Keanekaragaman Hayati – Pengertian, Manfaat, Ancaman Kepunahan, Klasifikasi & Perlindungan

Sebagai makhluk hidup, manusia tidak bisa lepas dari alam atau lingkungan. Alam memiliki berbagai keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Keanekaragaman hayati juga berperan sebagai indikator ekologi, serta perubahan yang terjadi di alam.

Pengertian Keanekaragaman Hayati

Arti keanekaragaman hayati sangatlah luas. Namun secara sederhana, keanekaragaman hayati adalah tingkat variasi dalam kehidupan yang ada di bumi.

Pengertian tersebut mempunyai makna sama dengan definisi keanekaragaman hayati oleh Encyclopaedia Britannica (2015), yaituvariasi kehidupan yang ditemukan di suatu tempat di bumi.

Hal tersebut mencakup kehidupan tumbuhan, hewan, mikroorganisme, hingga genetika. Didalamnya juga terdapat proses ekologi dan ekosistem yang membentuk suatu lingkungan hidup.

Istilah lain dari keanekaragaman hayati adalah biodiversitas. Dimana menjadi sebuah gambaran keragaman makhluk hidup akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur dan sifat masing-masing.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Raymond F. Dasmann, seorang ilmuwan satwa liar. Kemudian, istilah ini banyak digunakan hingga saat ini.

Klasifikasi keanekaragaman hayati dilakukan untuk mengenali makhluk hidup. Sedangkan ilmu yang mempelajarinya disebut taksonomi.

Pengelompokkan keanekaragaman hayati dilakukan melalui berbagai proses yang kompleks. Mulai dari melihat kesamaan, kekerabatan, hingga hal-hal lain dari suatu spesies. Kemudian, dilanjutkan dengan penamaan makhluk hidup dengan menggunakan bahasa latin dan dengan kategori yang spesifik.

Tingkat Keanekaragaman Hayati

Pada dasarnya, keanekaragaman hayati memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan tersebut diurutkan berdasarkan jenis organisme, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi.

Secara garis besar, keanekaragaman hayati dibedakan menjadi tiga tingkatan utama, yaitu:

a. Keanekaragaman Gen

Tingkatan pertama adalah keanekaragaman gen. Pada tingkatan ini, keanekaragaman hayati dilihat dari variasi antar individu, namun masih dalam satu spesies. Contoh yang mudah dipahami, misalnya varietas padi yang terdiri dari banyak jenis, mulai dari padi kupas, padi rojolele, padi cianjur, dan masih banyak lagi.

keanekaragaman gen Pixabay

Contoh lain dari keanekaragaman gen adalah terdapat pada jenis buah yang masih dalam satu spesies. Misalnya, buah mangga dengan jensi beragam, seperti mangga manalagi, mangga gadung, mangga bali, dan sebagainya.

Terjadinya keanekaragaman hayati tingkat gen disebabkan oleh adanya variasi gen pada setiap individu dalam satu spesies. Gen adalah materi di dalam kromosom individu yang mengandung atau mengendalikan sifat tertentu dari suatu individu.

Adanya perbedaan gen pada setiap individu, menjadikan sifat masing-masing individu akan berbeda dan menciptakan variasi yang berbeda dalam satu spesies.

b. Keanekaragaman Spesies

Tingkat keanekaragaman hayati yang berikutnya adalah keanekaragaman spesies. Spesies satu dan yang lainnya memiliki perbedaan meskipun masih memiliki ciri yang sama.

Contohnya adalah ras kucing yang berbeda spesies dengan harimau dan macan. Akan tetapi, ketiganya memiliki ciri khas yang sama atau masih dalam satu kerabat dekat.

Contoh lain keanekagaraman tingkat spesies adalah keluarga palem-paleman. Jika kita mengamati pohon aren, pohon pinang, pohon kelapa, dan pohon palem, maka akan ditemukan ciri khas yang sama. Namun, sebenarnya pohon-pohon tersebut berasal dari spesies yang berbeda.

c. Keanekaragaman Ekosistem

Selanjutnya adalah tingkat keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman ekosistem disebabkan oleh beberapa faktor, sehingga menciptakan ekosistem berbeda satu dengan yang lainnya. Sebaran keanekaragaman hayati di bumi juga tidak merata dan sangat bervariasi.

