Nilai sosial merupakan modal utama untuk menjadi Sociopreneur. Lalu, apa itu Sociopreneur?

Pengertian Sociopreneur

Sociopreneur adalah kegiatan, usaha, atau bisnis mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial dan bagaimana dana yang diperlukan tersebut dapat terkumpul. Sociopreneur tidak bertujuan untuk memperkaya diri sendiri, namun fokus terhadap kepentingan sosial dan kesejahteraan banyak orang.

Jenis atau bidang sociopreneur sangat beragam, antara lain dalam bidang keagamaan, lingkungan, kesehatan, bencana alam, hingga pendidikan.

Sociopreneur dapat terbentuk baik secara personal atau dari komunitas, namun pada umumnya tumbuh dari sebuah komunitas. Misalnya komunitas pengusaha yang telah memiliki omzet lebih dan berkeinginan untuk membagikan rezekinya kepada yang membutuhkan.

Biasanya sociopreneur ini tumbuh dari sebuah komunitas. Komunitas pengusaha yang sudah memiliki omzet yang berlebih setiap harinya, mereka termotivasi untuk menggulirkan sebagian rezekinya untuk melakukan sociopreneur.

Bagaimana Menjadi Sociopreneur?

Pelaku sociopreneur biasanya memiliki kepribadian yang pantang menyerah, gigih, mandiri, inovatif, peka sosial, dan memiliki empati yang tinggi terhadap masyarakat. Berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya dimiliki jika ingin menjadi seorang sociopreneur.

  1. Niat atau Komitmen – Komitmen dan niat kuat untuk memperbaiki keadaan sosial sangat diperlukan. Dengan memiliki komitmen yang kuat tentu akan mendorong inovasi-inovasi yang dapat dilakukan untuk perubahan positif.
  2. Ikhlas – Sociopreneur harus memiliki jiwa ikhlas karena kegiatannya berkaitan dengan kesejahteraan banyak orang dan bukan untuk kepentingan pribadi.
  3. Manfaat – Berbisnis tidak hanya memikirkan untuk memperoleh keuntungan, namun lebih ke tujuan manfaat dan aspek sosial.
  4. Pola Pikir – Dalam hal apapun diperlukan kematangan dalam berpikir, termasuk juga dalam Sociopreneur.
  5. Visi dan Misi Jelas – Menjalankan sociopreneur harus dilandasi visi dan misi yang jelas. Ketahui tujuan dalam membangun usaha ini.
  6. Pemecahan Masalah – Mampu memecahkan masalah dengan sistematis dengan mencari solusi berdasarkan identifikasi yang baik.
  7. Kompetitif – Agar usaha Sociopreneur tentu harus mampu berkompetisi dengan pelaku lainnya.
  8. Mental Kuat – Bisnis untuk membantu kesejahteraan orang lain tidaklah mudah. Banyak sekali godaan yang dalam hal materi. Jangan sampai godaan materi menyebabkan tujuan awal dari bisnis yang dijalani.

Sociopreneur Lingkungan Hidup

Pertumbuhan ekonomi di sebuah negara seperti di Indonesia mengakibatkan peningkatan konsumsi masyarakatnya. Tingkat konsumsi ini berbanding lurus dengan tingkat pertambahan sampah, baik sampah anorganik dan organik sebagai dampak konsumsi tersebut.

kertas koran

Sampah anorganik dan sampah organik yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan dampak sosial yang buruk. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan per orang setiap hari adalah 0,7 Kg atau rata-rata 64 ton sampah setiap tahunnya. Perlu diketahui, saat ini Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di lautan kedua terbesar di dunia.

Kondisi ini memberikan ide pada para Sociopreneur di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Para sociopreneur ini mencoba memberikan solusi sampah yang multibenefit. Selain membuat lingkungan bersih dan sehat, upaya ini juga mendongkrak perekonomian lokal. Dimana hasil dari pengolahan sampah dapat memberikan profit serta menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Hal ini telah dilakukan oleh Bintang Sejahtera, salah satu startup sosial yang memenangi penghargaan Sankalp pada tahun 2015.

Bintang Sejahtera telah mengelola dan mereduksi 240 ton sampah plastik sekaligus membuka lapangan kerja yang baru bagi masyarakat di Lombok. Bintang Sejahtera adalah sebuah bank sampah yang mendaur ulang sampah anorganik untuk dijual kembali ke perusahaan yang membutuhkan. Pendirinya adalah Febriarti Kairunnisa, dimana sejak tahun 2010 usaha ini telah berdampak positif.

Omzet yang dihasilkan dari usaha lingkungan ini tidak sedikit, yaitu menghasilkan omzet Rp 1 miliar setahun atau sekitar Rp 80-100 juta per bulan (data tahun 2015). Selain itu, Bintang Sejahtera juga mampu memberdayakan tenaga-tenaga lokal. Keuntungan dari bank sampah ini juga digunakan untuk biaya pendidikan 2.000-an murid di berbagai sekolah di Lombok.

Peran sociopreneur untuk mengatasi masalah-masalah sosial di Indonesia sebenarnya cukup signifikan dan peluangnya cukup besar. Mereka tidak hanya memikirkan keuntungan semata, tetapi juga memikirkan bagaimana bisa memperbaiki kehidupan bersama.