan kebutuhan dan pasokan bahan pangan. Untuk memenuhi hal tersebut, banyak wilayah hutan yang dibuka untuk perkebunan. Selain itu, permintaan terhadap biofuel juga mengakibatkan terjadinya perluasan wilayah perkebunan kepala sawit di Indonesia secara besar-besaran.
  • Kebakaran HutanJutaan hektar hutan telah lenyap akibat terjadinya kebakaran hutan setiap tahunnya. Hal ini membuat deforestasi menjadi semakin parah dibandingkan dengan deforestasi yang diakibatkan oleh kegiatan konversi seperti pertanian dan lainnya. Kerugian dari terjadinya kebakaran hutan juga lebih besar dan berpotensi menghilangkan plasma nutfah. Selain itu, kebakaran hutan juga menjadi ancaman kesehatan manusia, risiko kehilangan materi bahkan bisa merenggut jiwa manusia.
  • Illegal Logging –Hampir 50% pemanenan kayu di hutan-hutan alam merupakan suatau kegiatan Illegal Logging. Pemerintah di berbagai negara telah mencoba mengawasi praktik melanggar tersebut, mulai dari pemanenan hingga penjualannya. Namun untuk saat ini Illegal Logging belum bisa diberantas secara efektif. Banyak hutan hujan tropis di wilayah Brazil, Indonesia, Kongo dan Rusia masih menjadi ajang penebangan liar.
  • Penggunaan Kayu Bakar –Sebagian penduduk dunia masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya deforestasi. Bahkan setengah dari Illegal Logging didorong akan permintaan penggunaan kayu bakar.

Desakan dari kebutuhan konversi lahan hutan semakin parah dengan lemahnya pengawasan dan metode yang digunakan dalam mengelola hutan. Misalnya seperti pembersihan lahan untuk pertanian dan perkebunan. dengan cara melakukan pembakaran hutan.

Membakar hutan dipilih karena biayanya yang murah dan abu hasil pembakaran dapat memperkarya unsur hara dalam tanah. Pembakaran ini juga efektif dalam menghilangkan gangguan gulma, seperti benih-benih rumput

Namun pada kenyataannya, pembersihan lahan dengan pembakaran sering menyebabkan terjadinya kebakaran hutan yang tidak terkendali. Kejadian ini berakibat pada ratusan ribu sampai jutaan hektar hutan yang bukan menjadi sasaran justru ikut habis terbakar.

Akibat Deforestasi

Deforestasi memiliki dampak buruh bagi manusia dan lingkungan. Berikut ini adalah akibat yang dapat ditimbulkan:

  • Keanekaragaman Hayati Menghilang

Hutan memiliki lebih dari 80% keanekaragaman hayati, sehingga hutan disebut sebagai gudang dari keanekaragaman hayati. Apabila hutan hilang, maka kita juga akan kehilangan keanekaragaman tersebut.

  • Erosi

Tanah yang tidak tertutup dengan vegetasi hutan akan lebih mudah mengalami erosi. Akibatnya adalah hilangnya tingkat kesuburan tanah dan parahnya dapat menyebabkan bencana banjir hingga tanah longsor.

Hutan yang hilang akan mengakibatkan hilangnya penguapan air tanah oleh pohon. Kondisi ini berakibat pada iklim yang berubah menjadi lebih kering.

  • Hilangnya Mata Pencaharian Masyarakat

Jutaan orang di dunia menggantungkan mata pencahariannya pada hutan, seperti untuk kegiatan bertani, perikanan, berburu dan lain-lain. Apabila huta nhilang, maka akan hilang pula mata pencaharian mereka.

Perubahan Iklim Deforestasi

Gas rumah kaca bertanggungjawab akan terjadinya pemanasan global (global warming). Untuk emisi dari karbondioksida sendiri berkisar 6%-17% dari emisi global. Persentase tersebut menunjukkan bahwa deforestasi akan meningkatkan kadar karbondioksida selain akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Hutan menjadi tempat penyimpanan dan daur ulang karbondioksida yang besar. Lebih dari 300 milyar ton karbondioksida tersimpan di dalam hutan dan pohon-pohon di muka bumi. Jumlah karbondioksida yang terlepas ke atmosfer dalam proses deforestasi ini tidak hanya disebabkan karena lepasnya karbondioksida dari biomasa tumbuhan yang mati.

