Dugong / Duyung – Taksonomi, Morfologi, Habitat, Populasi, Ancaman & Konservasi

Selama ini istilah duyung selalu dikaitkan dengan seorang putri cantik berbadan manusia namun memiliki ekor ikan. Makhluk mitologi tersebut dikenal dengan nama mermaid atau putri duyung. Akan tetapi, sebenarnya duyung merujuk pada salah satu satwa yang hidup di lautan bernama dugong.

Dugong atau duyung adalah mamalia yang hidup di perairan namun berbeda dengan ikan, karena ia memiliki sistem pernapasan paru-paru. Saat ini keberadaan duyung sudah sangat jarang ditemui karena populasinya yang terus berkurang.

Taksonomi

Dugong merupakan salah satu jenis binatang mirip ikan. Istilah yang digunakan untuk menyebut satwa ini pun berbeda-beda di setiap negara. Dalam Bahasa Inggris, duyung dikenal dengan sebutan sea cow atau dugong.

Pixabay

Berikut ini adalah taksonomi dan sistem klasifikasi dari dugong, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoSirenia
FamiliDugongiadae
GenusDugong
SpesiesDugong dugon

Dugong dugon atau duyung atau dugong adalah mamalia yang hidup perairan laut lepas. Meski hidup di lautan hewan ini bukanlah ikan sejati, melainkan termasuk anggota dari sapi laut atau ordo Sirenia yang masih mampu bertahan hidup hingga saat ini selain Manatee.

Apabila diamati lebih detail spesies Dugong dugon bukanlah kelompok ikan, sebab selain berstatus mamalia hewan ini justru mempunyai kekerabatan dekat dengan gajah. Tidak hanya itu, dalam klasifikasinya duyung merupakan satu-satunya spesies yang berada dalam suku Dugongidae.

Di Malaysia, masyarakatnya mengenal duyung atau dugong dengan sebutan Lembu Laut atau Babi Laut. Spesies ini pun menjadi satu-satunya keluarga lembu laut yang dapat hidup di perairan Indo-Pasifik yang meliputi 37 negara, karena sebagian besar dugong hidup di perairan Indonesia Timur hingga Australia.

Morfologi dan Perilaku

Sebagai keluarga sapi laut, ukuran tubuh duyung juga sangatlah besar. Panjang tubuh dugong dewasa berkisar antara 2,5 meter sampai 3 meter dengan bobot badan 225 hingga 450 kg. Satwa langka ini juga memiliki usia hidup cukup panjang hingga mencapai 70 tahun.

Kulit tubuh duyung berwarna abu-abu kebiruan dengan tekstur licin, keras, dan tebal. Bagian kepalanya berbentuk bulat dan terdapat mata yang ukurannya berbanding terbalik dengan ukuran tubuh binatang ini. Mata dugong berukuran kecil dengan kemampuan penglihatan yang tidak begitu baik. Oleh karena itu, aktivitas satwa ini sangat bergantung pada bantuan indera pendengar.

Duyung mempunyai hidung yang berada tepat diatas moncong. Pada moncongnya terdapat bibir, kemudian diatas bibir tersebut terdapat rambut-rambut halus. Rambut ini dimanfaatkan oleh duyung sebagai alat bantu untuk mencari makanan menggantikan matanya yang memiliki penglihatan buruk.

Binatang mamalia ini merupakan kelompok satwa nokturnal yang mencari makan saat malam hari. Sementara siang harinya dihabiskan dengan berdiam diperairan bawah tanpa melakukan aktivitas apapun. Selain itu duyung juga dikenal dengan kebiasaan hidupnya secara berkelompok.

Umumnya dalam satu kelompok duyung terdiri atas lima sampai sepuluh ekor individu. Kemudian didalam satu kelompok tersebut setidaknya terdiri atas duyung jantan, duyung betina, dan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan sifat duyung sebagai binatang yang setia kepada pasangannya dan menerapkan sistem monogami.   

