50++ Puisi Tentang Hujan – Sedih, Bahagia, Cinta, Sahabat dan sebagainya

Puisi Hujan – Hujan adalah peristiwa jatuhnya air dari atmosfer. Seringkali fenomena ini dijadikan inspirasi untuk menciptakan puisi yang indah. Puisi tentang hujan bisa menjadi media ungkapan perasaan yang sedang dialami penulisnya. Misalnya mewakili rasa rindu, kenangan dan kesedihan.

Puisi adalah sebuah karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan baris, serta menggunakan bahasa indah dan penuh makna. Namun dalam perkembangannya, puisi modern tidak selalu terikat bait, jumlah baris dan sajak dalam penulisannya, sehingga disebut puisi bebas.

Berikut ini adalah kumpulan puisi hujan pendek dan panjnag yang dikumpulkan meliputi rasa sedih, cinta, keindahan, bencana alam, kedamaian dan lain-lain dari berbagai sumber dan dapat dijadikan referensi dalam mempelajari seni berpuisi, antara lain:

Kamu dan Hujan

Aku kira, senja tak akan menjadi indah karena aku tak melihatnya
Aku kira, pelangipun tak akan berwarna karena aku tahu hanyalah tinta hitam legam dalam pandangan
Dan aku mengira, dawai hujan akan selalu ternada

Apakah kau tahu, apa itu hujan?
Hujan inilah yang mengirimkanmu melewati nada rintiknya
Begitu menenangkan dan mengalirkan melodi dalam nadi ini entah bagaimana caranya
Yang aku tahu bahwa tanpamu, hujanpun enggan menjatuhkan rintiknya

Kekasihku, apa benar namamu yang dibawa rintik hujan kala itu?
Jika iya, maka kedatanganmu memecahkan segala perkiraan yang merisaukan
Yang kini menjadikanku dapat melihat senja yang begitu indah
Menjadikanku dapat mengganti tinta hitam yang legam itu, yang membuatnya menjadi berwarna hingga membuatku candu

Karena itulah aku hanya mau engkau tetap memberikanku melodi anggun ini
Janganlah engkau memberi melodi angkuh kepadaku karena aku mencintaimu

Tentang Hujan

Lalu, apa katamu tentang hujan? Bagiku hujan itu suatu anugerah dimana kita bisa merasakan satu kehangatan tersembunyi

Hujan itu suatu rasa syukur atas segala deraan air yang menyeka panas
Merupakan nikmat tak berujung dari sang pencipta

Hujan itu sebuah penjaga rahasia dimana kita bisa menangis dibalik hujan
Berteriak dibalik semua gemuruh hujan terka

Hujan itu sebuah simphoni dimana nada-nada yang berkesinambungan selalu terkait
Dan selalu berirama untuk menjadikannya sebuah lagu diantara titik-titiknya

Hujan itu sebuah lukisan dimana bumi menjadi kanvasnya dengan tetes demi tetes air hujan yang terus mengalir menjadikan suatu bekas di antara tanah-tanah yang tertindih

Hujan itu juga sebuah kenangan dimana tiap air demi air yang mengalir
Selalu menimbulkan bekas dan terkadang bekas itu menjadi sebuah kubangan atau hilang begitu saja

Hujan itu juga sebuah keharmonisan dimana saat kemarau datang, kemudian hujan yang menerka akan menyejukkan kembali
Hujan juga sebuah percintaan dimana dua sejoli yang tengah basah di derasnya hujan menjadikan payung mereka untuk berteduh diantara tetesannya

Itulah hujan…
Dimana setiap insan bisa merasakan arti cintanya

musim hujan Pixabay

Setetes Kenangan Hujan

Dulu
Saat semburat merah jingga nan elok
Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala
Tetes kehidupan jatuh serentak
Membombardir ribuan kilometer lahan

Impresi menguap di atas tanah
Larut bersama wewangian hujan
Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan
Tersemat manis indahnya janji masa depan
Penuai kebahagiaan semu berselimut basah

Kini
Harus beradu dengan nestapa
Menatap seruan hina yang menyayat jiwa
Menusuk hingga rindu menyeruak keluar
Dengan satu tarikan napas gusar.

