Siamang – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Habitat & Keunikan

5/5 - (3 votes)

Siamang adalah primata berbulu hitam dengan lengan panjang yang mirip seperti lutung dan jenis kera lainnya. Primata ini bergerak dengan sangat lincah di pepohonan, sehingga dijuluki sebagai hewan spesialis akrobat.

Selain disebut siamang, dibeberapa daerah hewan ini disebut dengan Owa atau Gibbon. Disebut demikian karena spesies kera kecil ini pandai berakrobat dengan kedua tangannya.

Taksonomi

Owa siamang adalah primata tidak berekor dan tubuhnya kurang tegak. Secara ilmiah, berikut adalah klasifikasi kera siamang.

KingdomAnimalia
SubkingdomBilateria
InfrakingdomDeuterostomia
FilumChordata
SubfilumVertebrata
InfrafilumGnathostomata
SuperkelasTetrapoda
KelasMammalia Linnaeus
SubkelasTheria Parker and Haswell
InfrakelasEutheria Gill
OrdoPrimates Linnaeus
SubordoHaplorrhini Pocock
InfraordoSimiiformes Haeckel
SuperfamiliHominoidea Gray
FamiliHylobatidae Gray
GenusSymphalangus Gloger
SpesiesSymphalangus syndactylus

Siang terbagi menjadi 2 subspecies, yaitu  siamang Malaysia atau Symphalangus syndactylus continentalis dan siamang Sumatera atau Symphalangus syndactylus syndactylus.

Morfologi

Selain di wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaysia, fauna ini juga hidup di kawasan Asia Tenggara. Berikut adalah ciri atau bentuk morfologi siamang.

owa siamang thrigbyhall.com

1. Bentuk Tubuh

Tubuh siamang mirip seperti kera pada umumnya, namun dengan ukuran lebih besar serta tidak memilki ekor. Wajahnya besar dengan hidung yang kecil, bermoncong pendek dan diatas bibirnya tumbuh kumis tipis.

Karakteristik siamang yang sangat khas adalah adanya kantung pada tenggorokan yang disebut kantung gular. Kantung di tenggorokan tersebut dapat membesar hingga seukuran jeruk bali atau bola.

Kantungnya berwarna merah muda atau abu-abu. Kantung siamang berfungsi sebagai kotak suara untuk memperkaut vokalisasi suara agar lebih keras. Suara siamang sanga keras dan nyaring, sehingga dikenal sebagai owa paling berisik.

2. Ukuran Tubuh

Dibandingkan dengan jenis owa atau gibbon lain, siamang mempunyai ukuran dan berat lebih atau sekitar dua kali lipat. Berat badannya antara 10 sampai 12 kg untuk betina, serta jantan sekitar 12 sampai 16 kg. Panjang atau tinggi tubuhnya sekitar 71 hingga 90 cm.

3. Tangan

Lengan siamang bentuknya ramping dan panjang. Panjang tangganya mencapai 2,3 hingga 2,6 kali panjang tubuhnya. Lengan panjang tersebut memudahkan dalam bergerak dari satu pohon ke pohon lain secara cepat.

Jumlah jarinya seperti jari manusia, yaitu 5 dengan 1 ibu jari berlawanan arah dan 4 jari lain tumbuh memanjang. Meski berjumlah sama, namun panjang jari tangan siamang lebih panjang dibanding jari manusia.

Selain untuk bergelantung di ranting pohon, tangannya juga digunakan untuk menangkap dan menggenggam.

4. Kaki

Ukuran kaki owa siamang lebih pendek dibanding tangannya. Kakinya berguna untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara berjalan.

Fungsi kaki tersebut sesuai dengan nama ilmiahnya, yaitu Symphalangus yang berasal dari bahasa Yunani. “sum” dan “phalanx” berarti “bersama” dan “jari”.

5. Warna

Mata siamang berwarna gelap. Hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh rambut lebat dan panjang, kecuali bagian jari, telapak kaki dan tangan, serta area wajah.

baca juga:  Hari Strategi Konservasi Sedunia - 6 Maret, Lestarikan Sumber Daya Alam

Rambut siamang dewasa berwarna hitam, kecuali pada area mulut dan dagu dengan warna rambut abu-abu. Sedangkan saat masih bayi atau kecil, seluruh warna bulu atau rambutnya adalah hitam.

