Lutung – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Sebaran & Kelangkaan

Lutung adalah salah satu jenis satwa yang mempunyai kemiripan dengan monyet, bahkan bagi sebagian orang sulit membedakannya. Hal tersebut cukup wajar, karena binatang ini mempunyai pola hidup seperti monyet pada umumnya. Meski sering disamakan dengan monyet, namun lutung memiliki ciri fisik dan perilaku khusus yang berbeda.

Spesies ini dapat dijumpai di berbagai wilayah di dunia tidak terkecuali di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia. Sebarannya yang luas membuatnya terbagi menjadi beberapa spesies sesuai dengan habitatnya. Salah satu spesies yang hidup di Indonesia adalah Lutung Jawa.

Taksonomi

Lutung Jawa adalah salah satu spesies endemik penghuni Pulau Jawa. Spesies ini mempunyai beberapa nama lain, seperti Lutung Budeng dalam Bahasa Jawa, Lutung Jawa dalam Bahasa Sunda, serta petu dan hirengan oleh masyarakat Bali. Secara global binatang ini disebut sebagai Ebony Leaf Monkey, Javan Langur, dan Javan Lutung.

Meskipun disebut sebagai Lutung Jawa, pada kenyataannya binatang ini tidak hanya dijumpai di Pulau Jawa. Kondisi ini kemudian memicu lahirnya subspesies baru.

lutung jawa Wikipedia Commons

Berikut ini adalah taksonomi atau klasifikasinya, khususnya Lutung Jawa.

KingdomAnimalia
FilumChordata
Sub-filumVertebrata
KelasMammalia
OrdoPrimata
FamiliCercopithecidae
GenusTrachypithecus
SpesiesTrachypithecus auratus

Selain nama Latin Trachypithecus auratus, International Union for Conservation of Nature juga mengenal lutung dengan nama lain, seperti Trachypithecus maurus, Trachypithecus kohlbruggei, Trachypithecus sondaicus, Trachypithecus stresemanni, dan Trachypithecus pyrrhus.

Tidak hanya itu, berdasarkan persebaran di Indonesia, Lutung Jawa juga dapat dibagi menjadi dua sub-spesies. Kedua sub-spesies tersebut adalah Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.

  • Trachypithecus auratus auratus atau disebut Spangled Langur Ebony adalah sub-spesies yang hidup di sepanjang kawasan Jawa Timur, Pulau Bali, Lombok, Pulau Sempu, serta Nusa Barung.
  • Trachypithecus auratus mauritius atau juga dikenal sebagai Jawa Barat Ebony Langur adalah sub-spesies yang hidup hanya di kawasan Pulau Jawa dalam jumlah terbatas, yaitu hanya ada di Jawa Barat dan Banten.

Morfologi

Lutung yang hidup di Indonesia mempunyai ukuran tubuh relatif kecil jika dibanding spesies lainnya. Ukuran tubuh primata dengan nama Latin Trachypithecus auratus ini hanya sekitar 59,7 cm jika diukur dari ujung kepala sampai dengan punggungnya, sedangkan ekornya berukuran lebih panjang yaitu sekitar 74,2 cm.

Binatang yang memiliki rambut tubuh berwarna hitam ini mempunyai berat tubuh rata-rata 6,3 kg. Selain itu pada tubuhnya juga terdapat corak berwarna keperak-perakan dan di bagian kepalanya terdapat jambul berwarna kelabu pucat. Sebagian besar tubuh lutung berwarna hitam dan bahkan ada yang sepenuhnya hitam.

Warna tubuh lutung sebenarnya mengalami perubahan sepanjang perkembangan hidupnya. Ketika baru lahir beberapa individu hanya memiliki kulit berwarna kuning hingga jingga dan tidak ditumbuhi rambut. Lutung yang lahir dengan kondisi seperti ini biasanya setelah berusia enam bulan akan berubah menjadi abu-abu, cokelat, atau hitam.

jenis lutung Pixabay

Akan tetapi pada beberapa kondisi juga ditemukan lutung dewasa yang memiliki warna keemasan atau jingga. Hanya saja lutung dengan warna seperti ini sangat jarang dijumpai dan hanya ada di kawasan timur Pulau Jawa. Pada bagian matanya terdapat garis menyerupai cincin yang mengitari mata dengan warna kebiru-biruan.

