Gurita – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Habitat & Reproduksi

Salah satu ciri utama dari gurita adalah bentuk tubuhnya yang memiliki banyak tentakel. Gurita merupakan salah satu jenis binatang laut yang mampu hidup di perairan laut tropis hingga wilayah kutub.

Kelompok moluska ini tidak hanya dikenal dengan jumlah kaki tentakelnya yang banyak, namun juga kemampuan mempertahankan diri dengan cara menyengat musuhnya.

Beberapa spesies gurita juga dapat dikonsumsi dan menjadi sumber makanan laut. Hal ini banyak diterapkan oleh masyarakat Jepang, Korea, India, Filipina, Italia, dan Spanyol. Sedangkan di Indonesia bahan masakan dari gurita belum cukup lazim meski sebagaian telah menjadikannya menu kuliner.

Taksonomi

Gurita adalah hewan moluska yang masuk dalam kelompok binatang kepala yang memiliki kaki. Oleh karena bentuk morfologi tersebut, satwa ini berada pada kelas Cephalopoda dan genus Octopus.

habitat gurita Pixabay

Dari sekian banyak marga Octopus yang tersebar di lautan, gurita merupakan hewan yang paling populer. Berikut ini sistem klasifikasi atau taksonomi gurita, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumMolusca
KelasCephalopoda
Sub-kelasColeoidea
OrdoOctopoda
Sub-ordoIncirrata
FamiliOctopodidae
Sub-familiOctopodinae
GenusOctopus
SpesiesOctopus sp.

Kelas atau marga Octopus yang melekat pada gurita mengindikasikan bahwa binatang tersebut berkaki delapan. Sementara itu beberapa hewan dari kelas Moluska yang mempunyai banyak kemiripan fisik dengan gurita adalah sotong (Sephia sp.), nautilus (Nautilis pompilius), dan cumi-cumi (Loligo sp.).

Morfologi

Umumnya ukuran tubuh gurita antara 1,5 cm hingga 3 meter. Ukuran tersebut didapatkan dengan mengukur lengan terpanjang hingga ujung bagian tubuh terluar. Selain ukuran umum tersebut, di beberapa lokasi juga terdapat gurita yang panjangnya kurang dari 1 cm dan ukuran gurita paling panjang yang pernah tercatat mencapai 20 meter.

Berdasarkan struktur anatomi atau morfologinya, tubuh gurita dibagi menjadi lima bagian. Bagain tubuh tersebut meliputi badan, mata, tangan, selaput renang, dan juga kantong penghisap.

Kelima bagian merupakan struktur lengkap dari morfologi gurita karena jika dilihat sepintas satwa ini hanya nampak memiliki dua bagian tubuh, yaitu badan dan lengan atau kaki.

1. Badan

Badan gurita berbentuk bulat dan tidak memiliki sirip ataupun cangkang di luar tubuh seperti hewan air pada umumnya. Selain itu, jika diperhatikan tubuhnya membentuk gelembung besar yang tertutupi oleh selubung. Bagian tersebut mengalami pengecilan dibawah yang menghasilkan bentuk kecil seolah-olah membentuk leher.

Sebenarnya gurita mempunyai cangkang yang berada di dalam tubuhnya. Cangkang tersebut berfungsi sebagai rangka yang menjadi tempat melekatnya otot-otot penyusun struktur tubuh gurita. Sebab tubuh hewan berkaki depalan ini tersusun atas otot yang tidak mempunyai rangka di dalamnya.

Struktur organ dalam gurita tersebut membuat tubuhnya menjadi lunak dan fleksibel, sehingga memudahkan ketika menyelip diantara celah bebatuan dasar laut. Kulit tubuh gurita sendiri memiliki banyak tonjolan kecil yang mirip kutil. Selain itu sel kulitnya mengandung banyak khromatofor yang merupakan pigmen warna.

Pigmen warna gurita membantunya memiliki kemampuan mengubah warna tubuh secara cepat. Ketika dinding otot binatang ini mengalami peregangan atau kontraksi, maka pigmen akan menyebar ke seluruh permukaan tubuh. Adapun warna pigmen yang terdapat pada kulit gurita adalah warna kuning, cokelat, dan berbagai jenis warna lainnya.

