Mata Air – Pengertian, Proses, Jenis, Manfaat & Pengelolaan

Mata air atau biasa disebut sebagai spring water merupakan sumber air bersih yang sudah layak untuk dikonsumsi, karena air yang dihasilkan telah melalui proses purifikasi alami atau self purification. Oleh masyarakat, air dari mata air umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain itu industri berbasis air juga menggunakannya sebagai pasokan bahan baku.

Dengan sifatnya yang layak konsumsi tersebut, mata air biasa dijadikan sebagai objek penelitian dalam bidang hidrogeologi, hidrologi hutan, geologi, geografi, geofisika, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Di wilayah Indonesia terdapat begitu banyak sumber air yang juga kerap menjadi obyek penelitian.

Pengertian Mata Air

Mata air sebenarnya adalah air tanah yang berada di bawah permukaan tanah tepatnya pada batuan yang bersifat jenuh air atau akuifer. Adanya proses geologi di dalam tanah menjadi faktor pendorong, sehingga air tanah muncul di atas permukaan tanah. Air yang muncul itulah kemudian dikenal sebagai mata air.

Tolman di dalam bukunya yang berjudul Groundwater menyebutkan bahwa spring water atau mata air adalah pemusatan dari keluarnya air tanah hingga muncul di atas permukaan tanah dan menjadi arus dari aliran air tanah.

wanita dan sumber mata air Pixabay

Pernyataan tersebut hampir sama dengan pendapat Kresic dan Stevanovic (2010) yang menjelaskan bahwa mata air atau spring water merupakan lokasi pemusatan dari keluarnya air tanah sehingga muncul di permukaan tanah. Hal tersebut terjadi akibat lintasan aliran air tanah terpotong oleh berbagai fenomena alam.

Sementara itu Hendrayana (1994) menyatakan bahwa mata air adalah lokasi di mana air tanah mengalir atau merembes keluar hingga mencapai permukaan tanah secara alami. Selanjutnya air yang dihasilkan tersebut mengalir pada permukaan tanah dan melalui alur sungai, sehingga seringkali menjadi sumber aliran air pada sungai. 

Proses Pembentukan Mata Air

Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan, bahwa mata air terbentuk akibat adanya pemotongan aliran air tanah akibat kondisi geologi, sehingga air pun keluar dari bebatuan. Oleh sebab itu kebanyakan mata air dapat dijumpai di kawasan kaki bukit, lereng bukit, dataran, dan juga lembah bukit.

Pada dasarnya air dari mata air berasal dari air permukaan tanah yang meresap sehingga menjadi air tanah, kemudian melalui serangkaian proses geologi, dan akhirnya kembali lagi jadi air permukaan akibat pemotongan aliran air.

Proses ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu air permukaan, air tanah, dan air mata air.

  • Tahap Air Permukaan
    Pada tahap ini air masih berada di atas permukaan bumi, sehingga disebut sebagai air permukaan. Ada banyak sekali jenis air permukaan mulai dari air laut, air sungai, air rawa, air danau, hingga air hujan. Air inilah yang nantinya akan meresap dan menjadi air tanah.
  • Tahap Air Tanah
    Ketika air permukaan meresap ke dalam tanah, maka disebutlah sebagai air tanah. Air ini masih tetap mengalir lewat retakan dan celah kecil di dalam tanah. Air tanah mempunyai fungsi yang sangat penting terhadap aspek kehidupan manusia,
  • Tahap Mata Air
    Pada saat air tanah mengalir melalui celah kecil pada batuan jenuh air atau akuifer, kemudian tiba-tiba terjadi proses geologi yang menyebabkan lintasan air terpotong, maka pada saat itulah air akan memancar kembali ke permukaan tanah. Air tersebut akan berkumpul pada satu titik dan mengalir yang disebut sebagai mata air.

Jenis Mata Air

Ada banyak sekali jenis mata air yang dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah pendapat Bryan (1919) yang mengklasifikasikan mata air berdasarkan tenaga atau pengaruh gravitasi terhadap keluarnya air tanah ke permukaan bumi.

anak bermain air Pixabay

Penggolongan tersebut menghasilkan dua garis besar mata air, antara lain:

1. Mata Air dari Tenaga Gravitasi

Mata air dari tenaga gravitasi atau gravitational spring merupakan mata air yang muncul berada dalam kondisi tidak tertekan, melainkan air tersebut muncul akibat topografi yang memotong aliran air. Mata air jenis ini umumnya mempunyai arah pancuran horizontal.

