7++ Rumah Adat Sumatera Barat – Jenis Rumah Gadang Minangkabau, Keunikan, Gambar & Penjelasan

Rumah Adat Sumatera Barat – Salah satu provinsi di Indonesia yang sibuk dengan kegiatan perniagaan adalah Sumatera Barat. Masyarakat Minangkabau sebagai suku asli kawasan ini dikenal sangat ulet dalam berdagang. Ada pula adat merantau yang diwariskan oleh moyang mereka, sehingga etnis ini dikenal gigih dan ulet dalam mencari penghidupan meski di tempat perantauan.

Sumatera Barat pernah menjadi pusat pendidikan di Pulau Sumatera, terutama untuk pendidikan Islam. Provinsi ini juga menjadi kawasan yang maju, bahkan semenjak masa penjajahan kolonial Belanda. Mayoritas penduduknya berasal dari etnis Minangkabau, kemudian disusul oleh etnis Mandailing, Jawa, dan Mentawai.

Masyarakat Sumatera Barat bangga akan asal-usul mereka. Sifat ini yang membuat mereka tetap melestarikan peninggalan leluhurnya. Hal tersebut nampak dalam keseharian, kesenian, penggunaan bahasa daerah, dan warisan rumah adat Sumatera Barat yang tak kalah menarik untuk disimak.

Rumah Adat Sumatera Barat

Rumah tradisional dari Sumatera Barat termasuk salah satu yang populer bagi masyarakat Indonesia. Bentuknya yang unik membuat siapapun yang melihat mudah mengingatnya. Bangunan adat ini disebut sebagai Rumah Gadang dengan keunikan tidak hanya dari bentuknya, namun juga warnanya.

Rumah Gadang terbagi menjadi beberapa jenis yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Beberapa diantaranya adalah untuk rumah tinggal, tempat pertemuan keluarga, tempat musyawarah antar warga, acara adat pernikahan, dan lain-lain.

Rumah Gadang masih bisa ditemui di Sumatera Barat, utamanya di kawasan Padang Panjang. Solok, Pasaman, dan lain-lain. Walaupun digunakan sebagai rumah tinggal, Rumah Gadang juga dijadikan objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

1. Rumah Gonjong Ampek Baanjuang

Rumah ini sangat megah dan menjadi bangunan yang wajib didirikan di kawasan Luhak Nan Tigo. Rumah Gonjong Ampek Baanjuang merupakan simbol adat bagi masyarakat setempat, rumah ini memiliki keunikan berupa tambahan bangunan anjung di sisi kiri dan kanan bangunan. Anjung biasanya digunakan untuk upacara adat pernikahan.

Rumah Gonjong Ampek Baanjuang pengajar.co.id

Rumah yang berbentuk persegi memanjang ke samping ini memiliki 4 gonjong di bagian atapnya. Sesuai dengan namanya “ampek” yang berarti 4. Gonjong Ampek Baanjuang memiliki 7 ruangan di dalamnya.

2. Rumah Gadang Gajah Maharam

Rumah ini seringkali disebut sebagai rumah tahan gempa. Hal ini karena Rumah Gadang Gajah Maharam memiliki 30 buah tiang penopang, sehingga sangat kokoh dan tahan guncangan. Banyaknya tiang juga menandakan bahwa rumah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena termasuk rumah yang mewah.

Rumah Gadang Gajah Maharam wikimedia

Saat membangun Rumah Gadang Gajah Muharam, ada syarat yang harus dijalankan. Syaratnya adalah rumah harus menghadap ke arah utara. Sementara sisi selatan, timur, dan barat ditutupi dengan sasak.

Seluruh bangunan rumah terbuat dari kayu yang berkualitas. Misalnya kayu ruyung, juar, dan surian. Bagian atapnya terbuat dari seng. Ciri lain yang membuat rumah adat ini semakin indah adalah adanya ukiran khas Minangkabau di pintu-pintu kamarnya.

3. Rumah Gonjong Anam

Bentuk Rumah Gonjong Anam mirip dengan Rumah Gadang Gajah Maharam, hanya saja terdapat beberapa modifikasi. Adanya tambahan ukiran khas Minangkabau di beberapa area menjadikannya berbeda dengan Rumah Gajah Maharam. Rumah tradisional ini juga lebih modern dibandingkan rumah adat Sumatera Barat lainnya.

Rumah Gonjong Anam borneochannel.com

Beberapa hal yang membuatnya lebih modern adalah Salangko atau adanya penutup kolong rumah. Jika biasanya pada Rumah Gadang digunakan anyaman bambu, Rumah Gonjong Anam menggunakan papan untuk bagian Salangko. Jumlah jendela di rumah pun dibuat lebih banyak agar pencahayaan alami dari luar dapat masuk ke dalam rumah.

