4++ Pakaian Adat Jawa Barat – Pembagian Kasta, Gambar & Penjelasan

Pakaian Adat Jawa Barat – Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk paling banyak di tanah air. Saat ini diperkirakan jumlah penduduknya mencapai 43.053.732 jiwa dengan sebaran sebanyak 28 juta jiwa tinggal di perkotaan, sementara sisanya tinggal di daerah pedesaan.

Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda. Kemudian ada pula Suku Betawi dan Cirebon. Sementara kaum pendatang yang bermukim di Jawa Barat berasal dari Suku Jawa, Batak, Minangkabau, Melayu, Tionghoa, dan lain-lain.

Warisan Budaya Jawa Barat

Penduduk Jawa Barat umumnya terbagi menjadi 2 karakteristik yang sangat kontras. Pertama adalah masyarakat urban perkotaan yang menetap di Jabodetabek dan Bandung. Kemudian yang kedua adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan dan masih memegang teguh adat dan budaya setempat dengan melestarikan warisan leluhur nenek moyang mereka.

Contoh pelestarian budaya adalah penggunaan bahasa Sunda untuk komunikasi sehari-hari. Kesenian Jawa Barat juga tetap hidup dan dilestarikan oleh para seniman lokal.

Selanjutnya dan tak kalah penting adalah pakaian adat Jawa Barat yang terus dilestarikan. Hingga kini, pakaian tradisional asli Jawa Barat ini masih bisa kita temukan dalam penggunaan sehari-hari maupun pada upacara adat tertentu.

Pakaian Adat Jawa Barat

Sejarah pakaian adat dari Jawa Barat sangatlah menarik, karena di masa lalu pakaian ini dibedakan menurut kasta orang yang mengenakannya. Meskipun kini sistem kasta dalam kelas sosial masyarakat Jawa Barat sudah tidak lagi relevan, sangat penting untuk mengetahui makna di balik setiap pakaian adat yang diwariskan oleh nenek moyang kita.

Pakaian adat Jawa Barat terbagi menjadi pakaian untuk kalangan rakyat jelata, kalangan menengah, dan kalangan menak atau bangsawan, yaitu sebagai berikut:

1. Baju Tradisional Kelas Bawah / Rakyat Jelata

Pakaian ini dulunya dikenakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Pengguna baju adat ini mayoritas bekerja sebagai petani dan peternak. Pakaian tradisional untuk rakyat jelata sangat sederhana dan biasanya terlihat usang. Hal ini diakrenakan pakaian tersebut dipakai berulang-ulang untuk melakukan pekerjaan kasar.

baju salontreng kompasiana.com

Kaum pria Jawa Barat dari kalangan rakyat jelata mengenakan atasan yang dinamakan baju Salontréng. Untuk bawahannya, mereka mengenakan celana komprang yang ukurannya longgar. Kombinasi Salontréng dan celana komprang ini biasa disebut sebagai Baju Pangsi.

Para pria biasanya juga mengenakan sarung yang diselempangkan di bahu. Untuk alas kakinya, pria Jawa Barat mengenakan sandal Tarumpah yang terbuat dari kayu. Sementara pada kepalanya, mereka mengenakan ikat kepala yang dinamakan Logen. Model ikatannya ada 2 jenis, yaitu Barambang Semplak dan Hanjuang Nangtung.

Sementara itu, para perempuan Jawa Barat dari kalangan rakyat jelata biasa mengenakan kamisol atau kebaya sederhana. Untuk bawahannya, mereka mengenakan kain batik yang dinamakan Sarung Kebat atau Sinjang Bundel. Kain ini bisa dipakai panjang hingga ke mata kaki, ataupun hanya menggantung sepanjang betis.

Penggunaan kain dengan cara tersebut dimaksudkan agar para wanita lebih leluasa saat harus bekerja berat. Untuk mengencangkan kain, mereka mengenakan Beubeur atau ikat pinggang. Untuk alas kakinya, mereka mengenakan sandal jepit keteplek.

2. Pakaian Adat Kelas Menengah

Golongan kalangan menengah di masyarakat Jawa Barat masa lalu adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai pedagang atau saudagar, serta kaum cendekiawan yang mencapai tingkat pendidikan tinggi juga masuk dalam kategori ini.

baju bedahan Karya Nusantara

Golongan masyarakat ini pada dasarnya mempunyai jumlah kekayaan yang jauh lebih banyak dari kalangan rakyat jelata, namun bukan berasal dari keturunan bangsawan. Mereka juga tidak perlu melakukan pekerjaan kasar, sehingga penampilan mereka pun jauh berbeda dengan rakyat jelata. Penampilan masyarakat kelas menengah tampak rapi dan berwibawa.

