5++ Rumah Adat Papua – Keunikan, Gambar & Penjelasan Lengkap

Rumah Adat Papua – Dulunya Irian Jaya dan sekarang Papua, merupakan provinsi terluas di Indonesia. Wilayahnya berada di bagian paling timur Indonesia, berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Papua memiliki tradisi yang sangat berbeda dan unik jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan karena Papua memiliki banyak suku yang masih tinggal di daerah hutan pedalaman.

Ada ratusan suku yang ada di Papua, namun tidak semuanya masih primitif dan sangat memegang tradisi nenek moyangnya. Beberapa suku yang dianggap masih primitif adalah Suku Asmat, Amungme, Dani, Korowai, dan Muyu.

Masing-masing suku ini memiliki tradisi dan budaya yang berbedadan hingga kini beberapa hal masih dilestarikan. Salah satunya adalah rumah adat Papua. Bentuk rumah adat asal Papua sangat unik dan berbeda dari kebanyakan rumah adat lainnya di Indonesia.

Rumah Adat Papua

Terdapat beberapa jenis rumah adat di Papua dan masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari bentuk maupun bahan pembuatannya. Perbedaan ini justru membuat Papua semakin eksotis dan menarik.

Ada banyak jenis rumah tradisional Papua, namun setidaknya ada 5 jenis rumah adat yang perlu diketahui untuk menambah wawasan nusantara kita, yaitu Honai, Rumsram, Ebai, Kariwari, dan Wamai.

1. Rumah Adat Honai

Rumah adat yang pertama berasal dari Suku Dani yang mendiami lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Biasanya rumah Honai dibangun di ketinggian 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan air laut. Suku lain yang bertetangga dengan Suku Dani di wilayah yang sama juga menggunakan rumah ini. Mereka adalah Suku Yali dan Suku Lani yang populasinya sekitar 100.000 jiwa.

Rumah Honai goodnewsfromindonesia.id

Honai berasal dari kata “hun” yang artinya laki-laki, dan “ai” yang berarti rumah. Pada dasarnya, rumah Honai memang ditinggali laki-laki dewasa dari Suku Dani. Jenis rumah adat ini biasanya ditemukan di lembah dan  pegunungan Baliem. Rumah Honai mudah dikenali karena bentuknya mirip seperti jamur.

Bentuk atapnya yang mengerucut terbuat dari jerami. Bentuknya dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dinding dari air hujan. Atap yang mengerucut ternyata juga mampu mengurangi hawa dingin masuk ke dalam rumah.

Ciri khas lain dari rumah Honai ialah hanya memiliki 1 buah pintu dan tanpa jendela. Namun rumah Honai termasuk cukup tinggi, yaitu mencapai 2,5 meter. Sementara itu, luasnya tidak terlalu besar, yaitu sekitar 5 meter.

Rumah sengaja dibuat sempit dengan tujuan menahan suhu yang dingin di pegunungan. Ruangan yang sempit konon akan lebih hangat. Di bagian tengah rumah ada lingkaran untuk menyalakan api untuk menghangatkan badan. Api sekaligus berfungsi sebagai penerangan.

Bangunan rumah Honai yang terdiri dari 2 lantai adalah ciri khas lainnya. Lantai bawah digunakan untuk tempat berkumpul keluarga dan melakukan kegiatan lainnya. Sementara lantai atas digunakan untuk tidur. Sebagai alas tidur, Suku Dani menggunakan rumput yang dikeringkan. Semua bahan-bahan diambil dari alam sekitar.

Rumah Honai dibangun secara berkelompok, karena 1 keluarga bisa memiliki beberapa rumah. Satu rumah untuk tempat tinggal, sementara rumah lainnya untuk tempat ternak milik mereka.

Babi adalah binatang ternak yang dianggap sangat berharga bagi Suku Dani. Bahkan permasalahan antar sesama bisa terselesaikan melalui pembayaran dengan ternak babi. Sehingga ternak ini layak mendapatkan tempat tinggal tersendiri.

Rumah Honai juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tempat penyimpanan mumi di lantai bawahnya. Bisa juga sebagai untuk menyimpan alat perang ataupun warisan nenek moyang lainnya yang menjadi simbol Suku Dani. Selain itu, rumah Honai juga seringkali difungsikan untuk melatih anak laki-laki agar menjadi pria kuat saat dewasa nanti. Warga juga menyusun strategi perang di rumah ini.

