Tidak dipungkiri hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem lingkungan di bumi. Oleh karenanya, diharapkan peran serta manusia untuk selalu menjaga dan melestarikan kelangsungan hidup hutan.

Seperti yang telah disinggung pada artikel sebelumnya (Pengertian Hutan, Bagian, Jenis, dan Fungsinya). Menurut asalnya, hutan dapat menjadi dua, yaitu hutan primer dan hutan sekunder.

Lalu, apa arti dari hutan yang dibedakan menjadi primer dan sekunder tersebut? Mari baca penjelasan lengkap berikut ini.

Hutan Primer

hutan primer dikenal pula dengan istilah hutan perawan

Pengertian Hutan Primer

Secara umum, pengertian hutan primer (primary forest) adalah kawasan hutan alam yang sama sekali belum dieksploitasi oleh manusia. Dengan kata lain, hutan yang terbentuk secara alami yang belum disentuh atau diganggu oleh manusia.

Hutan primer ini sifatnya masih murni belum ada campur tangan dari manusia sama sekali. Oleh karena itu, hutan primer disebut juga dengan nama hutan perawan (virgin forest). Selain itu, hutan primer dalam bahas Inggris dikenal dengan nama, antara lain: ancient forest, primeval forest, old growth forest, frontier forest, atau ancient woodland.

Beberapa ahli mengelompokkan pengertian hutan primer secara ekologis. Secara ekologis, pengertian hutan primer dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu: pengertian hutan primer menurut karakteristik hutan, dinamika tegakan dan umur tegakan.

Adapun penjelasan secara rinci dari 3 kelompok pengertian hutan primer secara ekologis dapat dijelaskan pada uraian berikut. 

Pengertian Hutan Primer Menurut Karakteristik Hutan

Pengertian Hutan Primer Menurut Karakteristik Hutan

Pengertian hutan primer secara ekologis yang pertama adalah pengertian hutan primer menurut karakteristik hutannya. Pengertian tersebut dapat dilihat dari kondisi hutan dengan cara melihat karakteristik tertentu yang terdapat pada hutan primer sehingga karakteristik tersebut dapat dijadikan sebagai identitas hutan primer.

Adapun karakteristik hutan primer yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Banyak terdapat pohon-pohon yang sudah tua.
  • Tunggul atau batang-batang yang sudah mati masih dapat berdiri tegak dan kokoh.
  • Adanya dominasi lapisan-lapisan tajuk atau kanopi hutan oleh pepohonan sembulan.
  • Adanya akumulasi kayu-kayu yang sudah mati berukuran besar, salah satunya adalah batang-batang rebah.

Berdasarkan karakteristik hutan primer tersebut, maka pengertian hutan primer menurut karakteristik hutan adalah kawasan hutan alam yang belum dieksploitasi oleh manusia dimana dalam kawasan tersebut banyak terdapat pepohonan tua, batang-batang mati masih berdiri tegak, adanya kanopi hutan yang didominasi oleh pepohonan sembulan (emergent) serta akumulasi kayu-kayu mati yang memiliki ukuran besar.

Pengertian Hutan Primer Menurut Dinamika Tegakan

Pengertian Hutan Primer Menurut Dinamika Tegakan

Pengertian hutan primer secara ekologis yang kedua adalah menurut dinamika tegakan. Hutan primer menurut dinamika tegakan merupakan kawasan hutan alami yang tumbuh berkembang sebagai tahap akhir dimana mengikuti tahap pertumbuhan kembali lapis bawah yang tumbuh berdasarkan dinamika tegakan.

Adapun tahapan yang dimaksud dalam dinamika tegakan adalah sebagai berikut:

  • Tahap Tegakan Rusak atau Hancur Tahap tegakan yang rusak dan hancur merupakan tahap dimana terjadinya gangguan yang merusak dan menghancurkan hampir keseluruhan pepohonan yang ada dalam tegakan hutan. Di tahap ini, hutan primer menjadi rusak atau hancur bahkan hampir musnah.
  • Tahap Tegakan Tumbuh Kembali Tahap tegakan tumbuh kembali merupakan tahap dimana terjadi proses tumbuhnya pepohonan baru sehingga terbentuklah tegakan hutan yang baru. Pada hutan primer, tahap tegakan tumbuh kembali ini terjadi setelah tahap tegakan rusak atau hancur. Tahap tegakan tumbuh kembali ini biasanya terjadi secara alami.
  • Tahap Seleksi Batang Tahap seleksi batang merupakan tahap dimana terjadinya pertumbuhan pohon-pohon yang ditandai dengan semakin besarnya pohon dan pertumbuhan pohon yang rapat. Pada tahap seleksi batang ini, pertumbuhan pohon semakin rapat akibatnya pohon-pohon bersaing untuk memperebutkan cahaya. Di tahap seleksi batang ini, pohon-pohon yang tumbuh secara lambat perlahan akan mati sedangkan pohon-pohon yang dapat bertahan lama akan tumbuh semakin besar dan menggeser tempat pohon-pohon yang mati. Adapun ciri-ciri pada tahap seleksi batang ini adalah sebagai berikut:

    • Pertumbuhan pohon-pohon yang dapat bertahan lama akan semakin besar.
    • Pohon-pohon yang tumbuh besar memiliki atap tajuk atau kanopi yang padat dan rapat akibatnya intensitas cahaya matahari yang masuk ke dasar hutan semakin menyusut.
    • Pohon-pohon lapis bawah banyak yang tidak dapat bertahan hidup akibatnya pohon-pohon lapis bawah banyak yang mati.
    • Hanya ada tumbuhan sejenis spesies toleran yang merupakan tumbuhan yang dapat bertahan hidup di bawah naungan yang cukup berat.
  • Tahap Pertumbuhan Kembali Lapis Bawah Tahap pertumbuhan kembali lapis bawah merupakan tahap dimana terjadi proses pertumbuhan kembali setelah terjadi kerusakan. Pada tahap ini pepohonan akan tumbuh kembali setelah mati akibat kerusakan baik kerusakan yang disebabkan oleh angin, penyakit tumbuhan serta kerusakan lainnya. Adapun ciri-ciri pada tahap pertumbuhan kembali lapis bawah ini adalah sebagai berikut:

    • Beberapa pohon-pohon yang mengalami kerusakan baik kerusakan yang disebabkan oleh penyakit, angin maupun kerusakan lainnya akan mati dan musnah.
    • Timbul celah hutan yang terbentuk karena banyak pepohonan yang tumbang pada tahap ini. Adanya celah hutan tersebut memungkinkan cahaya matahari dapat masuk menyinari dasar hutan atau lantai hutan.
    • Adanya pertumbuhan kembali terutama jenis pohon-pohon di lapis bawah tajuk hutan. Hal tersebut karena intensitas cahaya matahari mulai menyinari dasar hutan atau lantai hutan sehingga spesies toleran dapat tumbuh kembali.
  • Tahap Hutan Primer Tahap hutan primer merupakan tahap dimana terjadi proses pembentukan hutan primer. Pada tahap hutan primer ini ditandai hal-hal sebagai berikut:

    • Pepohonan yang berfungsi sebagai tajuk utama hutan tumbuh semakin tua.
    • Banyak pohon-pohon sebagai tajuk utama hutan mati. Matinya pepohonan tersebut memungkinkan munculnya banyak celah hutan.
    • Banyaknya celah hutan mendorong pertumbuhan pohon-pohon lapis bawah semakin cepat. Pertumbuhan pepohonan lapis bawah ini tergantung intensitas cahaya matahari ke celah hutan terutama yang menyinari dasar atau lantai hutan.
    • Semakin banyak celah hutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon dengan tajuk pohon yang menjulang tinggi dan lebat.

Pengertian hutan primer menurut dinamika tegakan mengandung arti bahwa hutan primer memiliki keseimbangan yang dinamis dimana hal tersebut ditandai dengan terbentuknya celah hutan yang terkadang rusak dan dapat pulih kembali bahkan tumbuh kembali dan membentuk mosaik pepohonan yang tumbuh dari berbagai jenis pohon dan umur.