Deforestasi juga mengakibatkan berkurangnya kemampuan bumi untuk menyerap kembali karbondioksida dari atmosfer bumi melalui proses fotosintesis. Kemudian pada tipe hutan tertentu seperti hutan gambut, apabila terjadi vegetasi pohon diatasnya maka tanah gambut akan hilang dengan melepaskan karbondioksida yang tersimpan dalam tanah tersebut.

Cara Mengatasi Deforestasi

Hutan tropis saat ini mengalami krisis deforestasi pada tingkat urgensi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kebakaran hutan yang kini meluas di seluruh Indonesia. Beberapa perusahaan besar di dunia beserta pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia telah sepakat dalam pertemuan Tropical Forest Alliance 2020 untuk membahas permasalan tersebut.

forest cover analyzer

Pertemuan ini diadakan setelah 3 tahun Consumer Goods Forum, yakni sebuah forum yang beranggotakan 400 perusahaan barang-barang konsumsi terbesar di dunia dari 70 negara. Dalam forum tersebut disepakati komitmen bahwa mereka akan menggunakan bahan baku yang bebas deforestasi mulai dari rantai pasoka. Selain itu, forum tersebut juga berusaha untuk mencapai tingkat deforestasi nol persen pada tahun 2020.

Berapa fokus topik untuk mengatasi deforestasi yang dibahas dalam forum tersebut antara lain:

  • Lahan Yang Terdegradasi

Pembukaan hutan primer dan lahan gambut untuk keperluan pertanian adalah salah satu penyebab hilangnya hutan di Indonesia. Hasil analisis yang dilakukan oleh WRI (World Resources Institute) menemukan bahwa terdapat peluang  besar untuk memindahkan pengembangan agrobisnis ke beberapa lahan yang telah terdegradasi yang sudah terbuka dan memiliki keanekaragaman hayati serta cadangan karbondioksida yang rendah.

Konsep ini cukup menarik perhatian. Namun, pertanyaan demi pertanyaan tetap saja muncul mengenai bagaimana cara mengidentifikasi lahan yang telah terdegradasi, bahkan ada pula tantangan dan peluang dalam pengembangan lahan tersebut.

Hasil yang diperoleh dari riset tersebut, yakni terdapat potensi 14 juta hektar lahan terdegradasi di Kalimantan yang cocok untuk pengembangan usaha kelapa sawit. Ini menjadi kesempatan luar biasa untuk memenuhi target produksi komoditas sekaligus sesuai dengan komitmen Consumer Goods Forum dalam mengatasi deforestasi.

WRI dan mitra kerjanya telah bekerja keras untuk mengidentifikasi lahan terdegradasi yang cocok digunakan untuk produksi kelapa sawit. Identifikasi tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa kriteria seperti biofisika, ekonomi, hukum dan sosial.

Pada tahun 2010, Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden RI telah menyatakan komitmen untuk memanfaatkan lahan yang telah terdegradasi untuk pengembangan komoditas kelapa sawit.

  • Pengawasan Hutan

Para produsen pengguna hasil hutan juga memiliki komitmen dalam mengatasi deforestasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru dan turut dalam pengawasan hutan melalui teknologi satelit. Teknologi satelit ini dapat meningkatkan transparansi pada rantai pasokan perusahaan melalui program Forest Cover Analyzer, Eyes On The Forest dan Global Forest Watch 2.0 

Dengan teknologi tersebut memungkinkan setiap orang dapat melihat kapan dan dimana perubahan wilayah hutan melalui internet. Pemerintah di Indonesia juga berinisiatif melakukan pengawasan hutan di berbagai badan-badan pemerintahan.

  • Sertifikasi Hukum dan Sukarela

Selain itu, usaha lain untuk mencapai tingkat deforestasi 0% adalah dengan memanfaatkan berbagai mekanisme sertifikasi dan persyaratan hukum. Berbagai standar tersebut meliputi kriteria dan prinsip-prinsip yang disusun secara seksama sebagai pedoman dalam pengolahan dan produksi komoditas, antara lain melarang pembakaran hutan dan deforestasi di hutan primer dan lahan gambut.

Artikel Lain