Berdasarkan warna tubuhnya, ada perbedaan antara lutung betina dan jantan yang bisa diamati setelah binatang ini dewasa. Lutung betina mempunyai warna lebih pucat, yaitu putih kekuningan di bagian dalam dari paha atas dan pinggang, terdapat bulu dengan warna pucat di bagian pantat, serta rambut punggungnya memiliki warna hitam yang lebih pekat.

Perilaku & Karakteristik

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa lutung mempunyai perilaku hidup harian yang menjadi ciri khas dari satwa ini. Perilakunya cukup beragam dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta cara adaptasinya.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik lutung yang umum dilakukan di kehidupan liar, yaitu:

1. Hidup Dalam Kelompok Kecil

Spesies Trachypithecus auratus umumnya hidup dalam kelompok kecil dengan jumlah sekitar 6 hingga 23 ekor. Setiap kelompok terdiri atas satu pemimpin yang merupakan lutung jantan, beberapa betina, dan juga anak-anak lutung yang masih berada dalam pengawasan induknya.

Lutung jantan mempunyai perilaku mendominasi setiap anggota kelompoknya yang lain. Sikap dominasi tersebut meliputi upaya perlindungan, pergerakan sehari-hari, dan juga pengamatan. Aktivitas sehari-hari lutung akan semakin bervariasi apabila hidup di kawasan terbuka dengan keadaan yang kering.

Dalam hal perlindungan para jantan akan berusaha untuk menjaga setiap anggota kelompok dari ancaman luar seperti dari kelompok yang lain. Selain itu lutung jantan juga menjadi penggerak untuk mengarahkan anggota kelompok melakukan kegiatan sehari-hari seperti mencari makanan hingga beristirahat.

2. Binatang Diurnal

Lutung termasuk ke dalam kelompok binatang diurnal atau binatang yang melakukan aktivitas lebih banyak di waktu siang hari dibanding malam hari. Spesies yang masuk dalam golongan primata ini mulai aktif ketika matahari terbit dan akan berangsur-angsur berhenti saat matahari mulai terbenam.

3. Binatang Arboreal

Binatang arboreal merujuk pada satwa yang lebih banyak menghabiskan waktu berkegiatan di atas pohon dibanding berjalan di atas tanah. Aktivitas seperti makan hingga tidur pun dilakukan di pohon. Pada waktu tertentu lutung akan berjalan pada cabang-cabang pepopohan.

Ketika beristirahat dan makan lutung akan duduk di atas pohon dengan ekor menggantung. Perilaku ini berfungsi untuk menyeimbangkan tubuhnya. Satwa ini bergerak mulai dari berjalan, berlari, hingga melompat di atas pepohonan dengan memanfaatkan keempat tungkainya.

4. Memiliki Wilayah Jelajah Luas

Satwa yang mirip monyet ini dikenal mempunyai wilayah jelajah yang cukup luas. Dalam satu hari penjelajahan kawanan lutung dapat mencapai radius 500 sampai 1.500 meter dengan wilayah jelajah seluas 5 hingga 23 hektar. Luas dan radius tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan atau habitat serta kawasan teritorial.

Wilayah jelajah yang luas mengakibatkan teritori lutung seringkali tidak bisa terpetakan dengan baik di mana antara teritori kelompok satu dengan lainnya bisa saling tumpang tindih. Meski begitu beberapa kelompok lutung mampu hidup berdampingan tanpa adanya perkelahian yang berarti antar kelompok.

Namun masalah yang kerap terjadi adalah ketika ada lutung soliter atau hidup menyendiri mencapai wilayah teritorial kelompok lainnya. Apalagi jika lutung soliter masuk ke daerah kekuasaan kelompok lutung yang lain. Hal itu akan memicu perkelahian antara lutung soliter dengan pejantan dominan di kelompoknya.

