Hutan Primer dan Hutan Sekunder

Hutan Primer dan Hutan Sekunder – Tidak dipungkiri hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem lingkungan di bumi. Oleh karenanya, diharapkan peran serta manusia untuk selalu menjaga dan melestarikannya.

Menurut asalnya, hutan dibagi menjadi dua, yaitu hutan primer dan hutan sekunder. Lalu, apa arti dan perbedaan kedua jenis hutan tersebut? Baca penjelasan lengkap berikut ini.

hutan primer dikenal pula dengan istilah hutan perawan Pixabay

Pengertian Hutan Primer

Secara umum, pengertian hutan primer (primary forest) adalah kawasan hutan alam yang sama sekali belum dieksploitasi oleh manusia. Dengan kata lain, hutan primer terbentuk secara alami dan belum disentuh atau diganggu oleh manusia.

Hutan primer bersifat murni atau belum ada campur tangan dari manusia sama sekali. Oleh karena itu, hutan primer disebut juga dengan nama hutan perawan (virgin forest).

Selain itu, hutan primer dalam bahasa Inggris dikenal dengan berbagai nama, seperti ancient forest, primeval forest, old growth forest, frontier forest, atau ancient woodland.

Secara ekologis, beberapa ahli mengelompokkan pengertian hutan primer. Sehingga hutan primer dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu pengertian hutan primer menurut karakteristik hutan, dinamika tegakan dan umur tegakan.

a. Hutan Primer Menurut Karakteristik Hutan

Pengertian hutan primer menurut karakteristik hutannya dilihat berdasarkan kondisi hutan. Karakteristik tersebut dijadikan sebagai identitas hutan primer.

Adapun karakteristik hutan primer yang dimaksud, yaitu:

  • Terdapat banyak pohon-pohon yang sudah tua.
  • Tunggul atau batang-batang yang telah mati masih berdiri tegak dan kokoh.
  • Adanya dominasi lapisan-lapisan tajuk atau kanopi hutan oleh pepohonan sembulan.
  • Akumulasi kayu-kayu yang telah mati dengan ukuran besar, salah satunya adalah batang-batang rebah.

Berdasarkan karakteristik hutan primer tersebut, maka pengertian hutan primer menurut karakteristik hutan adalah kawasan hutan alam yang belum dieksploitasi oleh manusia.

Dalam kawasan tersebut banyak terdapat pepohonan tua, batang-batang mati yang masih berdiri tegak, kanopi hutan yang didominasi oleh pepohonan sembulan (emergent), serta akumulasi kayu-kayu mati yang memiliki ukuran besar.

b. Hutan Primer Menurut Dinamika Tegakan

Pengertian hutan primer yang kedua adalah menurut dinamika tegakan. Berdasarkan dinamika tegakan, hutan primer merupakan kawasan hutan alami yang tumbuh berkembang sebagai tahap akhir, mengikuti tahap pertumbuhan kembali lapis bawah yang tumbuh berdasarkan dinamika tegakan.

Tahapan pertumbuhan yang dimaksud adalah:

  • Tahap Tegakan Rusak atau Hancur
    Tahap tegakan rusak dan hancur adalah tahap terjadinya gangguan yang merusak dan menghancurkan hampir keseluruhan pepohonan yang ada dalam tegakan hutan. Pada tahap ini, hutan primer menjadi rusak atau hancur, bahkan hampir musnah.
  • Tahap Tegakan Tumbuh Kembali
    Tahap tegakan tumbuh kembali merupakan tahap terjadinya proses tumbuhnya pepohonan baru, sehingga terbentuklah tegakan hutan yang baru. Pada hutan primer, tahap tegakan tumbuh kembali terjadi setelah tahap tegakan rusak atau hancur. Tahap tegakan tumbuh kembali biasanya terjadi secara alami.
  • Tahap Seleksi Batang
    Tahap seleksi batang merupakan tahap terjadinya pertumbuhan pohon-pohon yang ditandai dengan semakin besarnya pohon dan pertumbuhan pohon yang rapat. Pada tahap seleksi batang, pertumbuhan pohon semakin rapat mengakibatkan pohon-pohon bersaing untuk memperebutkan cahaya matahari. Pada tahap ini, pohon-pohon yang tumbuh lambat akan mati, sedangkan pohon-pohon yang bertahan lama akan tumbuh semakin besar dan menggeser tempat pohon-pohon yang mati. Ciri-ciri tahap seleksi batang, antara lain:

    • Pertumbuhan pohon-pohon yang dapat bertahan lama akan semakin besar.
    • Pohon-pohon yang tumbuh besar memiliki atap tajuk atau kanopi padat dan rapat. Sehingga intensitas cahaya matahari yang masuk ke dasar hutan semakin berkurang.
    • Pohon-pohon lapis bawah sebagian besar tidak dapat bertahan hidup.
    • Hanya ada tumbuhan sejenis spesies toleran yang merupakan tumbuhan yang dapat bertahan hidup di bawah naungan yang cukup berat.
  • Tahap Pertumbuhan Kembali Lapis Bawah
    Tahap pertumbuhan kembali lapis bawah merupakan terjadinya proses pertumbuhan kembali setelah hutan mengalami kerusakan. Pada tahap ini, pepohonan akan tumbuh kembali setelah mati akibat kerusakan, baik kerusakan yang disebabkan oleh angin, penyakit tumbuhan serta kerusakan lainnya. Ciri-ciri tahap pertumbuhan kembali lapis bawah, yaitu:

    • Beberapa pohon-pohon yang mengalami kerusakan baik kerusakan yang disebabkan oleh penyakit, angin maupun kerusakan lainnya akan mati dan musnah.
    • Timbul celah hutan yang terbentuk karena banyak pepohonan yang tumbang pada tahap ini. Adanya celah hutan tersebut memungkinkan cahaya matahari dapat masuk menyinari dasar hutan atau lantai hutan.
    • Adanya pertumbuhan kembali terutama jenis pohon-pohon di lapis bawah tajuk hutan. Hal tersebut karena intensitas cahaya matahari mulai menyinari dasar hutan atau lantai hutan sehingga spesies toleran dapat tumbuh kembali.
  • Tahap Hutan Primer
    Tahap hutan primer merupakan tahap terjadinya proses pembentukan hutan primer. Tahap ini ditandai oleh hal-hal berikut:

    • Pepohonan yang berfungsi sebagai tajuk utama hutan tumbuh semakin tua.
    • Banyak pohon-pohon tajuk utama yang mati. Matinya pepohonan tersebut memungkinkan munculnya banyak celah hutan.
    • Adanya Celah hutan akan mendorong pertumbuhan pohon-pohon lapis bawah semakin cepat. Kecepatan pertumbuhan pepohonan lapis bawah bergantung pada intensitas cahaya matahari yang diperoleh hingga dasar hutan.
    • Celah hutan ditumbuhi oleh pohon-pohon dengan tajuk yang menjulang tinggi dan lebat.

Oleh karena itu, hutan primer memiliki keseimbangan yang dinamis. Hal tersebut ditandai dengan terbentuknya celah hutan yang terkadang rusak dan dapat pulih kembali, bahkan tumbuh kembali dan membentuk mosaik pepohonan yang tumbuh dari berbagai jenis pohon dan umur.

Pada hutan primer menurut dinamika tegakan, terjadi 3 hal yang selalu berulang kembali, yaitu:

  • Kawasan hutan akan mengalami kerusakan, sehingga pepohonan akan musnah dan mati. Kerusakan hutan ini merupakan tahap awal tegakan.
  • Hutan akan membentuk lingkungan baru. Lingkungan baru yang terbentuk berbeda dengan kondisi pepohonan sudah ada. Pada proses ini, akan terjadi kepunahan pohon-pohon yang sudah tua. Kemudian dilanjutkan dengan pohon-pohon yang lebih kecil. Pohon-pohon yang lebih kecil tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya hutan tiang.
  • Terjadi kondisi alam berupa pohon-pohon lapis bawah yang berasal dari jenis pepohonan yang berbeda dari jenis sebelumnya. Pada tahap inilah akan terjadi tahap seleksi batang. Namun, tahap seleksi batang yang dimaksud berkaitan dengan spesies-spesies baru yang berbeda dengan spesies sebelumnya.

