46++ Puisi Tentang Alam – Terbaik, Terlengkap & Terbaru

Puisi Tentang Alam – Menulis puisi alam merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan ketakjuban akan keindahan alam dan segala isinya. Makna puisi dapat ditujukan sebagai wujud rasa syukur dan cinta terhadap kekayaan alam yang diberikan oleh Tuhan.

Tulisan-tulisan berupa syair, sajak dan puisi alam juga dapat menyampaikan pesan-pesan moral akan pentingnya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati, serta bagaimana memahami dan senantiasa bersahabat dengan alam.

Berikut ini adalah kumpulan contoh puisi tentang alam terbaik yang dapat digunakan sebagai referensi belajar terlengkap dan terbaru, antara lain:

Senja Yang Indah

Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta

Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam

Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan
Di sudut langit yang tipis berawan
Hiasan terbesar sepanjang zaman

Sang Bulan Mengusap Lukaku

Senyuman manis sang bulan menyapaku
Begitu indah mekarkan suasana hatiku
Sejenak kuterdiam termangu
Memandang indahnya yang tak pernah jemu

Sinarmu terpancar mengusir gelap
Menembus malam hadirkan terang
Kunikmati cahayamu hangatkan malamku
Bahagiakan rongga hati ini yang tersinari

Bulan, belailah jiwaku ini
Yang begitu tegang menjalani hari
Usaplah sesaknya asmara di dada ini
Keringkanlah luka menganga dihati ini

Bulan, memandangmu membuatku mengerti
Bahwa keindahan tak harus selalu didekati
Bahwa keindahan tak harus selalu dimiliki
Namun hanya untuk sekedar di pandang dan dikagumi

Senja, Keindahan Yang Tidak Terganti

Siang mulai berganti
Warna langit pun berubah menjadi jingga
Burung-burung silih berganti terbang di tengah warna jingga yang kian melebur di langit sana
Siapa saja yang melihatnya, akan takjub dibuatnya
Waktu terus berlari
Warna jingga pun terkikis secara perlahan

Potongan Surga Nusantara

Masih dalam renungan pagi
Saat burung berkata merdu
Menyanyi kicau sendu
Tentang alam hari ini

Disana terhampar potongan surga
Terlukis dalam ranah keindahan
Langit selaksa biru nan indah
Awan berarak mengikuti sang angin

Padi menunduk dalam kebersahajaan
Terhampar diatas permadani kuning alam pesawahan
Gunung terlihat gagah menjulang penuh digdaya
Pepohonan hijau berbaris menanti sang matahari

Inilah Indonesiaku, potongan surga yang Tuhan kirimkan kepada rakyat kita
Inilah Indonesiaku, keindahan lukisan Tuhan yang tergores di kanvas negeriku
Inilah Indonesiaku, hamparan keindahan yang menghias tanah airku
Inilah Indonesiaku, tanah kebanggaan hingga maut mengakhiri perpisahan

awan langit Pixabay

Awan

Bertebaran di angkasa
Putih, kelabu, dan hitam
Warna -warna menawan
Bergelombang mengombak-ombak

Tebal dan sangat indah
Bahkan sang bagaskara tak terlihat
Pelangi terlihat tak penuh
Karena sang selimut menutupinya

Jauh disana
Menyelimuti jagat raya
Tebal tipis
Beredar dimana-mana

Indah bukan buatan
Ingin rasanya memeluknya
Lembut dan menawan
Indah tak terperikan

Sawah

Sawah di bawah emas padu
Padi melambai, melalai terlukai
Naik suara salung serunai
Sejuk di dengar, mendamaikan kalbu

Sungai bersinar, menyilaukan mata
Menyamburkan buih warna pelangi
Anak mandi bersuka hati
Berkejar-kejaran berseru gempita

Langit lazuardi bersih sungguh
Burung elang melayang-layang
Sebatang kara dalam udara
Desik berdesik daun buluh
Di buai angin dengan sayang
Ayam berkokok sayup udara

