Pupuk Kompos – Pengertian, Manfaat, Jenis & Cara Pengomposan

Pupuk Kompos – Dalam bidang pertanian dan perkebunan, seringkali kita mendengar istilah pupuk. Pupuk adalah salah satu bahan yang dibutuhkan tanaman perkebunan dan pertanian untuk membantu menyuburkan tanah. Tujuannya adalah agar tanaman menjadi lebih sehat karena unsur hara terpenuhi.

Kita mengenal pupuk dengan berbagai jenis, termasuk istilah pupuk kompos yang tentunya tidak asing lagi. Pupuk alami ini merupakan pupuk yang dibuat dari bahan-bahan alami atau organik.

Pupuk kompos sering dibahas pada wacana-wacana berkaitan dengan lingkungan hidup. Sebab kompos dapat dibuat dari sampah organik, baik bersumber dari hewan maupun tumbuhan sehingga sangat ramah terhadap lingkungan.

Kompos menjadi sebuah alternatif untuk mengolah sampah organik menjadi wujud baru yang dapat dimanfaatkan kembali oleh manusia dan juga lingkungan. Tentunya hal ini akan berdampak baik dan lebih alami.

Selain itu, proses membuat pupuk kompos dapat dikatakan cukup mudah. Bahkan, pengomposan bisa dilakukan secara mandiri dalam skala rumah tangga. Hal inilah yang menjadikan pupuk non kimia mulai marak dibahas ditengah isu pemanasan global dan kerusakan lingkungan.

Pengertian Kompos

Sebelum membahas lebih dalam mengenai pupuk kompos, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu tentang kompos itu sendiri. Kompos adalah hasil penguraian yang tidak lengkap (parsial) dari bahan-bahan organik yang kemudian dipercepat oleh beberapa jenis bakteri atau mikroba dalam kondisi tertentu.

kotoran hewan Pixabay

Hasilnya adalah kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sementara itu, pengomposan adalah proses bahan organik yang mulai mengalami penguraian dan dibantu oleh bakteri sebagai sumber energinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kompos adala pupuk campuran yang terdiri dari bahan organik, seperti daun atau jerami yang telah membusuh dan bercampur dengan kotoran hewan.

Sedangkan menurutu Wield (2014), pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan hijau atau organik lainnya yang dengan sengaja ditambah bahan tertentu agar proses pembusukan terjadi lebih cepat.

Hasil dari pembusukan atau dekomposisi organik, seperti sisa tanaman, hewan, dan bahan organik lainnya dapat bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah, serta kehidupan mikroorganisme yang hidup pada lingkungan tersebut. Kompos juga berperan untuk meningaktkan daya ikat air terhadap tanah dan memperbaiki sifat tanah lainnya.

Manfaat Pupuk Kompos

Membahas tentang manfaat pupuk kompos, tentunya manfaatnya sangat banyak. Berikut ini beberapa poin yang dapat menjelaskan secara singkat mengenai kegunaan kompos:

  • Kompos dapat meningkatkan kesuburan tanah.
  • Kompos membantu memperbaiki karakteristik dan struktur tanah.
  • Kompos membantu meningkatkan aktivitas mikroba pada tanah.
  • Kompos membantu meningkatkan daya serap air tanah.
  • Kompos membantu meningkatkan kualitas hasil panen.
  • Kompos membantu menyediakan unsur hara pada tanah.
  • Kompos membuat tanah menjadi lebih gembur dan tidak keras.
  • Kompos menekan pertumbuhan penyakit tanaman.
  • Kompos menyediakan vitamin dan juga hormon yang dibutuhkan oleh tanaman.

Itulah beberapa manfaat penting dari jenis pupuk alami ini. Maka dari itu, pupuk kompos mulai banyak dimanfaatkan, karena hampir tidak memiliki efek samping buruk bagi lingkungan.