Tahapan dalam hutan primer dapat bertahan cukup lama, selama ratusan tahun atau bahkan hingga ribuan tahun. Sebab, tahapan ini bergantung dari komposisi jenis pepohonan dan iklim yang menyusun hutan primer dis suatu kawasan.

Contohnya adalah kebakaran hutan yang terjadi secara alami, tidak akan memungkinkan pertumbuhan hutan kutub atau hutan boreal bertahan lama, seperti pertumbuhan hutan-hutan di jajaran Pantai Pasifik, Amerika Utara.

Perlu diketahui, setiap hutan yang mengalami pergeseran komunitas pepohonan dalam tegakan tidak selalu mencapai terbentuknya tahapan hutan primer. Hal tersebut terjadi karena hal-hal berikut:

  • Beberapa spesies pohon dalam kawasan hutan primer memiliki tajuk yang terbuka. Sehingga memungkinkan pepohonan toleran dapat tumbuh dengan sempurna di bawah kanopi, sebelum terjadinya tahap pertumbuhan kembali lapis bawah.
  • Pepohonan yang tumbuh dan terletak di lapis bawah dapat mendesak, bahkan menyingkirkan kanopi atas pada ketika tahapan seleksi batang.
  • Spesies pohon yang mendominasi akan mengalami perubahan. Tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi tegakan, sehingga tegakan tetap berada di tahap seleksi batang.

c. Hutan Primer Menurut Umur Tegakan

Pengertian hutan primer menurut umur tegakan memiliki arti berbeda-beda di setiap wilayah. Hal tersebut tergantung pada masing-masing wilayah geografisnya.

Tiap wilayah memiliki perkiraan waktu rata-rata yang diperlukan hutan untuk melakukan pemulihan kembali dari kerusakan, hingga mencapai tahap hutan primer.

Perkiraan waktu rata-rata pemulihan hutan primer pada suatu wilayah dapat dijadikan sebagai metode praktis dan berguna. Sehingga penetapan tahapan suatu tegakan hutan dapat ditentukan secara objektif dan cepat.

Namun metode tersebut dinilai mengabaikan banyak proses yang terjadi dalam hutan, karena terkadang suatu tegakan hutan dianggap bukan termasuk dalam bagian hutan primer, meskipun memiliki ciri-ciri yang sama. Sebab, tegakan hutan yang dimaksud memiliki umur yang tidak sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan atau berumur lebih muda.

Selain itu, metode tersebut dianggap kurang akurat, karena terkadang tegakan hutan yang belum mencapai tahapan hutan primer, namun umurnya dinilai cukup masuk dalam kategori hutan primer.

Pada kenyataannya, pembalakan hutan yang mencapai angka 30% memiliki kecenderungan lebih cepat pulih, daripada pembalakan hutan yang mencapai angka 80%.

Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian hutan primer menurut umur tegakan dinilai dapat menimbulkan masalah jika para ahli rimba kurang berhati-hati dalam menerapkan metodenya.

d. Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Primer

Hutan primer memiliki sifat dan ciri-ciri yang berbeda dengan hutan jenis lainnya. Berikut adalah sifat dan cirinya :