Habitat dan Sebaran

Siamang merupakan hewan arboreal, yaitu sebagian waktunya dihabiskan berada di kanopi pohon bagian tengah ke atas. Hewan ini tidak mempunyai kemampuan berenang sehingga cenderung mengindari air.

Siamang tersebar di habitat hutan tropis Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia, Indonesia dan kawasan selatan Semenanjung Thailand. Umumnya hewan ini hidup di daerah dataran rendah, hutan pegunungan, hutan hujan dipterokarpa atas dan area perbukitan.

Di Indonesia, sebaran utama primata berbulu hitam ini berada di wilayah Sumatera. Pegunungan Barisan bagian barat hingga tengah adalah habitat utamanya. Sedangkan di Malaysia, siamang hidup di kawasan selatan Sungai Perak.

Beberapa kawasan lindung yang menjadi tempat tinggal siamang, antara lain:

Status Kelangkaan dan Populasi

Berdasarkan data primata Asian Primates for the IUCN Red List yang dikeluarkan pada tahun 2006, jumlah siamang masih belum tersedia. Akan tetapi pada tahun 2008, The Indonesian Gibbon Workshop memperkirakan populasi hewan ini kurang dari 200.000 ekor di Pulau Sumatera. Sedangkan di lingkungan konservasinya (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) hidup sekitar 22.390 ekor.

Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan data terdahulu,yaitu populasi siamang sekitar 360.000 ekor pada tahun 1987.

Penurunan populasi tersebut menjadikan primata berbulu hitam ini menjadi salah satu spesies yang terancam punah. Salah satu penyebab kelangkaan tersebut adalah hilangnya habitat alami sehingga mengancam kehidupannya di alam liar. Menurut perkiraan, sekitar 80% habitat alaminya telah rusak akibat kegiatan manusia.

Kegiatan manusia yang memberikan dampak buruk dan ancaman bagi satwa antara lain perkebunan, pertanian, pertambangan, infrastruktur, dan sebagainya sehingga fauna liar tidak tergusur dari rumahnya.

Siamang juga terdaftar pada Appendix I CITES 2011, dimana hewan ini tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan meskipun dari hasil penangkaran. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Siamang merupaakn hewan yang dilindungi dan telah banyak upaya konservasi dilakukan oleh beberapa organisasi, contohnya oleh Gibbon Conservation Center dan Association of Zoos & AquariumsSaving Animals From Extinction atau AZA SAFE.

Karakteristik dan Perilaku

Secara alami, siamang memiliki usia hidup yang cukup lama, yakni antara 35 tahun hingga 44 tahun.

Gibbon atau siamang adalah satwa teritorial dengan wilayah yang termasuk kecil. Wilayah hidupnya sekitar 0,24 km² dan wilayah jelajahnya sekitar 15 sampai 35 hektar.

Primata jantan dan betina akan memberikan tanda dan mempertahankan wilayahnya dengan mengeluarkan suara. Suara tersebut akan menggema di rimbunnya hutan sehingga dapat didengar dari kejauhan. Selain sebagai cara untuk mempertahankan wilayahnya, suara tersebut juga berguna untuk menjaga ikatan pasangan kawin.

thainationalparks.com

Siamang sangat suka beristirahat atau tidur sehingga nampak seperti hewan pemalas. Primata ini banyak menghabiskan waktunya berbaring di cabang pohon dan akan bergerak saat mencari makan, serta melakukan kegiatan sosial. Hal tersebut biasanya dilakukan secara berkelompok dan aktif pada siang hari.

baca juga:  9++ Daftar Hewan Tercepat di Dunia - Darat, Laut & Udara

Untuk berkomunikasi dan meningkatkan ikatan sosial pada kelompoknya, siamang menggunakan ekspresi wajah dan perilaku. Primata ini akan bersosialsaso dalam kelompok kecil yang terdirid ari 2 sampai 3 ekor. Contoh interaksi sosial adalah saling melakukan perawatan diri dengan membersihkan rambut dengan jari secara bergantian.

