Orangutan – Taksonomi, Morfologi, Jenis, Habitat, Kelangkaan & Konservasi

Orangutan adalah salah satu jenis dari kera berukuran besar yang masuk dalam kelompok primata. Satwa ini terdiri atas dua sub-spesies yang dikenal dengan nama Orang Utan Kalimantan dan Orang Utan Sumatera. Walaupun berada dalam satu spesies, tetapi keduanya tetap memiliki ciri berbeda.

Kedua primata yang menjadi kekayaan alam Indonesia ini berada di ambang kepunahan. Terdapat banyak faktor yang memicu penurunan populasi orangutan secara drastis, salah satunya adalah deforestasi. Oleh sebab itu, pemerintah dan berbagai lembaga peduli hutan dan satwa terus mengupayakan konservasi demi keberlangsungan primata ini.

Taksonomi

Istilah orangutan diambil dari kosakata Bahasa Melayu, yaitu ‘orang’ yang berarti manusia dan ‘utan’ yang berarti hutan. Dengan demikian orang utan berarti manusia yang hidup di dalam hutan. Tidak salah jika orangutan disebut “manusia”, sebab satwa langka ini mempunyai hubungan kekerabatan erat dengan manusia.

orangutan hutan lindung triptrus.com

Berikut ini adalah sistem klasifikasi ilmiah atau taksonomi dari orang utan, yaitu:

KingdomAnimalia
Sub-kingdomMetazoa
FilumChordata
KelasMamalia
OrdoPrimata
FamiliHominidae
GenusPongo
SpesiesPongo pygmaeus

Jenis Orangutan

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orangutan terbagi menjadi dua sub-spesies yang berbeda. Keduanya sama-sama menghuni areal hutan di Indonesia di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera.

  • Orang Utan Kalimantan atau Pongo pygmaeus adalah salah satu sub-spesies Orangutan di Indonesia yang menghuni daratan Pulau Kalimantan. Sub-spesies ini terbagi kembali menjadi tiga jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus morio, serta Pongo pygmaeus wurmbii.
  • Orang Utan Sumatera atau Pongo abelii merupakan salah satu sub-spesies Orangutan yang hidup di Indonesia. Sesuai dengan namanya, jenis ini hidup di wilayah hutan Pulau Sumatera.

Belum lama ini para peneliti mengumumkan penemuan sub-spesies baru orang utan. Jenis tersebut kemudian dinamakan sebagai Orang Utan Tapanuli dengan nama Latin Pongo tapanuliensis. Meski telah dinyatakan sebagai sub-spesies ketiga setelah Otang Utan Kalimantan dan Orang Utan Sumatera, jenis ini masih dalam tahap penelitian.

Disebutkan bahwa Orangutan Tapanuli hanya hidup di sepanjang kawasan hutan Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara yang mencakup tiga kabupaten di Tapanuli. Perbedaan paling mencolok dari sub-spesies ini adalah bulunya yang keriting serta terdapat kumis di atas bibirnya. Selain itu jumlah populasinya juga sangat sedikit, yaitu hanya sekitar 800 ekor.

Habitat

Sebagai kelompok primata, Orangutan secara umum dapat hidup di areal hutan primer pada dataran rendah sampai dataran tinggi, selain itu juga mampu hidup di kawasan pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Akan tetapi rata-rata satwa ini dapat dijumpai di sekitar rawa-rawa hutan, sungai kecil, dan sungai besar.

Kondisi habitat Orang Utan dipengaruhi oleh kehidupannya yang sebagian besar dihabiskan untuk beraktivitas di atas pohon. Oleh sebab itu umumnya satwa ini membentuk habitat di hutan dengan tumbuhan yang didominasi famili Dipterocarpaceae. Primata ini bahkan membuat sarang di pohon agar memberi keleluasaan untuk mengamati seluruh areal hutan.