Saat Hujan

Berteriaklah di depan air terjun tinggi debam suaranya memekakan telinga
Agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak

Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi
Pucuk-pucuknya lebih tinggi dari kepala agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari

Termenunglah di tengah senyapnya pagi
Yang kicau burungpun hilang entah kemana agar tidak tahu kau sedang termangu

Dan menangislah di tengah hujan yang lebat
Agar tidak ada orang tahu bahwa kau sedang menangis

Perasaan adalah perasaan
Tidak dibagikan, tidak diceritakan, tidak disampaikan dia tetap perasaan

Menjadi Hujan

Orang-orang dewasa itu aneh
Mereka bilang menyukai hujan tetapi berlindung di bawah payung
Berlindung di bawah atap bahkan dari mereka memaki hujan karena telah membasahi baju mereka

Mereka tidak benar-benar menyukai hujan, hanya mulutnya saja tetapi tindakannya tidak
Mereka hanya mencari sensasi atau hanya sedang menjual romantisme

Nyatanya, mereka menyesali hujan yang tak kunjung reda dan membuat mendung suasana sekitar

Sayangnya, rasa cinta mereka terhadap hujan hanya sebatas kata
Mencintai hujan hanya sebatas kalimat di status media sosial
Hanya menjadi foto untuk mendukung kesenduannya

Aku rasa, kita tidak akan mengerti hujan kecuali menjadi hujan itu sendiri

Bagaimana jika sesekali kita mendengar kata orang bahwa mereka menyukai kita
Padahal di belakang kita, mereka semua tidak demikian

Jika hujan memiliki perasaan, mungkinkan hujan akan merasakan apa yang sudah kita rasakan

Puisi Hujan dan Namamu

Senandung lagu mendekap lirih romansa jiwa
Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam
Dalam lautan mimpi sang penghirup malam
Melawan hujan, mereguk jejak tanpa nama dunia

Dia yang mencoba membaca arah
Dalam gelap, memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara
Berdiri sendiri mencoba mengenal suara kerinduan
Adakah dia di sana masih terpaku menatap kenangan

Kemana kau akan berlari
Melepas pagi dan mencoba memutar mentari
Apalah kau masih terlelap dan terus bermimpi
Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi

Kenangan hujan memanggilmu, dan tetap memanggil namamu
Meski luka mencoba menjauhkan dirimu dari putaran waktu masa lalu
Bulan di sana masih merindukanmu
Untuk kembali padanya, tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu.

Hujan Hari Ini

Bagi banyak orang, mungkin hujan sekumpulan pasukan air yang jatuh dari langit
Tapi bagiku, hujan adalah sepotong kisah yang mengikatku pada sebuah kenangan masa lalu dan membawaku pada keindahan hari ini

Hatiku memang terikat kepada hujan meski dalam terang aku bisa merasa dapat lebih jelas saat memandang indahnya kota yang nasibnya sama sepertiku

Ya, terikat pada hujan karena tak selamanya hujan membawa sendu dibawah gelapnya mendung

Bagiku, hujan selalu datang bersama keberkahan
Dia pergi mewarisi teduh dan menjadikan kehangatan sebagai perasaan sempurna bersama dia yang tuhan pilihkan sebagai kekasih

Hujan dan Kenangan

Hujan ini turun lagi untuk yang kesekian kali mengingatkanku tentang rintik soal waktu yang sedetik

Ketika hujan ini turun lagi dari kata yang kau namakan puisi
Namamu, namaku, tentang cinta yang pernah singgah

Anggap saja hujan ini adalah kenangan
Meski rintik yang sedetik tapi mampu mengingatkan

Rindu Bersama Hujan

Ketika tangan sudah tak mampu menggapainya
Dan ketika bibir sudah tidak mampu mengucapkan kata-kata

Disitulah aku berteduh, ketika hujan deras membasahi tubuhku
Namun, tidak akan ku biarkan hujan membasahi tubuhmu

Disini aku merindu,
Merindukanmu yang setiap kali datang bersama hujan

Lambat haripun berlalu sehingga memaksaku untuk melupakanmu
Satu hari, dua hari, hingga hari-hari kemudian yang terlewati

