Rumah Adat Maluku – Jenis, Keunikan, Gambar & Penjelasan

Rumah Adat Maluku – Di masa penjajahan, Maluku merupakan salah satu wilayah penting karena provinsi ini kaya akan rempah-rempah. Bahkan sebelum penjajah memasuki nusantara, Maluku sudah menjadi pusat perdagangan rempah dunia.

Pala dan cengkeh adalah komoditas perdagangan utama. Bahkan hingga kini, Maluku masih dijuluki sebagai Kepulauan Rempah. Selain dijual ke seluruh Indonesia, rempah-rempah Maluku juga dikirim ke berbagai negara.

Tak hanya kaya akan rempah-rempah, Maluku juga dikenal dengan keramahan warganya dan kulinernya yang lezat. Orang Maluku pun dikenal pandai menyanyi dan menari, sehingga seni musik dan seni tari sangat berkembang di daerah ini.

Rakyat Maluku sangat melestarikan dan bangga terhadap adat istiadatnya. Salah satu yang sayang untuk dilewatkan adalah rumah adat Maluku yang sangat khas dan memiliki daya tarik tersendiri.

Rumah Tradisional Maluku

Secara umum rumah adat di Maluku terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Rumah Baileo dan Rumah Sasadu. Rumah Baileo adalah rumah tradisional masyarakat Maluku dan Maluku Utara. Sementara Rumah Sasadu digunakan di daerah Maluku Utara. Keduanya sama-sama memiliki ciri dan karakteristik adat Maluku yang kuat.

1. Rumah Baileo

Rumah tradisional pertama yang berasal dari provinsi tertua di Indonesia ini adalah Rumah Baileo. Dalam bahasa Indonesia, rumah tersebut memiliki makna “balai”.

Rumah Baileo pariwisataindonesia.id

Bangunan ini dapat ditemukan di daerah Maluku dan Maluku Utara. Rumah Baileo memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Maluku. Rumah ini juga menjadi salah satu ikon yang mewakili kebudayaan Maluku. Selain masjid dan gereja, Rumah Baileo adalah salah identitas masyarakat Maluku.

Ciri khas utama Rumah Baileo terletak pada ukurannya yang sangat besar. Rumah ini digunakan sebagai tempat upacara adat, balai warga, dan juga tempat penyimpanan benda suci. Bentuk Rumah Baileo berbeda jika dibandingkan rumah lain di sekitarnya.

– Gaya Arsitektur Rumah Baileo

Rumah Baileo adalah rumah panggung yang tidak memiliki dinding. Makna di balik tidak adanya dinding adalah agar roh nenek moyang dapat keluar masuk ke Rumah Baileo dengan leluasa

Karena merupakan rumah panggung, maka lantainya berada di atas permukaan tanah. Makna di balik posisi lantai ini adalah roh nenek moyang agar berada di tempat dan derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat.

– Ukiran di Rumah Baileo

Pada Rumah Baileo terdapat banyak ukiran dan ornamen khas. Corak yang biasa digunakan adalah 2 ekor ayam yang saling berhadapan dan diapit oleh 2 ekor anjing di kedua sisinya. Makna ukiran ini adalah kemakmuran dan kedamaian. Selain itu juga mengandung filosofi adanya roh nenek moyang yang tetap menjaga kehidupan masyarakat Maluku.

Jenis ukiran lainnya adalah bentuk bulan, bintang, dan matahari. Letak ukiran tersebut berada di bagian atap. Ukiran tersebut diberi warna hitam, merah, dan kuning. Makna ukiran ini adalah Rumah Baileo telah siap sebagai balai yang akan menjaga adat istiadat disertai dengan hukum adatnya.

– Keunikan Rumah Baileo

Rumah Baileo bentuknya cukup unik dan berbeda dari jenis rumah lain yang ada di sekitarnya. Lalu, apa saja yang membuat rumah adat ini berbeda?

a. Rumah Tinggi dan Tidak Rapat Dengan Tanah

Dibangun dengan struktur rumah panggung, Rumah Baileo cukup posisinya cukup tinggi. Tujuannya adalah untuk menempatkan roh nenek moyang di tempat yang lebih tinggi dibandingkan penerusnya. Selain itu, lantai yang lebih tinggi juga bermanfaat untuk menghindari serangan hewan buas yang dulu banyak berkeliaran dan bisa membahayakan keselamatan jiwa.

b. Adanya Batu Pamali

Batu pamali adalah batu kerikil berukuran besar. Di Rumah Baileo, batu ini diletakkan di bagian depan pintu utama rumah. Bagu pamali digunakan untuk meletakkan sesajen yang dipersembahkan warga sekitar untuk roh nenek moyang. Batu pamali juga menjadi simbol bahwa rumah tradisional tersebut harus dihormati.

c. 9 Tiang Penyangga

Rumah panggung pasti dilengkapi dengan tiang penyangga. Khusus pada Rumah Baileo, tiang penyangganya berjumlah 9 buah. Peletakan tiang-tiang tersebut bukan hanya sesuai dengan ilmu arsitektur, tetapi ada makna lain di baliknya.

