Tokek – Taksonomi, Morfologi, Sebaran, Manfaat & Reproduksi

Sebagai keluarga cicak dan kadal, tokek bukan lagi jenis hewan yang bagi kita. Bahkan tidak jarang reptil yang juga kerap disebut cicak besar ini bisa dengan muda dijumpai di sekitar rumah.

Di Indonesia, tokek menjadi salah satu binatang yang keberadaannya dianggap biasa. Meski ada beberapa anggapan kepercayaan tentang mitos tokek di beberapa masyarakat.

Walau terlihat serupa, ternyata tokek dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hewan melata ini diketahui hidup di kawasan Asia hingga Kepulauan Pasifik dengan spesies yang bervariasi tergantung dengan habitatnya.

Binatang dengan kemampuan memutuskan ekor ini juga dikenal mempunyai perilaku unik. Selain itu meski masih satu rumpun dengan kadal dan cicak, tokek memiliki morfologi dan karakteristik yang berbeda.

Taksonomi

Tokek adalah salah satu satwa dalam keluarga reptil dan memiliki berbagai variasi spesies. Orang Inggris menyebut reptil ini sebagai tucktoo atau gecko, sementara di Indonesia beberapa istilah merujuk pada tokek, antara lain tokkek di Sulawesi dan tekek oleh penduduk Jawa.

Pixabay

Berikut ini adalah sistem klasifikasi atau taksonomi dari tokek, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasReptilia
OrdoSquamata
Sub-ordoSauria
FamiliGekkonidae
GenusGekko
SpesiesGekko gecko

Morfologi

Sebagai kerabat dekat cicak dan kadal, sekilas tokek mempunyai banyak sekali kemiripan dengan kedua reptil tersebut. Hanya saja jika dibanding cicak, ukuran tubuhnya jauh lebih besar.

gecko Pixabay

Berikut ini adalah penjelasan lebih rinci terkait ciri-ciri morfologi tokek, antara lain:

1. Wajah / Kepala

Bentuk mata tokek merupakan salah satu ciri untuk membedakan spesies ini dengan fauna dari rumpunnya. Tokek dikenal mempunyai mata yang sangat indah dengan iris mengarah vertikal serta berwarna kuning terang. Iris dan warna tersebut dipadukan lagi dengan ukuran mata yang tergolong besar.

Iris mata vertikal pada tokek sebenarnya hanya berlaku untuk spesies rata-rata saja, karena ada beberapa spesies yang mempunyai iris mata horizontal. Kedua jenis iris tersebut bahkan dimiliki oleh berbagai spesies yang berasal dari famili Gekkonidae, tidak terkecuali spesies Gekko gecko yang merupakan tokek rumahan.

Selain itu fotoreseptor sel mata tokek dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu bentuk batang dengan kemampuan menyesuaikan untuk kondisi malam hari dan bentuk kerucut untuk menyesuaikan di siang hari.

Hal ini sangat diperlukan karena binatang ini termasuk nokturnal yang aktif di malam hari. Pigmen warna fotoreseptor ini meliputi hijau, ultraviolet, dan biru. Tidak hanya itu, pupil mata tokek memiliki bentuk tegak dan bergerigi di bagian pinggirnya.

Sedangkan morfologi pada area mulut tokek berupa mulut yang besar dan dilengkapi dengan deretan gigi tajam. Selain itu seperti kebanyakan keluarga kadal, tokek juga mempunyai lidah panjang.

2. Tubuh

Morfologi tubuh tokek sebenarnya sangat mirip dengan cicak, yakni berukuran pendek, gemuk, serta lebar. Akan tetapi ukuran tubuhnya lebih besar dengan panjang badan mulai dari 17 sampai 23 cm. Panjang tubuh ini adalah ukuran rata-rata tubuh tokek dan apabila hidup di tempat terik ukurannya dapat semakin panjang. 

Meski terlihat besar, ternyata reptil yang dipercaya mempunyai khasiat sebagai obat ini hanya mempunyak berat badan tokek berkisar antara 350 gram. Sebab area perut tokek dipenuhi angin sehingga nampak gemuk dan berisi.