Ada empat jenis mata air yang berasal dari tenaga gravitasi, yaitu mata air depresi (depresion spring), kontak (contact spring), artesis (artesian spring), dan turbuler (turbulence spring).

  • Depresion spring atau mata air depresi merupakan mata air yang terbentuk akibat terpotongnya permukaan air tanah oleh topografi. Sumber air ini dianggap sangat labil, karena kualitas dan kuantitas air yang dihasilkan sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Selain itu lintasannya cukup pendak dan umur air muda.
  • Contact spring atau mata air kontal merupakan mata air yang terbentuk ketika lapisan tidak kedap air terletak di atas lapisan kedap air yang mengakibatkan air keluar dari tanah. Sumber air jenis ini juga dikatakan terbentuk dari proses geologi dan sifatnya juga labil atau tergantung pada lingkungan sekitarnya.
  • Artesian spring atau mata air artesis adalah mata air yang terbentuk pada saat air yang berada di dalam lapisan akuifer mengalami tekanan dan disertai kebocoran yang terjadi pada lapisan bebatuan yang bersifat kedap air hingga akhirnya muncul di atas permukaan tanah.
  • Turbulence spring atau mata air tumbuler juga biasa disebut sebagai joint springs merupakan saluran atau aliran alami yang dapat dijumpai pada formasi kulit bumi. Sumber air ini sering keluar lewat retakan batuan pada air tanah dangkal dan juga pemotongan aliran oleh tekuk lereng. Contoh mata air jenis ini adalah gua lava.

2. Mata Air dari Tenaga Non Gravitasi

Seperti namanya, mata air yang berasal dari tenaga non gravitasi artinya tidak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Non Gravitational Spring jenis ini juga dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu mata air vulkanik (volcanic springs), celah (fissure springs), hangat (ordinary springs), dan panas (thermal springs).

  • Mata air vulkanik atau volcanic springs adalah mata air yang muncul akibat kontur pada bentangan vulkanik, misalnya kondisi geomorfologi lereng. Jenis sumber air ini juga dipengaruhi oleh dorongan magma yang ada di dalam bumi, sehingga air tanah akhirnya keluar pada permukaan tanah.
  • Mata air celah adalah mata air yang muncul di permukaan tanah akibat adanya retakan geologi pada kontur lahan yang di bawahnya dialiri oleh air tanah. Sumber air ini biasanya keluar melalui celah-celah batu yang retak.
  • Mata air hangat atau ordinary springs adalah mata air yang suhu airnya berada pada kisaran dingin sampai dengan hangat. Sumber air jenis ini umumnya memiliki suhu sama dengan suhu rata-rata pada lingkungan di mana mata air itu keluar.
  • Mata air panas atau thermal springs merupakan mata air yang suhunya kurang lebih 6 sampai 10 derajat cCelcius lebih tinggi jika dibanding dengan suhu rata-rata pada lingkungan sekitarnya. Suhu air ini disebabkan oleh proses alamiah yang berhubungan dengan panas inti bumi.

Manfaat Mata Air

Mata air mempunyai manfaat yang sangat besar untuk alam dan unsur pembangunnya. Manusia sebagai makhluk yang menggunakan mata air pun bisa merasakan dampak langsung dan tidak langsung dari keberadaan mata air.

sumber air Pixabay

Berikut ini adalah beberapa manfaat mata air bagi kelangsungan hidup, yaitu:

  • Sumber Air Minum
  • Sumber Air Domestik
  • Sumber Irigasi
  • Sarana Ibadah
  • Sumber Air Industri  

Pengelolaan Mata Air

Pengelolaan mata air umumnya dilakukan dengan cara membangun Penangkap Mata Air atau PMA. Lokasi pembangunannya pun dekat dengan mata air dan terletak di ketinggian yang pas agar proses distribusi air dapat berjalan optimal dan PMA ini dilengkapi bak penampungan air. PMA juga berfungsi untuk melindungi mata air dari pencemaran.