Faktor yang memengaruhinya antara lain faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik adalah faktor yang berasal dari makhluk hidup. Sedangkan faktor abiotik berasal dari alam, seperti iklim, cuaca, kelembaban, ketinggian, topografi, kondisi tanah dan lainnya.

Beberapa contoh keanekaragaman ekosistem, yaitu:

  • Ekosistem Lumut

Ekosistem lumut adalah ekosistem yang mayoritas lingkungannya ditumbuhi oleh lumut. Umumnya ekosistem ini terdapat di kawasan dengan temperatur rendah, seperti puncak gunung, perbukitan, lembah dan daerah dekat kutub. Hewan yang hidup di ekosistem lumutnya biasanya mempunya ciri berbulu tebal dan toleran terhadap suhu dingin.

  • Ekosistem Hutan Berdaun Jarum

Ekosistem berdaun jarum terdapat di kawasan beriklim sub tropis. Ekosistem ini biasanya berada di lingkungan bersuhu rendah atau dingin.

Ekosistem hutan hujan tropis memiliki aneka tumbuhan yang bermacam-macam. Keanekaragaman hayati di kawasan ini sangat bervariasi, contohnya adalah hutan-hutan di Indonesia dengan jutaan spesies yang hidup di dalamnya.

  • Ekosistem Padang Rumput

Ekosistem padang rumput atau sabana merupakan wilayah yang didominasi oleh rerumputan yang terhampar luas. Ekosistem ini terdapat di kawasan kering, seperti hutan-hutan Afrika.

  • Ekosistem Padang Pasir

Salah satu ciri ekosistem padang pasir adalah adanya tumbuhan kaktus dengan sifat membutuhkan sedikit air untuk bertahan hidup. Hewan-hewan yang hidup di kawasan ini contohnya adalah reptil, mamalia kecil serta berbagai jenis burung.

  • Ekosistem Pantai

Ekosistem pantai terdapat di wilayah pesisir yang berbatasan dengan laut atau samudera. Contoh hewan yang berhabitat di wilayah ini adalah kepiting, serangga, serta burung-burung pantai.

Manfaat Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati adalah bagian dari kehidupan di bumi, sehingga keberadaannya sangat penting untuk dijaga. Manfaatnya cukup vital bagi pola kehidupan seluruh alam. Apalagi, manusia sendiri sebenarnya tidak mampu hidup terpisah dari alam.

Apabila keanekaragaman hayati terganggu, akan menyebabkan rantai makanan di alam juga terganggu, serta kehidupan manusia menjadi tidak seimbang.

ekosistem air laut Pixabay

Berikut ini beberapa manfaat keanekaragaman hayati yang dijelaskan ke dalam beberapa poin:

1. Meningkatkan Produktivitas Ekosistem

Salah satu manfaat keanekaragaman hayati adalah dapat meningkatkan produktivitas ekosistem dari masing-masing spesies. Meski sekecil apapun peranan dari setiap spesies, produktivitasnya akan bermanfaat bagi suatu ekosistem.

Misalnya, berbagai macam tanaman yang dapat dikonsumsi oleh hewan dan manusia, atau bahkan dapat dijadikan obat-obatan. Ekosistem akan menjadi lebih aktif dengan adanya manfaat dari setiap spesies tersebut.

2. Menjamin Keberlanjutan Alam

Adanya keanekaragaman hayati juga bermanfaat untuk menjamin keberlanjutan alam. Semua spesies dalam ekosistem akan saling mendukung untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Contohnya adalah tanaman-tanaman bakau di pantai yang dapat menjaga bibir pantai dari abrasi air laut. Manfaat ini dapat mencegah terjadinya kerusakan lingkungan sehingga keberlanjutan alam akan terjaga.

3. Menjaga Keseimbangan Alam

Keanekaragaman hayati juga menjadi elemen penjaga keseimbangan alam. Tanpa keragaman, alam akan menjadi tidak seimbang. Misalnya, pada ekosistem hutan hujan tropis yang menjadi habitat dari berbagai macam spesies hewan dan tumbuhan. Bisa dibayangkan jika ekosistem hutan hujan tropis tidak ada, maka alam akan menjadi tidak seimbang.

