4++ Pakaian Adat Kalimantan Barat – Perkembangan, Makna, Keunikan, Gambar & Penjelasan

Pakaian Adat Kalimantan Barat – Provinsi Kalimantan Barat adalah provinsi dengan terluas ke-4 di Indonesia, setelah Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Luasnya mencapai 146.807 km2.

Suku asli yang bermukim di wilayah ini sebagian besar ialah Suku Dayak yang jumlahnya mencapai 43,1%. Selain itu, ada pula suku lain, seperti Suku Bugis, Daya, Banjar, Melayu, Jawa, Tionghoa, Madura, dan lain-lain.

Kalimantan Barat dijuluki provinsi Seribu Sungai, karena kondisi geografisnya dengan ratusan sungai berukuran besar dan kecil mengalir di wilayahnya. Beberapa sungainya pun hingga kini masih digunakan untuk sarana transportasi yang menghubungkan antar kecamatan, atau menuju daerah pedalaman.

Ragam Suku di Kalimantan Barat

Begitu luasnya wilayah Kalimantan Barat menjadikannya memiliki berbagai suku. Suku-suku ini bukan hanya penduduk asli, banyak pula yang merupakan pendatang dan kemudian menetap, beranak-pinak dan membentuk komunitas etnis di Kalimantan Barat. Meskipun demikian, semua suku berbaur dalam kehidupan sehari-hari.

suku dayak Pixabay

Etnis Dayak adalah penduduk yang paling banyak menempati Kalimantan Barat. Jumlahnya hampir mencapai setengah dari keseluruhan jumlah penduduk. Suku Dayak kebanyakan bermukim di dareah pedalaman.

Sementara itu, Suku Melayu merupakan etnis kedua terbesar dan biasanya tinggal di kawasan pesisir. Suku ketiga yang terbesar adalah Suku Jawa yang merupakan pendatang. Suku Jawa dan keturunannya biasanya bermukim di daerah transmigrasi. Kemudian ada pula Etnis Tionghoa dan keturunannya pada urutan keempat, kebanyakan dari mereka tinggal di daerah perkotaan, seperti Pontianak dan Singkawang.

Perpaduan budaya yang ada di Kalimantan Barat tidak membuat penduduk aslinya meninggalkan tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang. Warisan masa lalu berupa bahasa, kesenian, makanan, hingga pakaian adat Kalimantan Barat masih dipertahankan hingga sekarang.

Pakaian Adat Kalimantan Barat

Suku Dayak mempunyai beberapa jenis pakaian adat. Beberapa diantaranya memiliki corak dan nuansa yang telah berakulturasi dengan budaya Melayu. Pakaian ini biasa dikenakan untuk upacara adat, pernikahan, dan acara lainnya.

Busana Suku Dayak mempunyai makna pemberian kasta yang bisa dilihat dari coraknya. Corak yang menonjol dan lebih meriah menandakan bahwa pemakainya berasal dari kalangan bangsawan, misalnya corak harimau.

1. Pakaian Laki-Laki Suku Dayak

Baju tradisional untuk pria dinamakan dengan King Baba. Nama tersebut berasal dari bahasa Dayak, “king” artinya pakaian, dan “baba” bermakna laki-laki. King Baba terbuat dari kulit kayu pohon kapuo atau bisa juga dari tanaman ampuro. Tentu saja untuk membuat baju adat ini tidaklah mudah.

baju tradisional kalimantan barat beritagar.id

Kulit kayu harus dipipihkan dengan cara dipukul-pukul dengan batu sambil sesekali dicelupkan ke air agar lebih lentur. Setelah dirasa cukup lentur, kulit kayu kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Setelah itu, kemudian dilukis dengan corak etnik khas Dayak yang indah. Selanjutnya kulit kayu dibentuk seperti rompi.

King Baba juga dikenal sebagai baju perang Suku Dayak. Saat mengenakannya, pria Dayak menambahkan ikat kepala dari bulu burung Enggang Gading. Bulu burung Enggang Gading khusus dipilih karena teksturnya yang lembut dan warnanya yang indah. Bulu burung ini bisa menghasilkan ikat kepala yang menawan. Pria Dayak juga membawa senjata tradisional Suku Dayak, yaitu Mandau.

2. Pakaian Perempuan Suku Dayak

Baju adat ini disebut sebagai King Bibinge, bahannya terbuat dari bahan yang sama dengan King Baba, yaitu kulit kayu kapuo atau tanaman ampuro. Cara pembuatannya pun kurang lebih sama, bedanya terletak pada modelnya yang lebih tertutup agar lebih sopan menutupi bagian tubuh perempuan.

pakaian tradisional kalimantan barat taldebrooklyn.com

Setelah dilukis dengan motif khas Suku Dayak, kulit kayu dibentuk menjadi kemben yang digunakan untuk menutup area dada. Lalu dibuat juga rok bawahan dan stagen untuk mengencangkan bagian pinggang. Khusus untuk King Bibinge, bisa dipercantik dengan manik-manik yang terbuat dari biji kering atau kayu.

Untuk aksesoris, perempuan Dayak biasa mengenakan ikat kepala berbentuk segitiga yang juga terbuat dari bulu burung Enggang Gading. Ada pula gelang yang disebut Jarat Tangan, terbuat dari pintalan akar tanaman.