Jadikan Aku Hujan

Jadikan aku hujan
Akan kulukis kisah dengan muara air
Akan kubuatkan bendungan yang dipenuhi cinta
Akan kupenuhi jiwamu dengan rintiknya rindu

Ajari aku menjadi hujan
Agar aku bisa mengobati hausmu
Haus akan dentuman rindu
Mengalirkan kesejukan pada tubuhmu yang basah

Ijinkan aku menjadi hujan
Aku ingin persembahkan musik dengan jatuhnya aku
Membuat alunan pada dinginnya cintamu

Tapi, ini janjiku
Tak ada petir yang membuatmu benci akan diriku

curah hujan Pixabay

Suka Hujan

Aku suka hujan
Meskipun riyuh tetapi menenangkan
Baunya yang khas seringkali aku rindukan

Namun hujan suka sekali membawa kenangan melintas dipikiran
Hujan menyuguhkan kenangan pada kediaman dan itu seringkali
Memang menyebalkan, aku harus menelan kenangan berulang-ulang

Aku sangat lelah jika harus mengingatkan kenangan dengan suasana yang sedu
Jika saja kenangan bisa dipilih untuk bertemu, maka aku akan memilih kenangan yang akan membahagiakanku
Bukan kenangan yang datang untuk membuatku teringat dengan luka

Apa Kabar Hujan

Hujan, apa kabar?
Malam ini saat kau hadir seketika membawaku dalam dimensi lain
Kau ajak setumpuk kenangan turun bersamamu untuk menghampiriku
Saat itu aku sedang terluka dan kaulah yang setia menemaniku

Hujan, kau ingat isak tangisku malam itu?
Ku ceritakan semuanya kepadamu dan kau simpan baik-baik ceritaku sampai hari ini
Hujan, kaulah saksi betapa kuatnya aku saat itu
Hingga hari ini aku bisa berdiri dengan tegak

Terima kasih untuk selalu menyejukan hatiku

Puisi Hujan Hadirkan Cinta

Awalnya, hujan bagiku sekedar cerita sendu
Lalu ada tangis yang sama-sama mengguyur

Terasa melodi yang dimainkannya begitu menyayat hati
Mengundang kepedihan akan masa laluku yang pilu

Namun, ternyata hujan menghadirkan cinta
Seperti bulirnya yang jatuh ke kepala tanaman dengan kasih sayang, tapi juga menghantam

Kini aku belajar, bahwa cinta datang dengan cara unik dan klasik
Tiba-tiba datang tanpa aba-aba untuk siapa dan tanpa alasan untuk mengungkapkan

Yang jelas, cinta hadir dengan cara yang berbeda dan lebih sempurna karenanya

Memori Tetesan Hujan

Sehelai daun hijau panjang
Menutupi mahkota dari derasnya hujan
Menuju tempat lautan ilmu
Beberapa tahun yang silam
Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar
Memori daun pisang menjadi bait kisah haru
Menempa kisah di musim penghujan

Basah?

Ayah, derasnya hujan menerpa tubuhmu
Sambil menggigil kau genggam tanganku
Jelas terlihat dari tangan keriputmu
Menuntunku di bawah derasnya hujan
Daun pisang mengukir kisah haru
Ciptakan kenangan indah tak terhingga
Antara aku, ayah, dan hujan

Terjebak Hujan

Pada dasarnya dia datang untuk memberi kabar
Padahal nyatanya hanya memberi hati yang sukar

Aku terjebak dalam hujan yang tidak diharapkan
Meminta rindu tetapi hanya diberi sendu dan pilu
Melabuhkan karang hingga terbengkalai
Seolah tidak ada sebatang kayu yang aku gapai

Terima kasih atas kehanyutannya yang kau timpakan
Menghempaskanku sampai terlempar ke dasar jurang

Dan hujan kali ini ada yang berbeda
Dimana kedinginan adalah selimut terhangat untuk jiwaku yang tersesat

Puisi Hujan dan Pelangi

Hari ini hujan datang sangat deras
Tapi tidak ada pelangi

Mengapa akhir-akhir ini aku sering membayangkan diriku adalah hujan
Dan kamu adalah pelangi

Iya, aku adalah hujan yang deras yang selalu jatuh berkali-kali tanpa peduli seberapa sakitnya yang ku alami
Sedangkan kamu sebagai pelangi yang selalu ditunggu saat hujan reda

