7++ Pakaian Adat Sumatera Utara – Ragam Baju Tradisional Berbagai Suku

Pakaian Adat Sumatera Utara – Sumatera Utara adalah provinsi dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di Indonesia dibawah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sensus tahun 2019, penduduknya mencapai jumlah 14.908.036 jiwa.

Beragam suku tinggal di wilayah Sumatera Utara, seperti Suku Batak Toba, Karo, Mandailing, Nias, Melayu, Pakpak, Simalungun, dan lain-lain. Ada pula keturunan pendatang dari Tionghoa, Arab, dan India.

Dengan keragaman budaya yang dibawa oleh masing-masing etnis, maka percampuran tradisi pun tak dapat dihindari. Meski begitu tiap-tiap suku tetap mempertahankan ciri khas masing-masing, semuanya memiliki tradisi yang unik, menarik, dan patut dibanggakan. Salah satunya adalah warisan kebudayaan berupa pakaian adat Sumatera Utara dari setiap suku yang terus lestari hingga saat ini.

1. Baju Adat Suku Batak Toba

Seperti namanya, suku ini bermukim di kawasan sekitar Danau Toba. Pakaian adat yang dikenakan sangat khas, karena menggunakan jenis kain yang berbeda, yaitu kain hasil tenunan yang dinamakan kain Ulos.

Baju Adat Suku Batak Toba detik

Kain Ulos adalah kain yang ditenun secara manual dengan bantuan peralatan tenun tradisional. Bahan dasarnya adalah benang sutra. Suku Batak Toba umunya menggunakan benang berwarna hitam, putih, merah, emas, dan perak untuk kain Ulos.

Kain Ulos telah menjadi ciri khas Suku Batak, bahkan untuk baju tradisional Sumatera Utara secara keseluruhan. Pakaian yang terbuat dari kain ulos serta menjadi kebanggaan Suku Batak Toba ini bisa dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, maupun saat upacara adat.

Kain Ulos memiliki corak yang berbeda-beda, antara lain adalah kain Ulos Padang Ursa, Pinan Lobu-Lobu, Pinuncaan, Antakantak, Bintang Maratur, dan Bolean. Setiap kain Ulos dikenakan pada kesempatan yang berbeda-beda, karena smempunyai makna dibaliknya.

Saat acara adat, kain Ulos biasanya digunakan sebagai selendang. Kain yang biasa digunakan adalah Ukia Ragihotang, Sadum, Jugjaragidup, dan Runjat.

Dalam perkembangannya, kain Ulos tidak hanya digunakan sebagai selendang. Saat ini kita bisa dengan mudah menemukan penggunaan kain Ulos untuk souvenir, seperti pakaian, dimpet, dasi, tas, ikat pinggang, sarung bantal, hingga gorden. Selama bertujuan untuk melestarikan warusan budaya, tentu hal ini tetap baik. Karena saat ini ada beberapa jenis kain Ulos yang sudah punah karena tidak diproduksi lagi.

2. Pakaian Tradisional Suku Karo

Suku Karo juga memiliki kain khusus yang terbuat dari pintalan kapas, kain ini disebut Uis Gara. Uis Gara mempunya arti kain merah, karena dalam pembuatannya menggunakan benang merah.

weddingku.com

Warna dasar merah ini kemudian dipadukan dengan warna benang lainnya, seperti emas dan perak agar tampak lebih menarik. Walaupun Uis Gara dominan dengan warna merah, tetapi ada juga yang berwarna hitam dan putih.

Suku Karo mengenakan Uis Gara dalam kegiatan sehari-hari mereka serta untuk upacara adat resmi. Jenis dan cara penggunaannya berbeda di setiap kesempatan.

3. Pakaian Adat Suku Mandailing

Suku ini tinggal di kawasan Mandailing, Tapanuli Selatan, dan Padang Lawas. Pakaian adat yang digunakan Suku Mandailing sebenarnya hampir sama dengan Suku Batak Toba, karena Suku Mandailing juga mengenakan kain Ulos. Akan tetapi Suku Mandailing menambahkan aksesoris untuk melengkapi penampilan mereka.

priceprice.com

Aksesoris yang dikenakan wanita Mandailing saat upacara adat adalah Bulang. Bulang terbuat dari emas sepuhan atau logam lainnya dan dikenakan di kening. Bulang memiliki makna kemuliaan dan juga sebagai simbol struktur kemasyarakatan.

Sementara itu, kaum pria Mandailing juga mengenakan hiasan di kepala yang diberi nama Ampu. Ampu adalah penutup kepala yang di masa lalu hanya bisa dikenakan oleh raja Mandailing dan Angkola. Ampu berwarna hitam dengan hiasan emas yang melambangkan kebesaran.