Selain itu, masih ada kalung yang terbuat dari akar tanaman atau tulang hewan. Gelang dan kalung ini bukan hanya sekedar perhiasan, melainkan berfungsi sebagai penolak bala dan gangguan roh jahat.

Kalung yang dikenakan wanita Dayak memiliki jenis yang berbeda-beda. Beberapa di anataranya adalah Tajuk Bulu Area, Tajuk Bulu Tantawan, Gallung Gading, dan Galang Pasan Manik.

3. Indulu Manik

Kalau King Baba dan King Bibinge adalah baju pasangan, ada pula pakaian Suku Dayak yang lain, bernama Indulu Manik. Pakaian adat ini biasa dikenakan saat upacara adat ketika menari atau pertunjukan lainnya. Indulu Manik adalah busana yang didominasi oleh manik-manik di seluruh bagian pakaiannya.

artisanalbistro.com

Pakaian tradisional ini cukup istimewa, karena manik-manik ini berasal dari Pulau Sarawak, Malaysia Timur. Walau salah satu bahannya didatangkan dari negeri lain, namun pakaian ini tetap menjadi warisan budaya yang diturunkan nenek moyang Suku Dayak di Kalimantan Barat.

4. Pakaian Adat Suku Melayu

Banyaknya Suku Melayu yang berasal dari Sambas dan menetap di Kalimantan Barat tentu berpengaruh terhadap budaya asli, salah satunya adalah pakaian adatnya. Untuk acara pernikahan, warga Kalimantan Barat biasa mengenakan pakaian adat yang kental akan nuansa Melayu.

Hal ini bisa dilihat dari penggunaan kain songket khas Melayu, bukan lagi dari kulit kayu dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Pakaian untuk pernikahan ini biasa disebut dengan Telok Belanga untuk bagian atasan, dan Cekak Musang untuk bawahannya.

Perkembangan Pakaian Adat Pria

Seiring dengan perkembangan zaman, pakaian adat Kalimantan Barat juga mengalami modifikasi. Salah satunya adalah King Kabo yang merupakan bentuk modifikasi dari King Baba. Uniknya, nama King Kabo ini diambil dari nama hantu raksasa yang menjadi mitos masyarakat lokal.

Jika King Baba adalah pakaian yang terbuat dari kulit kayu kapuo atau tanaman ampuro, maka King Kabo terbuat dari gabungan kulit kayu dan kain asal Brunei Darussalam yang bernama kain Sungkit, namun model yang digunakan serupa. Selain itu, Kung Kabo juga bisa ditambahkan manik-manik dan pita. King Kabo juga kerap dikenakan saat upacara adat Kalimantan Barat.

Perkembangan Pakaian Adat Perempuan

Pakaian perempuan yang telah berkembang adalah baju kurung yang banyak digunakan warga Melayu. Namun pakaian ini telah mengalami modifikasi.

Di Kalimantan Barat, baju kurung disebut sebagai Buang Kuureng dan biasa dikenakan oleh para wanita. Pakaian tradisional ini terbuat dari kain beludru. Buang Kuureng adalah baju kurung yang terkesan lebih halus, elegan, dan mewah.

Ada 2 jenis Buang Kuureng yang dikenakan wanita Kalimantan Barat. Pertama adalah Kuurung Sapek Tangan, yaitu baju kurung dengan model lengan pendek. Kedua adalah Kuurung Langke Tangan, baju kurung yang berlengan panjang.

Baju Buang Kuureng biasa digunakan para wanita di Kalimantan Barat untuk acara resmi maupun acara yang sifatnya semi formal. Biasanya mereka mengenakan kain songket khas Melayu sebagai bawahan. Warna Buang Kuureng dan kain songket bisa sama persis atau setidaknya selaras.

Keunikan Pakaian Adat Kalimantan Barat

Dari beberapa jenis baju tradisional Kalimantan Barat yang telah dijelaskan diatas, dapat kita tarik kesimpulan mengenai keunikan dari baju tradisional provinsi ini. Berikut ini adalah rangkuman fakta unik mengenai pakaian tradisional Kalimantan Barat, antara lain:

  1. Nama Baju Unik – Dalam bahasa Kalimantan, penyebutan nama baju adat umumnya menggunakan kata “king”. King yang dimaksud bukanlah raja, melainkan arti nama pakaian.
  2. Terbuat dari Burung Enggang – Burung enggang adalah fauna asil Kalimantan yang bulunya sering digunakan sebagai penghias pakaian adat. Corak dan warna bulu burung enggang sangat indah. Namun karena semakin langkanya burung ini dan statusnya yang dilindungi, kini pernak-pernik suku Dayak banyak menggunakan bahan-bahan sintetis.
  3. Terbuat dari Kulit Pohon – Borneo atau Kalimantan adalah pulau yang terkenal dengan hutannya. Hal tersebut tercermin dalam baju adat yang menggunakan bahan-bahan dari alam, seperti kulit tanaman, contohnya adalah tanaman ampuro dan kayu kapuo.
  4. Makna & Filosofi – Pakaian adat Kalimantan Barat masing-masing mempunyai makna dan filosofi sesuai tradisi dan peradaban. Beberapa baju tradisional pria dibuat sebagai wujud kegagahan, keberanian, ketangguhan, keteguhan hati dan sebagainya. Sedangkan baju wanita mencerminkan kecantinkan, keanggunan, kesopanan dan kerendahan hari.