Lukaku Diusap Sang Bulan

Aku melihat senyuman manis sang bulan seakan-akan menyapaku
Senyumannya terlihat sangat indah membuat hatiku serasa mekar

Aku pun terdiam
Memandang indah sang bulan yang tidak pernah jemu
Sinarnya seakan-akan mengusir gelap malam ini

Kunikmati cahayanya menghangatkan tubuh dan malamku
Serta hati ini terasa bahagia karena ia menyinari malam ini

Bulan, kenapa kau memandangku seperti itu?
Membuatku tidak mengerti dibuatnya

Bahwa setiap keindahan tidak harus senantiasa didekati
Bahwa keindahan tidak harus senantiasa dimiliki
Namun hanya sekedar untuk dipandang dan dikagumi dari kejauhan

Kemana Perginya Alam Lestari

Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biru
Kiri kanan sawah, tengahnya sungai
Di antara gunung matahari terbit malu-malu

Namun sekarang kemana?
Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan
Kini tanahku berwarna abu
Lama kucari tanah becekku

Tapi kenapa sekarang tak nampak?
Cemara kehidupan tinggi menjulang
Menjadi rumah bagi banyak hewan buatan Tuhan

Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh
Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu
Mengapa bisa begitu?

Sering banjir, sering longsor
Di barat ada asap bikin marah tetangga
Padahal dahulu tidak begitu
Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu

Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih
Menanggung pilu sambil tertatih
Anak-anaknya nakal semua
Biar dimarahi tapi tak pernah jera

pantai pasir putih Pixabay

Pantai

Ditepi pantai kupejamkan mata
Lelah tak tau harus berbuat apa
Tergeletak dihamparan pasir
Dihiasi dengan ribuan sampah

Dari Bentangan Langit

Dari bentangan langit yang semuIa
Kemarau itu datang kepadamu
Tumbuh perlahan
Berhembus amat panjang
Menyapu lautan

Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan!
Mengekal tanah berbongkahan! Datang kepadamu
Ia, kemarau itu dari Tuhan, yang senantiasa diam dari tangan-Nya.
Dari tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap.
Yang tak menoleh barang sekejap.

Keindahan Alam Indonesia

Saat aku membuka mataku
Ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berpikir bahwa aku masih bermimpi
Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku

Sungguh indah kepulauan ini
Ribuan pulau-pulau berjajar
Membentuk gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur

Samudra luas membentang dengan air yang biru
Dan berisi keindahan di bawahnya
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Aku berjanji aku akan menjagamu

Tempat Berpijak

Mataku terbuka
Dengan alam manja menyapa
Tumbuhan subur
Memberi kenyamanan jiwa
Pohon pohon berseri

Di sudut pulau
Di seberang sana
Hewan dan tumbuhan saling bercengkrama
Rotasi perputaran hidup yang damai
Senang
Lepas dan damai

gunung merbabu satyawinnie.com

Tanah Airku

Angin berdesir dipantai
Burung berkicau dengan merdu
Embun pagi membasahi rumput-rumput
Itulah tanah airku

Sawahnya menghijau
Gunungnya tinggi menjulang
Rakyat aman dan makmur

Indonesiaku
Tanah tumpah darahku
Jaga dan rawatlah selalu

Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan
Disanalah aku menutup mata
Oh, tanah airku tercinta
Indonesia Jaya

Permainya Desaku

Sawah mulai menguning
Mentari menyambut datangnya pagi
Ayam berkokok bersahutan
Petani bersiap hendak ke sawah

Padi yang hijau siap untuk dipanen
Petani bersuka ria beramai–ramai memotong padi
Gemercik air sungai begitu beningnya
Bagaikan zamrud khatulistiwa

Itulah alam desaku yang permai

Bulan dan Matahari

Siang, sering mengingatkan aku kepada matahari
Manakala malam, sering mengingatkan aku kepada bulan
Keduanya saling melengkapi siang dan malam

