Katak maupun kodok merupakan hewan amfibi dengan kemampuan hidup di dua alam. Meski sering dianggap sama, namun keduanya berbeda. Lalu, apa perbedaan katak dan kodok? Berikut ini adalah penjelasan ilmiahnya.

Oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, kodok dan katak sering dianggap sama atau istilahnya saling tertukar. Hal ini wajar, karena kedua spesies dengan kemampuan hidup di daratan dan perairan ini sekilas mempunyai bentuk yang sama.

Mengenal Katak dan Kodok

Istilah “katak” dan “kodok” diambil dari istilah dalam bahasa Inggris, yakni “frog” dan “toad”. Frog atau katak adalah penyebutan untuk hewan amfibi dari suku Ranidae dengan ciri utama berkulit mulus dan sanggup melompat jauh. Sedangkan, Toad atau kodok adalah penyebutan untuk hewan amfibi dari suku Bufonidae dengan ciri utama berkulit kasar dan lompatannya pendek.

Berbeda dengan Inggris yang hanya memiliki jenis dari kedua suku tersebut, ternyata tidak semua katak dan kodok di Indonesia hanya berasal dari suku Ranidae dan Bufonidae. Misalnya yang berasal suku-suku dari ordo Anura, termasuk Dicroglossidae yang menaungi katak sebesar ayam di Enrekang (Limnonectes grunniens).

Oleh karena itu, penyebutan “kodok” di Indonesia digunakan untuk spesies yang lebih dekat dengan suku Bufonidae, serta penyebutan “katak” digunakan untuk spesies yang lebih dekat dengan Raniade, Microhylidae dan Racophoridae.

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasAmphibia
OrdoAnura
katak Pixabay

Katak dan kodok merupakan spesies dari bangsa Anura yang tersebar hampir ke seluruh dunia. Secara umum, hewan ini memiliki ciri sebagai berikut:

  • Tubuh pendek dan lebar, terdiri dari kepala, badan, dan memiliki dua pasang tungkai yang tungkai belakangnya lebih besar.
  • Kaki berselaput digunakan untuk melompat dan berenang
  • Memiliki pita suara yang digunakan jantan untuk mengeluarkan suara dan menarik perhatian betina
baca juga:  Buah Matoa - Jenis, Manfaat dan Cara Budidaya

Keduanya bertelur di perairan tenang. Telur-telur yang menetas akan tumbuh menjadi larva yang dikenal dengan nama berudu. Selanjutnya, berudu akan mengalami metamorfosis menjadi katak atau kodok dewasa.

Perbedaan Katak dan Kodok

Dalam istilah Bahasa Indonesia, belum ada kesepakatan penggunaan sebutan “katak” atau “kodok”. Sebab, penyebutan keduanya mengacu pada penamaan dari Bahasa Jawa. Misalnya, di Jawa Barat katak dan kodok disebut bangkong, sedangkan bancet merupakan sebutan untuk katak kecil atau kodok kecil. Sementara itu, di Jawa Tengah katak kecil atau kodok kecil disebut percil.

Untuk membedakan katak dan kodok, kita dapat mengetahuinya dengan cara melihat ciri fisik atau morfologi keduanya, seperti bentuk tubuh, bentuk kaki belakang, kulit, kemampuan melompat, serta habitat hidupnya.

PerbedaanKatakKodok
KulitMemiliki kulit yang halus dan cenderung lembapSecara umum memiliki kulit kasar
Kulit katak berlenderKulit berbintil dan kering, sehingga dapat bertahaian lebih lama di tempat kering
Warna kulit bervariasi (hijau zaitun, kuning, abu-abu, serta cokelat)Warna kulit umumnya cokelat
Bentuk TelurTelur bergerombol seperti buah anggurBentuk telurnya memanjang, mirip rantai dan berada disekitar tanaman air
Betina katak akan membawa telur-telur di punggung dan meninggalkan kecebong setelah lahirKodok tidak meninggalkan anak-anaknya meski telah menjadi kecebong
Bentuk TubuhMemiliki tubuh ramping dan terlihat “atletis”Memiliki tubuh gemuk berisi dan pendek
JariUjung jari berbentuk bulat kecilBentuk ujung jari seperti cakar
Berfungsi untuk menempel di pepohonanJari berfungsi untuk menggali
TungkaiMemiliki tungkai belakang kuat dan panjangMemiliki tungkai belakang pendek
Tungkai disertai selaput untuk berenang
Cara BergerakBergerak dengan melompat dan jarang merangkakBergerak dengan merangkak
Lompatan katak lebih panjang dari ukuran tubuhnyaLompatannya lebih pendek dari panjang tubuhnya
RacunTidak beracunBeberapa jenis kodok mempunyai racun yang terletak di kelenjar pada bagian leher dan pundak
HabitatHidup di pohon, sungai, danau, rawa, sawahHidup di tepi sungai, sekitar rumah, dan kayu lapuk
Bahan MakananDapat dimakanCenderung tidak dimakan, karena beberapa jenis kodok mengandung racun
baca juga:  Lahan Basah - Pengertian, Jenis Serta Pengelolaannya
kodok Pixabay