4. Meningkatkan Taraf Kehidupan Manusia

Keanekaragaman hayati menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan taraf hidup manusia. Karena kehidupan manusia tidak bisa lepas dari sumber daya alam, yang berasal dari keanekaragaman dalam tiap tingkatan.

5. Menyediakan Perlindungan Alami

Keanekaragaman hayati juga bermanfaat untuk memberikan perlindungan secara alami dan sejumlah keuntungan lain bagi alam dan manusia. Misalnya, adanya perlindungan terhadap sumber daya air, perlindungan terhadap banjir, perlindungan terhadap tanah longsor, kesehatan tanah, dan sebagainya. Tanpa keanekaragaman hayati, tidak mungkin alam menjadi tempat yang sehat untuk dihuni manusia.

6. Manfaat Edukasi dan Hiburan

Disamping manfaatnya bagi alam dan kehidupan, keanekaragaman hayati juga memiliki manfaat lainnya di bidang edukasi dan hiburan. Keberadaannya bisa dijadikan objek penelitian dan pendidikan, serta pariwisata.

Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Indonesia adalah negara tropis yang dikenal dengan kekayaan alamnya yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan adanya pengelompokan berdasarkan karakteristik wilayah dan persebaran spesies, antara lain:

a. Berdasarkan Karakteristik Wilayah

Indonesia merupakan negara kepulauan. Negara ini berada di kawasan tropis yang memiliki suhu rata-rata tinggi dan curah hujan yang tinggi. Keadaan alam ini menjadi faktor yang berpengaruh dalam keanekaragaman hayati.

Selain karena faktor iklim tropis, Indonesia berada di antara dua rangkaian pegunungan muda, yaitu sirkum mediterania dan sirkum pasifik. Sehingga menjadikan Indonesia memiliki banyak gunung api dan disebut juga dengan kawasan ring of fire. Oleh karena itu, kondisi tanah di Indonesia rata-rata memiliki tanah yang subur.

Wilayah abiotik Indonesia juga kaya akan flora dan fauna. Setidaknya ada 10% jenis tanaman dari seluruh jenis tanaman yang ada di bumi. Sementara itu, jenis faunanya pun juga terbilang banyak. Ada sekitar 17% jenis burung dari total seluruh jenis burung di bumi, dan 12% jenis mamalia di Indonesia adalah bagian dari seluruh jenis mamalia di bumi.

Beberapa flora dan fauna endemik juga banyak ditemukan di Indonesia. Misalnya jalak bali, macan sumatera, badak jawa, badak sumatera, anoa sulawesi, komodo, cendrawasih papua, rafflesia arnoldii, dan masih banyak lagi.

b. Berdasarkan Persebaran Organisme

Persebaran organisme di muka bumi dipelajari dalam bidang ilmu biogeografi. Biogeografi adalah studi tentang penyebaran spesies yang berasal dari satu tempat kemudian tersebar ke berbagai arah dan terjadi deferensiasi pada spesies tersebut sesuai habitat alamnya.

Jika membahasnya secara lebih luas, sebaran makhluk hidup di bumi juga dibatasi oleh isolasi geografi. Isolasi geografi adalah pembatasan penyebaran dan kompetisi spesies sehingga menyebabkan adanya perbedaan susunan flora fan fauna di berabagi tempat.

Isolasi geografi disebabkan oleh penghalang geografi atau barrier seperti pegunungan, gurun pasir, lautan dan sungai yang lebar dan dalam.

Menurut Alfred Russel Wallace, persamaan fauna pada wilayah-wilayah di bumi diberdakan menjad 6 daerah biogeografi, yaitu:

  • Nearktik (Amerika bagian utara)
  • Palearktik (daerah Asia sebelah utara pegunungan Himalaya, Eropa dan Afrika, serta Gurun Sahara sebelah Utara)
  • Neotropikal (Amerika Selatan bagian tengah)
  • Oriental (Asia, Himalaya bagian selatan)
  • Ethiopia (Afrika)
  • Australia (Australia dan pulau-pulau sekitarnya)

Persebaran fauna di Indonesia dibedakan menjadi tiga, yaitu Indonesia Barat, Indonesia Timur, dan peralihan. Tiga jenis sebaran tersebut merupakan cerminan biogeografi australia dan oriental, karena wilayah Indonesia berada di kawasan pertemuan dua jenis biogeografi tersebut.