Metode pengelolaan mata air menurut Prastowo (2008) dapat dilakukan dengan lima kegiatan, yaitu inventarisasi potensi, pendayagunaan, perizinan, pengawasan dan pemantauan, serta konservasi. Dengan begitu mata air dapat dikelola secara maksimal agar terhindar dari kerusakan yang berarti.

1. Inventarisasi Potensi

Inventarisasi potensi adalah kegiatan untuk mengambil data mata air melalui proses pemetaan, penyelidikan, penelitian, serta evaluasi potensi. Data ini mencakup persebaran lokasi mata air, lapisan akuifer dan jenis mata air, recharge area atau daerah resapan, discharge area atau daerah pelepasan, kualitas dan debit air, debit penurapan, serta jenis pemanfaatannya.

Persebaran mata air meliputi lokasi geografis serta letak administratif dan elevasi. Jenis mata air sendiri akan diidentifikasi dengan melihat lapisan akuifer di bawahnya. Mengetahui pola ini akan memudahkan proses pendayagunaan dan pengendalian kerusakan mata air, karena memungkinkan untuk ditelusuri lebih jauh.

Adapun pada recharge area atau daerah resapan dilakukan delineasi untuk mengetahui batas-batas wilayah yang harus dikelola dan dilindungi agar kualitas dan debit mata air tetap berada pada kondisi yang optimal.

Sedangkan debit penurapan juga harus diketahui agar dapat menjadi pembanding terhadap debit mata air itu sendiri. Dengan begitu bisa diperkirakan bagimana pemanfaatan mata air untuk bisa memenuhi kebutuhan air domestik, industri,  pertanian dan perikanan, PLTA, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, keanekaragaman hayati dan tata guna lahan yang berhubungan dengan ekosistem mata air juga perlu diketahui. Wilayah ini meliputi recharge area, discharge area, dan radius 200 meter dari titik lokasi mata air.

2. Pendayagunaan

Pendayagunaan atau pemanfaatan mata air mencakup kegiatan perencanaan, desain teknis, serta konstruksi penurapannya. Pelaksanaan tahapan pendayagunaan tersebut harus mengikuti aturan dan teknis dari penurapan mata air sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berwenang.

Tahap perencanaan merupakan kegiatan standar untuk mengetahui bagaimana pendayagunaan yang dapat dilakukan pada kawasan sebaran dari suatu mata air. Perencanaan yang dibuat pun harus didasarkan pada data invetarisasi serta hasil evaluasi dari potensi mata air.

Tahap desain teknis serta konstruksi penurapan berkaitan dengan bron capturing atau bangunan penangkap mata air, jaringan transmisi, jaringan distribusi, dan juga reservois distribusi. Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam tahap ini adalah debit alamiah air, artinya debit tanpa teknik rekayasa seperti pengeboran dan pemompaan.

Ada dua hal yang menjadi penentu dari debit meksimum dari penurapan mata air. Pertama, penurapan tidak melebihi debit minimum dari mata air alamiah yang keluar dan dikurangi debit pemanfaatan sebelumnya. Kedua, jika diperlukan menyediakan air untuk masyarakat paling banyak 10% dari debit yang legal dieksploitasi.

Proses pendayagunaan mata air sebenarnya bisa disesuaikan dengan kondisi spesifik masyarakat di kawasan mata air. Akan tetapi ada beberapa pertimbangan lain yang menjadi patokan, yaitu:

  • Kebutuhan mata air jangka panjang yang didasarkan pada rencana pengembangan dan pemanfaatan mata air sebelumnya. Dengan begitu mata air dapat didayagunakan dengan cara berkelanjutan.
  • Penangkapan debit mata air alamiah harus memenuhi prosedur penurapan yang baik dan benar.
  • Manfaat yang dirasakan masyarakat harus mengutamakan manfaat sosial dibanding manfaat ekonomi.
  • Menjamin pemanfaatan secara berkelanjutan dengan melakukan konservasi di area resapan.

Sementara itu dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air pendayagunaan air mata air diprioritaskan untuk air minum, rumah tangga, peternakan dan pertanian sederhana, industri, irigasi, pertambangan, usaha perkotaan, dan bebagai kepentingan lainnya.