Pada bagian bawah tubuhnya terdapat siphon yang merupakan organ eskterior berupa lubang-lubang menyerupai corong. Siphon berfungsi sebagai alat untuk mengeluarkan air yang ada di dalam tubuh gurita. Selain itu siphon juga menjadi tempat berlangsungnya proses respirasi, tempat tinta keluar, dan lokomosi.

2. Kepala

Mata gurita terletak di kepala yang berada diantara tubuh dan lapisan tentakel. Bentuk area ini cukup jelas sebab ukurannya yang mengecil. Gurita mempunyai sepasang mata dengan kemampuan kompleks, sehingga penglihatan binatang ini sangat baik meski hidup di dalam air. Bagian depan mata tersebut dikelilingi oleh delapan lengannya.

Masih disekitar area mata, gurita juga mempunyai mulut yang berbentuk seperti paruh. Paruh ini menjadi bagian paling keras dan berfungsi utama sebagai rahang untuk melumpuhkan mangsanya. Gurita menggunakan mulitnya untuk membunuh mangsa dengan cara menggigitnya.

3. Tentakel

Tangan gurita berupa tentakel yang berjumlah delapan. Pada bagian ini jugalah terdapat selaput renang dan kantong penghisap. Selaput renang merupakan membran yang berada di bagian pangkal lengan atau berdekatan dengan area kepala dan posisinya mengitari mata.

Sedangkan kantong penghisap berada pada setiap tangan atau lengannya. Pada satu lengan terdapat dua baris kantong penghisap yang tersusun secara berderet mulai dari bagian pangkal lengan dekat kepala hingga ujung lengan. Kantong penghisap ini mempunyai bagian tepi yang mirip seperti tanduk.

Umumnya setiap individu gurita mempunyai panjang lengan yang relatif sama. Akan tetapi pada beberapa spesies lengan ini bisa memiliki panjang yang berbeda-beda. Bahkan tidak jarang ada gurita dengan panjang salah satu lengan mencapai dua atau tiga kali lipat dari lengannya yang lain.

4. Indera dan Sistem Saraf

Kemampuan penglihatan gurita sangatlah baik. Hal tersebut disebabkan pupilnya membentuk seperti lubang koin pada celengan. Akan tetapi bentuk pupil ini membuatnya mengalami gangguan refraksi astigmant, namun pada kenyataannya gurita tetap bisa melihat meski dalam kondisi gelap.

Mata gurita diketahui bersifat buta warna, sehingga sulit untuknya membedakan warna lingkungan disekitarnya. Kemampuan yang mendukung kualitas matanya terletak pada caranya membedakan polarisasi cahaya. Selain itu mata biota laut moluska ini juga sangat dipengaruhi oleh sistem gerak refleks yang menyebabkan pupil berbentuk horizontal.

Bukan hanya indera penglihatannya yang sangat tajam, tetapi juga indera perasanya. Indera ini terletak di bagian lengan tentakel yang mengandung kemoreseptor sebagai pendeteksi benda yang sedang disentuh. Lengan gurita juga dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi lengan mana yang sedang digerakkan atau dijulurkan oleh binatang ini.

Sayangnya kemampuan indera perasa tersebut disandingkan dengan pergerakan tubuh atau rasa posisi (proprioseptif) yang lemah. Oleh sebab itu sensor yang diperoleh tentakel gurita tidak bisa sampai ke otak. Sehingga gurita tidak bisa mengenali benda tiga dimensi dan hanya mampu merasakan tekstur tanpa mengetahui benda tersebut.

Hal yang sama juga berlaku saat binatang ini mengirimkan perintah untuk bergerak dari otak ke alat geraknya. Perintah tersebut tidak pernah benar-benar sampai tanpa bantuan tali saraf. Kemudian sensor geraknya juga tidak dapat dikirim kembali ke otak. Sehingga untuk mengetahui perintahnya sudah terlaksana, gurita harus melihat lengannya sendiri.