Biasanya siamang dewasa memerlukan waktu 15 menit untuk merawat bulu-bulunya. Fakta menarik di alam liar, umumnya semakin dominan spesies maka akan lebih banyak perawatan yang diperoleh dari anggota kelompoknya.

1. Makanan

Sebagian besar kehidupan satwa omnivora ini dihabiskan untuk mencari makanan. Siang merupakan hewan pemakan segala, dimana sekitar 75% dari asupan makanannya berupa sayuran dan buah-buahan.

Disamping itu, hewan ini juga memakan biji-bijian, bunga kulit kayu, daun, burung kecil, serangga, telur burung dan lainnya. Sedangkan makanan favoritnya adalah buah ara, yaitu buah yang mirip dengan buah tin.

Ketika bergelantungan di cabang pohon, siamang akan memilih dan memetik buah yang telah matang dan membiarkan buah yang masih mentah. Hewan ini sangat menyukai makanan manis dengan akdar gula tinggi. Buah-buahan akan dikonsumsi pada awal hari, tujuannya adalah agar memperoleh energi lebih banyak.

Siamang tidak mempunyai kemampuan berenang dan cenderung takut air. Kondisi ini berpengaruh terhadap caranya untuk minum, sehingga terlihat sangat unik. Ia akan bergelantung diatas pohon kemudian mencelupkan tangan untuk mengambil air atau menggosok daun yang basah.

2. Predator

Kera siamang ada;ah hewan yang lincang dengan pergerakan cepat, sehingga predator akan sulit untuk menangkap / memangsanya. Namun biasanya jika primata ini sedang lengah, maka akan dimangsa oleh elang, ular, dan macan tutul.

3. Peran Bagi Ekosistem

Sebaran tumbuhan merupakan salah satu mekanisme alami agar populasi tumbuhan tetap ada dan berlangsung. Sebaran melalui penebaran benih dapat dilakukan dengan perantara angin atau anemokori, tumbuhan sendiri atau autokori, air atau hidrokori, dan hewan atau zookori.

Dalam hal ini, siamang mempunyai peran yang cukup penting. Peran siamang dalam ekosistem adalah sebagai penebar benih alami karena sebagai pemakan buah serta mempunyai mobilitas berpindah tempat yang tinggi dan luas.

Kemampuannya sebagai penebar benih sangat berpengaruh terhadap proses regenerasi hutan dan ketersediaan makanan bagi hewan lain.

Reproduksi / Perkembangbiakan

Siamang termasuk kategori hewan monogami, artinya primata ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Bahkan jika pasangannya telah mati, maka kera ini umumnya tidak akan mencari pasangan lain lagi. Meski begitu, ada beberapa kera siamang yang melakukan poligami dengan pasangan lebih dari satu.

Kemampuan reproduksi secara matang biasanya dicapai pada usia 6 sampai 9 tahun. Primata ini tidak berkembangbiak secara musim, sehingga umumnya hanya menghasilkan 1 atau 2 keturunan dalam kurun waktu 3 tahun. Sehingga secara keseluruhan dalam hidupnya, betina sanggup melahirkan hingga 10 anak.

Masa kehamilan betina adalah 230 hingga 235 hari atau selama 7 bulan. Siamang yang baru lahir warnya abu-abu, merah muda dan berambut pendek. Berat bayi tersebut sekitar 400 hingga 600 gram.

Setelah lahir, bayi akan terus bersama induknya dengan cara digendong saat pergi kemanapun. Kemudian sekitar 3 bulan setelahnya, waktu gendong bayi akan mulai berkurang dan durasi kontak antara induk dan bayi semakin menurun.

Saat menginjak usia 1 tahun, maka tugas merawat bayi dilakukan oleh siamang jantan meskipun masih disusui oleh betina hingga umur 2 tahun. Selain diasuh oleh induk jantan, bayi tersebut juga akan diasuh oleh kelompok lain. Dalam komunitasnya, jantan juga bertugas untuk mempertahankan wilayah, merawat anggotanya, serta membela dari serangan musuh.

baca juga:  Jenitri - Taksonomi, Morfologi, Asal Pohon, Sebaran, Kandungan, Manfaat & Budidaya

Jika bayi siamang mempunyai saudara yang lebih tua, maka juga akan dibantu merawat oleh saudara tuanya tersebut. Selama masa ini, bayi akan diajarkan cara interaksi sosial, mencari makan dan cara bergerak di cabang pepohonan. Bayi siamang akan tetap tinggal dengan keluarga hingga usia 7-8 tahun.