Pelangi memang indah, tetapi datangnya hanya sementara waktu saja
Seperti itulah aku dan kamu bagaikan hujan dan pelangi yang selalu berkaitan tanpa adanya kejelasan

Namaku Hujan, Bukan Air Mata

Namaku hujan, bukan air mata
Menjauh bukanlah perkara kekalahan
Menjatuhkan diri pada hati yang gundah

Bukanku bersikeras berpindah takluk angan
Namun, afeksi masa lalu membalut terjal langkah

Jujur saja, aku tak mau berpura-pura
Aku tak lagi menangis karena aku bukan hujan
Meski halus membasahi jagat semesta

Tapi mengapa hujan terdefinisikan kesedihan
Terjebak kenangan dalam salju memori mesra
Dan entah mengapa muka ceriaku seolah lupa cara bahagia

Nyatanya memang benar bahwa cinta itu buta
Pergolakan hati menentang pikiran
Seperti berseteruh mempertahankan diri

Tapi bukankan kini bahasa cinta yang berperan?
Sebab jauh setelahnya rasa itu telah sirna abadi

Musim Hujan Berselimut Duka

Rangkaian kata kususun menjadi aksara
Bercerita tentang musim hujan berselimut duka
Di mana senja tak lagi jingga
DI mana mentari enggan menampakkan muka

Kala itu, langit menangis berlinang air mata
Guntur beretorika tanpa bisa mengucapkan sepatah kata
Indonesia berduka
Bapak pluralisme bangsa telah tiada

Air Mata Langit

Duka semesta tak mampu lagi menahan tangis
Raungan pecah mengagetkan pertiwi terlelap
Teramat dalam kesedihan ia tanggung tak terbagi

Begitu mengerti tentang cerminan hati
Kenangan hadir bagai potongan film yang datang acak
Sesekali senyum tersungging

Berganti air mata deras mengalir
Mengagetkan lamunan meremas dada terkoyak

Satu massa tumbuh cepat menyumbat aliran udara
Sesak dan sakit seperti ingin memecahkan paru-paru

Dingin hujan sebeku perasaanku
Memori datang silih berganti tak ijinkan beristirahat
Semampu apa aku menahan?

Selama hujan turun di bulan Juli
Air langit tak menyentuh bumi, kurasa
Jatuh berhamburan menghujan lurus ke hatiku

Kenangan dipaksa masuk tanpa filtrasi
Temparan-tamparan kesedihan memusnahkan keteguhan

Kuat, hatiku kuat
Air hujan memberi penghidupan
Bisikku menenangkan

hutan hujan memiliki ciri khas curah hujan yang sangat tinggi Pixabay

Pengingat Perih

Terpenjara dalam sunyi hujan tak ijinkan aku pergi
Sendiri kuamati setiap inchi sarang persingahan dalam pengasingan
Membiarkan angganku liar mencari bagian asik untuk dikenang lagi
Mempercepat langkah saat kenangan buruk menyapa

Tak aku ijinkan dia ganggu damaiku saat ini
Indah sendiri menjadi bagian menarik hidup untuk ku rasakan sendiri
Tanpa mengenakan topeng kepura-puraan hujan aku jatuh hati
Tergantung memori terabaikan memenuhi dinding pemisah aku dan hujan

Dingin hujan ia tanggung tanpa berbisik mengiba
Berkas-berkas ingatan berseliweran tanpa bisa kuatur
Meminta didahulukan untuk dipikirkan
Siapa dia yang menyapa?

Bagian masa lalu nomor 77
Cincin logam mulia terjatuh menyentuh ujung sepatu
Dilempang pangeran kodok yang pernah aku cium

Bersama hujan dia usaikan
Istana berputri jelita telah kutemukan, katanya

Tenggelam

Ariel apakah namaku kini?
Hanyut dalam dasar laut nestapa semalam
Ekor duyung tak membuat aku mampu berjalan jauh
Hujan tenggelamkan hidupku terpisah, asing

Hari lalu aku burung bersayap lebar
Terbang rendah ciutkan nyali penduduk bawah
Awan bersih tempat aku singgah
Menatap kerdil bumi aku jauh diatasmu
Duduk diatas singgasana bersama raja