Karakteristik & Perilaku

Gurita biasanya hidup dengan cara menempel dan bergerak di bagian dasar perairan. Satwa ini juga mulai beraktivitas pada malam hari atau nokturnal dan waktu siangnya dihabiskan dengan berdiam diri di celah bebatuan.

tentakel gurita Pixabay

Ada tiga upaya pertahanan diri yang dapat dilakukan oleh gurita, yaitu kamuflase, mengeluarkan tinta, dan memutuskan tentakel.

1. Kamuflase

Kulit gurita mengandung pigmen warna yang dapat digunakan untuk berkamuflase. Warna tubuh sesungguhnya adalah putih atau abu-abu pucat dan pada saat tertentu warna tersebut bisa berubah dan menyesuaikan dengan lingkungannya.

Rata-rata gurita mempunyai tiga pigmen warna dalam tubuhnya. Akan tetapi ada juga spesies yang mengandung dua dan empat pigmen warna. Warna yang paling umum dimiliki pigmen kromotaforo gurita ada lima, yaitu merah, cokelat, orange, kuning, dan hitam. Sementara itu ada pula sel-sel lain yang bisa memposisikan diri sebagai warna putih.

Kamuflase dengan mengubah warna tubuh juga dimanfaatkan oleh gurita untuk berkomunikasi dengan individu lainnya. Contohnya spesies gurita cincin biru yang mengubah warna kulitnya menjadi kuning terang disertai bulatan biru apabila berada dalam kondisi terancam dan juga untuk menunjukkan kepada musuh kalau dirinya sangatlah beracun.

2. Mengeluarkan Tinta

Gurita memiliki kelenjar tinta di dalam perutnya seperti yang dimiliki oleh cumi-cumi. Zat berwarna hitam ini biasa dikeluarkan apabila merasa sedang terancam. Pada saat itu bagian atas di kepala gurita akan terbuka dan menjadi alat untuk menyemprotkan tinta ke sekelilingnya untuk mengalihkan perhatian musuhnya.

3. Memutuskan Tentakel

Tidak semua gurita mempunyai kemampuan untuk memutuskan tangan atau tentakelnya. Hanya beberapa spesies yang mempunyai kemampuan ototomi seperti keluarga cicak yang memutuskan ekornya ini. Gurita hanya akan memutuskan tentakel jika berada dalam kondisi sangat terancam.

4. Meniru Bentuk Biota Laut

Kemampuan pertahanan diri ini jarang sekali dimiliki oleh gurita kecuali pada beberapa spesies tertentu. Biasanya gurita yang mampu meniru bentuk biota laut akan memilih binatang berbahaya seperti belut dan lepu. Proses peniruan pun cukup mudah, sebab hewan ini memiliki tubuh yang lentur ditambah kemampuan mengubah warna tubuhnya.

Tidak hanya itu, gurita seperti itu ternyata akan mengubah tekstur tubuh atau mantel agar hasil peniruannya lebih maksimal. Mantelnya biasa diubah agar tampak runcing menyerupai rumput laut dan kadang teksturnya dibentuk seperti benjolan yang ada pada batu karang.   

Habitat dan Sebaran

Binatang moluska ini hidup di perairan dangkal mulai kedalaman 5 meter hingga perairan dalam yang mencapai 4.000 sampai 5.000 meter di bawah permukaan laut. Satwa ini membentuk habitat di bagian dasar laut yang terdapat bebatuan karang. Celah bebatuan tersebut menjadi sarang sekaligus tempat berlindung gurita.

Rata-rata gurita ditemukan hidup bebas di wilayah perairan subtropis Mediterania, perairan di timur jauh, dan laut Pasifik Selatan. Beberapa negara yang memiliki cukup banyak spesies yaitu Laut Tengah, Afrika, Asia, Amrika Selatan, dan kawasan Atlantik.

Perkembangbiakan Gurita

Gurita adalah binatang ovipar yang berkembangbiak dengan cara bertelur. Masa kawin biota laut ini berlangsung cukup lama, mulai dari bulan Februari hingga bulan Oktober. Sedangkan puncak perkawinan terjadi pada rentang bulan April, Mei, dan bulan Agustus.