Matahari tidak pernah lelah, membiaskan cahayanya di kala siang
Manakala bulan tidak pernah lupa, menerangi malam malam ku

Percaturan alam tidak pernah silap, bulan dan matahari

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini, Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini, kau tak akan letih-letihnya kucari

Namaku Alam

Perkenalkan, namaku adalah alam
Aku adalah tempat tinggal bagi flora dan fauna
Dimana bagi hewan-hewan aku adalah rumah mereka
Tempat mereka bertumbuh, berkembang biak, dan mencari makan
Melakukan semua aktivitas kehidupan alam

Bukan hanya hewan, tumbuhan pun merasakan hal yang sama
Bagiku, tumbuhan adalah perhiasanku
Dan hewan, adalah peliharaanku

Aku juga slalu memberi kesejukan bagi penduduk bumi
Aku memberikan oksigen bagi manusia
Aku juga memberikan sumber daya bagi mereka
Memberikan mereka energi, kekuatan, perhiasan
Dan segalanya yang mereka butuhkan

Semua itu adalah pada saat bumi masih dalam keadaan stabil
Ketika bumi tidak dipenuhi orang orang serakah
Menggunakan sumber dayaku sesuai kebuhannya saja

Tapi kini…
Manusia hanya memikirkan kepentingannya sendiri
Mereka tak pernah memikirkan aku
Mereka slalu ingin lebih atas apa yg telah diberi oleh-Nya

Ketamakan, kerakusan, pemborosan
Telah membawaku kepada kerusakan
Lihat apa yang telah mereka perbuat padaku
Setelah apa yang aku berikan pada mereka

Mereka membalasnya dengan merusakku
Menebang pohon pohonku
Memberikan polusi padaku
Memburu hewan hewanku
Dan merusak ozonku dengan zat zat yang dulu tak pernah ada di bumi ini

Sungguh perih hati ini rasanya
Apakah tak ada kesadaran sedikit pun dihati mereka?
Apakah tak ada rasa iba mereka atas rusaknya diriku?
Sungguh, sungguh, dan sungguh sangat miris hati ini

anak suku anak dalam yellowdoor.co.id

Indonesiaku

Indonesia pesona negeri nan indah
Cantiknya negeri membuat dunia terpesona
Ragam budaya, ragam musik, ragam tarian dan bahasa
Penuh mengisi indahnya nusantara

Hutan yang asri, gunung yang hijau, lautan yang biru, dan semua kekayaan alamnya tetap terjaga dan lestari
Negeri dengan sejuta simponi, betapa indahnya negri ini
Indonesa
Indahnya Indonesia

Indonesiaku Hijau

Secercah harapan kunanti
Melihat Indonesiaku hijau
Kapan dan kapania semakin tua

Oh, Indonesia
Kulihat engkau memutih
Tergerai dentuman industri
Engkau semakin redup

Oh, Indonesia
Kapan aku menatapmu hijau
Dengan semburat angin sepoi
Kuingin habiskan sisa hidupku
Tuk melihatmu tersenyum

Alam Dilembah Semesta

Angin dingin kelam berderik
Kabut putih menghapus mentari
Tegak cahyanya menusuk citra
Pahatan Gunung memecah langit
Berselimut awan beralas zamrud

Tinggi… Tajam…
Sejak waktu tidak beranjak
Di sanalah sanubari berdetak
Sunyi sepi tak beriak

Cermin ilusi di atas danau
Menikung pohon yang melambai warna
Di celah kaki-kaki menjejak karya-Nya

Di manakah aku berada?
Di mana jiwa tak mengingat rumah
Di saat hidup serasa sempurna

Sungguh jelita permadani ini
Terbarkan pesona di atas cakrawala
Tak berujung di pandang lamanya
Serasa bertualang di negeri tak bertuan alam

Inilah Tanah Airku

Di tepi pantai angin berdesir
Kicauan merdu suara burung terdengar saling bersahutan
Rumput-rumput dibasahi oleh embun pagi
Inilah tanah airku