Di habitat aslinya Orang Utan tidak hanya membuat sarang untuk beristirahat, tetapi juga berkembangbiak meliputi aktivitas kawin, melahirkan, hingga membesarkan anaknya. Khusus untuk kegiatan membuat sarang, Rijksen (1978) menyebutkan bahwa ada beberapa tahap yang dilalui oleh satwa ini, antara lain:

  • Melingkarkan (Rimming), merupakan tahap melekukkan satu dahan secara horizontal dan kemudian menahan dahan tersebut dengan melekukkan dahan yang lainnya untuk menghasilkan bentuk lingkaran sebagai sarang.
  • Menggantung (Hanging), merupakan tahap melekukkan dahan satu persatu ke bagian dalam sarang, sehingga akhirnya dahan tersebut berbentuk seperti mangkuk sarang.
  • Menopang (Pillaring), merupakan tahap melekukkan dahan ke bagian bawah sarang berbentuk mangkuk tadi. Lekukan ke bawah ini berfungsi sebagai kekuatan tambahan yang akan menopang sarang.
  • Melepaskan (Loose), merupakan tahap penyempurnaan sarang di mana beberapa dahan yang berasal dari vegetasi di sekitar pohon dipatahkan untuk kemudian diletakkan di bagian dasar sarang untuk menjadi alasa atau bisa juga diletakkan di bagian atas sarang untuk menjadi atap.

Sebaran Orang Utan

Terdapat banyak pendapat mengenai persebaran Orang Utan di dunia. Bila di Indonesia satwa ini hanya tersebar di sepanjang Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, Rijksen (1978) menyatakan bahwa sebaran primata ini juga dapat dijumpai dalam gua-gua di Vietnam Utara, Tiongkok, serta Sumatera.

foto bersama orangutan meoadventures.com.au

Sementara itu, Galdikas (1984) memiliki pendapat yang sedikit berbeda dan mendasarkan pandangan tersebut dari fosil Orang Utan yang ditemukan pada masa Pleistocene. Menurutnya sebaran primata ini cukup luas mulai dari Tiongkok, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, dan Pulau Jawa.

Hal itu menunjukkan bahwa pada masa lampau Orangutan sebenarnya hidup di wilayah sebaran yang sangat luas, tetapi terus mengalami penyempitan. Bahkan sekarang satwa ini hanya ada ada di hutan Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, serta beberapa juga hidup di hutan Malaysia seperti di Sabah dan Serawak.

Status Kelangkaan

Menurut International Union for Conservation Nature (IUCN) Red List, Orang Utan Kalimantan atau Pongo pygmaeus yang sebelumnya berstatus Endangered atau terancam punah kini statusnya berubah menjadi Critically Endangered. Status tersebut menunjukkan bahwa satwa ini berada pada tahap kritis dan akan punah dalam waktu dekat.

Hal serupa juga terjadi pada Orang Utan Sumatera atau Pongo abelii sesuai dengan data pada IUCN Red List, bahwa primata ini masuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis dan terancam punah. Status tersebut diberikan setelah mengamati perkembangan populasi satwa ini selama 75 tahun terakhir dan faktanya mengalami penurunan sebanyak 80%.

Ada banyak faktor yang memicu penurunan jumlah populasi Orangutan Kalimantan termasuk maraknya perburuan liar yang dilakukan di sepanjang kawasan hutan Kalimantan Indonesia dan Malaysia. Sementara berkurangnya populasi Orangutan Sumatera lebih dikarenakan oleh kegiatan penebangan hutan.

Selain itu kegiatan deforestasi juga menjadi salah satu faktor utama yang mengancam kelangsungan Orang Utan. Deforestasi sendiri adalah pengalihan atau pengurangan wilayah hutan menjadi area yang pemanfaatannya dimaksudkan untuk tujuan lain, seperti perkebunan kelapa sawit dan pemukiman penduduk.

Deforestasi seharusnya diikuti dengan pengendalian yang maksimal agar satwa-satwa yang berhabitat asli di hutan dapat terjaga kelangsungan hidupnya seperti Orang Utan. Kegiatan deforestasi mengakibatkan tempat tinggal atau habitat primata ini semakin berkurang.

Morfologi

Meskipun Orang Utan Kalimantan dan Orang Utan Sumatera berada dalam satu spesies yang sama, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang cukup menonjol. Khususnya dari aspek morfologi tubuh. Berikut adalah morfologi dari kedua sub-spesies ini yang sekaligus menunjukkan perbedaannya.

