Eceng Gondok – Morfologi, Habitat, Dampak & Manfaat

Beberapa waktu yang lalu, muncul wacana penanaman enceng gondok pada sungai-sungai tercemar di Jakarta untuk memperbaiki baku mutu air. Efektif atau tidaknya dalam mengatasi permasalahan kualitas air mungkin perlu kajian lebih lanjut.

Namun secara fungsi, eceng gondok memiliki sifat fitoremedasi, yaitu mampu memulihkan masalah lingkungan karena sanggup menyerap senyawa organik dan anorganik di air secara efektif.

Berikut adalah paparan tanaman air eceng gondok beserta dampak dan manfaatnya.

Mengenal Eceng Gondok

Eceng gondok atau enceng gondok adalah tanaman air yang hidup mengapung dengan nama ilmiah Eichhornia crassipes. Selain dikenal dengan enceng gondok, tumbuhan air ini juga mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung disebut Ringgak, di Dayak disebut Ilung-ilung dan di Manado disebut Tumpe.

Orang yang pertama kali menemukan spesies eceng gondok adalah seorang ahli botani dari Jerman bernama Carl Friedrich Philipp von Martius. Penemuian ini terjadi ketika ia sedang melakukan ekspedisi ke Sungai Amazon, Brazil.

Ciri dan Morfologi

Bentuk eceng gondok cukup mudah dikenali. Selain ciri utamanya yang hidup mengapung di permukaan air, tumbuhan ini juga memiliki akar serabut seperti rambut untuk menyerap nutrisi.

enceng gondok brilio.net

Tinggi tanaman mulai 40 hingga 80 centimeter dan tidak memiliki batang sejati. Bentuk daunnya tunggal, berbentuk oval, permukaannya licin dan berwarna hijau. Pada bagian ujung serta pangkal daun cenderung meruncing dengan pangkal tangkai daun lumayan menggelembung.

Jenis bunga enceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir dan kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berwarna hitam dan berbentuk bulat. Ketika berbuah, buahnya berbentuk kotak, memiliki tiga ruang dan berwarna hijau.

Habitat Eceng Gondok

Eceng gondok biasa tumbuh di kolam dangkal, rawa, lahan basah, aliran air yang lambat, danau, penampungan air dan sungai yang arus airnya relatif tenang. Tumbuhan air ini dapat berkembangbiak dengan sangat cepat sehingga sering dianggap sebagai gulma yang bisa merusak tatanan lingkungan perairan.

Eceng gondok adalah tumbuhan yang sangat kuat dan mampu beradaptasi di hampir semua lingkungan. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi air yang ekstrem. Mulai dari ketinggian air, kecepatan arus air, jumlah nutrisi di air, pH dan temperatur. Bahkan enceng gondok juga dapat bertahan dari berbagai jenis racun serta zat kimia berbahaya yang terkandung dalam air (pencemaran air). 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan eceng gondok sangatlah cepat. Menurut penelitian FAO, hal ini terjadi karena habitatnya yang berada di lingkungan berair. Biasanya air mengandung nutrien yang tinggi, seperti nitrogen, fosfat dan potasium.

Meskipun begitu, bukan berarti enceng gondok tidak memiliki kelemahan. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok. Contohnya seperti kandungan garam di dalam air yang akanmenghambat pertumbuhan enceng gondok.

Kondisi tersebut terjadi di perairan di pantai Afrika Barat. Di sana eceng gondok akan bertambah pesat selama musim hujan. Namun memasuki musim kemarau, enceng gondok akan berkurang secara drastis ketika kandungan garam atau salinitas air meningkat.

Dampak Negatif

Penyebaran eceng gondok yang tidak terkendali tentu akan menyebabkan gangguan lingkungan. Dampak negatif yang ditimbulkannya pun cukup banyak, antara lain:

  • Meningkatnya Penguapan Air

Populasi enceng gondok yang terlalu banyak akan berpengaruh terhadap meningkatnya penguapan karena daun-daun eceng gondok yang lebar serta pertumbuhannya yang cepat.

  • Berkurangnya Intensitas Cahaya dan Oksigen Terlarut

Akibat jumlah enceng gondok yang berlebihan, maka cahaya matahari tidak dapat menembus perairan. Selain itu, adanya eceng gondok juga mengakibatkan penurunan oksigen terlarut dalam air sehingga dapat menyebabkan gangguan ekosistem air.

Eceng gondok yang telah mati akan tenggelam ke dasar perairan, hal ini akan mempercepat proses sedimentasi atau pendangkalan. Akibatnya adalah daya tampung danau atau sungai akan berkurang dan dapat memperbesar risiko bencana banjir.

  • Transportasi Air Terganggu

Bagi masyarakat yang mengandalkan alat transportasi sungai seperti perahu untuk penyeberangan sungai, tentu adanya tumbuhan eceng gondok dapat menjadi penghambat kelancaran transportasi air. Contohnya adalah daerah-daerah di Kalimantan yang masyarakatnya banyak menggunakan rakit sebagai transportasi utama.