2. Rumah Adat Rumsram

Rumah adat Rumsram berasal dari Suku Biak Numfor yang bermukim pulau-pulau dan bekerja sebagai nelayan. Rumah ini utamanya dihuni oleh laki-laki. Fungsi utamanya adalah untuk melatih anak laki-laki menjadi pria kuat saat mereka dewasa nanti. Bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga dan mampu melindungi sukunya.

Rumah Rumsram borneochannel.com

Bentuk rumah Rumsram adalah rumah panggung persegi, seperti rumah di pesisir pada umumnya. Atapnya berbentuk perahu terbalik, sebagai identitas pemilik rumah yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Tinggi rumah Rumsram mencapai 6 hingga 8 meter. Rumah ini dihiasi dengan umiran di beberapa bagiannya.

Sama seperti rumah Honai, rumah Rumsram terdiri dari 2 tingkat. Lantai pertama berupa ruangan terbuka dan tidak memiliki dinding. Lantai inilah yang digunakan untuk mendidik anak laki-laki. Misalnya memahat, membuat perahu, cara berperang, dan jenis keahlian lainnya. Sementara itu, lantai duanya digunakan untuk tempat tinggal.

Lantai rumah Rumsram terbuat dari kulit kayu, sementara dindingnya terbuat dari pohon bambu yang dicacah. Terdapat 2 pintu yang terletak di bagian depan dan belakang rumah. Rumah Rumsram juga dilengkapi beberapa jendela, bagian atapnya terbuat dari daun sagu.

3. Rumah Adat Ebai

Rumah ini sebenarnya hampir sama dengan rumah Honai. Ebai merupakan gabungan dari kata “ebe” yang berarti tubuh, dan “ai” yang berarti rumah.

Ebeai kemudian menjadi Ebai adalah rumah bagi kaum perempuan. Mulai dari ibu, anak perempuan, dan anak laki-laki tinggal di rumah Ebai. Kemudian setelah memasuki usia dewasa, anak laki-laki akan pindah ke rumah Honai.

Rumah Ebai borneochannel.com

Rumah Ebai digunakan untuk mengajarkan keahlian khusus untuk anak perempuan. Para ibu akan mengajarkan anak-anak perempuan mengenai apa yang harus dilakukan saat mereka dewasa dan menikah nanti.

Bentuk rumah Ebai hampir sama dengan rumah Honai, hanya saja lebih pendek. Letaknya pun berdampingan, bisa berada di sisi kiri maupun kanan dari rumah Honai. Pintu rumah Ebai dibuat tidak sejajar dengan pintu rumah Honai.

4. Rumah Adat Kariwari

Rumah adat yang keempat berasal dari Suku Tobati-Enggros yang mendiami tepi Danau Sentani, Jayapura. Rumah Kariwari dibuat khusus untuk laki-laki yang usianya sudah mencapai 12 tahun.

Sama seperti rumah Honai dan Rumsram, rumah Kariwari juga difungsikan sebagai tempat mendidik anak laki-laki. Berbagai keahlian, seperti cara mencari nafkah, cara berperang, dan melindungi suku diajarkan di sini.

Rumah Kariwari wikimedia

Rumah Kariwari unik karena bentuknya menyerupai segi delapan. Tujuan dibangunnya bentuk ini adalah untuk menahan hembusan angin yang kuat. Bagian atapnya berbentuk kerucut. Bentuk atap ini memiliki makna yang erat dengan kepercayaan masyarakat setempat, yaitu mendekatkan diri kepada para leluhur.

Tinggi rumah Kariwari mencapai 20 hingga 30 meter dan terdiri dari 3 lantai. Lantai yang pertama digunakan untuk tempat mendidik anak laki-laki. Lantai kedua digunakan untuk ruang pertemuan kepala suku setempat dan pada malam hari digunakan untuk tidur anak laki-laki. Lantai yang ketiga khusus untuk tempat berdoa atau meditasi.

5. Rumah Adat Wamai

Rumah Wamai khusus digunakan untuk tempat menyimpan ternak beberapa suku di Papua. Hewan ternaknya berupa ayam, babi, anjing, dan hewan ternak lainnya.

rumah wamai roomah.id

Pada umumnya, rumah Wamai berbentuk persegi. Tapi ada juga yang membangunnya dalam bentuk lain. Besarnya pun tergantung dari banyaknya hewan ternak yang dimiliki tiap keluarga.