Jika dijelaskan lebih lanjut, kompos bermanfaat bagi sektor ekonomi, lingkungan, tumbuhan dan tanah sebagai berikut:

1. Manfaat Ekonomi

Penggunaan bahan alami sebagai pupuk tentunya akan menghemat biaya petani untuk menyuburkan lahan pertanian maupun perkebunan. Keuntungan ini dapat dialokasikan untuk pembelian bibit unggul maupun tahap pemeliharaan tanaman agar hasil panen maksimal.

2. Manfaat Lingkungan

Menggunakan pupuk kompos lebih ramah terhadap lingkungan dan mengurangi pencemaran air maupun tanah. Sampah-sampah organik yang berserakan dapat dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk sehingga tidak menyumbat aliran sungai yang dapat menimbulkan banjir

Banyaknya tumpukan sampah juga berpotensi mengganggu kesehatan. Sampah dapat menjadi tempat berkembangbiak bagi bakteri maupun organisme lain yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan.

Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sampah yang efektif, yakni keseimbangan antara hasil sampah dan pengolahan. Salah satunya adalah mengolah limbah atau sampah organik menjad pupuk kompos yang menyuburkan tanah.

3. Manfaat Bagi Tanaman

Kompos memberikan kesuburan bagi tanah karena menyediakan unusr-unsur hara dan mineral yang diperlukan tanaman. Pengguanaan kompos dalam bidang pertanian maupun perkebunan tentu akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi serta hasil tanaman yang lebih sehat.

4. Manfaat Bagi Tanah

Pupuk alami juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki lahan-lahan kritis. Struktur tanah yang telah terdegradasi dapat diperbaiki, selain itu kompos juga dapat memperbaiki drainase, tata udara tanah, serta memperkuat daya serap air.

Kandungan kompos dalam tanah juga menjadi sumber makanan bagi berbagai mikroorganisme, menurunkan aktivitas mikroba yang merugikan serta membantu proses pelapukan mineral tanah.

Jenis Pupuk Kompos

Bahan utama pembentuk pupuk kompos adalah sampah organik. Sampah organik adalah sampah-sampah yang berasal dari sisa makanan, hewan, dan juga tumbuhan. Di lingkungan permukiman sendiri, sampah organik dapat ditemukan di pasar dalam bentuk sisa sayuran, atau di rumah dan rumah makan dalam bentuk sisa makanan.

Sampah organik itu bebeda-beda jenisnya, sehingga menghasilkan jenis kompos yang berbeda juga. Berikut beberapa di antaranya:

1. Pupuk Kompos Hijau

Pupuk kompos hijau adalah jenis pupuk alami yang terbuat dari bahan baku sampah organik hijau. Biasanya sampah organik hijau ini berupa sisa sayuran, rerumputan, dedaunan, sisa buah-buahan, sampah dari dapur, ampas kopi atau teh, hingga kotoran hewan ternak (pupuk kandang).

Sampah organik hijau mengandung zat nitrogen. Nitrogen adalah unsur ini dibutuhkan oleh tanaman pada siklus nitrogen. Tugasnya adalah untuk membentuk asam amino.

2. Pupuk Kompos Cokelat

Adapun pupuk kompos cokelat merupakan pupuk organik yang dibuat dari bahan baku sampah organik cokelat. Beberapa contoh sampah organik cokelat antara lain daun kering, rumput kering, jerami, sekam, kulit jagung, sisa serutan atau gergaji kayu, dan semisalnya.

Sampah organik cokelat mengandung zat karbon yang dibutuhkan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme.

3. Kompos Cacing

Kompos cacing adalah kompos yang dihasilkan dari proses timbal balik mikroorganisme dan cacing tanah dalam mengurai limbah-limbah organik. Cacing tanah membantu proses penguraian yang selanjutnya diteruskan oleh mikroorganisme lain.

Sebutan lain untuk kompos cacin adalah casting. Casting mengandung berbagai unsur hara yang diperlukan tanaman, yakni fosfot, nitrogen, mineral dan vitamin tanah. Casting juga mengandung 20 C/N untuk pemupukan tanaman.

4. Kompos Bagase

Kompos Bagase adalah pupuk organik yang berasal dari ampas tebu dari limbah padat industri gula. Limbah bagase umumnya terdapat dalam jumlah melimpah dan memiliki potensi untuk dikembangkan guna menyuburkan tanah.