Hijaunya hamparan sawah
Tingginya gunung yang menjulang
Serta rakyatnya yang aman dan makmur
Inilah tanah airku

Jagalah dan rawatlah ia selalu
Karena di sana lah aku dilahirkan serta dibesarkan
Dan di sana pula lah aku akan menutup mata
Oh tanah airku, itulah Indonesia

Derai Cemara Udang

Angin pantai disela gerimis mendera pelan
Sejenak berteduh di bawah pohon-pohon cemara udang
Kemudian lenyap ke arah gubuk-gubuk bambu yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai

Senja ini, tiada yang romantis atau membiuskan angan ke dalam khayal yang beku
Dan ratusan hari terkubur diam

Pantai ini telah sepi
Hanya derai cemara udang
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda
Tidak juga menjadi hujan deras

Ada yang berubah!
Pantai ini merubah dirinya menjadi teduh, hijau dan di beberapa sudut tumbuh padang rumput
Ada cemara udang, perahu nelayan yang sepuluh tahun yang lalu belum kulihat
Ini adalah pantai kenangan

Sabda Bumi

Belum tampak mendung merenung bumi
Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap jiwa-jiwa penuh rindu
Hangatkan dahaga raga yang sendu merayu

Bulan tak ingin membawa tertawa manja
Kala waktu enggan berkawan pada hari
Saat bintang bersembunyi sunyi sendiri
Terhapus awan gelap melahap habis langit

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menyerang terang
Tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari
Bersama untaian senandung salam alam pagi

Bencana Melandaku

Lewat suara gemuruh di iringi debu bangunan yang runtuh
Tempatku nan asli terlindas habis
Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap
Kau lalap habis aku kehilangan segalanya

Mata dunia terpengarah menatap heran
Memang kejadian begitu dahsyat
Bantuan dan pertolongan mengalir
Hati manusia punya nurani

Tuhan… Mengapa semua ini terjadi?
Mungkin kami telah banyak mengingkarimu
Mungkin kami terlalu bangga dengan salah dan dosa-dosa
Ya Tuhan, ampunilah kami dalam segala dosa

Indahnya Alam Negeri Ini

Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk, tenang, senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna

bajak sawah Pixabay

Petani Desa

Kumpulan orang-orang desa mencangkul
Memetak-metak sawah
Irigasinya digunakan sebagai permainan bocah-bocah di sana
Semua riang tanpa beban

Air di sungai gemericik terasa syahdu
Mengiringi burung burung bersenandung
Gurauan petani dan bocah bocah polos
Bertelanjang kaki bersama alam
Merasakan nuansa 
Harmoni

Puisi Pantai

Kubiarkan ombak mengusap kedua kakiku
Seperti menari-nari dalam buaian keriaan

Kalbumu kupandang jauh
Jauh di ufuk kebiruan berpadu yang menyatukan langit dan laut
Namun waktu pun sekejap berlalu beranjak dari pesona

Dengan hamparan pasir putihmu
Debur ombak yang berdebar dan keceriaan anak-anak tertawa
Tersenyum serta lesung pipimu
Bak guratan pasir jemari-jemari lentik yang sesekali gelombang menyapanya

Waktu yang tak pernah kembali berjalan bahkan berlari
Ijinkanlah kutemui
Bukan sekedar untaian mimpi
Kan kubasuh kakiku di pantaimu

Lautan Indah dan Tenang

Lautan yang indah dan tenang
Terlihat ikan yang sedang bergurau riang
Dibalik terumbu karang yang tampak kokoh
Bersama tanaman laut yang bergerak indah

Manusia yang melihat itu sangat terpesona
Ikan ikan berenang dengan ceria
Air laut tampak tenang dan tidak bergelombang
Suasana lautan sangat nyaman dan tenang

Panorama Alam Kintamani

Ketika ku memasuki areamu
Kuhirup hawa sejuk
Mengalir langsung ke relung hatiku
Seakan-akan alam semesta ramah menyambutku