Perbedaan fisik diatas tidak selalu benar. Sebab, pada beberapa spesies kodok seperti kodok merah (Leptophryne cruentata) yang sering disebut sebagai katak merah atau dalam bahasa Inggris bernama Bleeding Toad atau Fire Toad. Padahal jika dilihat dari ciri fisiknya, spesies ini mempunyai kaki belakang yang ramping. 

Kodok dan katak merupakan amfibi yang bernapas menggunakan kulit. Oleh karena itu, meski dapat bertahan di daratan (terutama kodok), tetap memerlukan kelembapan untuk bernapas. Di Indonesia, terdapat satu spesies yang benar-benar murni akuatik atau hidup di dalam air, yaitu Barbourula kalimantanensis atau katak tak berparu.

Perbedaan antara kodok dan katak juga dapat diketahui berdasarkan ciri lain, seperti suara kodok yang lebih keras dan berisik daripada katak, bau kodok yang lebih tajam dibanding katak, perilaku katak lebih agresif dibandingkan kodok, katak memiliki lidah lebih panjang daripada kodok, dan perbedaan-perbedaan spesifik lainnya.

Manfaat Katak dan Kodok

Indonesia memiliki sekitar 450 jenis katak dan kodok. Jumlah ini mewakili 11 persen keseluruhan bangsa Anura di dunia. Sebagai pemakan serangga, keduanya memiliki peran penting bagi ekosistem alam dan dapat menjadi pengendali hama. Hal ini memberikan manfaat bagi bidang pertanian, karena serangga hama akan berkurang dengan adanya populasi katak dan kodok di persawahan.

Selain itu, katak maupun kodok juga menjaga lingkungan rumah dari wabah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, kecoa, hingga rayap. Tidak jarang beberapa orang sengaja membuat habitat buatan agar hewan-hewan ini datang dan hidup di sekitar rumah. Caranya adalah dengan membuat kolam atau pot yang berisi tumbuhan air.

baca juga:  Buah Sukun - Asal Tanaman, Klasifikasi, Kandungan & Manfaat

Katak dan Kodok Semakin Terancam

Berdasarkan beberapa penelitian, kini keberadaan katak dan kodok kian terancam. Ada empat faktor utama yang menyebabkan gangguan terhadap populasi keduanya, yaitu:

  1. Hilangnya habitat dan lahan basah yang disebabkan oleh eutrofikasi, pencemaran, introduksi ikan asing, penggundulan hutan akan menyebabkan populasi kodok dan katak menurun.
  2. Pencemaran dan radiasi UV-B di negara industri akan menyebabkan hujan asam yang mematikan embrio amfibi dan berudu.
  3. Pencemaran yang disebabkan oleh sampah akan membahayakan kehidupan katak dan kodok. Hewan amfibi ini rentan terhadap senyawa logam berat, petroleum, herbisida dan pestisida dibanding dengan ikan.
  4. Indonesia merupakan negara eksportir paha katak beku dunia dengan total 4 ribu ton per tahun. Jika populasi tidak berkembang dengan baik, tentu akan memberikan ancaman bagi populasi katak.

Meski memiliki keragaman spesies katak nomor satu di dunia, ternyata 10 persen spesies katak di Indonesia terancam punah. Totalnya adalah 450 spesies yang telah diidentifikasi yang 178 jenis diantaranya hidup di Kalimantan dan sekitar 73 persennya merupakan katak endemik.

Hampir 30 persen katak di Indonesia masuk dalam daftar IUCN Redlist sebagai katak yang belum terdidentifiaksi secara lengkap. Ancaman kepunahan ini juga dipengaruhi oleh faktor perubahan iklim dan upaya konservasi yang minim.

Referensi: berbagai sumber

Apa Perbedaan Katak dan Kodok? Ini Penjelasan Lengkapnya
5 (100%) 2 vote[s]