Namun sebelum itu, perlu diketahui bahwa ada beberapa kemiripan morfologi di antara keduanya. Pertama Orang Utan jantan keduanya sama-sama mempunyai kantong suara untuk menghasilkan seruan panjang dan suara. Seruan tersebut akan dikeluarkan untuk berkomunikasi saat mengalami gangguan dan sebagai rangsangan seks terhadap betina.

Kedua sub-spesies ini juga memiliki fisik yang kelihatan tanpa pinggang. Kondisi tersebut disebabkan oleh rudimentasi atau terjadinya perubahan fisik pada anggota tubuh. Belum lagi leher yang sangat pendek dan perutnya yang buncit semakin menambah kesan tidak memiliki pinggang. Keuntungannya adalah memudahkan primata ini untuk bergelantungan.

1. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)

Orang Utan Kalimantan mempunyai bulu yang lebih gelap dibanding Orang Utan Sumatera. Warna bulu primata ini mulai dari cokelat gelap hingga cokelat kemerah-merahan pada saat sudah dewasa. Saat diraba bulunya terasa agak kasar dan tidak terlalu lebat. Apabila dilihat dengan bantuan mikroskop helai bulunya berbentuk pipih.

Bentuk wajah Orang Utan Kalimantan tampak lebih bulat, karena mempunyai bantalan pada bagian pipi yang melebar. Bantalan tersebut melebar akibat banyaknya jaringan lemak yang ada di dalamnya. Sementara itu ukuran pada bagian dagunya juga lebih pendek jika dibanding Orang Utan Sumatera.

Tidak hanya itu saja, ukuran tubuh Orang Utan Sumatera juga bisa membedakan dengan sub-spesies yang berasal dari Kalimantan. Diketahui bahwa berat badan maksimal dari Orang Utan jantan yang sudah dewasa adalah 150 kilogram dan ukuran tubuh betinanya dua kali lipat lebih kecil.

2. Orangutan Sumatera (Pongo abelii)

Orang Utan Sumatera memiliki warna bulu yang lebih terang, tetapi agak pucat yaitu antara cokelat dan oranye. Ketika diraba bulu primata ini terasa sangat halus dan juga lebih lebat dibanding bulu Orang Utan Kalimantan. Adapun ketika diperiksa menggunakan mikroskop helai bulunya berbentuk bulat, tipis, dan panjang.

Bentuk wajah Orang Utan Sumatera kelihatan lebih oval dibanding Orang Utan Kalimantan. Hal itu disebabkan oleh bantalan pipinya yang bergelambir dan jatuh ke bawah. Sementara bentuk dagunya juga sedikit lebih panjang, sehingga semakin mempertegas kesan oval wajahnya.

Ukuran tubuh Orangutan Sumatera juga dapat menjadi pembeda, karena umumnya primata ini memiliki ukuran yang lebih kecil daripada saudaranya. Diketahui berat badan maksimal Orang Utan Sumatera jantan dewasa adalah 90 kg, sedangkan ukuran betinanya bisa dua kali lipat lebih kecil.

Makanan

Telah disebutkan bahwa Orangutan mempunyai perut buncit. Hal itu cukup wajar mengingat kebanyakan aktivitas primata ini dilakukan di atas pohon dengan ketinggian 10 sampai 30 meter yang umumnya sudah tersedia makanan berupa buah-buahan. Belum lagi satwa ini memang pemalas dan lambat pada saat berjalan.

Makanan pokok Orang Utan adalah buah, sehingga tergolong ke dalam kelompok satwa frugivorous atau pemakan buah. Akan tetapi satwa ini juga memakan dedaunan, bunga dari tumbuhan epifit, kulit batang pohon tertentu, serta rayap. Persentasenya adalah 60% buah, 25% daun, 15% batang, 10% serangga, dan 2% lain-lain.

Selain beberapa jenis makanan tersebut, Orang Utan juga biasa mengonsumsi madu. Satwa ini cukup cerdas pada saat ingin memperoleh madu dari sarang lebah madu. Primata ini akan menggunakan ranting pohon yang berdaun untuk digunakan sebagai pelindung di wajahnya. 