Wow ajaib karya Tuhan
Dia telah merancangkan segala yang luar biasa
Lihatlah karya tangan-Nya
Panorama alam Kintamani

Amazing… Kintamani begitulah orang menyebut dirimu
Rangkaian pegunungan, pepohonan, bunga-bunga menyemarakkan alam Kintamani

Melihatmu… Menikmatimu…
Sungguh dapat melepaskan stress
Memberi ruang baru dalam hidupku
Memberi kesegaran jiwa raga
Terimakasih Kintamani
Syukur bagi-Mu Sang Maha Kuasa

Tangan Tak Bertanggung Jawab

Hancur segalanya
Akibat yang sederhana
Namun berat nan besar
Terlihat biasa namun menghancurkan

Udara yang segar kini tak terhirup kembali
Burung yang sering berkicau kini tak tampakkan keelokkannya lagi

Api membara, terus membakar
Khalayak rayap pemusnah
Harapan yang musnah

Ribuan orang penuh kesedihan
Tangis menyayat hati
Kesengsaraan bertubi-tubi
Bagai beban diatas gunung yang tertimbun padat
Bagai punuk gunung

Hamparan padang rumput subur nan hijau
Telah berubah hitam
Tak terlihat jernihnya air
Tak terlihat habitat disana

Mereka pergi mencari perlindungan
Jangan salahkan! Bila mereka mengancam warga
Memangsa hewan ternak hinggga berbuat kerusakan

Mereka berlarian mencari makanan
Kehidupannya telah direnggut oleh tangan tangan tak bertanggungjawab
Sungguh siksaan bagi hewan-hewan disana

Puisi Melodi Senja

Menampakkan diri bukanlah hal yang sulit
Senja, tidak akan lupa dimana ia harus terlihat indah
Jingga yang terlukis, terpatri dalam jiwa cintanya
Sedetik, dua detik dia akan dibenci

Namun, kebenciannya selalu dirindukan
Penikmat senja selalu menanti kehadirannya
Nuansanya mendominasi Nabastala seantero jagat raya

Indonesiaku, Tanah Airku

Pesonanya nan indah, itulah Indonesiaku
Membuat dunia terpesona akan kehindahannya
Budayanya yang beragam
Musiknya yang beragam
Tarian serta bahasanya pun beragam
Itulah tanah airku

Hutannya yang tumbuh asri
Gunung-gunung yang menjulang hijau
Lautannya yang biru terhampar
Serta semua kekayaan alamnya mengisi indahnya nusantara

Tetaplah engkau terjaga serta lestari
Negeri yang terkenal dengan sejuta simponi
Sangat indah negeriku ini
Oh Indonesia
Kau lah negara yang sangat indah, tanah airku

kawasan konservasi Pixabay

Puisi Tentang Rasa dan Frasa Alamku

Dari sudut perkotaan yang hingar bingar
Menurunkan radar pada puncak se antero jagat
Tragis! Sorakku berdengung
Menuai hasil buruk setelah dijajah oleh penguasa tak bertuan

Menangis!
Alam mulai menangis
Menyadari bumi yang semakin goyang
Namun, laut menjawabnya
Melalui ombak yang kian menari

Indah jika ku gabungkan bersama lembayung senja
Tropisnya Negeri, meminang aksa untuk berkunjung
Detakmu kini. Membuatku semakin yakin
Akan hal alam yang menyeka ku untuk bersujud.
Terima kasih Alam
Terima kasih Bumi
Engkau menjadi penguat dari kekuatan rasa, cinta manusia pada setitik kisah dari manisnya lautan hijau

Global Warming

Oleh Dhimas Mega Putra

Makin canggih peradaban teknologi
Makin banyak terdapat polusi
Kini pemanasan global terjadi
Di seluruh bagian Bumi ini

Manusia tak sadar perbuatannya
Yang merusak lingkungannya
Hewan dan tumbuhan juga merasa
Lingkungannya dirusak manusia