Penggunaan kompos bagase biasanya dilakukan oleh para petani perkebunan tebu, atau dengan kata lain tebu menghasilkan pupuk tebu untuk tanaman tebu kembali.

Akan tetapi, pembuatan kompos bagase diperlukan waktu yang cukup lama serta perlakuan khusus dengan menambahkan mikoorganisme selulotik karena nisma C.N bagase terlalu tinggi, sekitar 220.

5. Kompos Bokashi

Kompos bokashi merupakan pupuk alami dari bahan-bahan organik yang melalui proses fermentasi dengan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4). EM4 mengandung beberapa mikroorganisme seperti Lactobacillus sp., Actinomycetes, Khamir, dan Streptomyces.

EM4 merupakan kultur campuran yang terdiri bakteri-bakteri dalam bentuk cairan untuk memfermentasi limbah organik dalam tanah atau sampah sehingga memberikan manfaat bagi kesuburan tanah.

Selain itu, EM4 juga memberikan rangsangan terhadap perkembangan mikroorganisme lain dan mengikat nitrogen, pelarut fosfat dan mikroorganisme yang merugikan tanaman. Penggunaan EM4 juga bertujuan agar proses pembusukan atau dekomposisi berlangsung lebih cepat.

Kelebihan

Pupuk kompos merupakan bahan yang banyak dimanfaatkan oleh petani. Hal ini dikarenakan kelebihan yang dimilikinya jika dibandingkan dengan jenis pupuk lainnya. Berikut ini beberapa kelebihan dari pupuk organik, antara lain:

  • Pupuk kompos kaya akan unsur hara yang lengkap. Sedangkan pupuk buatan tidak memiliki unsur hara yang seperti itu. Unsur hara di pupuk alami ini tersedia mulai dari unsur mikro sampai unsur makro.
  • Pupuk kompos memiliki kandungan asam organik (misalnya asam fulfic, asam humic, enzim, hormon, dan sebagainya). Kandungan asam organik seperti ini tidak ada di pupuk buatan. Padahal fungsi dari asam organik sangat bermanfaat untuk mikroorganisme tanah, cacing dan juga tanaman.
  • Pupuk kompos mengandung senyawa yang mampu membantu memperbaiki sifat fisik tanah dan juga mampu menjaga struktur tanah.
cacing tanah Pixabay

Kekurangan

Di balik kelebihan-kelebihannya, tentu pupuk alami ini juga memiliki kekurangan. Berikut ini beberapa kekurangan dari pupuk kompos:

  • Kandungan unsur hara di pupuk kompos cukup lengkap, namun dalam jumlah atau persentasenya kecil. Sehingga, jumlah kompos yang harus dibtuhkan tanaman akan lebih banyak jika dibandingkan dengan pupuk buatan.
  • Jika pengadaan pupuk kompos sangat banyak, maka biaya operasional pembuatan pupuk juga akan meningkat. Proses pengomposan yang dilakukan juga menjadi lebih mahal.
  • Jika tanah yang akan diberikan kompos ternyata sudah tidak sehat, maka kebutuhan akan kompos akan menjadi semakin meningkat. Sedangkan biaya pembuatan pupuk alami atau pengadaan kompos juga akan meningkat.

Bahan Kompos

Bahan baku pembuatan kompos masing-masing memiliki sifat fisik, biologi dan kimia. Sifat fisik bahan organik berperan terhadap sifat fisik tanah seperti memperbaiki aerasi tanah, merangsang granulasi dan meningkatkan daya ikat air.

Sifat biologi bahan organik berpengaruh terhadap aktivitas mikroorganisme yang manfaat untuk fiksasi nitrogen dan pertukran hara. Sedangkan sifak kimia bahan organik berpengaruh terhadap kapasitas tukar kation yang meningkat dan berpengaruh terhadap sertapan unsur hara tumbuhan.

