Suku Dayak – Rumpun, Asal, Baju Adat, Rumah Tradisional, Bahasa dan Penjelasan

Suku Dayak adalah kelompok etnis asli pedalaman Kalimantan. Etnis Dayak tersebar di seluruh pulau Kalimantan, baik daerah yang masuk kekuasaan Indonesia maupun Sabah dan Sarawak yang merupakan wilayah Malaysia, serta di Brunei Darussalam. Suku Dayak tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Selain etnis Dayak, di Kalimantan terdapat 7 suku pribumi lainnya, yaitu Dayak, Banjar, Melayu, Kutai, Paser, Berau, dan Tidung. Suku Dayak dan Banjar adalah mayoritas. Suku Dayak tidak berdiri sendiri, melainkan terbagi menjadi beberapa sub suku.

Sub Suku Rumpun Dayak

Ada banyak teori mengenai sub Suku Dayak, beberapa ahli membaginya berdasarkan rumpun. Selain itu, ada yang membaginya berdasarkan bahasa yang dituturkan.

perempuan suku dayak dejabar.id

Etnis Dayak berdasarkan rumpun terdiri atas enam Stanmenras, yaitu:

  1. Rumpun Klemantan alias Kalimantan
  2. Rumpun Iban
  3. Rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau
  4. Rumpun Murut
  5. Rumpun Ot Danum-Ngaju
  6. Rumpun Punan

Berdasarkan bahasa yang digunakan, Suku Dayak terbagi menjadi 5, yaitu:

  1. Dayak Darat, memiliki 13 bahasa, salah satunya adalah bahasa Rejang
  2. Barito Raya, memiliki 33 bahasa dengan 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar
  3. Borneo Utara, memiliki 99 bahasa termasuk bahasa Yakan dari Filipina
  4. Melayik yang dituturkan oleh Dayak Meratus, Dayak Keninjal, Dayak Kendayan, Dayak Iban, Dayak Bamayoh, dan lain-lain.
  5. Sulawesi Selatan yang dituturkan oleh 3 Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat, yaitu Dayak Embaloh, Dayak Kalis, dan Dayak Taman

Asal Usul Suku Dayak

Pada umumnya mayoritas penduduk kepulauan di nusantara menggunakan bahasa Austronesia yang berasal dari Taiwan. Menurut perkiraan sekitar 4.000 tahun yang lalu sekelompok orang Austronesia secara bersama-sama pindah ke Filipina.

orang dayak kemdikbud.go.id

Kemudian, sekitar 500 tahun kemudian bermigrasi ke daerah selatan menuju ke kepulauan Indonesia. Namun diperkirakan mereka bukan orang pertama yang menempati pulau Borneo.

Ketika permukaan laut masih lebih rendah 120 sampai 150 meter dibandingkan sekarang, kepulauan Indonesia masih berupa daratan yang menyatu. Oleh para geolog, daratan ini disebut dengan paparan Sunda pada 60.000 hingga 70.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, manusia sempat berpindah dari Asia ke arah selatan. Bahkan mencapai Australia yang kala itu tak jauh dari daratan Sunda.

Di daerah selatan Borneo, Suku Dayak pernah membangun kerajaan. Daerah itu dinamakan Nansarunai Usak Jawa dalam tradisi lisan Suku Dayak. Artinya kata tersebut adalah Kerajaan Nansarunai yang dirusak oleh Majapahit pada sekitar tahun 1309 hingga 1389.

Kerajaan yang dimiliki Suku Dayak Maanyan tersebut akhirnya runtuh dan masyarakatnya terpaksa terpencar. Sebagian dari mereka masuk ke pedalaman yang ditempati oleh Suku Dayak Lawangan.

Pada sekitar tahun 1520 pengaruh Islam dari Kerajaan Demak masuk bersamaan dengan datangnya pedagang Melayu. Sebagian dari masyarakat Dayak kemudian memeluk agama Islam. Mereka tidak lagi menyebut diri mereka orang Dayak, namun menyebut diri sebagai orang Banjar dan Suku Kutai.

Sementara itu, Suku Dayak yang menolak memeluk agama Islam kembali menyusuri sungai dan masuk ke pedalaman hutan. Mereka bermukim di beberapa daerah, di antaranya adalah Margasari, Batang Labuan Amas, Batang Amandig, Batang Balangan, Kayu Tangi, dan Amuntai.

Selain itu, masih ada juga yang terdesak dan masuk ke rimba. Orang Dayak yang memeluk agama Islam mayoritas mendiami daerah Kalimantan Selatan dan Kotawaringin.

Suku Dayak yang masih mempertahankan adat istiadatnya kebanyakan memilih masuk ke pedalaman. Karena hal inilah Suku Dayak terbagi-bagi menjadi sub etnis berbeda-beda. Akan tetapi meski terpencar, mereka memiliki adat istiadat dan budaya yang hampir sama.

