6++ Pakaian Adat Jawa – Makna & Filosofi Kebudayaan Luhur

Pakaian Adat Jawa – Suku Jawa adalah suku mayoritas di Indonesia. Kebanyakan keturunan etnis ini menetap di Pulau Jawa, namun banyak pula yang menyebar dan tinggal di pulau lain di nusantara.

Karena persebarannya yang begitu luas, tradisi Jawa banyak diadopsi dalam keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari makanan, kebiasaan, hingga baju tradisionalnya.

Pakaian adat Jawa kerap digunakan untuk kesempatan formal maupun kasual. Hal ini karena dunia fashion masa kini tidak benar-benar memiliki batasan yang baku, sehingga para desainer dapat lebih leluasa berinovasi.

Mengenakan sesuatu yang bercorak tradisional sudah tidak dianggap ketinggalan jaman lagi. Selain itu, beberapa pakaian adat Jawa juga dimodifikasi sehingga tampak lebih modern.

Batik Jawa

Kata “batik” adalah kependekan dari istilah yang berasal dari kalimat Jawa Babat, yakni “soko sak tithik”. Artinya adalah mengerjakan sesuatu sedikit demi sedikit.

Namun ada pula yang berpendapat bahwa istilah batik berasal dari kata “amba” yang berarti lebar, dan “titik” atau “matik” yang berarti membuat titik. Jika disatukan, artinya menjadi membuat titik pada kain yang lebar.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menyatakan bahwa batik merupakan warisan budaya asli Indonesia. Tanggal 2 Oktober pun kini diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

batik-tulis.com

Kira-kira sejak saat itulah penggunaan batik di Indonesia semakin masif. Jika sebelumnya batik dianggap kuno dan ketinggalan jaman, sejak saat itu mengenakan batik justru dianggap sebagai tren baru. Masyarakat Indonesia semakin sering mengenakan batik, baik untuk acara resmi maupun santai.

Bukan hanya di Jawa, banyak daerah di Indonesia yang memiliki batiknya sendiri. Motif, warna, maupun cirinya berbeda-beda dan masing-masing memiliki makna tersendiri. Inilah yang membuat budaya Indonesia semakin kaya.

Walaupun batik dari Pulau Jawa adalah yang paling dikenal. Ketika menyebut kata batik, kebanyakan orang akan langsung berasumsi bahwa batik yang berasal dari Pulau Jawa.

Pakaian Adat Pria Jawa

Ada pakaian yang hanya dikenakan saat acara adat formal, ada juga pakaian yang bisa dikenakan sehari-hari. Umumnya, pakaian tradisional pria Jawa terdiri dari atasan dan bawahan berupa celana atau kain.

1. Surjan

Surjan adalah jenis baju adat Jawa dengan sejarah yang sangat panjang, yaitu telah dikenakan semenjak jaman Mataram Islam yang dibangun oleh Sunan Kalijaga. Dulunya, Surjan hanya dikenakan oleh kaum bangsawan dan abdi keraton. Hingga saat ini, khususnya abdi keraton di Jawa Tengah masih mengenakan Surjan.

surjan detik.net.id

Surjan adalah kependekan dari suraksa janma yang berarti menjadi manusia. Modelnya menyerupai kemeja dengan kerah tegak dan berlengan panjang. Surjan umumnya terbuat dari kain motif lurik khas Jawa, serta ada juga yang terbuat dari bahan bermotif bunga.

Baju surjan sering disebut sebagai pakaian taqwa, karena Surjan memiliki makna religius. Surjan dilengkapi dengan 6 kancing di bagian kerah yang melambangkan rukun iman. Sementara 2 kancing di dada kiri dan kanan melambangkan 2 kalimat Syahadat.

Terdapat pula 3 kancing di bagian dada dekat perut yang melambangkan nafsu naluriah manusia yang harus dikendalikan. Ketiga kancing yang terakhir ini tidak tampak dari luar.

2. Jawi Jangkep

Pakaian ini adalah pakaian adat Jawa Tengah. Pakaian Jawi Jangkep berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta. Ada 2 jenis pakaian Jawi Jangkep, yaitu Jawi Jangkep dan Jawi Jangkep Padintenan.

jawi jingkep idntimes.com

Jawi Jangkep hanya bisa dikenakan saat acara adat formal, misalnya upacara adat. Pakaian ini berupa atasan berwarna hitam. Sedangkan Jawi Jangkep Padintenan bisa dikenakan dalam keseharian, serta penggunaan warna selain hitam diperbolehkan. Hingga saat ini pakaian Jawi Jingkep masih sering dikenakan.