Meski begitu tidak jarang ditemukan duyung yang hidup menyendiri. Kehidupan duyung yang hidup berkelompok saat ini juga sudah tidak begitu lazim karena populasi satwa ini terus berkurang setiap tahun. Oleh sebab itu, di alam liar duyung lebih sering dijumpai hidup sendiri dibanding berkelompok.

Habitat dan Sebaran

Habitat hidup dugong adalah kawasan pesisir pantai pada perairan dangkal hingga kedalaman sedang sekitar 20 meter dibawah permukaan laut. Satwa ini menyukai perairan yang agak hangat, yaitu pada suhu antara 15 hingga 17 derajat Celcius. Selain itu dugong juga membutuhkan lingkungan yang mendukung perilaku hidupnya dengan baik.

Hal tersebut dikarenakan binatang ini kerap melakukan migrasi saat terjadi perubahan curah hujan. Adapun kondisi ekosistem yang paling cocok untuk duyung yaitu ekosistem padang lamun yang berada pada lingkungan beriklim tropis dan sub-tropis. Itulah mengapa spesies ini banyak ditemukan di sepanjang garis pantai Asia hingga Australia.

Selain kawasan perairan Asia dan Australia, duyung juga hidup di wilayah laut Afrika Timur sampai ke Pasifik Barat. Ada lima negara yang menjadi tempat hidup duyung paling banyak, yaitu Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Papua Nugini, dan Australia. Sayangnya populasi mamalia laut ini terus mengalami penurunan yang signifikan setiap tahunnya.

Negara lain yang juga menjadi habitat dugong, yaitu Yaman, Saudi Arabia, Komoro, Djibouti, Mesir, Sudan, Somalia, Jordania, Vanuatu, Mayotte, Tanzania, Mozambiq, Kaledonia Baru, Kepulauan Solomon, Madagaskar, India, China, Jepang, Kamboja, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Vietnam, Indonesia, dan Timor Leste.

Status Kelangkaan

Berdasarkan data yang terdapat dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, mamalia laut dengan nama Latin Dugong dugon masuk dalam kategori satwa berstatus Vulnerable (VU). Status ini diberikan kepada makhluk hidup yang kondisi populasinya sudah rentang di alam bebas.

Status tersebut diberikan untuk duyung sejak pertama kali terdaftar di IUCN Red List pada tahun 1982. Status Vulnerable atau rentan kemudian terus melekat untuk kelompok mamalia yang menyusui anaknya ini hingga terakhir pada tahun 2015 statusnya juga masih tetap berada pada status Vulnerable.

Perkembangbiakan Duyung

Dugong mencapai kematangan reproduksi pada usia antara 8 sampai 18 tahun, tetapi pada umumnya satwa ini telah memiliki tubuh dewasa pada usia sembilan tahun. Proses perkembangbiakan duyung pun tidak jauh berbeda dengan jenis mamalia laut lainnya, seperti ikan paus dan Manantee.

mongabay.co.id

Perkembangbiakan dugong dikenal sangat lambat yang merujuk pada interval dan jumlah bayi yang dilahirkan. Binatang ini hanya mampu hamil dalam kurun waktu tiga sampai tujuh tahun satu kali. Itupun dalam sekali hamil jumlah anak yang bisa dilahirkan hanya satu ekor.

Adapun masa kehamilan yang dialami oleh duyung betina yaitu kurang lebih selama 14 bulan atau satu tahun lebih. Bayi yang dilahirkan oleh dugong betina kemudian harus menyusu selama satu sampai dua tahun pada induknya. Sepanjang masa itupun anak duyung terus menempel dan berenang disamping induknya dalam berbagai situasi.

Makanan Dugong

Duyung atau yang juga biasa disebut dugong merupakan satu-satunya mamalia laut yang bersifat herbovira atau pemakan tanaman. Secara lebih spesifik, duyung mempunyai sifat maun yaitu pemakan daun-daun. Tanaman yang biasa dikonsumsi duyung antara lain akar-akar tanaman laut, tumbuhan padang lamun, dan juga rumput laut.

