Kayu Bakar – Jenis, Pemanenan, Nilai Kalor dan Pemanfaatan

Pemanfaatan hutan telah dilakukan oleh manusia sejak dulu. Kegiatan memanfaatkan hutan tersebut bertujuan untuk mendapat jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu, serta memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu dengan tetap menjaga kelestarian hutan demi kesejahteraan masyarakat.

Salah satu pemanfaatan kawasan hutan paling sederhana adalah untuk mencukupi keperluan sehari-hari masyarakat sekitar hutan, misalnya penggunaan kayu untuk kayu bakar. Berdasarkan sifat mekanik kayu, kayu dengan kekuatan belah rendah adalah jenis yang paling baik untuk kayu bakar.

Mengenal Kayu Bakar

Kayu bakar adalah semua jenis bahan kayu yang dikumpulkan kemudian dipakai sebagai bahan bakar. Kayu yang digunakan untuk bahan bakar biasanya tanpa melalui proses khusus, selain pengeringan dan pemotongan. Oleh karena itu, bagian kayu seperti kulit kayu, mata kayu, pith dan sebagainya masih terlihat jelas.

Selain penebangan kayu kompersial, penggunaan kayu bakar juga berkontribusi terhadap terjadinya degradasi lahan hutan. Di beberapa kawasan pun telah ada larangan bagi masyarakat untuk tidak melakukan pemanenan kayu agar menghindari deforestasi. Akan tetapi hal ini berdampak pada masyarakat miskin yang sulit untuk mencari alternatif bahan bakar, terutama untuk memasak.

Pemanenan Kayu

Bagian pohon yang sering digunakan untuk kayu bakar adalah bagian diatas percabangan batang utama. Kayu dengan tegangan geser rendah memiliki sifat baik untuk kayu bakar karena kayu dengan tegangan geser kuat lebih layak menjadi bahan konstruksi dan produk furniture dengan nilai ekonomis lebih tinggi.

kayu bakar Pixabay

Kayu bakar diperoleh dari hutan dengan cara menebang kayu, memungut cabang atau ranting yang patah, serta bisa juga berasal dari limbang industri kayu. Di beberapa kawasan, hutan sengaja dilestarikan sebagai sumber kayu.

Di hutan hujan tropis seperti di Indonesia, biasanya cabang dan ranting untuk kayu bakar diambil langsung dari tanah karena lebatnya vegetasi tumbuhan.

Pemanfaatan kayu yang jauh dari lokasi pemanenan dapat berisiko menyebarkan serangga hama hutan. Oleh karena itu, kayu yang ditujukan untuk bahan bakar sebaiknya dipotong didekat lokasi pemanenan.

Jenis Kayu Bakar

Selain digunakan untuk keperluan memasak, kayu bakar juga menjadi bahan utama api inggun saat kita melakukan kegiatan di luar ruangan. Contohnya pada kegiatan berkemah dan mendaki gunung, pembuatan api unggun merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk menghangatkan diri.

Tidak sembarang kayu dapat menghasilkan pembakaran yang baik, sehingga kita harus memilih bagaimana kayu yang cocok untuk dibakar. Pastikan kita memilih kayu yaang tidak mudah habis terbakar. Ciri kayu yang tidak mudah habis terbakar adalah padat namun benar-benar telah kering.

Hindari penggunaan kayu kecil dan tipis namun tidak berisi. Kayu kering yang kosong atau bersarang cenderung cepat habis terbakar. Selain itu, agar kayu cepat terbakar maka pilihlah kayu dengan tingkat kelembaban rendah.

Penggunaan Kayu Bakar

Banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan bahan bakar kayu untuk memasak di rumah. Dari sudut pandang kesehata, hal ini tidak ideal karena berpotensi terjadi paparan asap karbon dioksida yang berbahaya bagi anggota keluar. Pertimbangan memilih kayu bakar dibanding gas elpiji dan minyak tanah adalah harganya yang murah.

tungku kayu bakar Pixabay

Sejumlah studi ilmiah menyatakan bahwa mgnhirup partikel halus dari udara hasil pembakaran dapat menyebabkan penyakit jantung, asma, bronkitis dan sebagainya. Data dari World Bank menyebut sekitar 165.000 penduduk Indonesia mengalami kematian dini karena infeksi saluran pernapasa akibat pembakaran kayu di dalam rumah.

Pada tahun 2017, sebanyak 31,3% warga pedesaan di Indonesia masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Angka tersebut jauh dibawah persentase warga perkotaan, yaitu 5,15%.

Nilai Kalor Kayu Bakar

Kadar air yang terkandung dalam kayu yang dibakar akan menentukan bagaimana kayu terbakar dan berapa nilai panas yang dihasilkan. Kayu yang masih hijau atau belum dikeringkan memiliki massa dua kali lipat daripada kayu kering yang disebabkan oleh kadar air. Sedangkan jika telah dikeringkan, kadar air yang tersisa turun menjadi 20% hingga 25%.

Pengukuran nilai kalor kayu dapat dilakukan dengan rumus nilai kalor kayu kering oven dikurangi kalor uap sesuai kadar air kayu kering. Nilai kalor setiap kayu bakar dapat berbeda-beda tergantung jenis kayu yang digunakan.

Pemanfaatan Pohon

Kehidupan tradisional masyarakat Indonesia sangat dekat dengan penggunaan kayu untuk bahan bakar memasak. Namun sejak tahun 1990-an penggunaan kayu bakar semakin menurun dengan meningkatnya pengguaan arang kayu untuk menggantikannya.

Hal ini disebabkan oleh sifat kayu bakar yang inferior dengan elastisitas negatif. Artinya semakin tinggi pendapatan individu, maka semakin kecil individu tersebut menggunakan kayu sebagai bahan bakar dan mulai beralih ke bahan bakar lain yang lebih praktis. Akan tetapi, kayu bakar tetap menjadi alternatif bagi masyarakat lapisan menengah ke bawah.

Kayu bakar juga menjadi mata pencaharian warga miskin. Penduduk di desa-desa Jawa Barat umumnya menjual kayu bakar ke konsumen dengan harga Rp 600 per kilogram. Kayu untuk pembakaran tersebut biasanya berasal dari limbah penggergajian kayu atau memungut dari hutan.

Meski tersedia bahan bakar lain yang lebih praktis, bersih dan nilai kalornya lebih tinggi, namun beberapa jenis kuliner tetap membutuhkan kayu bakar untuk memasaknya. Kayu bakar diyakini menghasilkan masakan yang lebih sedap dibanding menggunakan minyak atau gas.