Panas menyengat kulit manusia
Bencana terjadi dimana-mana
Semoga saja semua manusia
Takkan lagi merusak lingkungannya

Keindahan Alam

Batapa indahnya alam ini
Laut berombak-ombak
Awan berarak-arak
Udara segar bertiup-tiup

Aku berdiri di atas gunung
Berdiri di bawah langit
Untuk melihat keindahan alam, keindahan dunia

Aku mempertaruhkan nyawa
Bertahan diri di atas gunung
Demi melihat keindahan alam,
Keindahan ciptaan Tuhan

Gunung Yang Telah Lama Gersang

Aku dulu dilahirkan dalam alam yang permai
Dibuai dalam lindungan alam yang indah
Yang selalu mengingatkan aku pada belaian pertiwi
Selalu bersenandung rindu dalam dekapan alam

Semua kini telah dalam pandangan
Entah ke mana dan menjadi apa alam yang ku kenang dulu
Bagai ditelan dalam rakusnya manusia jahanam
Yang tiada belas kasihan dalam hidupnya

Selalu terasa pedih di hati ini
Tersayat sembilu dalam jiwa-jiwa yang kerdil
Terluka dan terobek sampai ke dalam sanubari
Tiada berbekas akan sakitnya hati

Kemana kan kucari lagi
Indahnya alam yang telah melahirkanku
Kemana aku mengadu untuk kembalinya alam permaiku
Semua telah gersang tanpa kendali dan manusia tinggal menuai bencana

Kutunggu manusia-manusia baru untuk berkarya
Tiada akal yang bisa menggapai
Entah kapan akan kembali
Gunung dan lembah yang kembali bersemi lagi

Bumiku

Oleh: Tommy Agus Purnomo

Kau sapa hadirku, dengan sejuk udaramu
Dekap aku dalam hijau peluk manjamu
Kau ceritakan rimbun daunmu
Kau kabarkan pada elang, pada kumbang, pada setiap penjuru

Kau hapuskan rinduku
Rindu hutanku, rindu alamku, rindu bumiku
Tak ingin kusiakan
Kau janjikan damai dalam kenyataan

Kutitipkan cikal tonggak raksasa
Biarkan akarnya menembus bumimu, memeluk asa
Menjagamu setiap waktu
Dalam damai sejuk dan hijau

Bumiku Ciliwung, Telaga Warna
‘Ku kan kembali dengan cerita
Tentang aku kau semesta raya
Kan kujaga sepanjang masa

Menembus Rimba

(Oleh: Muhammad Hatta)

Kami pergi ke suatu tempat yang jauh dari kota
Jauh pula dari kebisingan, polusi, dan penyakit jiwa
Aku bersama teman baruku menembus rimba
Bertualang dapatkan ilmu baru dan segarkan mata

Rindang, tinggi, dan sejuknya pepohonan
Berteman baik dengan suara hewan damaikan pikiran
Aku datang untuk pelajari seluk beluk hutan
Bukan ‘tuk buka lahan apalagi tebang pepohonan

Aku dan temanku datang dengan maksud baik
Kalian jangan takut apalagi panik
Oh Tuhan, semoga hutanku tetap hijau, asri, dan lestari
Jauhkanlah hutanku dari fraksi mafia rakus penuh konspirasi
Yang akan bakar hutan ‘tuk jadi jalanan dan bangun gedung dan gudang dengan tumbangkan pepohonan demi keuntungan dan penuhi brankas besi
Tanpa hiraukan keseimbangan dan nasib anak cucu nanti

daerah aliran sungai Pixabay

Keindahan Alam Ternodai

Sungguh betapa indahnya alam ini
Hutan lebat nan hijau
Dengan beragam tumbuhan unik di dalamnya
Gunung-gemunung yang tinggi menjulang
Yang ketinggiannya mencakar langit
Laut biru yang amat luas seluas mata memandang

Akan tetapi… Tangan-tangan manusia dengan seenaknya merusak alam
Pohon-pohon ditumpas habis tak bersisa
Sungai-sungai ternodai limbah pabrik
Hutan-hutan dibakar habis tak keruan