Berikut ini adalah jenis bahan organik yang dapat dioleh menjad pupuk kompos, antara lain:

  • limbah dan residu tanaman
  • pupuk hijau
  • limbah dan residu ternak
  • sekam padi
  • gulma
  • penambat nitrogen seperti jerami
  • seluruh bagian vegetatif tumbuhan
  • kotoran padat hewan
  • sisa pakan ternak
  • limbah ternak cair
  • mikroorganisme
  • mikoriza dan rhizobium

Selain daftar tersebut, bahan alami lain yang dapat dikomposkan adalah sayuran, buah, rumput, dedaunan, serta limbah oganik rumah tangga. Bahan-bahan yang mengandung selulosa seperti kertas, sisipan kayu, daun kering, jerami dan pohon merupakan bahan yang memiliki struktur sekuler yang terdiri dari lignin dan selulosa dengan kadar air rendah.

Limbah protein yang terdiri dari kotoran ternak juga menjadi bagain terbaik untuk kompos karena mengandung protein dan nutrisi yang baik untuk tanaman.

Syarat Pembuatan

Sebelumnya telah dijelaskan, bahwa pupuk kompos dapat dibuat sendiri baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Pengomposan dilakukan dengan memanfaatkan sampah organik dan jenis bakteri tertentu untuk mempercepat pembusukan. Sehingga dari sanalah muncul kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Pembuatan kompos membutuhkan beberapa persyaratan agar berjalan baik, di antaranya:

  1. Tempat dan Bangunan Layak – Tempat merupakan sebuah hal yang harus diperhatikan dalam pengomposan. Bangunan untuk membuat kompos itu sendiri sebisa mungkin dibuat dengan mekanisme yang baik. Biasanya bangunan untuk kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu, sementara bagian atapnya bisa juga dengan atap rumbia. Sebisa mungkin, bangunan harus tahan bocor dan tahan terhadap limpasan air hujan.
  2. Kadar Air 60% – Syarat berikutnya adalah kadar air. Kadar air sebisa mungkin dipertahankan pada angka 60%. Tujuannya adalah agar bakteri pengurai mampu bekerja dengan baik. Bakteri inilah yang akan mempercepat proses pengomposan. Jika dalam prosesnya kompos terlihat kering, maka tambahan air perlu diberikan agar kadar air tetap terjaga di 60%.
  3. Suplai Oksigen – Tidak hanya air, oksigen pun juga perlu diperhatikan. Karena bakteri pengomposan akan bekerja dengan baik pada kadar oksigen yang baik juga. Jika tidak, maka proses pengomposan akan berjalan kurang efisien.
  4. pH Kompos (Basa) – Selain air dan oksigen, sifat keasaman dari kompos juga harus dilihat dan diperhatikan. Pada dasarnya pH kompos itu bersifat basa. Sehingga pH dalam proses pengomposan tidak boleh menjadi asam. Maka dari itulah abu dapur atau kapur dibutuhkan dalam proses pengomposan, tujuannya adalah agar pH kompos tetap basa.
  5. Tinggi Tumpukan Kompos – Tinggi tumpukan kompos perlu dibuat minimal 1 meter. Tujuannya agar kompos tetap memiliki suhu yang ideal untuk proses penguraiannya.

Proses Membuat Pupuk Kompos

Pupuk kompos terbuat dari bahan-bahan alami, seperti kotoran hewan, daun-daunan, dan lain sebagainya melalui proses pengomposan. Proses pengomposan perlu dilakukan dengan bahan dan mekanisme tertenu. Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat 1 ton kompos, antara lain:

  • 100 kg arang sekam
  • 20 kg kaptan (gamping atau dolomit)
  • 400 kg jerami padi
  • 400 kg kotoran ternak
  • 5 kg mikroorganisme pengurai (Orgadec)
  • 80 kg serbuk geraji
bahan pembuatan kompos Pixabay

Berikut beberapa langkah pembuatan kompos yang perlu diketahui:

  1. Mengumpulkan semua bahan dan mempersiapkan peralatan untuk membuat kompos.
  2. Mencampurkan 5 kg mikroorganisme pengurai dengan 10 kg arang sekam.
  3. Mencampurkan jerami padi, arang sekam, serbuk gergaji, kotoran ternak, kaptan, kemudian mengaduk semua bahan hingga merata.
  4. Jika bahan kompos kering, maka menambahkan air diperlukan hingga kadarnya mencapai 60%. Lalu bagaimana cara menakar kadar air yang 60% itu? Cara tradisional yang bisa dilakukan adalah dengan tes sederhana. Genggam adonan kompos dengan tangan, kemudian lepaskan. Jika ketika dilepaskan, adonan kompos masih berbentuk genggaman tangan (tidak buyar), maka itu tandanya adonan kompos sudah memiliki kelembaban 60%.
  5. Cara menata kompos pun perlu diperhatikan. Pertama, hamparkan bahan kompos kira-kira setebal 10 cm di tempat yang sudah disediakan. Kemudian mikroorganisme pengurai ditaburkan di bagian atasnya. Tumpuk lagi dengan adonan kompos berikutnya, juga dengan tebal 10 cm. Lalu taburi lagi dengan mikroorganisme pengurai. Cara ini diulang terus hingga adonan kompos mencapai ketinggian minimal 1 meter.
  6. Tumpukan kompos kemudian diberikan penutup yang rapat. Tujuannya adalah untuk menjaga proses pengomposan tetap konsisten, dan juga suhu dan kelembapannya.
  7. Pada hari kedua setelah proses di atas dilaksanakan, pengecekan suhu perlu dilakukan. Jika suhu meningkat dari sebelumnya, maka itu artinya proses pengomposan berjalan dengan baik.
  8. Kemudian setiap 7 hari atau 1 pekan, kompos perlu dibalik. Tujuannya adalah untuk menambah suplai oksigen. Jangan lupa juga untuk mengecek kelembabannya. Jika kompos kering, maka pemberian air perlu dilakukan agar tetap memiliki kelembaban 60%.
  9. Tanda bahwa proses pengomposan berakhir adalah suhu adonan yang mengalami penurunan, yaitu di bawah 30 derajat Celcius. Tutup rapat kembali dengan plastik. Di hari ke-21, proses pembalikan dilakukan dua kali. Kemudian suhu perlu dicek kembali di hari tersebut. Tidak hanya itu, warna kompos pun perlu dicek. Biasanya menjadi cokelat tua kehitaman.
  10. Kompos bisa disaring dengan saringan kawat, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Penyimpanan kompos perlu dilakukan di ruangan yang terhindar dari hujan dan juga sinar matahari langsung.

Faktor Keberhasilan

Agar pembuatan kompos berhasil, maka perlu diperhatikan faktor-faktor berikut ini:

1. Rasio C/N

Mikroorganisme pengurai bahan organik membutuhkan karbon dan nitrogen sebagai energi untuk pertumbuhan dan pembentukan protein. Diperlukan rasion C/N sebesar 20:1 hingga 30:1 agar pengomposan berhasil.

Nilai C/N bahan organik diusahakan sama atau mendekati nila C/N dalam tanah agar pupuk dapat diserap oleh tanaman. Umumnya kita perlu menurunkan kadar C/N sampah organik menjadi kurang dari 20 agar sama dengan C/N tanah. Selain itu, kadar C/N yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap proses pengomposan yang semakin lama.

2. Ukuran Partikel

Semakin kecil dan homogen ukuran partikel, maka proses pembuatan kompos semakin cepat. Ukuran partikel kecil dan homogen memiliki luas permukaan yang lebih luas dibanding partike berukuran besar.

Ukuran partikel yang ideal adalah 5 hingga 10 cm, sehingga mikroorganisme dekomposer lebih cepat menghancurkan bahan-bahan organik.

3. Aerasi

Agar pengomposan berjalan lancar, maka dibutuhkan suplai oksigen atau aerasi yang baik. Bakteri mikroba memerlukan sirkulasi oksigen selama proses penguraian. Oleh sebab itu, diperlukan pembalikan timbunan bahan organik ketika proses penguraian agar bakteri mendapat oksigen dan menjangkau ke seluruh bahan kompos.