Di sebelah kanan terdapat 5 tiang yang berarti perkumpulan antar desa. Kelima tiang ini disebut sebagai Siwa Lima. Di sebelah kiri terletak keempat tiang penyangga lainnya.

d. Rumah Berukuran Besar

Ukuran yang berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya membuat Rumah Baileo mudah dibedakan dengan bangunan lain di sekitarnya. Rumah ini dibuat berukuran besar, mengingat fungsinya sebagai balai warga untuk bermusyawarah bagi masyarakat setempat. Agar bisa mengumpulkan banyak orang, maka dibutuhkan area yang cukup besar.

2. Rumah Sasadu

Rumah Sasadu adalah rumah adat Suku Sahu yang bermukim di Halmahera Barat. Suku Sahu adalah suku tertua di Halmahera Barat. Di wilayah ini, Rumah Sasadu lazim dijumpai di setiap desa dan difungsikan sebagai tempat berkumpul warga sekitar dan juga tempat bermusyawarah.

Rumah Sasadu travlr.com

Dalam bahasa Sahu, Sasadu tidak memiliki arti appun. Sementara dalam bahasa Ternate, Sasadu artinya adalah menimba. Biasanya Rumah Sasadu dibangun di tengah desa, namun tidak terlalu jauh dari jalan besar. Tujuannya adalah agar Rumah Sasadu mudah dijangkau oleh semua warga dari seluruh penjuru kampung.

– Fungsi Khusus Rumah Sasadu

Meski bisa digunakan sebagai tempat berkumpul dan bersantai warga masyarakat ketika tidak ada perayaan atau acara khusus di Rumah Sasadu, namun rumah adat ini fungsi utamanya adalah sebagai tempat diselenggarakannya berbagai upacara adat. Misalnya pemilihan ketua adat baru, menyambut tamu dari kampung yang lain, ataupun perayaan panen.

– Konstruksi Rumah Sasadu

Pada struktur kerangka rumah, rumah ini menggunakan bahan dari bambu, kayu atau batang pohon kepapa. Sementara itu, langit-langitnya terbuat dari susunan daun pohon sagu yang disatukan. Untuk menyatukan susunan daun sagu dilakukan dengan cara mengikatnya dengan tali bambu atau menggunakan tali ijuk.

Kebanyakan bahan pembuatan Rumah Sasadu berasal dari alam. Namun dalam perkembangannya, digunakan pula bahan olahan pabrik. Rumah Sasadu modern memiliki lantai yang terbuat dari semen. Alasannya, selain lebih bersih, perawatannya pun lebih mudah.

Jika berdasarkan bentuk aslinya, lantai Rumah Sasadu terbuat dari tanah setinggi 30 sampai 40 cm yang dipadatkan, kemudian sebagai penopang lantai digunakan batu kali yang disusun menbentuk sudut delapan. Atap rumah yang asli terbuat dari inuk, sekarang berganti dengan atap seng.

Untuk ukurannya, Rumah Sasadu tidak memiliki pakem tertentu. Setiap rumah memiliki ukuran yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi, Rumah Sasadu lebih besar dari rumah penduduk di sekitarnya. Diketahui Rumah Sasadu yang paling besar ukurannya adalah 9 x 6 meter.

– Filosofi Rumah Sasadu

Rumah Sasadu dibangun dengan arsitektur yang mencerminkan adat istiadat Suku Sahu. Rumah ini dibuat pendek agar setiap orang bisa dengan mudah masuk ke dalamnya. Hal ini bertujuan agar setiap orang saling menghormati dan tetap patuh terhadap adat istiadat yang diwariskan leluhur.

Sasadu diibaratkan sebagai kapal perang Kerajaan Ternate bagi Suku Sahu. Kapal perang yang merapat ke pantai ini disebut sebagai Kagunga Tego-Tego. Inilah yang membuat Rumah Sasadu delalu dibangun ke arah daratan dan gunung. Lokasinya pun berada di tengah kampung.