4. Baju Tradisional Suku Nias

Suku Nias adalah etnis yang bermukim di Pulau Nias, letaknya di sebelah barat Pulau Sumatera. Karena terpisah, Suku Nias memiliki tradisi yang berbeda dari suku-suku di Sumatera Utara lainnya. Jika suku lain menggunakan warna merah pada banyak pakaian adat Sumatera Utara, maka Suku Nias umumnya menggunakan warna kuning dan emas.

Baju Tradisional Suku Nias dailysatu.com

Wanita dari Suku Nias memiliki pakaian tradisional yang diberi nama Oroba Si Oli. Oroba Si Oli adalah kain yang terbuat dari kulit kayu atau blacu berwarna hitam.

Keistimewaan baju adat ini terletak pada penggunaan aksesorisnya. Wanita Nias mengenakan Oroba Si Oli dengan tambahan gelang kuningan yang bernama Aja Kola. Lalu, apa yang membuat gelang ini unik? keunikannya terdapat pada berat gelang yang mencapai 100 kilogram.

Bukan cuma Aja Kola, wanita Nias juga mengenakan anting logam berukuran besar yang dinamakan Saro Delinga. Penampilan mereka kemudian disempurnakan dengan menyanggul rambut tanpa disasak terlebih dahulu. Kemudian mereka mengenakan mahkota untuk hiasan kepala.

Sementara itu, kaum pria Suku Nias mempunyai pakaian adat yang disebut Baru Oholu. Baju tradisional ini terbuat dari kulit kayu dan berbentuk rompi tanpa kancing dan penutup lainnya.

Baru Oholu hanya tersedia dalam 2 warna, yaitu coklat dan hitam dengan hiasan ornamen berwarna merah, kuning, dan hitam. Pria Nias juga mengenakan aksesoris untuk memperindah penampilan mereka. Aksesoris tersebut berupa kalung dari kuningan yang dinamakan Kalabubu.

5. Pakaian Tradisional Suku Pakpak

Suku Pakpak bermukim di kawasan Pakpak Barat dan Dairi. Suku Pakpak juga memiliki kain yang dinamakan kain Oles. Untuk wanita, pakaian adatnya disebut dengan Cimata. Sementara untuk pria disebut dengan Borgot.

Pakaian Tradisional Suku Pakpak modelbaju.id

Dalam mengenakan pakaian adat mereka, Suku Pakpak juga menambahkan aksesori berupa kalung yang terbuat dari emas dan bertahtakan batu permata. Jenis baju tradisional suku pakpak juga menjadi salah satu warisan budaya Sumatera Utara.

6. Pakaian Adat Suku Simalungun

Suku yang bermukim di kawasan Simalungun ini juga menggunakan kain Ulos sebagai bagian dari pakaian adat mereka. Namun oleh Suku Simalungun, kain ini disebut sebagai Hiou.

Pakaian Adat Suku Simalungun borneochannel.com

Bedanya dengan Suku Batak Toba ialah Suku Simalungun menambahkan kain samping yang disebut Suri-Suri untuk melengkapi penampilan mereka. Aksesoris yang dikenakan kaum wanitanya adalah Bulang yang dipakai di kening, sementara para pria mengenakan Gotong.

7. Baju Adat Suku Melayu

Keturunan Melayu tersebar di seluruh wilayah Pulau Sumatera. Di Sumatera Utara, Suku Melayu kebanyakan bermukim di Kota Tebing Tinggi, Batu Bara, Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang dan Bedagai. Seperti yang telah menjadi ciri khas pakaian adat Melayu, di Sumatera Utara pun Suku Melayu mengenakan baju kurung dilengkapi dengan kain songket.

Baju Adat Suku Melayu pinterest

Khusus untuk para wanita, baju kurung yang dikenakan terbuat dari kain brokat atau kain sutra. Untuk mempercantik penampilannya, ditambahkan sematan peniti yang terbuat dari emas. Selain itu, para wanita Melayu juga menambahkan kalung dengan motif rantai serati, sekar sukun, mentimun, tanggang, dan corak lainnya.

Sementara itu, para pria dari Suku Melayu menambahkan penutup kepala sebagai aksesoris. Penutup kepala ini bernama Tengkulok yang terbuat dari songket dan mempunyai makna kebesaran dan kegagahan pria.

Selain Tengkulok, ada juga Destar yang terbuat dari rotan dan dibalut dengan kain beludru. Laki-laki Suku Melayu juga menambahkan hiasan rantai, kilat bahu atau lengas, dan sidat sebagai lambang keteguhan hati laki-laki yang tidak mudah goyah.