Warna tubuh tokek cukup bervariasi, mulai dari agak cokelat hingga abu-abu kebiruan disertai corak jingga sampai merah. Selain itu ada pula tokek berwarna putih, kuning, albino, belang-belang hitam putih, serta hitam polos. Tekstur punggungnya agak kasar dan dipenuhi bintik-bintik berukuran besar.

Ukuran tubuh rata-rata tidak dapat menjadi patokan untuk membedakan antara tokek jantan dan betina, khususnya tokek terbang. Cara paling mudah untuk mengetahui jenis kelamin yaitu dengan memeriksa langsung jenis kelaminnya. Letak alat kelamin hewan ini berada di bagian pangkal ekor dengan bentuknya yang berbeda antara tokek jantan dan betina.

Namun khusus untuk tokek biasa dan bergaris, ukuran tubuh jantan lebih besar disbanding betina. Selain itu warna kulit antara keduanya juga memiliki perbedaan yang cukup jelas, yakni tokek jantan memiliki warna kulit cenderung lebih gelap, sedangkan betina kulitnya lebih cerah.

Selain itu perbedaan antara tokek jantan dan betina juga bisa diamati melalui ukuran kepala dan ekor. Cara ini juga cukup efektif, karena dapat dilakukan baik pada saat masih berusia muda ataupun telah dewasa. Ukuran kepala dan ekor tokek jantan cenderung lebih besar dibanding betina.

3. Kaki dan Ekor

Tokek mempunyai jari kaki berjumlah lima, akan tetapi pada beberapa kondisi dapat dijumpai tokek yang jari kakinya hanya berjumlah empat. Hal ini merupakan kondisi abnormal akibat gangguan pada lapisan embrional mesoderm yang terjadi pada masa pertumbuhan embrio akibat adanya infeksi penyakit.

Tepat di permukaan telapak kaki tokek terdapat lapisan scansor yang berfungsi sebagai perekat, sehingga satwa ini tidak akan jatuh saat menempel di dinding atau permukaan vertikal. Sekalipun tokek terjatuh, maka kaki tersebut akan membantunya untuk bisa mendarat secara sempurna.

Kemampuan itu tidak hanya diperoleh dari kaki tokek, melainkan juga dari ekornya yang disebut sebagai kaki kelima. Keseimbangan yang dilakukan pada saat jatuh sebenarnya juga disokong oleh ekor, karena selama proses jatuh tokek akan melakukan manuver dengan ekornya sehingga bagian perutnya tepat berada di bawah.

Habitat dan Sebaran

Tokek adalah salah satu jenis fauna yang dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan. Fakta ini bisa dilihat dari seringnya tokek dijumpai di berbagai tempat. Hanya saja sebagai binatang malam aktivitas tokek memang sangat minim dijumpai pada siang hari, sehingga jarang terlihat oleh manusia.

Lokasi yang paling disukai tokek pada umumnya di pepohonan dan bebatuan. Namun tidak jarang ada yang hidup di dalam rumah seperti cicak, misalnya spesies Gekko gecko. Keberadaan tokek di dalam rumah umumnya tidak berbahaya meskipun masuk dalam kelompok reptil.

Pada kondisi lingkungan yang panas, tokek juga bisa bertahan hidup meskipun ukuran tubuhnya menjadi lebih kecil daripada yang hidup di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Diketahui panjang tubuh tokek di kawasan beriklim panas hanya sekitar 15 cm dan kebanyakan lebih pendek dari itu.

Satwa mirip cicak ini memang bisa hidup di berbagai kondisi lingkungan, tetapi juga memiliki beberapa lingkungan kriteria yang paling disukai. Beberapa diantaranya adalah berada di ketinggian berkisar dari 0 sampai 850 meter di atas permukaan laut, suhu lingkungan kurang lebih 30 derajat Celcius, dan kelembaban antara 25% hingga 35%.

Karena dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan, persebaran tokek juga sangat luas. Satwa ini hidup di sepanjang benua Asia hingga Kepulauan Pasifik seperti India Timur, Bangladesh, Nepal, Tiongkok Timur dan Selatan, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, Filipina, Indonesia, Timor Timur, dan masih banyak lagi.

