Ikan Patin – Taksonomi, Morfologi, Habitat, Sebaran & Perkembangbiakan

Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dicari oleh masyarakat. Ikan ini banyak diminati sebagai menu kuliner karena memiliki kandungan lemak paling rendah jika dibanding jenis ikan lainnya. Permintaan pasarnya pun cukup tinggi, sehinga memberikan proses cerah dalam hal pembudidayaan.

Secara fisik ikan patin mempunyai struktur anatomi atau morfologi mirip seperti ikan lele namun dengan beberapa perbedaan. Patin sebenarnya terbagi menjadi berbagai macam spesies yang hidup di negara berbeda. Di Indonesia, umumnya ikan bernama latin Pangasius djambal atau Pangasius nasutus ini hidup di sungai besar, muara sungai, dan perairan danau.

Taksonomi

Istilah ikan patin digunakan untuk merujuk pada keluarga Pisces yang berada dalam famili Pangasidae. Sementara untuk spesies yang lebih spesifik biasanya diberi tambahan nama, seperti ikan patin siam atau Pangasius sutchii dan ikan patin djambal ata Pangasius djambal.

Berikut ini adalah taksonomi dari ikan patin secara umum, yaitu:

KingdomAnimalia
Sub-kingdomBilateria
FilumChordata
Sub-filumVertebrata
InfrafilumGanthostomata
KelasOsteichthyes
Sub-kelasActinopterygii
OrdoSiluriformes
FamiliPangasiidae
GenusPangasius
SpesiesPangasius djambal

Setidaknya ada delapan jenis ikan patin yang berasal asli dari Indonesia. Kedelapan spesies tersebut adalah Pangasius djambal, Pangasius niewenhuisii, Pangasius macronema, Pangasius humeralis, Pangasius micronemus, Pangasius lithosoma, Pangasius nasutus, serta Pangasius polyuranodon.

Morfologi Ikan Patin

Berdasarkan bentuk fisiknya, bagian tubuh patin dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, tubuh, dan sirip. Ciri tubuh patin dapat dijelaskan sebagai berikut:

budidaya patin stiebp.ac.id

1. Kepala

Pada kepala patin terdapat organ mulut, mata, tutup insang, dan sirip yang tumbuh. Bagian kepala mempunyai ukuran yang terbilang kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Mulut ikan ini berada di bagian paling ujung dan letaknya segaris horizontal dengan mata, sedangkan sirip dada yang tumbuh di kepala berada tepat di bawah mata.

Posisi mulut ikan patin juga termasuk dalam salah satu ciri kelompok catfish, karena selain berada di ujung kepala, posisinya mulutnya agak sedikit ke bawah. Kemudian tepat di kedua sudut mulut ikan ini tumbuh dua pasang kumis berukuran pendek yang berperan sebagai indera peraba.

2. Tubuh

Meski ukuran kepala ikan ini tergolong kecil, namun patin memiliki tubuh cukup besar memanjang. Bahkan dibeberapa penelitian disebutkan bahwa panjang tubuh ikan air tawar ini bisa mencapai 120 cm atau lebih dari satu meter. Ukuran tersebut termasuk besar untuk jenis ikan air tawar pada umumnya.

Warna tubuh ikan patin putih keperakan diseluruh bagiannya, sedangkan pada bagian punggungnya berwarna agak kebiru-biruan. Menariknya, tubuh ikan patin tidak ditutupi oleh lapisan sisik. Akan tetapi struktur kulit tubuhnya cukup keras dan tebal yang berguna untuk melindungi diri dari gangguan luar.

3. Sirip

Tidak jauh berbeda dengan ikan pada umumnya, ikan patin juga mempunyai sirip yang berfungis untuk bergerak di dalam air. Sirip yang dimiliki oleh ikan ini berjumlah enam jenis yang tersebar di sepanjang tubuhnya. Setiap sirip tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Keenam sirip ikan patin terdiri atas satu pasang sirip dada (pectoral fin), satu pasang sirip perut (ventral fin), satu sirip dubur (anal fin), satu sirip ekor (caudal fin), satu sirip punggung (dorsal fin), serta satu sirip tambahan (adpose fin).

Keenam jenis sirip ini tersusun atas tiga struktur penyusun, yaitu jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip.

  • Satu pasang sirip dada terletak tepat dibagian bawah kepala patin, tepatnya didekat area mata dan berada pada kedua sisi tubuhnya. Tekstur sirip dada sangat lunak dan mudah lepas. Sirip ini tersusun atas jari-jari lunak yang berjumlah 12 sampai 13 ruas dan 1 jari-jari keras yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi senjata yang disebut patil.
  • Satu pasang sirip perut berada dibagian perut. yaitu tepat di tengah-tengah tubuh ikan patin. Sirip ini berjumlah satu pasang dan mempunyai tekstur lunak karena unsur penyusunnya adalah jari-jari lunak. Sirip perut berjumlah enam ruas dan mempunyai fungsi lain sebagai patil.
  • Satu sirip dubur dengan ukuran cukup panjang yang membentang mulai dari dekat sirip perut hingga ke batas batang ekor. Sirip ini mempunyai tekstur sedikit keras meski sebenarnya terdiri atas jari-jari lunak dengan berumlah 30 hingga 33 ruas.
  • Satu sirip ekor yang jika dilihat sepintas berjumlah satu pasang. Akan tetapi sebenarnya sirip ini hanya berjumlah satu, tetapi bentuknya seperti cagak yang simetris sehingga seolah-olah ada dua sirip ekor.
  • Satu sirip punggung yang terletak di sisi sebelah atas ikan patin dan satu garis vertikal dengan sirip perut. Sirip punggung mempunyai tekstur yang keras meski hanya memiliki satu jari-jari keras. Pada waktu tertentu sirip ini bisa berubah menjadi patil. Ukuran sirip punggung membesar di bagian belakang dan mempunyai gerigi.
  • Satu sirip tambahan yang terletak di bagian punggung antara sirip punggung dan batang ekor ikan patin. Sirip tambahan terbentuk dari jaringan lemak yang ukurannya sangatlah lecil.