Ada  sedikit perbedaan makanan yang dikonsumsi antara kedua sub-spesies ini. Orang Utan Kalimantan biasanya dapat mengonsumsi makanan yang bervariasi mulai dari buah-buahan, dedaunan, sampai serangga. Sedangkan Orang Utan Sumatera lebih sering memakan buah, karena kondisi lingkungannya memungkinkan musim buah berjalan lama sepanjang tahun.

Perkembangbiakan

Perkembangbiakan Orang Utan Kalimantan dan Orang Utan Sumatera mengalami proses yang sama. Orangutan betina akan memasuki masa dewasa di usia 10 hingga 12 tahun, sedangkan jantan lebih cepat, yaitu pada usia 8 tahun. Kehamilan pertama primata yang hidup di alam akan sedikit berbeda dengan yang dipelihara.

Orangutan betina yang hidup di alam liar biasanya hamil dan melahirkan pertama kali di usia 9 sampai 12 tahun, sedangkan yang hidup dipelihara umumnya lebih cepat yaitu di usia 7 sampai 8 tahun. Lama masa kehamilan satwa ini sama dengan kehamilan manusia, yaitu 9 bulan.

Interval kehamilan pada Orang Utan betina adalah sekitar tiga sampai lima tahun, kadang juga lebih dari itu. Satwa ini setidaknya bisa melahirkan dua sampai empat kali dalam hidupnya. Meski begitu apabila dibandingkan dengan primata lain proses perkembangbiakan satwa ini termasuk lama.

Upaya Konservasi

World Wide Fund for Nature (WWF) bersama dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Kehutanan, Departemen Pekerjaan Umum, serta berbagai pihak lain terus berupaya mengembangkan Rencana Tata Ruang Berbasis Ekosistem di Pulau Sumatera untuk menyelamatkan hutan.

pelepasan orangutan orangutan.or.id

Orang Utan adalah satwa yang lebih senang hidup di alam bebas daripada di dalam kebun binatang ataupun penangkaran. Maka dari itu upaya konservasi yang dilakukan juga harus melibatkan habitat asli primata ini agar tetap bisa lestari. Dengan begitu primata ini tetap bisa hidup dengan nyaman di habitatnya.

Salah satu hutan yang menjadi fokus utama adalah hutan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan hutan Jambi, karena merupakan kawasan introduksi Orangutan dengan alam. Sementara upaya konservasi primata ini di Pulau Kalimantan terdiri atas beberapa poin penting, antara lain:

  • Menjadi fasilitator demi mewujudkan terciptanya suatu jaringan dari berbagai kawasan hutan lindung, misalnya mengelola koridor satwa secara teliti serta memastikan bahwa Orang Utan dapat lebih leluasa bergerak di alam.
  • Sehubungan dengan data yang menunjukkan bahwa sekitar 70% populasi Orangutan Kalimatan hidup di luar wilayah yang dilindungi, maka akan dipastikan bahwa seluruh kawasan yang berada di dalam Kalimantan serta perbatasan Heart of Borneo yang berstatus tidak dilindungi bisa tetap dipertahankan sebagaimana wilayah yang dikelola secara berkesinambungan.
  • Melakukan kampanye dan sosialisasi seputar upaya-upaya konservasi Orang Utan terhadap masyarakat sekitar.

Sekalipun ada banyak lembaga pemerintah dan non pemerintah yang terus menggalakkan upaya konservasi bagi primata besar ini, pada kenyataannya peran serta pihak-pihak yang hidup dengan satwa ini sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu, disinilah pentingnya sosialisasi dilakukan.

Obyek sasaran sosialisasi adalah para orang tua dan anak-anak. Kesadaran pada diri orang tua perlu dibangun agar dapat mengerti bagaimana pentingnya melindungi primata ini. Apabila kesadaran para orang tua sudah terbentuk, maka mereka dapat mewariskan pengetahuan tersebut kepada anak cucunya.

Sedangkan sosialisasi untuk anak-anak juga diperlukan agar mereka bisa lebih mengenal tentang Orangutan. Berangkat dari hal itu anak-anak kemudian bisa memahami dan mencintai satwa satu ini. Hanya saja sosialisasi bagi anak-anak diusahakan agar lebih menyenangkan, sehingga mudah diterima dan dipahami.