Habitat dan Persebaran

Secara umum habitat hidup lutung adalah kawasan hutan yang berada di ketinggian sekitar 3.600 meter di atas permukaan laut. Ketinggian ini bisa dijumpai di wilayah Pegunungan Himalaya, wilayah kering di Ceylon dan India, serta hutan hujan yang ada di Indochina dan Assam.

Khusus di Asia Tenggara lutung juga membentuk habitat di sepanjang hutan mangrove wilayah Malaysia dan Pulau Kalimantan. Sedangkan di Pulau Jawa spesies ini hidup di kawasan dataran rendah campuran, hutan sekunder, dan tepi hutan primer yang ditandai dengan keberadaan pohon jati, pohon akasia, dan pohon mahoni.

Lutung di Pulau Jawa juga dikenal sering muncul di sekitar area perkebunan penduduk. Hal itu didorong oleh menyempitnya ekosistem satwa yang berasal dari kelompok primata ini. Lingkungan mangrove atau hutan bakau juga bisa menjadi habitat lutung yang hidup di Pulau Jawa.

Kelompok lutung yang terdiri dari begitu banyak spesies dapat dijumpai hampir di seluruh dataran Benua Asia yang meliputi India, Pakistan, Nepal, Kepulauan Ceylon, hingga Asia Tenggara. Di kawasan Asia Tenggara, lutung hidup di negara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Sementara itu khusus untuk spesies Trachypithecus auratus yang dikenal sebagai Lutung Jawa hanya dapat dijumpai di pulau-pulau Indonesia mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Binatang ini tidak hidup di wilayah yang dilalui Garis Wallace selain Pulau Lombok.

Status Kelangkaan

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, spesies lutung Trachypithecus auratus tergolong dalam kelompok Vulnerable (VU). Status ini diberikan kepada satwa dan tanaman yang kondisinya rentan di alam bebas termasuk Lutung Jawa.

lutung perak Pixabay

Status kelangkaan satwa ini mengalami kenaikan dan penurunan setelah sebelumnya pada tahun 1996 berstatus Vulnerable (VU) kemudian menjadi Endangered (EN) atau terancam punah pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2008 statusnya kembali diturunkan menjadi Vulnerable hingga saat ini. Meski begitu status tersebut sebenarnya masih perlu untuk di­-update kembali.

Diketahui bahwa peningkatan status Lutung Jawa dari terancam punah menjadi rentan disebabkan oleh naiknya jumlah populasi satwa ini sebanyak 30% sejak 36 tahun terakhir atau selama tiga dekade. Hal tersebut kemudian memberi dampak yang cukup baik untuk kelangsungan hidup binatang ini selama 12 tahun ke depan.

Makanan Lutung

Lutung dikenal sebagai kelompok primata pemakan tumbuhan atau disebut sebagai herbivora. Oleh sebab itu satwa satu ini selalu mencari habitat untuk dihuni yang mampu memenuhi kebutuhan makannya. Bagian tanaman yang biasa dikonsumsi lutung antara lain dedaunan, kuncup bunga, dan juga buah-buahan.

Binatang yang hidup di atas pohon ini juga mampu mencerna makanan yang memiliki tekstur keras, karena di dalam lambung primata ini terdapat empat ruang pencernaan. Umumnya jenis dedaunan yang dimakan lutung berasal dari tanaman hutan yang secara umum bertekstur keras sehingga sulit dikunyah dan ditelan.

Tidak hanya itu, kandungan gizi yang diperlukan lutung dari makanannya adalah protein yang diketahui sangat sulit untuk terurai. Pasalnya dedaunan dilindungi oleh serat serta zat Tannin dan Phenol menyerupai getah. Akan tetapi lutung memiliki kelebihan di bagian lambungnya yang tidak hanya mempunyai empat ruang atau sekat. 

Pada lambung lutung terdapat kelenjar air ludah berukuran besar serta bakteri yang berguna dalam proses fermentasi. Bakteri dan kelenjar itulah yang membantu untuk mempercepat proses pembusukan dedaunan di dalam lambung, sehingga mudah untuk dicerna. Proses pencernaan lutung ini mirip dengan yang terjadi pada binatang ruminatia seperti sapi.