Suku Betawi – Sejarah, Bahasa, Kepercayaan, Karakteristik dan Penjelasan

Suku Betawi adalah kelompok masyarakat atau etnis yang umumnya bermukim di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Suku ini terbentuk dari percampuran suku-suku yang tinggal di Batavia atau saat ini bernama Jakarta.

Suku-suku dari berbagai asal tinggal di Batavia pada masa pendudukan kolonial Belanda sejak abad ke-17. Etnis Betawi berasal dari percampuran antar suku, bahkan antar bangsa pada masa itu.

Batavia merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan dengan penduduk yang didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dari berbagai daerah di tanah air. Sehingga bisa dikatakan, etnis yang disebut Betawi adalah pendatang baru.

Pada umumnya, kelompok masyarakat Betawi berasal dari perpaduan etnis seperti Sunda, Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makassar, Tionghoa, Arab, Ambon, dan India. Mereka bermigrasi dan akhirnya menetap dan berkeluarga di Batavia karena beragam alasan.

Sejarah Suku Betawi

Menurut beberapa ahli, sejarah keberadaan manusia di daerah Betawi sangat panjang.Bahkan ada pendapat jika hal tersebut telah dimulai dari masa sebelum masehi.

benyamin sueb lokadata.id

1. Sebelum Masehi

Menurut sejarawan Sagiman MD, masyarakat Betawi sudah ada sejak jaman neolitikum atau batu baru. Secara arkeologis ada bukti penemuan berupa alat-alat sederhana seperti kapak, pacul, beliung, dan pahat yang telah dihaluskan dan menggunakan gagang kayu.

Alat-alat ini ditemukan di daerah yang sekarang merupakan Jakarta, dan beberapa wilayah yang dilewati aliran sungai, seperti Cisadane, Ciliwung, Kali Bekasi, dan Citarum.

Dari alat-alat yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa mereka telah mengenal pertanian dan peternakan. Bahkan diperkirakan mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang teratur.

2. Setelah Masehi

Pada abad ke-2, wilayah Jakarta dan sekitarnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Salakanagara yang pusatnya berada di kaki Gunung Salak, Bogor. Rakyat Salakanagara adalah penduduk asli Betawi di masa itu. Kerajaan ini telah melakukan perdagangan dengan Cina, bahkan mereka pernah mengirim utusan ke Tiongkok di tahun 432 M.

Pada abad ke-5, Kerajaan Tarumanegara berdiri di sungai Citarum. Ada yang berpendapat kerajaan ini sama dengan Salakanagara, hanya saja berpindah dari kaki Gunung Salak ke sungai Citarum. Salah satu raja Tarumanegara merupakan ahli perairan. Sehingga saat itu dibuat sistem perairan yang baik. Rakyat Tarumanegara pun telah mengenal pertanian yang menetap.

Pada masa ini, kesenian juga sudah berkembang. Di saat panen tiba, petani merayakannya dengan bernyanyi. Para petani juga telah membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung yang dilengkapi baju dan topi. Orang-orangan ini bahkan masih digunakan sampai sekarang.

Sebagian masyarakatnya juga bekerja sebagai nelayan. Pada masa ini, masyarakat Betawi menggunakan bahasa Kawi dan memeluk agama Hindu.

Selanjutnya pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha berkuasa dan menaklukkan Tarumanegara. Pada masa ini, berdatangan orang Melayu dari Pulau Sumatera ke Betawi. Mereka kemudian menetap di daerah pesisir.

Perlahan-lahan, bahasa pergaulan pun bergeser dari bahasa Kawi ke Melayu. Bahasa Melayu awalnya hanya digunakan di pesisir, kemudian menyebar ke Gunung Salak dan Gunung Gede.

Dalam tatanan masyarakat masa ini, keluarga dianggap sangat penting dan setiap anggota keluarga harus menjaga martabat keluarga. Ayah disebut dengan baba, babe mba, abah, atau ani. Sedangkan ibu disebut sebagai mak, dan ada pula yang menyebutnya umi atau enya’.

3. Kolonisasi Eropa

Pada tahun 1512, terjadi perjanjian antara Kerajaan Pajajaran yang diwakili Raja Surawisesa dengan bangsa Portugis. Karena perjanjian ini, Portugis diperbolehkan membentuk komunitas di Sunda Kelapa.

Selanjutnya terjadi pernikahan campuran antara bangsa Portugis dengan penduduk setempat. Dari komunitas ini, lahirlah seni musik yang dikenal dengan Keroncong Tugu.