4. Rumah Gadang Gonjong Limo

Jenis rumah adat Gadang Gonjong Limo bisa ditemukan di kota Payakumbuh. Bentuk rumah tradisional Sumatera Barat ini mirip seperti Gajah Maharam, namun tidak ada anjung pada bagian rumah.

Rumah Gadang Gonjong Limo borneochannel.com

Ciri khas Rumah Gadang Ginjong Lima terletak pada penambahan gonjong di sisi kiri dan kanan bangunan.

5. Rumah Gadang Surambi Papek

Rumah adat ini sangat khas dan berbeda dari rumah adat Sumatera Barat lainnya. Keunikannya terletak pada pintu masuknya yang berada di bagian belakang rumah. Ketika tamu berkunjung pun harus masuk melalui bagian belakang rumah.

Rumah Gadang Surambi Papek goodnewsfromindonesia.id

Posisi pintu tersebut sesuai dengan namanya, “papek” berarti belakang. Jadi bagian serambinya berada di belakang. Namun seiring dengan perkembangan jaman, ada juga yang membuat pintu masuk di bagian depan.

Makna dari posisi pintu ini sebenarnya sebagai penunjuk siapa pemilik rumah tersebut. Pintu di bagian belakang berarti rumah dimiliki oleh wanita. Sementara pihak pria hanya menumpang, entah itu suami ataupun menantu.

6. Rumah Gonjong Sibak Baju

Struktur rumah Gonjong Sibak Baju menyerupai Rumah Gadang Gajah Maharam. Namun rumah ini memiliki ciri khas berbeda, yaitu bentuknya yang menyerupai belahan baju, dimana dalam bahasa Minang disebut sibak baju. Bahan material baungan rumah ini terbuat dari kayu dan sasak.

Rumah Gonjong Sibak Baju borneochannel.com

7. Rumah Gadang Batingkek

Dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Gadang Batangkek diartikan menjadi Rumah Gadang Bertingkat, dinamakan demikian karena gonjongnya yang bertingkat-tingkat.

Rumah Gadang Batingkek roomah.id

Dulu Rumah Gadang Batingkek bisa dengan mudah ditemukan di kota Padan, namun sekarang sudah mulai sulit ditemui. Struktur bangunan rumah adat ini juga menyerupai Rumah Gadang Gajah Maharam.

Keunikan Rumah Adat Sumatera Barat

Beberapa keunikan yang dimiliki Rumah Gadang sehingga membuatnya berbeda dan menari dibanding rumah tradisional lainnya adalah:

1. Tahan Gempa

Pulau Sumatera memiliki kondisi geografis yang sering dilanda gempa. Oleh karena itu, kebanyakan rumah adatnya dibuat dengan struktur rumah panggung yang dilengkapi dengan tiang penyangga.

Tiang penyangganya pun dipilih dari bahan yang kokoh, agar tahan terhadap guncangan gempa. Rumah panggung yang tinggi juga berfungsi melindungi penghuninya dari serangan musuh ataupun hewan buas.

Tinggi rata-rata Tumah Gadang dari permukaan tanah adalah 2 sampai 3 meter. Tiang penyangganya kebanyakan ditancapkan di atas batu. Sebab jika langsung ditanam ke tanah, kayu akan mudah lapuk. Saat terjadi gempa pun, batu akan meredam getaran gempa. Sehingga rumah tidak akan mengalami kerusakan yang parah.

2. Material Kayu Tahan Rayap

Kayu yang digunakan untuk membuat Rumah Gadang bukanlah sembarang kayu, namun dipilih yang tahan terhadap rayap. Kayu digunakan untuk lantai, dinding, pintu, jendela, dan tangga sehingga dipilih yang benar-benar berkualitas.

Untuk tonggak rumah, kayunya harus memasuki usia tertentu dan melalui pengawetan kayu seperti direndam selama beberapa tahun sebelum mulai diproses sebagai tonggak Rumah Gadang. Hal ini juga diatur dalam adat.

Proses perendaman kayu bertujuan agar kayu tersebut tahan rayap. Di masa lalu, belum ada zat kimia anti rayap seperti sekarang. Karena proses inilah, maka Rumah Gadang bisa bertahan lama, bahkan beberapa rumah yang berusia puluhan hingga ratusan tahun masih bisa kita jumpai hingga sekarang.

3. Tidak Memakai Paku

Untuk menyambung beberapa bagian rumah, tidak digunakan paku sama sekali, melainkan pasak kayu. Cara ini serupa dengan pembuatan kapal kayu di jaman dahulu. Inilah salah satu alasan yang menjadikan Rumah Gadang disebut-sebut sebagai kapal yang diberi atap.

4. Penyimpanan Makanan Dibangun Terpisah

Sebagian besar material Rumah Gadang ternuat dari kayu, sehingga berisiko mudah terbakar api. Karena itu, lumbung padi dibangun secara terpisah, agar jika hal yang diinginkan terjadi, penghuni rumah tidak mengalami kerugian besar dan tetap memiliki makanan untuk bertahan hidup.