1. Persebaran Fauna di Indonesia Barat (Oriental)

Fauna di Indonesia Barat adalah jenis oriental. Pembagian ini berupa wilayah yang masuk dalam paparan sunda. Contoh fauna oriental Indonesia adalah badak, harimau, orang utan, gajah, tapir, banteng, macan, beruang madu, dan semisalnya.

komodo merupakan ciri khas kepulauan komodo Commons Wikipedia

2. Persebaran Fauna di wilayah Indonesia Timur (Australia)

Sedangkan di Indonesia Timur, faunanya termasuk dalam kategori australia. Karena di bagian wilayah ini banyak hidup fauna khas Australia, seperti nuri, kasuari, kangguru pohon, anoa, komodo, merpati berjambul, dan lainnya.

3. Zona Peralihan Oriental dan Australia

Sementara di zona peralihan tepatnya di sekitar wilayah Indonesia bagian tengah (Sulawesi), jenis faunanya memiliki ciri yang mirip dengan fauna oriental maupun fauna australia. Daerah yang menjadi habitat fauna peralihan paling mencolok adalah pulau Sulawesi.

Peranan Manusia

Alam senantiasa dimanfaatkan manusia untuk bertahan hidup. Sebab itu, seluruh kegiatan manusia sehari-hari dipastikan berhubungan dengan keanekaragaman hayati dan lingkungannya.

Namun, perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia yang terus bertambah memiliki dampak yang cukup serius terhadap keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Kebutuhan manusia menimbulkan banyak kerusakan lingkungan, sehingga berdampak terhadap lingkungan, yaitu:

Secara langsung maupun tidak langsung, hal-hal diatas akan berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati dan menciptakan permasalahan lingkungan hidup.

Hewan-hewan menjadi langka, hewan langka menjadi punah, ekosistem yang rusak, dan berbagai masalah lainnya. Oleh sebab itu, pelestarian keanekaragaman hayati perlu dilakukan sebagai usaha untuk melindungi alam.

Meski begitu, ada pula kegiatan manusia yang bermanfaat untuk keanekaragaman hayati dan lingkungan, misalnya:

  • Pemanfaatan hutan dengan sistem Reduce Impact Logging (RIL)
  • Reboisasi, penghijauan, atau penanaman kembali lahan-lahan yang sudah gundul
  • Pengendalian hama
  • Pemulihan tanaman dan hewan
  • Usaha pelestarian alam

Kegiatan-kegiatan positif semacam itu akan membantu alam dan lingkungan agar tetap lestari, sehingga permasalahan lingkungan dapat diatasi.

Ancaman Terhadap Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati bisa terancam oleh kondisi alami maupun akibat kegiatan manusia, antara lain:

  1. Contoh ancaman yang terjadi secara alami, yaitu:
    • kepunahan biologis dapat terjadi jiak spesies tidak mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan
  2. Contoh ancaman yang terjadi akibat aktifitas manusia, yaitu:
    • perburuan satwa
    • penangkapan hewan secara berlebihan
    • pembakaran atau penebangan hutan

Usaha Perlindungan Alam

Konservasi sumber daya alam hayati merupakan inti dari usaha perlindungan alam. Pelestarian keanekaragaman hayati dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan hayati, mencegah kepunahan, dan juga menjaga spesies tetap bertahan di bumi.

tanah subur Pixabay

Upaya perlindungan alam dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Umum

Perlindungan alam secara umum adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk melindungi flora dan fauna, serta tanah suatu ekosistem. Perlindungan alam ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu perlindungan alam ketat, terbimbing, dan taman nasional.

