Suku Polahi tergolong sebagai salah satu dari sekian banyak suku terasing di Indonesia. Masyarakat Polahi tinggal di daerah pedalaman hutan Sulawesi, tepatnya di pedalaman hutan Boliyohuto, Paguyaman, dan Suwawa di Provinsi Gorontalo.

Untuk menemukan keberadaannya, maka dibutuhkan waktu cukup panjang untuk berjalan menyusuri hutan yang rapat. Suku Polahi tinggal di tempat yang cukup terasing, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mencapainya.

Kehidupan suku Polahi masih sangat sederhana. Sebab, tempat tinggalnya cukup terpencil dan sangat jauh dari keramaian. Bahkan beberapa orang menyebutkan bahwa kehidupan suku ini cenderung masih primitif.

Asal Usul dan Sejarah Suku Polahi

Konon, orang-orang Polahi berasal dari sekumpulan orang yang melakukan pelarian ke pedalaman hutan pada zaman pemerintahan Belanda di Indonesia. Warga suku Polahi melarikan diri agar terhindar dari penjajahan Belanda. Selain itu, warga Polahi melakukan pelarian dengan tujuan untuk menghindari membayar pajak.

Diketahui bahwa jumlah suku Polahi berjumlah kurang lebih 500 orang. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sebanyak 200 orang menetap di Paguyaman, sedangkan 300 orang menetap di Suwawa.

Karena tempat tinggalnya berada di pedalaman hutan yang terpencil, maka sudah dipastikan bahwa tingkat pendidikan masyarakat masih rendah. Tempat tinggal suku Polahi yang terpencil tersebut membuat warganya mengalami keterbelakangan karena tidak mendapatkan pendidikan formal yang layak.

Pixabay

Jika dilihat dari struktur fisiknya, orang dari Suku Polagi diduga berasal dari daerah Maluku. Suku Polahi memiliki struktur fisik yang serupa dengan ras Polynesia dan mirip dengan orang-orang Maluku. Orang Polahi memiliki tubuh yang kekar dan memiliki rambut yang berjenis ikal atau keriting.

baca juga:  Sejarah Suku Togutil dan Kehidupannya

Diperkirakan pada masa lalu, beberapa orang Maluku melarikan diri dari Belanda dengan cara menyeberangi laut hingga melintasi berbagai pulau. Orang-orang Maluku tersebut melintas melalui Ternate dan akhirnya mendarat di daratan Gorontalo. Setelah mendarat di Gorontalo, maka orang-orang tersebut mendirikan pemukiman.

Beberapa lama kemudian, datanglah kolonial Belanda yang kemudian semakin mendesak keberadaan orang-orang Maluku tersebut hingga mereka masuk ke pedalaman hutan dan mengisolasi warganya sampai dengan saat ini.

Inilah asal-usul dari Suku Polahi yang kemudian hidup dan menetap di pedalaman hutan dalam kelompok-kelompok kecil.

Tradisi Inses / Perkawinan Sedarah

Kehidupan para penduduk suku Polahi diwarnai pula dengan adanya tradisi atau kebudayaan yang bersifat kontroversial. Bahkan, sampai sekarang ini tradisi kontroversial tersebut masih sering dijalankan.

Tradisi ini adalah tradisi inses atau perkawinan sedarah. Inses atau perkawinan sedarah oleh kebanyakan orang memang dianggap sebagai hal tabu dan bahkan menjadi aib bagi siapapun. Namun, ternyata inses atau perkawinan sedarah ini kerap dilakukan oleh masyarakat Polahi.

Perkawinan antara ibu dan anak, atau ayah dan anak, serta perkawinan antara para saudara kandung sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh warga suku ini. Perkawinan sedarah dianggap wajar dan biasa saja bagi warga suku Polahi.

Inses atau perkawinan sedarah sebenarnya dilarang baik dari sudut pandang agama maupun karena alasan medis. Menurut medis, perkawinan sedarah dapat menghasilkan keturunan yang cenderung cacat. Anak hasil dari perkawinan sedarah diduga akan mengalami beberapa kelainan baik secara fisik maupun mental. Namun anehnya, hal ini tidak pernah dijumpai pada Suku Polahi.