Fakta Unik

Berikut adalah ringkasan dari fakta-fakta unik yang dimiliki oleh primata siamang, antara lain:

kera siamang Pinterest

1. Owa Terbesar di Dunia

Dibandingkan dengan 18 jenis Owa lain di dunia, siamang termasuk salah satu jenis owa terbesar di dunia. Meski dinobatkan seperti itu, namun tubuhnya belum sebanding dengan primata lain seperti gorila, orang utan dan simpanse. Rata-rata ringgi siamang sekitar 71 sampai 90 cm dengan bobot 10 hingag 16 kg.

2. Takut Air

Keseharian siamang dihabiskan untuk berkeliling, mencari makanan, serta tempat istirahat. Hal tersebut dilakukan karena primata ini tidak membangun sarang tetap seperti primata lainnya.

Hewan ini sangat suka berayun di pepohonan dan jarang beraktivitas diatas tanah. Selain itu, siamang juga cenderung menghindari genangan air karena tidak memiliki kemampuan berenang. Bahkan saat minum, ia akan menjaga tubuhnya agar tidak terkena air dengan cara mencelupkan tangannya atay menggosok daun basah.

3. Kebiasaan Tidur Aneh

Primata yang disebut sebagai owa terbesar di dunia ini mempunyai kebiasaan tidur yang unik. Siamang akan beristirahat atau tidaur dengan menyangga atau menggantungkan tubuhnya di pepohonan.

4. Suara Unik

Adanya kantung tenggorokan berwarna merah muda keabu-abuan merupakan salah satu ciri khas urama dari siamang. Kantung tenggorokan tersebut dapat menggembung hingga seukuran jeruk bali.

Kantung tersebut akan menggembung saat siamang mengeluarkan suara atau melakukan panggilan. Suara yang dihasilkannya sangat keras dan berisik.

Kantung tenggorokan siamang mampu menghasilkan dua suara utama, yaitu dentuman keras ketika mulutnya tertutup serta seperti bunyi “wow” saat mulutnya terbuka. Selain itu, owa besar ini juga sanggup mengeluarkan suara menyerupai gonggongan anjing.

Suara-suara siamang tersebut bertujuan untuk komunikasinya antara sesamanya serta sebagai peringatan terhadap wilayah kekuasaanya.

5. Tidak Memiliki Ekor

Salah satu fungsi dari ekor pada primata adalah untuk bergelantungan di cabang pohon. Namun pada siamang, ia tidak memiliki ekor. Meski begitu, ia dapat berayun dan bergelantungan hanya menggunakan lengan panjangnya.

Tidak adanya ekor tersebut menjadi salah satu ciri khas siamang sehingga membedakannya dengan jenis primata lainnya. Selain itu, ciri utama lain dari owa besar ini adalah adanya kantung tenggorokan yang dapat membesar serta rambut tubuh berwarna hitam.

6. Pandai Berayun dan Memanjat

Siamang bisa dikatakan sebagai primata akrobatik, yaitu jenis primata dengan kemampuan memanjat sangat baik. Hal ini dikarenakan postur lengannya yang panjang dan kuat sehingga memudahkan dan memungkinkannya untuk berayun sejauh 3 meter dalam sekali ayun.

Selain itu, tubuhnya yang ramping dan ringan sangat mendukung untuk berayun dan memanjat pohon lebih mudah. Uniknya, ibu jari siamang sanggup berputar hingga 180 sehingga memudahkan untuk menggenggam apapun.

7. Hewan Setia

Siamang dikenal sebagai hewan setia. Primata ini termasuk golongan hewan monogami atau hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya.

Bahkan saat pasangannya mati, siamang tidak akan mencari pasangan lagi. Selain itu, dalam kelompok keluarga, mereka akan saling merawat, melindungi, dan bekerja sama dalam memelihara keturunannya.