Burung Elang

Kami berkuasa atas langit luas
Baginya aku madu kembang baru mekar

Dia yang pertama merasa manisnya, katanya
Baginya aku benteng tinggi

Kedamaian berdima bersama
Aku miliknya selamanya

Ranting rapuh elang mendorong jatuh
Hujan turun elang ucapkan selamat tinggal

Puisi Hujan di Ternate

Kau tumpah lagi di gelasku
dan aku mesti menyeduh
sisa-sisa teh dari cangkirmu

Malam ini, aku kembali
memelukmu dalam diam
sebelum asap rokok mati dari tanganku

Ada gigil tiba-tiba renyah di ruangan ini
melesat keluar jendela
dan kau sibuk merapikan sesak

Terlampau Indah

Tidak kusuka sebelumnya, tapi kini berbeda
Mensyukuri setiap bagian yang takdir sajikan
Penerimaan menjadikan lebih dewasa, ku rasa

Hujan… bertahanlah lebih lama

Sahabat Hujan

Saling beradu saing tunjukkan taring
Ganas memanas dalam dingin guyuran hujan
Hujan hanyutkan 100 hari kenangan dalam diam

Datangkan jiwa baru penebus kelam masa lalu ku
Pesona lain tak pernah tersentuh
Mata harapan akulah tujuan

Menari Bersama Hujan

Ajakan itu tak pernah bisa aku menolak
Gejolak hati, bersorak senang
Anggukan kepala lagi perlu, tanda kesepakatan

Sambaran tangkas mengajak jemari beradu
Menyusuri rintik hujan selalu indah bersamamu

Senyum adalah bagian langit yang selalu biru
Langkahku langkahmu

Hujan kabarkan kasih kita berseru
Subur tersiram berkah langit

Gemulai seirama dengan tabuhan alam
Basah tubuh riasan keindahan untukku

Mata-mata penuh heran menjadi tepuk tangan ditelinga bebal kita
Kenapa harus aku pikirkan soal mereka

Senang, hujan satukan langit dan bumi terpisah jauh
Merayakan kedamaian mereka

Aku dan kamu menari dibawah hujan

Dunia Baru

Hujan
Hebat retakkan kulit bumi begitu kokoh
Membuka gerbang besi setebal lengan kami penuh penjagaan
Keajaiban datang untuk mereka yang pantang menyerah
Mengikis perlahan menghancurkan pertahanan

Dia tersembunyi aku temukan
Hadir membius, putri menawan molek rupa
Rambutnya aliran sungai tenang berkilau
Terbalut hijau sejukkan gerah jiwa
Lembut dunia baru berterimakasih
Misteri surga baru kepulauan negeriku

Seperti Hujan

Mereka bilang aku aneh…
Karena aku selalu menunggu air turun dari langit
Mereka juga bilang aku gila
Karena senang bercerita pada hujan
Mereka selalu menjauh ketika rintik menyapa
Sementara aku selalu menyambutnya dengan riang

Kau benar tentang hujan, ada aroma tanah yang terjamah
Dan selalu menggugah rasa rindu antara kita
Aku harap kau tau pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita
Saat bersama tersenyum  memandang langit hitam dan derasnya hujan

Kau ajarkan aku menjadi seperti hujan di malam hari
Atas harapan dan rinduku pada seseorang
Yaaah…
Hujan tak pernah lelah turun meski malam
Dan tak pula mengharapkan datangnya pelangi

Puisi Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan Bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tidak ada yang lebih bijak dari hujan Bulan Juni
Dihapusnya jejak kaki yang ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan Bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Puisi Hujan

Pada hujan yang datangnya riuh
Aku disini mengamati setiap bulirnya
Dulu aku membicarakan hujan tanpa tau rasanya kehujanan
Dulu aku mengagungkan hujan tanpa tau gigilnya seperti apa
Dan dulu aku menyukai hujan tanpa tau ada rindu sisipan di dalamnya

Sekarang aku hampir mengerti bahwa hujan untuk dirasakan
Bukan sekedar dilihat lalu dikomentari atas nama cinta
Sekarang aku berani membawa payung yang katanya melindungi dari hujan
Sekarang aku suka berlari dan menyanyi di bawah hujan