Makanan tersebut menjadikan habitat hidup duyung berada di perairan dangkal yang terdapat padang lamun atau hutan bakau. Bentuk moncong duyung yang mengarah ke bawah merupakan bentuk adaptasi dengan lingkungan untuk memudahkan memakan rumput laut yang tumbuh di dasar perairan dangkal.

Ancaman Terhadap Duyung

Status duyung sebagai binatang yang rentan terhadap kepunahan disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari faktor lingkungan hidup dan juga faktor yang berkaitan dengan struktur anatomi tubuh mamalia ini.

Secara umum ancaman tersebut dapat dibagi menjadi ancaman eksternal dan ancaman internal, antara lain:

1. Ancaman Eksternal

Ada banyak sekali ancaman eksternal yang mengakibatkan menurunnya populasi duyung di lautan. Faktor utama yang menyebabkan ancaman tersebut terjadi adalah aktivitas manusia.

Berikut ini adalah beberapa ancaman eksternal yang berpengaruh besar terhadap kehidupan mamalia yang berkerabat dengan gajah ini, yaitu:

  • Hilangnya habitat hidup duyung. Seperti diketahui bahwa dugong hidup di pesisir pantai pada perairan dangkal padang lamun dan hutan bakau. Sayangnya, saat ini manusia mulai memanfaatkan wilayah tersebut untuk sektor perikanan, pelayaran, dan sebagai lokasi untuk mendirikan rumah.
  • Maraknya kegiatan menggunakan perahu atau pemogokan perahu sehingga menimbulkan polusi akuatik yang merusak kondisi air. Padahal duyung sangat memerlukan air yang berkualitas baik untuk dapat bertahan hidup.
  • Terjadi kerusakan pada ekosistem padang lamun dan hutan bakau. Padang lamun tidak hanya menjadi tempat tinggal duyung, tetapi juga sumber memperoleh makanan. Namun yang terjadi saat ini padang lamun mengalami kerusakan akibat pembuangan limbah, reklamasi pesisir pantai, dan polusi pertanian.
  • Adanya polusi kimia. Aktivitas transportasi laut juga dapat berimbas buruk pada kelangsungan hidup duyung jika selama proses tersebut ada minyak dan logam berat yang tumpah ke wilayah perairan.
  • Perubahan iklim secara drastis. Ancaman ini tidak sepenuhnya diakibatkan oleh ulah manusia. Terjadinya bencana alam seperti perubahan cuaca yang sangat ekstrem merupakan salah satu pemicu penurunan populasi duyung.

2. Ancaman Internal

Ancaman internal terhadap populasi duyung dipengaruhi oleh kondisi tubuh binatang ini. Selain itu, juga disebabkan oleh sifat serakah manusia.

Berikut ini adalah beberapa ancaman yang datang dari sisi internal, yaitu:

  • Rendahnya tingkat kelahiran. Interval kehamilan pada duyung berlangsung dalam  waktu yang sangat lama dan jumlah anaknya pun hanya satu. Hal itu menyebabkan peluang untuk meningkatkan populasi binatang ini sangat kecil.
  • Minyak yang dihasilkan dari kulit duyung serta air mata yang sebenarnya cairan pelembab merupakan dua hal yang paling diburu oleh masyarakat. Oleh sebab itu meski telah berstatus sebagai hewan dilindungi, pada kenyataannya dugong masih banyak diburu oleh pemburu liar.

Upaya Konservasi

Upaya konservasi terhadap duyung kini mulai digalakkan oleh para pegiat sosial dan pemerhati lingkungan hidup. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia telah melakukan beberapa usaha untuk menyelamatkan mamalia ini dengan cara sebagai berikut:

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat nasional tentang kondisi duyung dan menjelaskan tentang peran penting padang lamun terhadap keberlangsungan hidupnya.
  • Melaksanakan kegiatan “Rencana Aksi Konservasi” nasional terhadap duyung dan habitat aslinya, yaitu padang lamun.
  • Mengelola duyung dan padang lamun dengan bantuan masyarakat setempat yamg hidup disekitar ekosistem atay habitatnya.