  1. Hutan primer memiliki jenis pepohonan yang sangat banyak jumlahnya, dapat mencapai 40 hingga 80 jenis pohon per ha. Hal tersebut membuat jumlah batang per jenis pohon menjadi sangat sedikit jumlahnya. Pada hutan kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, jumlah jenis pohon hutan alam primer diperkirakan mencapai 12.000 hingga 15.000 spesies. Spesies pohon tersebut merupakan jenis pohon yang memiliki diameter berukuran 10 cm ke atas.
  2. Terdapat perbedaan karakteristik di setiap hutan primer. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya perbedaan tapak. Perbedaan tapak tersebut menjadikan struktur dan tipe hutan yang beranekaragam, sehingga tidak ada cara pengelolaan yang berlaku secara umum.
  3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang hal-hal terkait pengelolaan hutan primer. Contohnya adalah hutan primer di Indonesia yang memiliki tapak yang berbeda-beda. Akibatnya, hutan primer di Indonesia bagian barat memiliki karakteristik yang berbeda dengan hutan primer di Indonesia bagian timur. Perbedaan karakteristik mendorong para ahli melakukan penelitian lebih lanjut mengenai cara yang lebih spesifik  untuk mengelola hutan primer.
  4. Beberapa jenis pohon hidup bercampur secara individual, meskipun ada beberapa jenis pohon yang hidup secara berkelompok berdasarkan spesiesnya.
  5. Terdapat tapak yang bervariasi, baik secara struktural maupun komposisi jenis. Kondisi tapak yang bervariasi memungkinkan perbedaan struktural dan komposisi jenis, meskipun lokasinya tidak berjauhan.
  6. Pada umumnya, hutan primer memiliki frekuensi yang rendah. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi penyebaran secara vertikal dan horizontal yang tinggi.
  7. Struktur penyebaran diameter pohon berbentuk huruf J terbalik, atau biasa disebut dengan kurva grafik plenter. Artinya, jenis pohon yang memiliki diameter yang berukuran kecil lebih dominan daripada diameter yang berukuran besar.
  8. Hanya sedikit batang yang mulus. Oleh karenanya, sering dijumpai pepohonan besar memiliki batang yang bolong atau berlubang.
  9. Pada hutan primer, tiap pertumbuhan bernilai kecil dalam skala yang luas besarnya justru nol.
  10. Hutan primer memiliki jenis pohon niagawi sedikit, antara 0% hingga 20%, dengan volume terjual antara 0 sampai 20 m3/ha. Kondisi tersebut tidak berlaku pada hutan dipterocarpaceae yang memiliki kandungan kayu seragam yang tinggi.
  11. Pada hutan primer sering terjadi pemulihan kembali atau permudaan, namun permudaan tersebut hanya terjadi dalam jumlah yang minim. Hal ini karena hanya sedikit tumbuhan muda yang dapat memanfaatkan intensitas cahaya matahari dari celah hutan yang terbentuk dari tumbangnya pepohonan yang sudah tua.

regenerasi dari hutan primer disebut hutan sekunder Pixabay

Pengertian Hutan Sekunder

Selain hutan primer, ada pula hutan sekunder. Hutan sekunder merupakan regenerasi dari hutan primer. Istilah hutan sekunder digunakan sejak tahun 1950 pada nomenklatur ilmiah (Richards 1955, Greigh-Smith 1952).

Istilah hutan sekunder belum banyak digunakan di banyak negara, karena banyak negara menggunakan istilah “kawasan kumpulan berbagai jenis pepohonan lokal” dengan nama hutan atau hutan alami.

Nama hutan alami tersebut, diberikan tanpa mempedulikan kawasan hutan sebagai bekas tebangan hutan primer atau hutan regenerasi. Oleh sebab itu, istilah hutan sekunder tidak cukup dikenal. Banyak negara mengenal istilah hutan sekunder sebagai padanan dari istilah hutan primer.

a. Hutan Sekunder Secara Umum

Secara umum, pengertian hutan sekunder adalah hutan yang terbentuk dari regenerasi hutan primer yang awalnya rusak karena bencana alam atau akibat penebangan yang disengaja untuk memenuhi kebutuhan manusia. Penebangan tersebut umumnya bertujuan untuk mendapatkan kayu atau membuka ladang sebagai tempat bercocok tanam.

b. 13 Pengertian Hutan Sekunder

Selain pengertian tersebut, beberapa ahli mengartikan hutan sekunder dalam berbagai definisi. Berikut adalah pengertian hutan sekunder menurut para ahli, antara lain:

  1. Menurut Greigh-Smith (1952)
    Menurut Greigh-Smith, pengertian hutan sekunder adalah pertumbuhan hutan kembali setelah dilakukannya proses tebang habis.
  2. Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization / UNESCO (1978)
    Menurut UNESCO, hutan sekunder merupakan vegetasi yang mengalami kolonisasi areal-areal dimana sebagian atau seluruh dari vegetasi asli tersebut menghilang karena ulah manusia atau gangguan alam.
  3. Menurut Lanly (1982)
    Menurut Lanly, hutan sekunder disebut juga dengan hutan bera, yaitu suatu mosaik dari areal-areal yang difungsikan untuk kegiatan pertanian dan belum disentuh oleh manusia serta memiliki umur yang berbeda-beda. Hutan sekunder terdiri atas perkembangbiakan dari komposisi vegetasi setelah terjadinya tebang habis. Tebang habis yang dimaksud adalah tebang habis dari formasi hutan tertutup atau hutan terbuka. Lanly juga berpendapat, bahwa hutan sekunder memiliki usia lebih dari 60 hingga 80 tahun dan diklasifikasikan sebagai hutan yang belum disentuh oleh manusia, atau disebut dengan istilah hutan primer.
  4. Menurut Lamprecht (1986)
    Menurut Lamprecht, hutan sekunder merupakan fase pertumbuhan hutan yang terbentuk dari kondisi tapak gundul akibat gangguan alam atau antropogen hingga menjadi klimaks kembali.
  5. Menurut Weaver and Birdsey (1986)
    Menurut Weaver and Birdsey, pengertian hutan sekunder adalah sebagai berikut :

    • Kawasan hutan yang terbentuk dari hasil lahan pertanian atau lahan penggembalaan atau peternakan yang telah ditinggalkan pemiliknya.
    • Kawasan hutan yang terbentuk dari hasil regenerasi kawasan hutan sebelumnya yang telah ditebang habis atau mengalami kerusakan akibat dari gangguan alam.
  6. Menurut World Wide Fund for Nature / WWF (1988)
    Menurut WWF, hutan sekunder merupakan hutan-hutan yang diperbaharui secara substansial akibat dari campur tangan manusia.
  7. Menurut Kaffka (1990)
    Menurut Kaffka, hutan sekunder adalah hutan yang terbentuk karena bekas tebangan, kemudian dibiarkan hingga berkembang biak tanpa ada gangguan.
  8. Menurut Parlemen Jerman (1990)
    Menurut Parlemen Jerman, hutan sekunder yaitu semua tahapan suksesi yang terbentuk secara alami atau karena kegiatan manusia yang terjadi di areal kosong.
  9. Menurut Brown dan Lugo (1990)
    Menurut Brown dan Lugo, hutan sekunder merupakan komponen penting dari sistem perladangan yang berpindah sebagai bentuk konsekuensi dari tindakan manusia terhadap kawasan hutan. Hutan sekunder terbentuk setelah ada kegiatan di bidang pertanian di areal hutan, namun areal hutan yang telah mengalami tebang habis tidak termasuk dalam hutan sebagai suatu konsekuensi dari tindakan manusia.
  10. Menurut Finegan (1992)
    Menurut Finegan, hutan sekunder yaitu vegetasi berkayu yang tumbuh berkembang di atas lahan yang telah ditinggalkan setelah vegetasi awal atau asli rusak karena campur tangan manusia.
  11. Menurut Food and Agriculture Organization / FAO (1993)
    Menurut FAO, hutan sekunder adalah hutan yang terbentuk setelah terjadinya perubahan dari bentuk pemanfaatan lahan yang berkaitan erat dengan pengurangan penutupan pohon dengan jumlah di bawah 10%, atau yang biasa disebut dengan penggundulan hutan yang kemudian ditinggalkan tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.
  12. Menurut Corlett (1994)
    Menurut Corlett, hutan sekunder merupakan kawasan hutan yang terjadi akibat interupsi dari penutupan hutan secara kontinyu. Selain itu, hutan ini juga bergantung pada pihak luar dalam usaha pembentukan hutan kembali dan dapat dikenali dari struktur atau komposisi vegetasinya. Corlett berpendapat, bahwa definisi hutan sekunder merupakan suatu masalah yang berkaitan dengan bagaimana cara menarik garis batas dalam suatu skala.
  13. Menurut Huss (1996)
    Menurut Huss, pengertian hutan sekunder mengandung arti hutan yang membentuk mosaik-mosaik kecil dari komunitas hutan dan ditandai dengan fase-fase degredasi serta regenerasi yang rumit. Huss berpendapat, bahwa hutan-hutan yang mengalami degradasi dan hutan-hutan sekunder tidak ada perbedaan yang jelas. Sebab, hutan alam terdegradasi akibat dari kegiatan pembalakan kayu atau tebang pilih yang tidak terkontrol. Sedangkan hutan sekunder tumbuh berkembang dari benih pepohonan pionir, tunggul pohon atau regenerasi dari beberapa jenis pohon klimaks, pada proses tersebut tidak diganggu oleh ulah manusia.

c. Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Sekunder

Sama halnya dengan hutan primer, hutan sekunder memiliki sifat dan ciri-ciri., antara lain:

  1. Struktur dan komposisi yang ada pada hutan sekunder tidak hanya tergantung dari tapak hutan, namun juga tergantung dari umurnya.
  2. Kawasan hutan tidak berisi pohon jenis niagawi.
  3. Hutan sekunder ditumbuhi oleh tegakan muda yang berkomposisi dan memiliki struktur seragam dibandingkan dengan hutan asli primer.
  4. Pada awalnya riap pohon besar, namun lambat laun riap pohon mengecil.
  5. Batang cenderung bengkok dan cepat gerowong. Hal ini terjadi karena adanya persaingan ruangan dan cahaya sinar yang intensif.
  6. Sulit untuk melakukan perencanaan pemasaran hasil hutan. Penyebabnya adalah struktur, riap pohon dan komposisi hutan yang tidak pernah stabil.

Fungsi Hutan Primer dan Hutan Sekunder

Bukan menjadi rahasia umum lagi, hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Begitu juga dengan hutan primer dan sekunder.

Hutan primer dan hutan sekunder memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia, yaitu:

  1. Mencegah terjadinya tanah longsor dan erosi. Adanya hutan di bumi ini membantu penyerapan air hujan agar tidak langsung diserap oleh permukaan tanah. Melainkan diserap oleh permukaan daun sehingga dapat masuk ke dalam tanah. Selain itu, banyaknya pepohonan yang ada di hutan membantu mengikat butiran-butiran tanah. Akar-akar pohon memiliki fungsi dan kemampuan sebagai pengikat butiran tanah.
  2. Pepohonan yang ada di hutan memiliki fungsi sebagai penyimpan, pengatur dan penjaga persediaan air, sehingga ada keseimbangan kebutuhan air ketika terjadinya musim hujan dan musim kemarau.
  3. Hutan merupakan sumber plasma nuftah keanekaragaman ekosistem hutan, artinya dapat membantu perkembangbiakan keanekaragaman hayati genetika.
  4. Pepohonan di hutan membantu menyuburkan tanah. Daun-daun dari pepohonan yang gugur atau berjatuhan ke tanah akan terurai menjadi humus. Humus merupakan unsur hara yang dapat menyuburkan tanah.
  5. Hutan dapat membantu mengurangi polusi akibat pencemaran udara. Pepohonan yang ada di hutan mampu menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.
  6. Hutan dapat dijadikan sebagai sumber ekonomi. Jenis tumbuhan yang tumbuh di dalam hutan dapat dimanfaatkan melalui pembukaan wilayah hutan untuk memperoleh bahan baku kayu maupun non kayu, seperti karet, rotan, getah perca dan bahan baku bangunan lainnya.