Biar begini saja
Biar aku menyanyi, berlari sampai hujan menjadi reda

Hujan Terakhir Dalam Ingatan

Aku sebenarnya tak pernah rela membiarkan tubuhmu dipeluk kemarau
Debu-debu beterbangan bermimpi menjadi burung

Burung mengepakkan sayapnya menanti cahaya lindap
Seringkali aku gagal mendekap bayangan yang bosan berjalan di belakang

Ku pandangi dia, tak ada balasan hidup seperti bertepuk sebelah tangan

hujan salju Pixabay

Suara Hujan

Aku selalu menyukai mata kecilmu
Menenggelamkan diriku berlama-lama
Berkaca-kaca dalam berbicara
Begitu manis dan menguatkan jiwa

Aku terlalu dalam menginginkanmu
Masih sama seperti dulu
Kamu bagian hujan terindahku
Dalam ingatan tahun-tahun itu

Kau adalah bintang terindahku
Yang aku rindukan saat hujan datang

Kau adalah mimpi terindahku di saat aku lelah setelah menghadapi dunia
Setiap hal kecil di diri ini adalah semuanya tentangmu

Kamu yang ku perjuangkan dengan utuh
Meski dirimu lewat sangat datar

Hujan masih tetap saja sama menjadi kisah sedih meninggalkan pedih
Tetap membekas mengenang dalam hati

Aku teriak sangat keras di sepanjang jalanan kota
Berharap agar kau kembali disini
Menahanmu lebih lama sebelum hujan pergi
Sebagai sandaranmu kala berteduh

Waktu gerimis semakin menderas
Mengusap air mata bercampur dengan hujan
Sengaja kau sembunyikan semuanya dalam hati

Ternyata aku sangat bodoh
Aku adalah orang bodoh yang mengerjarmu selama itu

Ternyata aku tetap kekanak-kanan tidak mau berusaha mengerti tentang dirimu
Kurasa aku sangat aneh karena menyukaimu

Jujur saja aku sangat sulit merasakan cinta orang lain selain dirimu
Sampai saat ini kau adalah kau adalah alasan duniaku menjadi lebih indah

Biarkanlah aku terus menyukaimu sampai kau benar-benar menjadi milikku

Puisi Hujan Malam Ini

Kepergianmu seakan merenggut isi hatiku
Dari kuntum rindu hingga benci kau rangkai menjadi satu
Lalu dengan tenang kamu buang ke hamparan biru

Ya, sebuah tempat yang tak mungkin aku tuju
Bila mungkin, aku ingin kembali ke masa kita dulu
Dan mengubah takdir hingga tak mengenal kamu

Daripada harus cumbu mesra tanpa miliki ragamu, aku bisa apa?
Sejuta sesal tak akan membuatmu rekah lagi padaku
Saat hujan seperti malam ini, sendiriku semakin pekat saja

Dia seperti kamu dulu, semakin erat bila hujan tiba
Sendiriku di antara rindu dan benci, mengambang tenang di antara keduanya

Begitu tenang, hingga rekan bibir perempuan lain seakan tak bermakna

Puisi Hujan dan Perjalanan

Hujan hadir di tengah perjalananku
Ia turun layaknya papan seluncur di musim salju
Kedinginanku menyeruak di antara derasnya

Aku bertahan menunggu payungmu
Aku masih menunggu payungmu
Hingga saat pelangi mulai tersenyum

Hujanpun menjauh,,,
Dan akan ku lanjutkan perjalanan ini tanpa butuh sebuah payung

Rintik Rindu Novena

Lembar keenam, kumulai lagi dengan mengingatmu
Tentang rinduku yang belum tersampaikan
Kala percik-percik gerimis menyapaku
Di antara aroma remahan tanah yang basah
Betapa sulitnya itu
Begitu berat menahan lajunya…

Entah, di rintik keberapa
Ku ‘kan mengeja bayangmu
Membahasakan senyummu saat itu
Di sini pun masih terasa sama
Hampa, serupa kesendirian ini
Hingga tak sanggup lagi, hatiku menahan keingkaran ini…

Andai saja mampu
Menghalau lajunya waktu
Andai saja saat itu
Tak bersumpah untuk membencimu