Ada banyak alasan yang mendasari kenapa upaya konservasi Orang Utan sangat penting untuk dilakukan. Tanpa disadari sebenarnya primata ini memiliki peran yang vital terhadap kelangsungan hutan, alam, lingkungan, dan pada akhirnya untuk manusia juga.

Berikut ini adalah beberapa alasan Orangutan harus dilestarikan, yaitu:

  • Orang Utan adalah satwa yang juga disebut sebagai umbrella species atau spesies payung. Artinya satwa ini mempunyai peran yang sangat penting terhadap kelangsungan keragaman hayati di bumi, memegang peran utama untuk regenerasi hutan dan keberagaman berbagai jenis tumbuhan liar di hutan, serta menjaga agar ekosistem tetap seimbang.
  • Khusus untuk perannya dalam membantu regenerasi hutan, Orang Utan memiliki peran untuk menyebarkan biji-bijian yang diperoleh dari buah-buahan hutan sebagai makanan. Proses penyebaran biji-bijian yang telah dimakan tersebut berdampak baik pada pertumbuhan pohon. Dengan begitu keseimbangan alam tetap berjalan.
  • Primata ini memiliki kemampuan untuk mengobati dan menyembuhkan sendiri luka atau penyakit pada tubuhnya dengan memakan dedaunan atau buah tertentu di hutan. Hal ini menjadi unik, karena peneliti dapat melakukan observasi untuk menemukan jenis obat sesuai dengan apa yang dikonsumsi oleh Orangutan.

Keunikan Orang Utan

Orangutan mempunyai sederet keunikan yang menarik untuk diketahui. Berikut ini adalah enam fakta menarik seputar primata yang terancam punah ini, meliputi Orang Utan Kalimantan, Orang Utan Sumatera, dan Orang Utan Tapanuli.

1. Spesies Primata Paling Cerdas

Orang Utan dikenal sebagai spesies primata yang sangat cerdas. Hal ini bisa dilihat dari berbagai tingkah laku satwa ini. Misalnya mampu menggunakan tongkat untuk mengambil makanan, seperti buah di atas pohon dengan baik, memilih daun yang lebar sebagai pelindung dari hujan dan terik, serta meracik obat-obatan sendiri untuk mengobati dirinya.

2.  Mempunyai Kekerabatan dengan Manusia

Salah satu fakta menarik seputar Orang Utan adalah susunan DNA yang dimiliki oleh primata ini. Menurut hasil penelitian diketahui bahwa ternyata DNA Orang Utan mempunyai kemiripan dengan DNA manusia, bahkan tingkat kesamaannya mencapai 96,4%. Hal itu menunjukkan bahwa manusia dan Orang Utan mempunyai kekerabatan begitu dekat.

3. Orang Utan Jantan Mengeluarkan Seruan Panjang

Pada tenggorakan Orangutan terdapat kantong suara. Ternyata kantong suara tersebut mempunyai fungsi tersendiri untuk satwa primata ini. Kantong suara tersebut menghasilkan suara lebih kencang dan panjang, bahkan jarak 1 kilometer masih bisa terdengar.

4. Panjang Lengan Orang Utan

Meski ukuran tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi ternyata lengan Orang Utan sangat panjang bahkan melebihi ukuran lengan primata lainnya. Salah satu faktor yang memicu panjang lengan satwa ini bisa mencapai 2,3 meter adalah kebiasan hidupnya yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain dengan menggunakan lengan.

5. Satwa Kuat

Meski dinyatakan memiliki kekerabatan yang dekat dengan manusia, tetapi kekuatan fisik Orang Utan masih jauh di atas manusia. Kekuatannya bahkan diperkirakan enam kali lebih besar dari manusia. Bukan hanya fisik saja, melainkan juga giginya. Walaupun begitu primata ini dikenal tidak berbahaya dan justru lebih tenang.

6. Pemalas dan Suka Tidur

Orangutan tidak hanya terkenal sebagai satwa pemalas, namun juga primata yang suka tidur. Agar tidurnya lebih nyaman, satwa ini biasanya membuat kasur dari ranting-ranting di dalam sarangnya. Tidak hanya itu, mirip seperti manusia, orang utan juga akan tidur pada waktu siang hari di sela aktivitasnya.