  • Tempat Berkembangbiak Bakteri

Bakteri tertenru dapat berkembang pesat pada habitat perairan enceng gondok. Apabila dibiarkan, hal ini akan berpeluang menimbulkan wabah penyakit bagi manusia.

  • Mengurangi Nilai Estetika

Selain menganggu arus atau debit air, serta kehidupan perairan. Waduk, danau atau sungai yang tertutup oleh tanaman enceng gondok akan berkurang nilai keindahannya.

Solusi Masalah Eceng Gondok

Masalah yang ditimbulkan oleh populasi enceng gondok yang berlebihan dapat ditangani dengan mengontrol pertumbuhan hingga pembasmian dengan cara sebagai berikut:

  • Penggunaan herbisida, yaitu penggunaan senyawa atau material yang disebarkan untuk menekan atau memberantas gulma
  • Pengambilan enceng gondok secara langsung
  • Memanfaatkan eceng gondok melalu pengolahan tertentu menjadi produk yang bernilai ekonomi
  • Memanfaatkan predator alami enceng gondok, yaiti ikan grass carp untuk membantu memulihkan keseimbangan ekosistem air. Solusi pengendalian persebaran enceng gondok menggunakan ikan grass carp pernah dilakukan di Danau Kerinci, Jambi dan terbukti berhasil

Manfaat Eceng Gondok

Meski dianggap sebagai tanaman pengganggu, pada kenyataannya enceng gondok dapat memberikan manfaat dan memiliki nilai ekonomis, yaitu:

bunga eceng gondok pexels.com

1. Bioenergi

Pertumbuhan perkembangbiakan eceng gondok yang sangat cepat menjadikan ketersediaan tumbuhan ini cukup melimpah. Enceng gondok dapat diolah menjadi bioenergi dalam bentuk biogas, yakni tiap hektar enceng gondok dapat menghasilkan 70.000 m3 biogas.

Beberapa peneliti menyatakan bahwa bioenergi hasil pengolahan eceng gondok memiliki unsur kimiawi yang sama dengan bahan bakar pada umumnya, bahkan hasilnya hampir menandingi metana murni.

Pengolahan biogas umumnya terkendala kelembaban tumbuhan yang tinggi sehingga memerlukan tambahan biaya untuk proses pengeringan, oleh karena itu sebagian besar mengolahnya dengan cara konvensional. Para petani Bengal mengolah eceng gondok menjadi bioenergi ketika musim dingin dan abunya dapat gunakan sebagai pupuk.

Perkembangan ilmu pengetahuan modern mengenai pengolahan enceng gondok pun telah diterapka, yaitu penggunaan sistem produksi hidrolik untuk memperlancar produk dengan biaya murah.

Cara lain yang juga dilakukan adalah melalui teknik pengolahan air limbah. Bioenergi yang dihasilkan diubah menjadi etanol, biogas, hidrogen, nitrogen dan pupuk. Sementara air hasil pengolahan digunakan untuk irigasi persawahan.

2. Mengatasi Polusi Air

Enceng gongok merupakan tumbuhan air yang tahan terhadap polutan-polutan penyebab polusi air, seperti timbal, merkuri, stronsium-90 dan beberapa unsur kimia yang mengandung karsinogenik. Sifat anti kimia yang ada di akar eceng gondok ini dapat dimanfaatkan untuk membersihkan air dari berbagai macam polutan.

Oleh sebab itu, terciptalah sistem pengolahan air limbah menggunakan enceng gondok karena mampu menghisap 60 hingga 80 persen nitrogen dan 69 persen potassium dalam air yang tercemar.

3. Diolah Menjadi Makanan

Selain bermanfaat sebagai energi alternatif dan keseimbangan lingkungan, enceng gondok juga dapat dioleh menjadi makanan dan obat. Masyarakat Taiwan dan Vietnam mengonsumsi eceng gondok karena kaya akan karoten dalam bentuk salad.

Oleh msyarakat Jawa, enceng gondok juga dimanfaatkan daunnya untuk dimasak. Dalam bidang pengobatan, enceng gondok dapat menyembuhkan penyakit kulit karena mencegah peradangan.

4. Herbisida

Ekstrak dari daun eceng gondok juga dapat digunakan untuk herbisida alami dalam membasmi Mimosa pigra atau tumbuhan putri malu. Herbisida adalah bahan yang dapat digunakan untuk mengendalikan tumbuhan pengganggu atau gulma, seperti rumput, alang-alang dan semak liar.

5. Kerajinan dari Eceng Gondok

Batang eceng gondok yang telah dikeringkan dapat diolah menjadi produk-produk kerajinan yang memiliki nilai jual, yaitu berupa tas, perabotan ruamh tangga, serta tali. Bahkan, enceng gondok juga dapat diolah menjadi bahan baku kertas meski dalam jumlah kecil.