4. Porositas

Porositas adalah kuran ruang kosong diantara tumpukan materian bahan organik. Besaran dan banyaknya rongga dalam proses pengomposan bergunan untuk mengalirkan pasokan oksigan agar sampah tidak jenuh. Pengomposan juga dapat terganggu jika rongga-rongga tersebut tersisi air.

5. Kelembaban

Kelembaban bahan organik memberikan pengaruh terhadap proses pengomposan. Timbunan bahan pupuk harus selalu lembab agar mikroorganisme tetap hidup. Kandungan lengas yang digunakan antara 50% hingga 60% karena kelembaban harus sesuai, tidak lebih maupun kurang.

Kelebihan kadar air akan menyebabkan volume udara berkurang sehingga aerasi terganggu, sedangkan kekurangan kadar air akan menghentikan aktivitas mikroba pengurai.

6. Suhu

Dalam proses pengomposan, suhu memegang peranan penting agar proses dekomposisi berhasil. Proses penguraian akan menyebabkan peningkatan suhu hingga 70%. Hal itu dipengaruhi oleh volume timbunan terhadap permukaan sehingga diperlukan penentuan ektinggain timbunan bahan organik.

Semakin tinggi volume sampah terhadap permukaan, maka semakin tinggi suhu panas yang terisolasi dan membuat proses pengomposan menjadi lebih cepat.

7. pH

Seluruh bahan organik ber-pH 3 sampai 11 dapat dijadikan pupuk kompos, namun idealnya adalah bahan dengan ph 5,5 sampai 8. Kondisi ini sesuai dengan mikroorganisme yang lebih menyukai pH netral, sedangkan jamur yang menyukai pH asam. Dalam proses pengomposan, pH akan berubah mulai dari awal yang bersifat asam kemudian menjadi netral pada tahp akhir pengomposan.

8. Unsur Hara

Kandungan hara dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kompos juga perlu diperhatikan. Semakin kaya kandungan hara makan aktivitas mikroba dalam proses dekomposisi semakin cepat dan lebih bermanfaat bagi tanaman.

9. Bahan Berbahaya

Tidak menutup kemungkinan jika bagan alami yang akan dijadikan kompos mengandung unusr berbahaya. Kita perlu memilah dan menghindarkan pengomposan dari bahan berbaya yang sulit diuraikan, seperti plastik, batu, logam dan bahan lain yang bersifat racun dan tercemar.

10. Lama Pengomposan

Lama pembuatan kompos dipengaruhi oleh jenis bahan yang digunakan, proses pengolahan serta jenis mikroba dalam proses dekomposisis. Setidaknya diperlukan waktu 2 hingga 3 bulan untuk menghasilkan pupuk kompos berkualitas baik.

Kualitas Kompos Terbaik

Kualitas pupuk kompos yang baik ditentukan oleh kematangan kompos. Kompos yang berkualitas memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  1. tidak berbau
  2. tekstur remah
  3. warna kehitaman karena kandungan hara tinggi
  4. pH > 5
  5. rasio C/N < 20
  6. rendah toksik
  7. tinggi kandungan mikroba yang menguntungkan, seperti termofiliki dan aktinomucetes sebagai pengendali penyakit tumbuhan

Mutu kompos yang baik juga dipengaruhi oleh bahan baku dan proses pengomposan. Bahan baku yang baik dan pembuatan kompos yang baik akan menghasilkan kompos berkualitas tinggi.

Selain itu, pastikan kompos tidak tercemat oleh zat logam berat, seperti merkuri, seng, kromium, dan kadmium serta bahan kimia seperti pestisida

Peluang Bisnis Pupuk Kompos

Pupuk kompos saat ini mulai dilirik untuk menjadi salah satu penyubur di dunia tanaman karena berbagai macam manfaat positifnya. Oleh karena itu, tentu saja imbasnya membuat peluang bisnis untuk produksi kompos terbuka lebar.

panen padi Pixabay

Apalagi bahan-bahan untuk membuat kompos sebagian besar sudah tersedia, yaitu dari sampah organik di sekitar kita. Peluang semacam ini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi setiap pengusaha. Terlebih lagi, bisa bermanfaat untuk mengurangi sampah lingkungan.

