Embun – Pengertian, Proses Terjadinya Pengembunan, Perbedaan Dengan Kabut & Awan

Embun juga dipahami sebagai uap air yang mengalami proses perubahan dari gas menjadi cairan atau pengembunan. Biasanya, embun muncul saat pagi hari pada sela-sela kaca jendela atau di permukaan daun.

Namun, tahukah apa sebenarnya embun itu? Apakah embun berasal dari air hujan? dan bagaimana proses pengembunan terjadi? Berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Embun

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), embun diartikan sebagai titik-titik air yang jatuh dari udara di malam hari. Jika dijelaskan secara umum, embun adalah bentuk dari titik-titik air yang menempel pada dedaunan dan rumput. Embun seperti ini kerap dijumpai di pagi hari atau sebelum panas matahari membuat tetesan air tersebut menguap.

Proses Terjadinya Embun

Saat pagi hari kita berjalan-jalan di sekitar kebun, taman, atau halaman rumah yang ditanami berbagai jenis tumbuhan berukuran pendek, seperti rerumputan, bunga mawar, bunga melati, maka cobalah untuk memperhatikan daunnya. Kita pasti akan menemukan sejumlah titik air yang menempel pada permukaan daun tanaman sekitar.

embun Pixabay

Bagaimana titik-titik air tersebut bisa menempel di dedaunan dan rerumputan? Padahal sebelumnya tidak terjadi hujan atau fenomena lain yang menyebabkan munculnya air. Nah, titik-titik air yang menempel pada daun inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan embun.

Embun terbentuk secara alami ketika malam tiba. Tepatnya saat cuaca sedang cerah dan kelembaban udara cukup tinggi. Pada saat itulah udara di dekat permukaan tanah menjadi lebih dingin dan benda-benda di sekitar permukaan tanah kehilangan panas karena adanya proses radiasi termal.

Radiasi termal merupakan pancaran energi panas dari suatu benda yang diakibatkan oleh pengaruh suhu di sekitarnya. Oleh karena benda-benda di dekat permukaan tanah tersebut menjadi lebih dingin, maka suhu udara di sekitar tanah menjadi berkurang dan udara dingin tidak mampu lagi menahan uap air sebanyak udara hangat.

Apabila suhu udara melebihi titik embun, yaitu suhu dimana udara masih sanggup menahan banyaknya uap air, maka sebagian uap air tersebut akan mengembun di atas benda-benda yang memiliki jarak dekat dengan tanah.

Kondisi inilah yang menjadi penyebab adanya titik-titik air atau tetes-tetes embun menempel pada dedaunan dan rumput. Bisa diartikan juga karena tanaman tersebut berukuran pendek sehingga lebih dekat dengan permukaan tanah.

Embun Beku

Seperti yang telah dijelaskan di atas, embun yang kita lihat sehari-hari biasanya berupa titik-titik air. Namun bagaimana jika embun tersebut pada akhirnya mengkristal menjadi es?

Di daerah yang suhunya mencapai minus atau di bawah nol derajat celsius bisa ditemukan embun berbentuk kristal-kristal es. Embun semacam inilah yang kemudian dinamakan sebagai embun beku atau embun putih.

embun es Pixabay

Embun beku adalah suatu pola dari kristal-kristal es yang terbentuk dari uap air di atas daun, rumput, atau benda lain yang berada di dekat permukaan tanah. Embun beku biasanya terbentuk di malam hari saat cuaca cerah dan suhu udara berada di bawah nol derajat celsius atau pada suhu di bawah titik beku air.

Pembentukan embun beku juga bisa diawali dari turunnya suhu udara pada malam hari dimana saat itu suhu mengalami penurunan jauh lebih besar ketimbang penurunan suhu pada malam berawan.

Saat kondisi malam cukup cerah, maka bisa dipastikan tak ada awan yang mampu memantulkan kembali panas yang dipancarkan oleh permukaan bumi. Ketika proses pendinginan berlanjut, maka uap air di udara akan mengembun membentuk titik-titik air yang menempel pada benda di sekitarnya.