Habitat dan Sebaran

Sebagai ikan air tawar, ikan patin hidup di habitat perairan air tawar, seperti kawasan sungai besar, muara sungai, dan danau. Berdasarkan antomi mulutnya yang terletak agak dibawah kepala, maka dapat disimpulkan bahwa ikan ini hidup di dasar perairan. Posisi mulut seperti itu digunakan untuk mencari makan di lapisan bawah sungai yang berlumpur.

mancingmania.com

Ikan patin dikenal sebagai ikan yang tidak terlalu mempersalahkan lingkungan hidupnya atau dengan kata lain jenis ikan ini cukup mudah beradaptasi. Meski begitu lingkungan yang paling optimal untuk pertumbuhan patin sangat dipengaruhi oleh kualitas air, meliputi suhu, kadar oksigen, serta tingkat keasaman.

Suhu air yang paling baik untuk memelihara ikan patin berkisar antara 25 hingga 33 derajat Celcius. Sedangkan tingkat keasaman atau pH paling optimal berada pada rentang 7 sampai 8,5, akan tetapi ikan ini masih sanggup bertahan hidup pada air dengan pH 6 dan 9.

Jenis ikan ini dapat ditemukan di sepanjang perairan air tawar di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia hampir semua wilayah air tawarnya dihuni dengan ikan patin, mulai dari sungai di Pulau Sumatera, seperti Sungai Musi, sungai di Pulau Kalimantan seperti Sungai Mahakam, sungai di Pulau Jawa seperti Sungai Brantas, dan berbagai pulau lainnya.

Makanan Ikan Patin

Patin dikenal sebagai kelompok binatang omnivora yang dapat memakan binatang ataupun tanaman, tetapi berdasarkan kebiasaannya ikan ini cenderung bersifat karnivora. Pada kondisi normal di wilayah perairan air tawar, ikan patin biasanya lebih sering memakan binatang kecil.

Makanan yang paling disukai oleh ikan ini adalah udang renik yang ukurannya sangat kecil, serangga atau insekta, dan binatang lunak atau moluska. Ketiga jenis tersebut merupakan makanan utama ikan patin selain makanan pelengkap lain, seperti ikan-ikan kecil, rotifera, dan dedaunan yang tumbuh di perairan.

Kebiasaan Hidup Ikan Patin

Ikan patin adalah salah satu jenis ikan yang hidup secara nokturnal. Hewan ini mulai melakukan aktivitas setelah masuk waktu malam hari. Pada siang hari patin menghabiskan waktu untuk bersembunyi di dalam liang tanah yang berada di tepi sungai. Oleh sebab itu, para pencari ikan patin biasanya mencari ikan ini pada dini hari.

Selain itu, patin juga dikenal sebagai ikan yang hidup secara bergerombol atau berjumlah banyak. Hampir semua kegiatan ikan ini dilakukan di bagian dasar sungai, tetapi pada saat menjelang fajar akan dijumpai ikan patin yang muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen di udara.

Perkembangbiakan

Masa kedewasaan ikan patin bergantung pada jenis kelaminnya, sebab ikan jantan biasanya lebih cepat mencapai kematangan reproduksi dibanding ikan betina. Sementara itu proses pematangan sel telur dan sperma juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana akan lebih cepat jika berada di wilayah tropis dibanding sub-tropis.

budidaya ikan patin mongabay.co.id

Patin betina mencapai kematangan kelamin pada usia antara dua sampai tiga tahun setelah berat tubuhnya melebih 2 kg. Bobot tubuh juga mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan. Misalnya ikan patin betina yang beratnya kurang lebih 6 kg mampu menghasilkan telur sebanyak satu juta.

Pada kondisi normal atau berada di habitat aslina, musim kawin ikan patin terjadi pada saat musim hujan antara rentang bulan Maret sampai bulan Mei. Saat menjelang musim kawin, ikan betina yang siap bereproduksi akan hidup secara bergerombol dan kemudian mengeluarkan telurnya tepat ketika memasuki musim penghujan.

Kondisi pada musim penghujan sangat membantu proses bertelur patin, karena ikan ini akan memanfaatkan arus air yang deras untuk mengaduk lumpur di dasar sungai. Dengan begitu telur yang sudah dilepaskan oleh patin betina dapat dibilas, sehingga siap untuk dibuahi oleh patin jantan.

Telur ikan patin dengan kondisi baik dan matang berwarna putih kekuning-kuningan. Setelah dibuahi telur-telur tersebut akan segera menetas untuk menghasilkan individu baru dalam waktu sekitar 18 sampai 24 jam jika berada di suhu antara 29 sampai 30 derajat Celcius.

Akan tetapi jika suhu air pada saat itu antara 26 hingga 28 derajat Celcius, maka lama waktu penetasan yang dibutuhkan sekitar 27 jam. Ketiak pertama kali menetas larva ikan patin masih membawa kuning telur selama dua hari yang berfungsi sebagai cadangan makanan.

Sedangkan ikan patin yang hidup di dalam kolam atau dibudidayakan mengalami masa reproduksi yang berbeda. Patin seperti itu tidak akan bisa melakukan reproduksi secara alami melainkan membutuhkan bantuan manusia, seperti memberi rangsangan pada ikan betina, mengurut telur dan sperma, serta mengaduk air secara manual agar telurnya menetas.