Rintik Hujan

Di bawah rintik hujan aku dengan puas meneteskan air mata
Air mata yang terus mengalir menangisi hal yang tidak wajar
Entah mengapa aku nyaman sekali dengan hujan

Hujan adalah waktu yang tepat untuk mengadukan masalah
Rintik hujanpun mampu membuat sejuk hati
Hingga tak terasa air hujanpun ikut berhenti ketikan aku berhenti meneteskan air mata

Apakah hujan ditakdirkan datang untuk mengerti perasaan orang?
Semoga saat khayalanku yang konyol ini benar-benar kenyataan
Sehingga aku bisa terus mengadu perasaan kepada hujan

Aku juga berharap, ketika puisi hujan ini aku lontarkan semoga hujan mau menjadi temanku
Hujan memang membawa mendung dan membuatku susah bepergian

Tapi aku senang dengan hujan, air yang membasahi selain membuat bahagia tetapi juga membuat aku lupa dengan masalah
Masalah yang sepele sampai dengan masalah yang besar sekalipun

Hingga aku dewasa, aku akan tetap menjadi teman hujan

Kisahku dan Hujan

Dalam ayunan langkah, yang semakin lambat
Dalam helaan napas, yang semakin dalam
Dalam desir angan, yang kian menjauh
Dalam desah hati, yang kian membiru

Entah harap, entah khayal yang digenggam
Entah duka, entah suka yang dikecap
Hanya tetes hujan yang paham
Hanya tetes hujan yang menjawab

Dalam biru yang kian menyatu
Di derasnya tetes hujan
Tak ada kata yang terucap
Tapi selaksa makna terjawab

Kisahku sama dengan hujan
Datang dan pergi tanpa pamit
menghembuskan asa dan juga nestapa
Hingga hanya dingin yang tersisa

puisi hujan Pixabay

Langit Mendung Dua Kota di Pagi Hari

Langit di kota Tapis ini terlihat gelap
Kumpulan awan hitam mulai menutupi langit biru
Apa kabar langit di Pekan Baru
Masihkah derai hujan itu
Masihkan cuaca dingin menusuk tulang itu
Masihkah genangan air di jalan penuh lubang itu
Aku tak tahu kabarnya
Langit di Pekan Baru di pagi hari

Sungguh aku tak tahu
Tentang apa yang terjadi di bawah langit Pekan Baru
Masihkah hujan deras itu
Ataukah langit hitam memayungi langitnya

Tak ada yang kuingat dengan pasti dan jelas
Selain dirimu
Ya, benar-benar tak ada yang kuingat
Selain kamu
Selain wajah manismu
Selain kedua kelopak mata sipitmu itu
Selain indahnya senyum di bibirmu
Yang merekah
Berwarna merah muda

Akankah kau di sana
Memandang langit hitam yang sama
Memandangi awan mendung yang sama
Ataukah langit di kedua kota berbeda
Lagi-lagi aku tak tahu-menahu
Tentang apapun
Lagi lagi aku tak mengingat apapun
Selain dirimu
Selain apa yang ada padamu
kekasihku

Aku Rindu Hujan

Aku rindu hujan
di tiap-tiap tetesan;
pada matamu
langit kesunyian

aku rindu hujan
di tiap-tiap percikan;
pada detakmu
gemuruh keheningan

aku rindu dirimu
di tiap-tiap hujan;
pada namamu
menderas kerinduan

Saat Merindumu

Merindumu adalah menemu sunyi
seperti gerimis menjumpai tangis
serupa puisi;
sebait kata pada tubuh sepi
dirinya sendiri

merindumu adalah menemu sunyi
seperti detak dalam tubuh sajak
serupa bunyi;
rima yang tak henti-henti
menyeru namanya sendiri

Simfoni Hujan

Hujan
Ketika kau datang
Gemuruh halus nan lantang
Suaramu bagai nada-nada dan Irama yang disimfonikan

Hujan
Tetaplah di sini
Temani daun yang merunduk
Hiasi alam dini dengan warna jernihmu
Hingga alunan rintik-rintik
Memancarkan keindahan

Hujan
Datangmu menawan
Menggoyahkan jiwa insan
Saat dentingan manja kau pancarkan