Mengapa manusia merusak alam?
Bukankan alam sendiri yang menyediakan kebutuhan manusia?
Padahal manusia akan terkena dampaknya jika mereka merusak alam

Indahnya Alam Ini

Batapa indahnya alam kita ini
Ombak bergemuruh
Udara senyuk menentramkan
Domba putihpun terbang menuju kemari

Kita berdiri dengan beralaskan tanah
Kita berdiri dengan beratapkan langit
Untuk melihat keindahan alam sekitar
Keindahan alam yang terhampar luas

Akan ku pertaruhkan nyawa ini
Akan ku pertahankan raga ini
Bertahan pada tanduk sebuah gunung
Demi kagumi keindahanmu

Bumi Bersabda

Belum nampak mendung menutupi langit
Seberkas haru yang larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap jiwa yang penuh rindu
Sejukkan dahaga jiwa serta sendu merayu

Bulan tak ingin membawakan tawa manja
Kala waktu tak ingin berkawan pada malam
Saat bintang bersembunyi berharap sunyi sendiri
Terhapus awan gelap yang menutupi langit

Bulan tampil dengan cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menutupi terang
Namun sang fajar bersama mentari akan menari
Bersama senandung salam pada alam pagi

Desa Damai

Kau adalah tempat yang terindah
Jauh dari ramainya kota Yang penuh dengan kesibukan dan kemacetan

Tempatmu yang penuh dengan pepohonan
Menjadikanmu tempat yang damai, Jauh dari kebisingan kota yang selalu melanda

Kau adalah tempat yang indah
Dengan barisan bukit dan pepohonan
Kau membuat manusia selalu ingin hidup di tempatmu

Puisi Garam Geram

Oleh: Ali Amrullah

Geram garamku terguyur hujan
Kencang angin tak imbang mentari bersinar
Geram garamku kosong airku
“Jarangan” penuh tak pernah mengalir
Tak ada air “Jokan”
Apalagi “Snitan”

Geram garamku gemuruh terus menggelegar
“Glinding” menganggur
“Kerokan” manyun
Tak ada yang perlu berputar
Air Tua dibalas Air Muda
Tak perlu “Meleram”
“Ngeleb” apalagi…

Geram garamku diamkan saja
Tak ada Air 20
Pun jua 25

Geram garamku
Aku pun geram…
Tak perlu mengutuk gelap sore langit
Tak Perlu mengutuk Tuhan

“Kumbang” dulu romantis
“Laut” pun selalu senyum manis
Kini…
“Barat” menyeringai

Bintang

Saat malam tiba dengan langit yang gemerlap
Saat itu pula akupun mulai tersenyum
Melihat bintang dengan berpijar
Bagaikan tebaran harap pada kehidupan

Namun hatiku kian murung
Saat awan hitam mulai menutupi langit
Saat bintang itu mulai tertutup gelap
Bahkan saat sinarnya mulai meredup tak terlihat

Saat terangnya menghiasi langit
Sering ku pandangi bintang yang paling terang
Dan ingin rasanya ku petik untuk manjakan hati
Agar hidupku ini penuh dengan harapan

Keelokan Alam

Saat aku perlahan membuka mataku, ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berpikir, mungkin aku masih bermimpi
Namun aku sadar bahwa keindahan itu nyata

Sungguh elok terlihat lautan biru terbentang luas
Gunung yang berbaris tak beraturan
Langit yang berhiaskan pelangi yang memiliki keindahan satu sama lain

Deburan Ombak

Ombak yang menerjang di laut
Saling berkejar memecah di batu karang
Menghempasnya, hingga terlihat aneka keong yang bertebaran dari dasar lautan

Ombak yang menerjang terdengar tiada henti
Seolah memberikan pesan pada kita
Bahwa alam ini tercipta begitu indah yang memberikan kenyamanan pada kita

Referensi: berbagai sumber