Kaum pria Jawa Barat dari kelas menengah biasanya mengenakan pakaian warna putih. Modelnya hampir sama dengan jas dan dinamakan Baju Bedahan. Untuk bawahannya, mereka tidak memakai celana, melainkan kain kebat yang disarungkan.

Untuk mengencangkan lilitan kain, mereka memakai sabuk. Untuk hiasan kepala, para pria kalangan menengah mengenakan Bengker. Tambahan aksesoris lainnya adalah arloji rantai berwarna emas yang dimasukkan ke dalam saku depan Baju Bedahan dengan rantai yang dibiarkan menggantung.

Sementara itu, kaum wanita Jawa Barat dari kalangan menengah biasanya mengenakan kebaya dalam aneka warna dan motif. Untuk bawahannya, mereka juga mengenakan kain kebat panjang. Ikat pinggang juga dikenakan untuk mengencangkan lilitan kain kebat.

Beberapa wanita gemar mengenakan selendang sebagai aksesoris. Untuk alas kaki, wanita kelas menengah mengenakan sejenis selop yang diberi nama Kelom Geulis. Wanita dari kalangan menengah juga sudah biasa memakai perhiasan berupa anting, kalung, gelang, dan cincin, walau ukurannya tidak terlalu besar.

3. Pakaian Tradisional Bangsawan

Kaum bangsawan atau biasa disebut sebagai Menak berada di posisi tertinggi dalam sistem kelas sosial masyarakat Jawa Barat di masa lalu. Seperti halnya di banyak wilayah lain di tanah air pada masa lalu, kaum bangsawan sangat dimuliakan dan disegani oleh kalangan masyarakat di bawahnya. Secara penampilan pun, mereka sangat jauh berbeda dari kelas sosial lainnya.

menak priangan Google Images

Kaum pria bangsawan Jawa Barat biasanya mengenakan jas beludru warna hitam. Jas ini memiliki hiasan berupa sulaman benang emas di bagian ujung lengan. Untuk bawahannya, mereka mengenakan celana panjang dari kain beludru dengan warna yang sama.

Celana tersebut umumnya polos, namun ada juga yang dihiasi dengan sulaman benang emas pada bagian ujungnya. Tak lupa, mereka mengenakan ikat pinggang emas. Sementara untuk penutup kepala, para pria bangsawan mengenakan Bendo. Untuk alas kakinya, mereka memakai selop hitam.

Sama dengan kaum prianya, para wanita bangsawan Jawa Barat juga mengenakan kain beludru untuk atasan mereka, namun model pakaiannya adalah kebaya.

Kebaya beludru Jawa Barat dihiasi dengan sulaman benang emas. Terkadang juga ditambahkan manik-manik untuk semakin mempercantik. Untuk bawahannya, kaum wanita mengenakan kain kebat bermotif rereng.

Rambut wanita bangsawan dibentuk sanggul dengan aksesoris tusuk konde yang terbuat dari emas. Sementara untuk alas kaki, mereka mengenakan selop yang terbuat dari kain beludru warna hitam.

Tentu saja, para wanita bangsawan juga mengenakan perhiasan untuk mempercantik penampilan saat mengenakan pakaian adat Jawa Barat. Biasanya, ukuran perhiasan mereka lebih besar dan mewah jika dibandingkan dengan wanita dari kalangan menengah.

4. Pakaian Pengantin Jawa Barat

Hingga kini, tradisi pernikahan di Jawa Barat masih tetap menggunakan pakaian adat untuk acara pernikahan. Untuk mempelai wanita akan mengenakan kebaya yang terbuat dari bahan brokat. Model dan bentuknya biasanya dibuat pas badan.

cahunnes.com

Untuk bawahannya, pengantin wanita akan mengenakan kain batik kebat dengan motif Lereng Eneng Prada. Perhiasan yang digunakan pada acara ini adalah cincin, gelang, dan 2 buah kalung, berukuran pendek dan panjang.

Sementara itu, mempelai pria mengenakan atasan seperti Beskap yang diberi nama Jas Buka Prangwedana. Warna jas ini disesuaikan dengan kebaya mempelai wanita. Untuk bawahannya mereka mengenakan kain batik yang juga disesuaikan dengan mempelai wanita.

Penutup kepala yang dikenakan mempelai pria adalah Bendo yang bertahtakan permata. Di bagian pinggang, mempelai pria mengenakan Boro Sarangka, sejenis kantong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan keris.