Pada hutan primer menurut dinamika tegakan ini sering terjadi 3 hal yang selalu berulang kembali. 3 hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kawasan hutan akan mengalami kerusakan sehingga membuat pepohonan musnah dan mati. Kerusakan hutan ini disebut dengan tahap awal tegakan.
  • Hutan akan membentuk lingkungan baru dimana lingkungan baru tersebut berbeda dengan kondisi pepohonan sudah ada. Pada proses ini akan terjadi punahnya pohon-pohon yang sudah tua yang kemudian diganti dengan pohon-pohon yang lebih kecil. Pohon-pohon yang lebih kecil tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya hutan tiang.
  • Pada hutan primer menurut dinamika tegakan akan terjadi kondisi alam dimana pohon-pohon lapis bawah yang baru berasal dari jenis pepohonan yang berbeda dari jenis sebelumnya. Di tahap inilah akan terjadi tahap seleksi batang, namun tahap seleksi batang yang dimaksud berkaitan dengan spesies-spesies baru yang berbeda dengan spesies sebelumnya.

Tahapan dalam hutan primer ini dapat bertahan cukup lama, bisa jadi selama ratusan tahun atau bahkan hingga ribuan tahun. Hal tersebut tergantung dari komposisi jenis pepohonan dan iklim yang menyusun hutan primer di kawasan tersebut.

Contohnya adalah kebakaran hutan yang terjadi secara alami tidak memungkinkan pertumbuhan hutan kutub atau hutan boreal bertahan lama seperti pertumbuhan hutan-hutan yang ada di jajaran Pantai Pasifik, Amerika Utara.

Perlu anda ketahui, setiap hutan yang mengalami pergeseran komunitas pepohonan dalam tegakan tidak selalu dapat mencapai terbentuknya tahapan hutan primer. Hal tersebut terjadi karena hal-hal berikut ini:

  • Beberapa spesies pohon dalam kawasan hutan primer ini memiliki tajuk yang terbuka sehingga memungkinkan pepohonan toleran dapat tumbuh dengan sempurna di bawah kanopi sebelum terjadinya tahap pertumbuhan kembali lapis bawah.
  • Pepohonan yang tumbuh dan terletak di lapis bawah dapat mendesak bahkan menyingkirkan kanopi atas pada saat tahapan seleksi batang.
  • Spesies pohon yang mendominasi akan mengalami perubahan tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi tegakan sehingga tegakan tetap berada di tahap seleksi batang.

Pengertian Hutan Primer Menurut Umur Tegakan

Pengertian Hutan Primer Menurut Umur Tegakan

Pengertian hutan primer secara ekologis yang ketiga adalah hutan primer menurut umur tegakan dimana suatu kawasan hutan dikatakan sebagai hutan primer dapat dilihat dari umur tegakan hutan. Namun, penggolongan hutan primer menurut umur tegakan ini setiap wilayah berbeda-beda.

Setiap wilayah dalam menggolongkan hutan primer menurut umur tegakan berbeda-beda. Hal tersebut tergantung pada masing-masing wilayah geografisnya. Setiap wilayah memiliki perkiraan waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk melakukan pemulihan kembali dari hutan yang rusak hingga mencapai tahap hutan primer.

Perkiraan waktu rata-rata dalam pemulihan kembali hutan primer pada suatu wilayah dapat dijadikan sebagai metode yang praktis dan berguna sehingga penetapan tahapan suatu tegakan hutan dapat ditentukan secara objektif dan cepat.

Metode tersebut dinilai mengabaikan banyak proses yang terjadi dalam hutan karena terkadang suatu tegakan hutan dianggap bukan termasuk dalam bagian hutan primer meskipun memiliki ciri-ciri yang sama. Hal tersebut karena tegakan hutan yang dimaksud berumur tidak sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan atau berumur lebih muda.

Selain itu, metode tersebut dianggap kurang akurat karena terkadang tegakan hutan yang belum mencapai tahapan hutan primer namun umurnya dinilai cukup masuk dalam kategori hutan primer.

Perlu anda ketahui, kenyataannya pembalakan hutan yang mencapai hingga 30% memiliki kecenderungan lebih cepat pulih daripada pembalakan hutan yang mencapai 80%.

Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian hutan primer menurut umur tegakan dinilai dapat menimbulkan masalah jika para ahli rimba kurang berhati-hati dalam menerapkan metodenya.

Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Primer

Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Primer

Hutan primer memiliki sifat dan ciri-ciri yang berbeda dengan hutan jenis lainnya. Adapun sifat dan ciri-ciri hutan primer adalah sebagai berikut :

  1. Hutan primer memiliki jenis pepohonan yang sangat banyak jumlahnya dapat mencapai hingga 40 – 80 jenis pohon per ha. Hal tersebut membuat jumlah batang per jenis pohon menjadi sangat sedikit jumlahnya. Di Asia Tenggara termasuk Indonesia, jumlah jenis pohon pada hutan alam primer diperkirakan ada 12.000 – 15.000 spesies dimana spesies tersebut merupakan jenis pohon yang memiliki diameter berukuran 10 cm ke atas.
  2. Terdapat perbedaan karakteristik di setiap hutan primer. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya perbedaan tapak dimana perbedaan tapak tersebut menimbulkan struktur dan tipe hutan yang beranekaragam sehingga tidak ada cara pengelolaan yang berlaku secara umum.
  3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan cara spesifik dalam pengelolaan hutan primer. Contoh hutan primer di Indonesia memiliki tapak yang berbeda-beda akibatnya hutan primer di Indonesia bagian barat memiliki karakteristik yang berbeda dengan hutan primer di Indonesia bagian timur. Perbedaan karakteristik mendorong para ahli melakukan penelitian lebih lanjut mengenai tata cara spesifik pengelolaan hutan primer alam.
  4. Beberapa jenis pohon hidup bercampur secara individual meskipun ada beberapa jenis pohon yang hidup secara berkelompok berdasarkan spesiesnya.
  5. Terdapat tapak yang bervariasi baik secara struktural maupun komposisi jenis. Kondisi tapak yang bervariasi ini memungkinkan perbedaan struktural dan komposisi jenis meskipun lokasinnya tidak berjauhan.
  6. Pada umumnya, hutan primer memiliki frekuensi yang rendah. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi penyebaran secara vertikal dan horizontal yang tinggi.
  7. Struktur penyebaran diameter pohon berbentuk huruf J terbalik atau biasa disebut dengan kurva grafik plenter, artinya jenis pohon yang memiliki diameter yang berukuran kecil lebih dominan daripada diameter yang berukuran besar.
  8. Hanya sedikit batang yang mulus pada hutan primer. Oleh karenanya, sering dijumpai pepohonan besar memiliki batang yang bolong.
  9. Pada hutan primer, tiap pertumbuhan bernilai kecil dalam skala yang luas besarnya justru nol.
  10. Pada hutan primer, jenis pohon niagawi hanya sedikit antara 0 – 20% dengan volume terjual antara 0 – 20 m3/ha. Kondisi tersebut tidak berlaku pada hutan dipterocarpaceae yang memiliki kandungan kayu seragam yang tinggi.
  11. Pada hutan primer sering terjadi pemulihan kembali atau permudaan namun permudaan tersebut hanya terjadi dalam jumlah yang minim. Hal tersebut karena hanya sedikit tumbuhan muda yang dapat memanfaatkan intensitas cahaya matahari dari celah hutan yang terbentuk dari tumbangnya pepohonan yang sudah tua.

Hutan Sekunder

regenerasi dari hutan primer disebut hutan sekunder

Pengertian Hutan Sekunder

Selain hutan primer, ada pula hutan sekunder. Hutan sekunder merupakan regenerasi dari hutan primer. Istilah hutan sekunder digunakan sejak tahun 1950 dalam nomenklatur ilmiah (Richards 1955, Greigh-Smith 1952).

Namun, istilah hutan sekunder ini belum banyak digunakan di banyak negara karena di banyak negara menggunakan istilah untuk kawasan kumpulan berbagai jenis pepohonan lokal dengan nama hutan atau hutan alami.

Pemberian nama hutan atau hutan alami tersebut tanpa memperdulikan kawasan hutan tersebut sebagai bekas tebangan hutan primer atau hutan regenerasi. Oleh karena itu, istilah hutan sekunder tidak cukup dikenal, banyak negara mengenal istilah hutan sekunder sebagai padanan dari istilah hutan primer.

Pengertian Hutan Sekunder Secara Umum dan 13 Pengertian Lainnya

Pengertian Hutan Sekunder Secara Umum

Secara umum, pengertian hutan sekunder adalah hutan yang terbentuk dari regenerasi hutan primer dimana kondisi hutan primer pada awalnya rusak karena bencana alam atau dapat juga sengaja ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia, seperti diambil kayunya atau sengaja ditebang untuk membuka ladang sebagai tempat bercocok tanam.