3. Perizinan

Proses penurapan mata air hanya dapat dilaksanakan apabila ada izin resmi dari lembaga yang berwenang. Hal ini ditetapkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1451 K/10/MEM/2000. Perizinan tidak hanya sebagai wujud legalitas, melainkan juga pengendali pada kegiatan pemanfaatan mata air.

Tahapan perizinan ini tidak hanya harus memenuhi standar yang berlaku, tetapi juga harus mempertimbangkan hak kepemilikan lahan serta hak pengelolaan mata air. Baru setelah perizinan tersebut diperoleh secara resmi, kegiatan penurapan mata air dapat dilakukan dan hal itu tetap harus memprioritaskan pemanfaatan untuk rumah tangga dan minum.

Rencana penurapan mata air yang debitnya kurang dari 50 liter per detik wajib melampirkan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL), sedangkan penurapan dengan debit di atas 50 liter per detik wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

4. Pengawasan dan Pemantauan

Pengawasan dan pemantauan adalah tahap setelah perizinan untuk penurapan mata air diperoleh serta telah dilaksanakan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan agar proses penurapan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan terutama untuk menjaga keberlangsungan mata air.

Ada beberapa cakupan dari pengawasan, yaitu:

  • Pengawasan pentaatan untuk ketentuan teknis yang dicantumkan pada perizinan penurapan mata air.
  • Pengawasan pentaatan bagi ketentuan yang dicantumkan dalam AMDAL serta UKL dan UPL.
  • Pengawasan bagi peluang yang memungkinkan terjadinya kerusakan pada ekosistem mata air.

Pemantauan harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan agar perubahan debit dan kualitas mata air terus terpantau. Kegiatan ini dilaksanakan oleh pengelola atau instansi yang mempunyai wewenang terhadap konservasi mata air.

Sebaiknya pemantauan dilakukan setahun sekali dan semakin baik apabila sebulan sekali yang mencakup:

  • Kualitas dan debit mata air
  • Perubahan pemanfaatan lahan di wilayah resapan air
  • Perubahan pemanfaatan lahan di area sekitar sumber air
  • Dampak terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan mata air

5. Konservasi

Konservasi mata air perlu dilakukan agar bisa mempertahankan pemanfaatan sumber air tersebut secara berkelanjutan. Upaya ini dilakukan pada dua area yaitu tempat keluarnya air tanah dan recharge area atau area resapan air. Konservasi sangat berkaitan erat dengan pemanfaatan yang dilakukan terhadap mata air.

Konservasi pada lokasi keluarnya mata air dimaksudkan agar air lebih terlindungi dari pencemaran dan konservasi pada recharge area ditujukan untuk memasukkan kembali sebanyak mungkin aliran air permukaan ke dalam tanah agar dapat menjadi cadangan air tanah.

Metode konservasi mata air di recharge area dilaksanakan dengan menerapkan metode Konservasi Tanah dan Air atau KTA. Metode ini sesuai dengan tujuan konservasi pada wilayah resapan air, sehingga cadangan air tanah lebih terjamin dan pasokan debit mata air pun tetap berkelanjutan.

Mata Air di Indonesia

Ada banyak sekali mata air yang dapat dijumpai di sepanjang kawasan Nusantara, khususnya di wilayah pegunungan. Sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan warga sekitar, industri, dan bahkan ada yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata seperti Mata Air Guyangan dan Mata Air Cimincul.

1. Mata Air Guyangan

Mata Air Guyangan adalah mata air yang berlokasi di Nusa Penida, Pulau Dewata Bali. Kondisi sekitar mata air ini sangatlah indah, karena letaknya dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulan tinggi. Sayangnya pesona mata air ini belum terlalu terkenal oleh masyarakat sebagai destinasi wisata yang menjanjikan.

2. Mata Air Cimincul

Mata Air Cimincul adalah mata air yang berlokasi di Subang, Provinsi Jawa Barat. Mata air ini juga difungsikan sebagai obyek wisata alam oleh penduduk setempat, bahkan di sekitarnya ada banyak sekali pedagang aksesoris yang bisa dibeli dan digunakan untuk melakukan foto di kawasan mata air.