Berikut ini beberapa penjelasan mengenai peluang bisnis pupuk organik yang perlu diketahui:

1. Target Pasar

Salah satu hal yang perlu diketahui sebelum memulai sebuah usaha adalah mengetahui target market atau sasaran penjualan. Tentunya pupuk kompos sangat berkaitan dengan sistem pertanian atau perkebunan organik.

Di Indonesia permintaan akan pupuk organik semakin hari semakin meningkat. Bahkan banyak di antaranya yang memang membutuhkan keberadaan pupuk kompos organik, baik skala kecil maupun skala besar.

Kebanyakan pupuk kompos organik dimanfaatkan untuk pertanian tanaman hortikultura dan tanaman pangan lainnya. Bahkan, menurut hasil penelitian, sebagian lahan pertanian di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, memang menggunakan pupuk organik.

Terlebih lagi kebutuhan pupuk organik ini juga dalam jumlah yang besar. Dalam 5,9 juta hektar lahan petani membutuhkan hingga 3 juta ton pupuk organik. Sementara itu, pada lahan 94 ribu hektar, dibutuhkan hingga 190 ribu ton pupuk organik.

Tentu jumlah itu menjadi masuk akal dan dipertimbakan untuk memulai mengembangkan bisnis pupuk kompos. Selain pangsa pasarnya tersedia, bahan-bahan pun mudah didapatkan.

2. Keuntungan Bisnis Kompos

Peluang bisnis pupuk kompos memiliki banyak keunggulan. Salah satunya adalah modal awal yang tidak begitu besar. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang diperlukan adalah sampah. Bahkan produksi kompos dalam skala kecil bisa dibuat sendiri di rumah. Dan hal ini sudah bisa dijadikan peluang bisnis rumahan skala kecil yang menarik.

Proses pembuatan pupuk kompos yang relatif mudah pun bisa menjadi andalan bagi pebisnis baru yang baru saja merintis sebuah usaha. Namun untuk pebisnis kompos dalam skala besar, memang dibutuhkan peralatan dan tempat usaha yang memadai. Namun hal ini akan menjadi peluang usaha yang menguntungkan.

3. Kendala Bisnis Pupuk Kompos

Di balik keuntungan sebuah bisnis, tentu ada kendalanya pula. Kendala utama dari bisnis pupuk kompos adalah persaingan usaha. Karena semakin hari, semakin banyak pelaku bisnis di bidang pupuk organik, sehingga persaingan menjadi semakin ketat. Maka dari itu diperlukan inovasi baru yang lebih menarik untuk menggaet pelanggan.

Selain itu, saat ini proses pengomposan juga bisa dilakukan dalam kurun waktu yang lebih cepat dari biasanya dengan mesin jenis tertentu. Hal ini akan menambah biaya modal awal, khususnya bagi pelaku bisnis yang baru saja merintis.

Kendala lainnya adalah sertifikasi kelayakan dari Departemen Pertanian di Indonesia yang sangat sulit untuk didapatkan. Maka dari itu, hingga hari ini masih banyak produsen pupuk kompos yang belum disertifikasi. Hal ini akan mempengaruhi harga jual di pasaran yang akan sangat murah. Sehingga persaingan harga di pasaran akan sangat terasa.

4. Strategi Pemasaran

Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menyusun strategi pemasaran adalah dengan mendata target pasarnya. Biasanya target pasar pupuk kompos adalah para pecinta tanaman dan para petani.

Jika di sebuah kawasan, terdapat banyak petani atau pecinta tanaman, maka kelompok tersebut berpotensi menjadi pembeli yang stategis untuk bisnis ini. Strategi pemasaran pun bisa dilakukan dengan mengajak petani untuk membeli produk. Cara lainnya adalah menawarkan langsung dengan target konsumen anda.

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai pupuk kompos, karakteristik, hingga peluang usahanya. Semoga dapat memberikan referensi yang bermanfaat.