13 Pengertian Hutan Sekunder

Selain pengertian tersebut, beberapa ahli mengartikan hutan sekunder dalam berbagai makna. Adapun pengertian hutan sekunder menurut para ahli adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Greigh-Smith (1952) Menurut Greigh-Smith, pengertian hutan sekunder adalah pertumbuhan hutan kembali setelah dilakukannya proses tebang habis.
  2. Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization / UNESCO (1978) Menurut UNESCO, hutan sekunder merupakan vegetasi yang mengalami kolonisasi areal-areal dimana sebagian atau seluruh dari vegetasi asli tersebut menghilang karena ulah manusia atau gangguan alam.
  3. Menurut Lanly (1982) Menurut Lanly, hutan sekunder disebut juga dengan hutan bera yang merupakan suatu mosaik dari areal-areal yang difungsikan untuk kegiatan pertanian dimana hutan tersebut belum disentuh oleh manusia dan hutan yang memiliki umur yang berbeda-beda, terdiri atas perkembangbiakan dari komposisi vegetasi setelah terjadinya tebang habis. Tebang habis yang dimaksud adalah tebang habis dari formasi hutan tertutup atau hutan terbuka. Lanly juga berpendapat bahwa hutan sekunder memiliki usia lebih dari 60 – 80 tahun dimana diklasifikasikan sebagai hutan yang belum disentuh oleh manusia atau disebut dengan istilah hutan primer.
  4. Menurut Lamprecht (1986) Menurut Lamprecht, hutan sekunder merupakan fase pertumbuhan hutan yang terbentuk dari kondisi tapak gundul akibat gangguan alam atau antropogen hingga menjadi klimaks kembali.
  5. Menurut Weaver and Birdsey (1986) Menurut Weaver and Birdsey, pengertian hutan sekunder adalah sebagai berikut :

    • Kawasan hutan yang terbentuk dari hasil lahan pertanian atau lahan penggembalaan atau peternakan yang telah ditinggalkan pemiliknya.
    • Kawasan hutan yang terbentuk dari hasil regenerasi kawasan hutan sebelumnya yang telah ditebang habis atau mengalami kerusakan akibat dari gangguan alam.
  6. Menurut World Wide Fund for Nature / WWF (1988) Menurut WWF, hutan sekunder merupakan hutan-hutan yang diperbaharui secara substansial akibat dari campur tangan manusia.
  7. Menurut Kaffka (1990) Menurut Kaffka, hutan sekunder merupakan hutan yang terbentuk karena bekas tebangan yang kemudian dibiarkan hingga berkembang biak tanpa ada gangguan.
  8. Menurut Parlemen Jerman (1990) Menurut Parlemen Jerman, hutan sekunder merupakan semua tahapan suksesi yang terbentuk secara alami atau karena kegiatan manusia yang terjadi di areal kosong.
  9. Menurut Brown dan Lugo (1990) Menurut Brown dan Lugo, hutan sekunder merupakan komponen penting dari sistem perladangan yang berpindah dimana terbentuk sebagai suatu konsekuensi dari tindakan manusia terhadap kawasan hutan. Hutan tersebut terbentuk setelah ada kegiatan di bidang pertanian di areal hutan, namun areal hutan yang telah mengalami tebang habis tidak termasuk dalam hutan sebagai suatu konsekuensi dari tindakan manusia.
  10. Menurut Finegan (1992) Menurut Finegan, hutan sekunder merupakan vegetasi berkayu yang tumbuh berkembang di atas lahan yang telah ditinggalkan setelah vegetasi awal atau asli rusak karena campur tangan manusia.
  11. Menurut Food and Agriculture Organization / FAO (1993) Menurut FAO, hutan sekunder merupakan hutan yang terbentuk setelah terjadinya perubahan dari bentuk pemanfaatan lahan yang berkaitan erat dengan pengurangan penutupan pohon dengan jumlah di bawah 10% atau yang biasa disebut dengan penggundulan hutan yang kemudian ditinggalkan tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.
  12. Menurut Corlett (1994) Menurut Corlett, hutan sekunder merupakan kawasan hutan yang terjadi akibat interupsi dari penutupan hutan secara kontinyu atau merupakan ketergantungan dari pihak luar dalam usaha pembentukan hutan kembali dimana dapat dikenali dari struktur atau komposisi vegetasinya. Selain itu, Corlett berpendapat bahwa definisi hutan sekunder merupakan suatu masalah yang berkaitan dengan bagaimana cara menarik garis batas dalam suatu skala.
  13. Menurut Huss (1996) Menurut Huss, pengertian hutan sekunder mengandung arti hutan yang membentuk mosaik-mosaik kecil dari komunitas hutan dan ditandai dengan fase-fase degredasi serta regenerasi yang rumit. Huss berpendapat bahwa hutan-hutan yang mengalami degradasi dan hutan-hutan sekunder tidak ada perbedaan yang jelas. Hal tersebut karena hutan alam terdegradasi akibat dari kegiatan pembalakan kayu atau tebang pilih yang tidak terkontrol sedangkan hutan sekunder tumbuh berkembang dari benih pepohonan pionir, tunggul pohon atau regenerasi dari beberapa jenis pohon klimaks dimana dalam proses tersebut tidak diganggu oleh ulah manusia.

Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Sekunder

Sifat dan Ciri-Ciri Hutan Sekunder

Sama halnya dengan hutan primer, hutan sekunder memiliki sifat dan ciri-ciri. Adapun sifat dan ciri-ciri hutan sekunder adalah sebagai berikut :

  1. Struktur dan komposisi yang ada pada hutan tidak hanya tergantung dari tapak hutan namun juga tergantung dari umurnya.
  2. Kawasan hutan yang tidak berisi jenis niagawi.
  3. Ditumbuhi oleh tegakan muda yang berkomposisi dan memiliki struktur yang seragam dibandingkan dengan hutan aslinya.
  4. Pada awalnya, riap besar namun lambat laun riap mengecil.
  5. Batang cenderung bengkok dan cepat gerowong. Hal tersebut karena terjadi persaingan ruangan dan adanya cahaya sinar yang intensif.
  6. Sulit untuk melakukan perencanaan pemasaran hasil hutan. Hal tersebut karena struktur, riap dan komposisi hutan yang tidak pernah stabil.

Fungsi Hutan Primer dan Sekunder

Fungsi Hutan Primer dan Hutan Sekunder

Bukan menjadi rahasia umum lagi, hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Begitu juga dengan hutan primer dan sekunder, hutan primer dan hutan sekunder memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia. Adapun fungsi hutan primer dan sekunder adalah sebagai berikut :

  1. Mencegah terjadinya tanah longsor dan erosi. Adanya hutan yang ada di bumi ini membantu penyerapan air hujan dimana air hujan tidak langsung diserap oleh permukaan tanah melainkan diserap oleh permukaan daun sehingga dapat masuk ke dalam tanah. Selain itu, banyaknya pepohonan yang ada di hutan membantu mengikat butiran-butiran tanah. Hal tersebut karena akar-akar pohon memiliki fungsi sebagai pengikat butiran tanah.
  2. Pepohonan yang ada di hutan memiliki fungsi sebagai penyimpan, pengatur dan penjaga persediaan air sehingga timbul keseimbangan kebutuhan air saat terjadinya musim hujan dan musim kemarau.
  3. Hutan merupakan sumber plasma nuftah keanekaragaman ekosistem hutan, artinya dapat membantu perkembangbiakan keanekaragaman hayati genetika.
  4. Pepohonan di hutan membantu menyuburkan tanah. Hal tersebut karena daun-daun dari pepohonan yang gugur atau berjatuhan ke tanah akan terurai menjadi humus. Humus merupakan unsur hara yang dapat menyuburkan tanah.
  5. Hutan dapat membantu mengurangi polusi yang timbul akibat pencemaran udara. Hal tersebut karena pepohonan yang ada di hutan dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.
  6. Hutan dapat dijadikan sebagai sumber ekonomi. Hal tersebut karena jenis tumbuhan yang ada di hutan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses industri, seperti: karet, rotan, getah perca dan bahan baku bangunan lainnya.

Artikel Lain