Perlindungan alam ketat adalah perlindungan alam yang prosesnya dilakukan secara ketat, namun tanpa campur tangan dari manusia. Contohnya adalah Cagar Alam Sancang yang berada di Garut.

Sementara itu, perlindungan alam terbimbing adalah perlindungan alam yang dilakukan oleh para ahli di bidang konservasi dan alam. Contohnya adalah Kebun Raya Bogor.

Sedangkan taman nasional merupakan salah satu jenis perlindungan alam yang dibuat dengan berbagai tujuan. Taman nasional memiliki sistem yang jelas dan lengkap dengan zonasinya. Salah satu contoh taman nasional di Indonesia adalah Taman Nasional Baluran yang ada di Situbondo.

b. Tujuan Tertentu

Perlindungan alam juga dilakukan dengan tujuan tertentu. Beberapa contoh perlindungan alam dengan tujuan tertentu, antara lain:

  • Perlindungan alam antropologi yang dilakukan untuk melindungi sebuah suku bangsa di suatu kawasan tertentu.
  • Perlindungan alam botani yang dilakukan untuk melindungi komunitas tumbuhan tertentu.
  • Perlindungan alam zoologi yang dilakukan untuk melindungi beberapa jenis hewan langka atau yang sudah terancam punah.
  • Perlindungan geologi yang dilakukan dengan tujuan untuk melindungi bagian atau formasi geologitertentu.
  • Perlindungan hutan yang dilakukan untuk melindungi spesies dan ekosistem di suatu hutan, khususnya yang memiliki spesies langka atau akan punah.
  • Perlindungan ikan yang dilakukan untuk melindungi beberapa spesies ikan tertentu.
  • Perlindungan monumen alam yang dilakukan untuk melindungi benda-benda di alam tertentu, misalnya melindungi stalagmite dan stalagtit di suatu gua.
  • Perlindungan pemandangan alam yang dilakukan untuk melindungi keindahan atau panorama alam di suatu kawasan.

Perlindungan terhadap alam dan keanekaragaman hayati dilakukan dengan berbagai metode. Metode konservasi sumber daya alam merupakan salah satu metode yang tepat dan bisa dijadikan pendekatan berkelanjutan dalam konsep perlindungan alam.

Tentu, tujuannya adalah menjadikan keanekaragaman hayati menjadi lebih terjaga, sehingga ekosistem menjadi lebih layak untuk ditinggali oleh flora maupun fauna.

Klasifikasi Keanakeragaman Hayati

Untuk mengenali makhluk hidup secara lebih jelas, maka digunakan sistem klasifikasi. Pengklasifikasian makhluk hidup ini dipelajari oleh salah satu cabang ilmu biologi, yaitu taksonomi. Sistem klasifikasi ini bertujuan agar suatu spesies mempunyai nama seraham di setiap daerah di bumi.

1. Tujuan Klasifikasi

Pengelompokan makhluk hidup atau klasifikasi bertujuan agar makhluk hidup yang menjadi obyek studi mudah dipelajari. Klasifikasi makhluk hidup telah ada sejak manusia ada, dimana manusia zaman dahulu mengelompokkan makhluk hidup menjadi hewan atau binatang kemudian berkembang menjadi sistem klasifikasi yang lebih kompleks.

2. Manfaat Klasifikasi

Penerapan sistem klasifikasi makhluk hidup memberikan manfaat, antara lain:

  • memudahkan penelitian dan memberi nama spesies-spesies yang baru ditemukan
  • bermanfaat dalam mempelaajri keanekaragaman hayati
  • mengetahui hubungan antara organisme satu dengan lainnya

3. Proses Klasifikasi

Klasifikasi makhluk hidup dilakukan dengan tahapan atau proses berdasarkan tingkat kekerabatan dan kesamaan antar makhluk hidup tersebut. Contohnya adalah sapi dan kerbau yang mempunyai banyak kesamaan dan dikelompokkan menjadi mamalia.

4. Tata Nama Makhluk Hidup

Hingga abad ke-18 nama-nama spesies makhluk hidup masing menggunakan bahasa latin yang panjang. Selanjutnya, oleh Carolus Linnaeus diperkenalkan sistem penamaan spesies baru yakni sistem binomial yang menggantikan sistem penamaan polinomial yang panjang.

