Suku Togutil oleh beberapa orang disebut juga dengan Suku Tobelo Dalam. Seperti suku-suku pedalaman lainnya, suku ini juga tinggal di pedalaman hutan.

Suku Tobutil hidup di hutan secara nomaden, seperti di kawasan hutan Totodoku, Tukur-tukur, Lolobata, Kobekulo, dan Buli. Keseluruhan daerah ini termasuk ke dalam wilayah Taman Nasional Aketajawe, Lolonbata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Dilihat dari lokasi tempat tinggal tersebut, maka Suku Tobutil juga disebut sebagai suku yang mendiami Halmahera.

Sejarah Suku Togutil

Istilah “Togutil” sebenarnya memiliki arti terbelakang. Hal ini berkaitan dengan keberadaan Suku Togutil yang kebanyakan berada di pedalaman hutan. Berdasarkan lokasi tempat tinggalnya, sudah bisa dilihat bahwa kehidupan suku Togutil cenderung primitif karena jauh dari peradaban dan perkembangan zaman.

Kehidupannya pun cenderung primitif dan sangat sederhana, bahkan peralatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya masih terbuat dari bahan alam ala kadarnya.

Seperti sejarah Suku Polahi, kedatangan suku ini sendiri berasal dari cerita di masa pemerintahan Belanda. Pada saat Belanda menduduki Indonesia, hal ini membuat sekumpulan orang merasa takut sehingga memutuskan untuk lari dan bersembunyi di pedalaman hutan.

Pelarian yang terus berlangsung berujung di kawasan pedalaman hutan Halmahera. Kemudian, sekumpulan orang ini akhirnya menetap di sana dan terus melahirkan keturunan-keturunannya di area hutan tersebut.

Disebutkan dalam cerita sejarah, bahwa sekumpulan orang yang disebut dengan Suku Togutil ini tidak mau dijajah kolonial Belanda dan tidak mau membayar pajak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Belanda. Oleh karena itu, mereka melakukan pelarian dan mencari tempat persembunyian.

Hingga saat ini, masih banyak Suku Togutil yang tetap tinggal di pedalaman hutan. Kehidupan mereka juga cenderung masih sangat sederhana dengan pakaian yang tidak menutupi seluruh tubuhnya. Sekalipun mereka keluar daerah hutan hingga menuju ke perkampungan di luar hutan, namun tetap saja mereka akan kembali ke hutan untuk tetap tinggal di sana.

baca juga:  Bioflok - Sistem Budidaya Perikanan Lele & Nila

Mata Pencaharian dan Pemukiman

Kehidupan suku Togutil yang sangat sederhana dan jauh dari peradaban menjadikannya sangat bergantung pada alam. Berbagai macam hasil hutan menjadi sumber kehidupan bagi mereka.

Suku Togutil umumnya bermukim secara berkelompok di beberapa area hutan. Tak jarang pula mereka mendiami tempat di sepanjang aliran sungai, sehingga tempat tinggal mereka dekat dengan aliran air sebagai sumber kehidupan.

Menurut data, sebanyak 42 rumah tangga Suku Togutil tinggal dan menetap di sekitar Sungai Dodaga. Bentuk rumahnya masih sangat sederhana dan terbuat dari bahan-bahan yang terbatas.

Umumnya rumah kediaman Suku Togutil terbuat dari kayu dan bambu. Sedangkan atap rumahnya terbuat dari daun palem berjenis Livistonia sp. Kebanyakan rumah suku Togutil ini tidak memiliki dinding. Rumah yang didiami oleh suku ini juga memiliki lantai dengan jenis papan panggung, sehingga rumah mereka tergolong unik serta menjadi ciri dari Suku Togutil itu sendiri.

Orang Togutil yang hidup di dalam hutan dengan kehidupannya yang jauh dari kemajuan ini kebanyakan mendapatkan makanan dengan cara berburu. Mereka berburu hewan di hutan untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Seringkali orang-orang ini berburu babi dan rusa. Terkadang juga mereka mencari beberapa ikan di sungai yang terletak dekat dengan pemukiman mereka.

suku togutil bersama TNI medianasional.id

Orang-orang Togutil ini juga suka berkebun dan bercocok tanam. Sebagian besar kebun ditanami dengan ubi jalar dan ketela, pisang, pepaya, dan bahkan tebu.