Nah, sebagian titik-titik embun ini kemudian akan membeku saat suhu udara turun di bawah nol derajat celsius. Lama kelamaan, titik embun ini berubah menjadi kristal beku yang disebabkan adanya penggumpalan di sekeliling titik embun dan pengumpulan uap air di atas kristal yang terbentuk.

Ada dua bentuk kristal beku yang biasanya terbentuk. Di antaranya adalah kristal berbentuk piring dan kristal berbentuk pilar. Kristal piring ini memiliki bentuk rata yang mirip dengan kristal salju. Sementara kristal pilar berupa tiang es kosong berbentuk segi enam yang rumit.

Embun biasa ataupun embun beku bisa menguap jika sinar matahari mulai terasa hangat. Selain itu, udara hangat yang mampu menahan air lebih banyak sehingga embun akan menguap ke udara.

Perbedaan Embun, Kabut dan Awan

Setelah mengetahui definisi dan proses terjadinya embun, mungkin akan muncul pertanyaan, apakah perbedaan antara embun, kabut, serta awan? Apakah ketiga fenomena alam ini bisa dikatakan sama? apakah berkaitan? atau sebenarnya ada memiliki perbedaan? Berikut ini adalah penjelasan ilmiahnya.

Sebenarnya, kabut adalah kumpulan tetesan air yang berukuran sangat kecil dan melayang-layang di udara. Kabut biasanya terbentuk saat uap udara yang lembab meninggalkan udara dan melakukan proses pengembunan.

kabut Pixabay

Ketika udara menjadi lebih dingin, kabut pun mulai terbentuk secara perlahan. Syarat terbentuknya kabut ini salah satunya adalah udara yang sejuk bercampur dengan udara yang kurang sejuk sebagai akibat dari aliran udara di sekitarnya.

Apabila aliran udara di sekitarnya terlalu rendah, maka proses pendinginan akan berlangsung di sekitar permukaan tanah saja, kemudian terbentuk embun. Ketika aliran udara meningkat dengan cepat, proses pendinginan berlangsung di tempat yang tinggi dan membentuk awan di sekitarnya.

Jadi, aliran udara membuat tercampurnya udara dingin dengan udara yang lebih hangat harus mengalir secara perlahan supaya kabut ini bisa terbentuk.

Sementara awan adalah suatu jenis massa yang terlihat dan terbentuk dari kristal beku ataupun tetesan air pada atmosfer di permukaan bumi. Awan biasanya terbentuk saat udara terasa semakin panas sehingga mencapai kelembaban yang tepat di ketinggian tertentu. Tentunya hal ini cukup berbeda dengan proses terjadinya kabut yang telah dijelaskan sebelumnya.

awan Pixabay

Kita perlu memahami, bahwa semakin tinggi suatu daerah, maka tekanan udara yang dihasilkan pun akan semakin kecil. Dengan demikian gesekan antar molekul semakin berkurang sehingga suhunya jadi lebih rendah atau semakin dingin.

Oleh sebab itu saat mencapai ketinggian tertentu, uap air bakal mengalami proses kondensasi. Hal ini juga sering disebut sebagai proses pemadatan menjadi titik-titik air yang disebabkan adanya pengaruh suhu yang semakin dingin dan kelembaban suhu atmosfer.

Seiring berjalannya hari atau dalam kurun waktu yang cukup lama, uap air tersebut akan semakin banyak dan terkonsentrasi. Dengan begitu, awan yang terbentuk pun akan semakin besar ukurannya. Setelah berhasil mencapai titik ketinggian tertentu, sekumpulan uap air tersebut akan mengalami proses menjadi sebuah titik-titik air karena suhu yang semakin rendah.

Nah, titik-titik air yang memiliki massa lebih berat dari uap ini yang akan membuatnya jatuh ke bawah karena adanya tarikan gaya gravitasi bumi. Titik-titik air yang jatuh inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan hujan.