Satwa bertentakel ini mempunyai kelamin yang terpisah dari tubuhnya. Tidak ada perbedaan mencolok antara gurita jantan dan gurita betina kecuali ukuran lengan ketiga dan lengan keempat. Pada spesies jantan biasanya memiliki lenagn tentakel lebih besar sebab pada lengan itu terdapat hektokotil yang berfungsi sebagai organ seksual yang mengeluarkan sperma.

Lengan yang mengandung hektokotil digunakan gurita jantan untuk memindahkan sperma ke dalam oviduk betina. Setelah proses pembuahan terjadi, betina akan menjaga sperma tersebut agar terus hidup sampai telur-telur yang dimilikinya matang.

Dalam satu kali kehamilan seekor gurita betina bisa menghasilkan telur hingga dua ratus ribu butir. Meski begitu jumlah telur yang dihasilkan sangat bergantung pada spesies gurita itu sendiri. Proses bertelur betina umumnya dilakukan secara berkelompok dengan menggantung telur pada langit-langit sarang sehingga membentuk untaian.

Pada masa ini gurita tidak akan keluar dari sarangnya dan terus menjaga telur-telurnya. Gurita betina juga akan berhenti untuk mencari makan setelah bertelur. Lalu ketika semua telurnya sudah menetas dan membentuk larva, maka saat itulah gurita betina mengakhiri hidupnya.

Kebiasaan unik tersebut membuat gurita dikenal sebagai satwa berumur pendek. Umumnya hewan ini hanya bertahan hidup antara tiga sampai lima tahun. Bahkan ada spesies yang masa hidupnya sangat pendek, yaitu enam bulan saja. Namun umur tersebut cukup impas dengan jumlah anak yang dihasilkan.

Makanan Gurita

Gurita merupakan kelompok karnivora yang memakan biota laut lainnya. Mangsa utamanya adalah ikan, kerang, kepiting, udang, dan keong. Meski begitu pada beberapa kasus tidak jarang ditemui gurita yang bersifat kanibal, yaitu memangsa individu lainnya. Bahkan apabila sudah terdesak satwa ini akan memakan tangannya sendiri.

Pada kondisi normal gurita akan mengintai mangsa dari tempat persembunyian. Kemudian setelah mangsa tersebut mendekat, maka gurita segera menggerakkan lengannya untuk menangkap dan rahang untuk melumpuhkannya. Setelah mangsanya lumpuh, makan akan dibawa ke dalam persembunyian untuk dimakan.

Manfaat Gurita

Ada dua pemanfaatan gurita yang paling sering dilakukan oleh manusia, yaitu mengolahnya menjadi bahan makanan dan sebagai binatang peliharaan.

kuliner gurita Pixabay

1. Bahan Makanan

Banyak negara mengolah gurita sebagai bahan makanan, khususnya Jepang yang identik dengan olahan takoyaki, sushi, tempura, dan akashiyaki. Bagian yang dimakan meliputi seluruh tubuhnya. Bahkan di Korea, masyarakatnya tidak segan mengonsumsi saat masih hidup.

2. Binatang Peliharaan

Banyak para penghobi yang berani memelihara gurita meski memiliki konsekuensi dan perhatian serius. Sebab satwa ini dikenal sangat cerdas dengan ingatan jangka panjangnya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya temuan kasus gurita peliharaan yang sanggup melepaskan diri dari akuarium yang tertutup rapat.

Selain itu, hewan bertentakel ini dikenal sebagai binatang yang sangat kuat meski bertubuh lentur dan lunak. Bahkan saat hidup di alam bebas beberapa spesies gurita diketahui sanggup memangsa ikan hiu. Belum lagi kemampuannya untuk bertahan hidup dalam waktu lama di luar perairan.

Salah satu spesies gurita yang paling cocok dijadikan sebagai peliharaan adalah Octopus bimaculoides atau Gurita California. Spesies ini ketika masih bayi berukuran seperti bola tenis yang membuat usia hidupnya bisa diperkirakan. Meski begitu rata-rata gurita tidak bisa hidup dengan baik jika berada di dalam akuarium.