Namun, kebiasaan suku Togutil yang suka berpindah-pindah ini membuat kebun tersebut tidak diusahakan secara intensif. Tentu saja keberadaan kebun ini pada akhirnya tidak akan merusak hutan karena tidak produktif.

baca juga:  Daftar Suku di Indonesia (Lengkap)

Suku Togutil juga mencari dan mengumpulkan beberapa telur megapoda, damar serta tanduk rusa untuk kemudian dijual. Biasanya Suku Togutil menjualnya dengan cara keluar hutan untuk mencapai daerah pesisir. Orang-orang yang bermukim di pesisir inilah yang akan membeli barang-barang yang dijual oleh Suku Togutil.

Adat Istiadat Togutil

Sistem kekerabatan Suku Togutil menganut sistem patriarkal. Jika seorang wanita sudah menikah, maka ia akan menjadi bagian dari kelompok keluarga suaminya. Wanita yang sudah menikah juga akan ikut dengan kelompok suaminya.

Namun, pada Suku Togutil ditemukan pula pernikahan yang dilakukan antara anggota keluarga yang ada di dalam suatu kelompok. Umumnya satu kelompok terdiri dari 10 KK. Satu rumah yang dibuat bisa saja dihuni oleh 2 KK. Dengan adanya banyak orang dalam satu kelompok ini, maka tak heran apabila warga dari suatu KK menikah dengan warga dari KK lainnya.

Jalinan kekerabatan pada suku Togutil diwujudkan dalam suatu upacara makan bersama. Kegiatan ini dinamakan makkudotaka. Upacara makkudotaka dilakukan tanpa adanya ikatan waktu. Upacara ini bisa dilakukan kapan saja, baik sebulan sekali maupun setahun sekali.

Warga Togutil juga memiliki adat istiadat lain, yaitu tidak mengenal adanya kepemimpinan. Dalam hidup berkelompok ternyata warga Togutil hanya mengangkat seseorang untuk dijadikan sebagai panutannya.

Biasanya panutan ini dipilih karena orang tersebut dianggap cakap dan cukup piawai dalam berburu dan mengobati orang sakit. Dalam hal ini Suku Togutil memiliki ritual pengobatan yang dikenal dengan istilah “maidu-idu”.

Istilah tersebut memiliki arti yang sama dengan tidur. Pengobatan ini dilakukan dengan cara membuat orang yang sakit menjadi kerasukan. Setelah itu roh halus yang merasukinya akan mengungkapkan penyebab penyakit yang diderita oleh orang tersebut, sehingga bica dicari langkah-langkah pengobatannya.

baca juga:  Suku Samin - Melanjutkan Ajaran Samin Soerosentiko

Dalam kehidupan Suku Togutil, seringkali juga terjadi konflik. Konflik terjadi karena faktor pemicu adanya penculikan istri atau anak perempuan yang dilakukan oleh suatu kelompok pada kelompok lainnya.

Agama dan Kepercayaan

Kepercayaan asli Suku Togutil sebenarnya cenderung mengacu pada adanya makhluk halus. Mereka juga percaya pada kekuatan adikodrati yang ada di sekitar lingkungan hidup mereka. Makhluk-makhluk halus ini seringkali disebut dengan istilah “ohitana” dan dipercaya dapat melakukan perbuatan yang mengarah pada kebaikan.

Namun makhluk-makhluk halus ini juga dianggap bisa bersifat mengganggu. Untuk mengendalikan perilaku makhluk halus tersebut, maka suku togutil seringkali melakukan upacara Gomanga yang biasanya dilakukan baik secara individu maupun secara kolektif.

suku togutil memeluk islam bmh.or.id

Akan tetapi, seiring perekembangan zaman di masa sekarang ini, beberapa orang dari suku Togutil telah mengenal agama Islam dan menganutnya. Pengenalan terhadap agama Islam ini umumnya dialami oleh warga Togutil yang telah hidup di area luar hutan dan mulai mengenal peradaban.

Suku Togutil saat ini tampaknya mengalami sedikit perkembangan. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya orang-orang Togutil yang keluar dari pedalaman hutan dan memutuskan untuk menetap di luar hutan.

Kebanyakan orang-orang Togutil kini hidup di wilayah pesisir. Namun ada pula beberapa dari orang Togutil yang mulai hidup di daerah perkampungan masyarakat dan menjalani kehidupannya seperti masyarakat lainnya. Mereka juga berpakaian secara pantas dan mulai mengenal pendidikan formal.

Referensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Togutil | https://bobo.grid.id/read/08895308/jarang-diketahui-inilah-suku-togutil-yang-hidup-di-hutan-hutan-maluku | berbagai sumber

5.0
22