VOC kemudian menjadikan Batavia sebagai pusat niaga. Mereka membutuhkan banyak tenaga kerja untuk pertanian agar roda ekonomi di Batavia berjalan dengan lancar. VOC pun membawa budak dari Pulau Bali, yang saat itu masih menggunakan sistem kasta. Ketika Batavia sudah terbangun dan menjadi kawasan yang nyaman bagi orang Eropa, banyak pedagang dari negara lain seperti Tionghoa, Arab, dan India yang datang ke Batavia dan menetap di daerah yang berbeda-beda.

Adanya percampuran budaya di Batavia dapat dilihat dari penamaan daerah yang menunjukkan pengelompokan wilayah berdasarkan asal etnis atau penduduknya. Daerah tersebut contohnya Kampung Ambon, Kampung Makassar, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, dan Kampung Bali. Nama-nama ini beberapa di antaranya masih digunakan sampai sekarang.

Pada masa ini, Belanda melakukan sensus penduduk dan masyarakat dibedakan menjadi golongan-golongan berdasarkan daerah asal dan suku bangsanya. Namun pada sensus tahun 1893, beberapa golongan etnis tidak disebutkan lagi. Misalnya orang Melayu, Bali, Jawa, Sunda, Sulawesi Selatan, Sumbawa, Ambon, dan Banda.

Kemungkinan hal ini disebabkan karena Belanda menyatukan semua suku ini dalam 1 kategori, yaitu inlander atau pribumi. Selanjutnya muncul kategori baru yang sebelumnya tidak pernah ada, yaitu orang Betawi.

Kemudian pada tahun 1923, tokoh masyarakat Betawi, Husni Thamrin, mendirikan organisasi Pemoeda Kaoem Betawi. Karena organisasi inilah masyarakat Betawi menyadari bahwa mereka adalah satu golongan sehingga rasa persatuan semakin erat.

4. Masyarakat Betawi Setelah Kemerdekaan Indonesia

Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, kaum pendatang berbondong-bondong datang ke Jakarta dengan harapan mencari penghidupan yang lebih baik. Masyarakat Betawi justru menjadi terasing dan terpinggirkan. Orang Betawi bahkan menjadi kaum minoritas dan tergusur ke pinggiran Jakarta.

Hingga saat ini proses percampuran beragam etnis dan suku bangsa masih terjadi di Jakarta. Kelompok masyarakat inilah yang nantinya akan meneruskan kelompok masyarakat Betawi.

Bahasa Betawi

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Betawi berbeda dari bahasa yang digunakan orang Jakarta pada umumnya. Meski hampir sama karena asalnya adalah bahasa Indonesia, namun bahasa Betawi memiliki dialek yang khas.

Dialek bahasa Betawi terkesan campur-campur dikarenakan perpaduan banyak budaya dan bahasa di masa lalu. Banyak kosakata yang berasal dari bahasa Melayu, Bali, Tionghoa, Arab, dan lain-lain. Bahasa ini kemudian dinamakan bahasa Betawi yang merupakan bahasa Indonesia dengan dialek Betawi.

Kepercayaan Suku Betawi

Mayoritas populasi Suku Betawi adalah pemeluk agama Islam. Namun ada juga yang menganut agama Kristen Protestan dan Katolik, meski jumlahnya sangat sedikit.

suku betawi goodnewsfromindonesia.id

Mereka yang memeluk agama Kristen menyatakan bahwa mereka adalah keturunan bangsa Portugis dari abad ke-16 yang tinggal di Sunda Kelapa. Saat ini, kampung tempat bangsa Portugis dulu tinggal dinamakan dengan Kampung Tugu.

Karakteristik Orang Betawi

Orang Betawi dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi, walau terkadang agak berlebihan. Mereka juga dikenal memegang nilai-nilai agama, terutama masyarakat Betawi yang beragama Islam. Ajaran agama selalu diajarkan kepada anak-anak mereka.

Selain itu, masyarakat Betawi juga menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dari adanya hubungan yang baik antara Suku Betawi dengan kaum pendatang sejak berabad-abad lalu hingga sekarang.

Tak sedikit orang yang berasumsi bahwa masyarakat Betawi jarang yang berhasil dan hanya bertahan hidup dari warisan berupa tanah, tanpa bekerja. Walaupun ada sebagian yang hidup dari peninggalan orangtua, namun banyak orang Betawi yangdianggap sangat sukses. Misalnya Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, Fauzi Bowo, dan lain-lain.