Kelengkapan Jawi Jangkep antara lain:

  • Atasan yang bagian belakangnya lebih pendek untuk tempat menyelipkan keris.
  • Setagen.
  • Ikat pinggang yang terdiri dari epek, timang, dan lerep.
  • Kain bawahan yang berupa barik.
  • Keris, atau biasa disebut sebagai wangkingan.
  • Selop, sebagai alas kaki.
  • Penutup kepala berupa destar ataupun blangkon.

3. Beskap

Sebenarnya Beskap adalah bagian dari Jawi Jangkep. Namun kini penggunaannya seringkali terpisah. Beskap hanya dikenakan pada acara resmi, seperti pernikahan atau upacara adat lainnya. Beskap telah ada dan dikenakan sejak akhir abad ke-18 pada masa Kerajaan Mataram.

beskap beautynesia.id

Beskap memiliki model kemeja lipat. Biasanya Beskap berwarna polos. Beskap dilengkapi kancing di bagian kanan dan kirinya. Bagian belakang Beskap juga lebih pendek daripada bagian depannya, fungsinya sama dengan Jawi Jangkep, yaitu untuk tempat menyelipkan keris.

Ada 4 jenis Beskap, pertama adalah gaya Jogja yang disesuaikan dengan pakem Keraton Kasultanan Yogyakarta. Sementara Beskap gaya Solo memiliki pakem budaya Keraton Kasunanan Surakarta. Ada pula Beskap gaya kulon, dan yang terakhir adalah Beskap landung.

Pakaian Adat Wanita Jawa

Pakaian tradisional wanita Jawa biasanya dipakai untuk acara formal, namun ada pula yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari, serta ada yang bisa dikenakan pada kedua kesempatan tersebut. Beberapa dari jenis baju adat Jawa masih sering dipakai, namun ada pula yang sudah jarang terlihat.

1. Kebaya Jawa

Walaupun berasal dari Jawa, namun penggunaan Kebaya kini bisa ditemukan hampir di seluruh pelosok tanah air. Saat ini model Kebaya telah mengalami banyak modifikasi. Modelnya bisa berupa blus pendek, sedang, maupun tunik. Potongannya bisa pas badan ataupun longgar menyerupai baju kurung.

idntimes.com

Dalam penggunaan sehari-hari, tidak ada patokan khusus untuk mengenakan Kebaya. Pembuatan Kebaya lebih ditujukan pada selera pemiliknya.

Biasanya Kebaya terbuat dari kain yang teksturnya tipis dan cukup transparan. Kebaya biasa dipadukan dengan bawahan berupa kain batik. Di luar Jawa, Kebaya juga bisa dikenakan dengan kain sarung atau songket.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa Kebaya berasal dari budaya Tionghoa. Teruma di kota Batavia, para wanita Tionghoa mengenakan Kebaya yang kemudian dinamakan Kebaya Encim yang menjadi salah satu pakaian adat Betawi. Kemudian penggunaan Kebaya meluas dan modelnya pun menjadi beragam.

Namun jauh sebelum para wanita Tionghoa mempopulerkan Kebaya Encim, wanita Eropa di Batavia juga mengenakan pakaian yang modelnya mirip Kebaya. Pakaian ini adalah gaun Eropa yang bentuknya disederhanakan agar sesuai dengan iklim Batavia.

Salah satu bukti tertulis adalah dari Rafles menyatakan bahwa penggunanan Kebaya sudah ada pada tahun 1817. Kebaya ini terbuat dari bahan brokat, sutra, maupun beludru. Rafles menggambarkan Kebaya sebagai busana dengan bukaan depan yang disatukan dengan bros di bagian dada.

Dulu Kebaya hanya bisa dikenakan oleh kaum bangsawan dan orang berada. Hal ini karena harga kain yang digunakan untuk Kebaya cukup tinggi bagi kebanyakan pribumi. Namun kini Kebaya dapat dikenakan oleh siapa pun, tidak ada batasan dalam berinovasi dengan model dan bahan untuk membuat Kebaya.

Wanita Indonesia pun kini semakin bangga mengenakan Kebaya. Terbukti dengan semakin sering dikenakannya Kebaya, baik dalam acara formal, maupun semi formal.

2. Kemben

Kemben sebenarnya tidak kelihatan saat digunakan. Karena Kemben digunakan untuk menutupi dada dan berada dibagian dalam. Kemben terbuat dari kain panjang yang dipakai dengan cara dililitkan dari dada hingga ke bawah pinggul. Kemben banyak dikenakan oleh wanita di Jawa Tengah.

kemben brilio.net

3. Dodot

Nama lain Dodot adalah Sinjang. Dodot berupa kain batik panjang, fungsinya untuk menutupi tubuh bagian bawah. Penggunaan Dodot masih sering ditemui di Jawa Tengah, terutama pada acara pernikahan adat.