Linnaeus mengembangkan sistem penulisan spesies yang hingga kini digunakan oleh para ahli taksonomi dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • menggunakan bahasa latin
  • menggunakan kategori
  • menggunakan dua kata

Sistem klasifikasi ini mengelompokkan makhluk hidup mulai dari kelompok besar hingga kelompok kecil yang disebut takson. urutan kategori yang digunakan Linnaeus adalah kingdom, filum atau divisi, kelas, ordo, suku, genus, dan spesies. Pengklasifikasian ini didasari pada ciri-ciri umum yang dilanjutkan dengan tingkatan takson menuju ciri-ciri khusus suatu mahluk hidup.

Selanjutnya pada zaman Aristoteles hingga pertengahan abad ke-20, makhluk hidup yang dibagi menjadi dua kingdom, yakni plantae dan animalia. Namun setelah ditemukannya mikroskop oleh ahli biologi bernama Ernst Haeckel asal Jerman, diusulkan kingdom baru yakni Protista untuk bakteri.

Pada tahun 1937 diusulkan superkingdom Prokariota untuk bakteri dan Eukariota untuk jasad renik oleh Eduard Chatton. Kemudian setelah ditemukannya mikroskop elektron, seorang ahli bernama R. H Whittaker pada tahun 1969 mengusulkan klasifikasi lima kingdom, yaitu monera, protista, fungi, plantae, dan animalia.

Lalu pada tahun 1977 seseorang bernama Carl Woese mengelompokkan monera menjadi dua kelompok berbeda, sehingga klasifikasi kingdom makhluk hidup terdiri dari archaebacteria, eubacteria, protista, fungi,  plantae, dan animalia.

Penamaan makhluk hidup secara internasioanal tersebut dimulai sejak tahun 1867 untuk tumbuhan dan tahun 1898 untuk. Hingga pada akhirnya, kini klasifikasi internasional menyepakati kode internasional tata nama tumbuhan (International Code of Botanical Nomenclature)  dan kode internasional tata nama hewan (International Code of Zoological Nomenclature).

5. Penamaan Tingkat Takson

Penamaan ilmiah makhluk hidup memiliki beberapa aturan sesuai tingkatan takson.

a. Nama Jenis atau Spesies

Ketentuan dalam menulis spesies makhluk hidup adalah sebagai berikut:

  • huruf pertama yang menunjukan marga ditulis kapital dan kata kedua yang menunjukan spesies ditulis huruf kecil, contohnya Panthera tigris (harimau)
  • Jika ditulis tangan, kata pertama dan kata kedua diberi garis bawah, seperti Naja sputatrix (kobra jawa). Jika dicetak maka nama spesies ditulis miring, yaitu Naja sputatrix
  • Jika nama jenis spesies lebih dari satu kata, maka menggunakan tanda hubung, seperti Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu)

Sedangkan nama jenis hewan yang lebih dari tiga kata penulisannya tidak menggunakan tanda hubung, sementara untuk varietas ditulis menggunakan huruf “var.” sebelum nama varietasnya, contoh Hibiscus sabdarifa var. alba

Kemudian jikan penunjuk jenis diambil dari nama penemunya, maka ditambahkan huruf (i), seperti Pinus merkusii (pohon pinus) yang ditemukan oleh Merkus.

b. Nama Genus

Nama marga atau genus terdiri dari satu kata tunggal dengan huruf awal ditulis kapital.

c. Nama Suku

Nama suku diambil dari nama genus ditabhkan dengan akhiran -aceae untuk tumbuhan dan akhiran -idae untuk hewan, contohnya adalah Crassulaceae dan Anatidae.

d. Nama Ordo

Nama ordo tumbuhan mempunyai akhiran -ales, sementara untuk hewan tidak mempunyai aturan baku.

e. Nama Kelas

Nama kelas tumbuhan umumnya diberi akhiran -opsida, sedangkan pada hewan tidak memiliki aturan tertentu.

f. Nama Filum atau Divisi

Nama biasanya umumnya berakhiran -phyta, akan tetapi pada hewan tidak aturan baku.

20200926