Anak-anak yang lahir dari perkawinan sedarah tetap lahir dalam kondisi normal dan tidak memiliki cacat sama sekali. Anak-anak mereka juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang baik.

baca juga:  Hukum Adat – Penerapan dan Pengakuan di Indonesia

Tradisi inses sebenarnya terjadi sejak adanya pendudukan Belanda di Indonesia. Pemerintahan Belanda di Indonesia membuat Suku Polahi melarikan diri hingga ke dalam hutan. Mereka pergi ke hutan untuk bersembunyi hingga akhirnya terisolasi.

inses suku polahi inovasee.com

Dengan jumlah masyarakat yang sedikit ini, mereka melakukan perkawinan dengan keluarga intinya sendiri untuk mendapatkan dan mempertahankan keturunan. Hal inilah yang menjadi tradisi turun-temurun bagi warga suku Polahi.

Keyakinan dan Kepercayaan

Keunikan lain dari suku Polahi adalah pada kepercayaan yang dimilikinya. Masyarakat Polahi memiliki tiga Tuhan yang disembah. Walaupun mereka memiliki tiga Tuhan namun keberadaan tiga Tuhan tersebut tidak pernah menjadi masalah atau perdebatan bagi warganya. Suku Polahi justru selalu patuh dan taat pada tiga Tuhan tersebut.

Sosok Tuhan yang pertama bagi suku Polahi adalah Pulohuta. Sosok ini digambarkan sebagai sosok yang hidup dan berkuasa atas tanah. Oleh karena itu orang Polahi selalu melakukan hal semacam ritual doa untuk meminta izin pada Pulohuta sebelum membuka lahan.

Suku Polahi memang suka melakukan kegiatan berkebun, oleh karena itu mereka selalu membutuhkan lahan. Pembukaan lahan untuk berkebun akan diawali dengan doa permohonan izin pada Pulohuta agar apa yang dilakukan oleh suku ini bisa menjadi berkah dan selamat.

Sedangkan Tuhan yang kedua dinamakan Lati. Berbeda dengan Pulohuta yang diyakini berkuasa atas tanah, Lati diyakini mendiami pepohonan. Lati digambarkan sebagai sosok makhluk-makhluk kecil yang ada di dalam pepohonan.

Hal ini menyebabkan Suku Polahi selalu melakukan semacam ritual untuk mengusir Lati dari pohon yang akan ditebang. Jika orang Polahi ingin menebang pohon maka sebelumnya mereka akan membakar menyan sambil mengucapkan beberapa mantra untuk mengusir Lati dari pohon yang dijadikan sebagai tempat tinggalnya.

baca juga:  Daftar Suku di Indonesia

Kemudian Tuhan yang ketiga adalah Lausala. Lausala digambarkan sebagai sosok makhluk yang selalu memiliki keinginan untuk membunuh warga suku Polahi. Lausala digambarkan sebagai sosok yang seolah haus akan darah. Padahal sebenarnya warga suku Polahi ini belum pernah bertemu secara langsung dengan Lausala.

Kepercayaan mengenai tiga Tuhan ini memang tampak unik. Namun keberadaan tiga Tuhan ini tidak pernah menjadi persoalan bagi warga dan tidak pernah membuat warga menjadi berselisih.

Orang Polahi memang hidup di daerah terpencil dan cenderung mengalami keterbelakangan karena jauh dari perkembangan. Namun untuk saat ini, warga Suku Polahi sudah mulai berbaur dengan masyarakat daerah lain. Terutama warga Polahi yang tinggal dan menetap di daerah Asparaga.

Setidaknya warga suku Polahi saat ini sudah mulai berkomunikasi dengan masyarakat desa lain yang letaknya dekat dengan tempat pemukiman mereka. Mereka berharap agar pemerintah dapat menerima keberadaan mereka seperti suku yang lainnya.

Mereka juga berharap agar pemerintah dapat melindungi dan memperlakukan mereka dengan layak dan manusiawi. Kehidupan Suku Polahi kini semakin berkembang dan mulai meninggalkan tradisi lama dan kepercayaan lamanya.

Referensi: https://www.inovasee.com/membahas-kehidupan-suku-polahi-29878/ | https://www.boombastis.com/pernikahan-suku-polahi/85205 | https://www.yukepo.com/hiburan/indonesiaku/keunikan-suku-polahi-mulai-dari-melestarikan-budaya-inses-hingga-meyakini-tiga-tuhan/ | berbagai sumber

Mengenal Suku Polahi Lebih Dekat
5 (100%) 7 votes