Suku Dayak Saat Ini

Saat ini, Suku Dayak terbagi menjadi 6 rumpun besar. Keenam rumpun tersebut adalah Iban, Klemantan, Punan, Murut, Apokayan, dan Ot Danum Ngaju.

gadis dayak boombastis.com

Dayak Punan adalah rumpun paling tua yang menghuni pulau Kalimantan. Sementara kelima rumpun lainnya adalah hasil percampuran antara Dayak Punan dengan kelompok Proto Melayu. Dari keenam rumpun tersebut, Suku Dayak terbagi lagi menjadi 405 sub suku.

Pakaian Adat Suku Dayak

Pakaian adat pria Suku Dayak disebut dengan Sadaq. Pria yang sudah tua memakai ikat kepala yang terbuat dari pandan. Mereka mengenakan atasan berupa baju rompi dan bawahan berupa cawat yang disebut dengan Abet Kaoq. Selain itu, mereka mengenakan senjata tradisional Mandau di bagian pinggang dengan cara diikat.

baju tradisional kalimantan barat beritagar.id

Pakaian wanitanya dinamakan Ta’a. Motif Ta’a tidak jauh berbeda dengan Sadaq. Bedanya, baju bagian atasnya disebut dengan Sapei Inoq. Sedangkan bagian bawahnya, kaum wanita Dayak mengenakan rok. Pakaian wanita dihiasi dengan manik-manik yang bervariasi, sehingga pakaian mereka tampak cantik.

Bahasa Dayak

Awalnya, Suku Dayak adalah penutur bahasa Austronesia. Kemudian salah satu kelompok yang merupakan asal usul etnis ini masuk dari bagian utara pulau Kalimantan. Selanjutnya mereka menyebar ke area pedalaman, pegunungan, dan pulau-pulau di Samudera Pasifik.

Dengan berkembangnya masyarakat Dayak dan masuknya pendatang dari Melayu serta berbagai tempat lainnya, maka bahasa Dayak mengalami perkembangan. Saat ini, Suku Dayak memiliki banyak bahasa tergantung wilayah tempat tinggal mereka.

Makanan Khas Dayak

Setiap daerah dan suku pasti memiliki makanan khas masing-masing, begitu juga dengan Suku Dayak. Beberapa kuliner khas Suku Dayak adalah Karuang yang merupakan sayur dari bahan singkong, Wadi yang berbahan dasar ikan, dan Jubu Singkah dari rotan muda yang diolah sedemikian rupa.

Bahan-bahan yang digunakan untuk makanan Dayak adalah hasil pemanfaatan hasil hutan disekitar tempat tinggal mereka. Selain itu, dalam memasak Suku Dayak menggunakan bumbu-bumbu yang sederhana.

Rumah Adat Suku Dayak

Masyarakat Dayak tinggal di dalam rumah tradisional bernama Rumah Betang atau yang lebih dikenal dengan nama Rumah Panjang. Rumah adat ini dapat dijumpai di berbagai wilayah di Kalimantan, tepatnya di bagian hulu yang menajdi pusat pemukiman Suku Dayak.

rumah panjang triptrus.com

Rumah Panjang umumnya mempunyai ukuran yang sangat besar, meskipun juga ada ukuran bermacam-macam tergantung dari jumlah anggota keluarga yang menempatinya.

Ada rumah yang panjangnya mencapai 15 meter dengan lebar mencapai 30 meter. Struktur rumah tradisional ini adalah rumah panggung dengan tiang penyangga dengan tinggi mencapai hingga 5 meter di atas permukaan tanah. Lebih tinggi dari rumah adat lain yang ada di Indonesia.

Rumah Panjang dibuat tinggi bertujuan untuk menghindari bencana banjir yang sering mengancam daerah hulu. Rumah Panjang menjadi tempat tinggal beberapa keluarga. Satu keluarga menempati satu ruangan.

Akan tetapi fungsi rumah adat ini bukan hanya sebagai rumah tinggal saja. Rumah Panjang juga digunakan untuk tempat mengadakan upacara adat. Sehingga rumah ini tidak hanya dimiliki secara pribadi, namun menjadi miliki masyarakat Dayak.

Rumah Panjang terdiri dari beberapa bagian. Di bagian depan terdapat teras yang disebut dengan pante, ruang tamun disebut samik, kemudian ada ruang keluarga.

Di dalam ruang tamu ada meja berbentuk lingkaran yang dinamakan pene. Fungsi pene adalah untuk tempat ngobrol, menerima tamu, dan meletakkan makanan bagi tamu. Di bagian belakang rumah ada dapur untuk keluarga. Pada umumnya, setiap keluarga memiliki dapur yang terpisah.