Perilaku & Karakteristik

Tokek adalah satwa yang cukup unik dan juga dipercaya memiliki manfaat untuk bidang kesehatan. Berdasarkan pengamatan binatang ini mempunyai perilaku khusus yang biasa dilakukan selama beraktivitas, termasuk ketika menghadapi serangan musuhnya.

tokek raksasa Pixabay

Berikut ini adalah beberapa perilaku dan karakteristik tokek, antara lain:

1. Binatang Nokturnal

Terdapat begitu banyak jenis hewan yang tergolong sebagai binatang nokturnal atau aktif di malam hari. Tokek juga masuk ke dalam jenis satwa tersebut. Reptil ini baru mulai beraktivias pada waktu malam, sedangkan siang hari dihabiskan dengan tidur atau berdiam diri di dalam sarangnya.

Perilaku inilah yang membuat tokek mempunyai dua jenis fotoreseptor dan masing-masing berfungsi untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan malam dan siang hari. Ketika masuk malam hari, binatang ini akan keluar dari sarangnya dan mulai mencari mangsa. Meski begitu bukan hal yang mustahil jika saat siang hari tokek bisa dijumpai.

2. Kemampuan Memutuskan dan Menumbuhkan Ekor

Tokek juga memiliki kemampuan untuk memutuskan dan menumbuhkan kembali ekornya. Kemampuan ini disebut dengan autotomi. Kemampuan ini sama seperti cicak ketika mengalami ancaman dari musuhnya. Memutuskan ekor akan memudahkan tokek untuk melarikan diri dari musuh yang akan memangsanya.

Sementara itu untuk menumbuhkan ekor atau autotomi, tokek setidaknya memerlukan waktu sampai empat bulan agar ekornya benar-benar tumbuh sempurna seperti sediakala. Hanya saja pertumbuhan dan kondisi ekor tersebut sangat dipengaruhi oleh umur dan keadaan fisik dari tokek itu sendiri.

3. Mengalami Fase Ganti Kulit

Adanya fase ganti kulit yang dialami tokek menjadi salah satu bukti bahwa satwa ini adalah keluarga reptil dalam versi tidak berbahaya. Fase ini dialami sekali setiap tiga sampai enam bulan terhitung sejak tokek berumur dua tahun. Apabila sedang berada pada fase ini tokek akan lebih banyak diam dan tidak aktif mencari mangsa.

Pergantian kulit tokek ditandai dengan perubahan warna kulit yang diawali dengan warna putih kemudian perlahan-lahan berubah menjadi semakin pudar. Satu hal yang perlu diketahui bahwa selain bergantui kulit, tokek juga mengalami pengelupasan kulit yang menghabiskan waktu tujuh sampai sembilan hari.

4. Dapat Menggigit Manusia

Meskipun merupakan merupakan reptil yang tidak berbahaya, ternyata juga bisa menggigit manusia terutama saat merasa terancam. Cara perlindungan tokek tersebut dilakukan dengan menggigit musuhnya. Pada mulut tokek terdapat gigi yang sangat kuat. Bahkan apabila menggigit manusia, kulit kita bisa robek dan mengalami bengkak parah.

Kekuatan dan ketajaman gigi tokek tidak perlu dipertanyakan lagi, karena ketika reptil ini menggigit maka otot pada rahangnya akan bekerja dengan mengunci obyek yang digigit. Akibatnya manusia akan sulit sekali melepaskan tokek yang sudah terlanjur menggigit sanpa bantuan ahli khusus.

Reproduksi

Tokek berkembangbiak dengan dengan cara ovipar atau bertelur. Pada masa kawin tokek jantan biasanya akan mengeluarkan suara khusus untuk memancing betina. Suara ini terdengar sangat nyaring dan keras menyerupai pelafalan kata ‘tokek’, sehingga dapat terdengar dengan jelas di telinga manusia.

Musim kawin tokek berlangsung antara empat sampai lima bulan. Pada masa tersebut, ketika sedang kawin tokek jantan akan menyentuh tubuh betina dengan cara menggigit bagian lehernya atau disebut kopulasi. Tepat setelah masa kawin selesai, maka tokek betina mulai mencari tempat yang aman dan nyaman untuk bertelur.

Telur yang dihasilkan tokek dalam sekali perkawinan berjumlah dua butir dan saling menempel satu sama lain. Biasanya tempat yang dipilih adalah celah batu, celah pohon atau kolong lemari jika tokek tinggal di rumah. Lama waktu yang dibutuhkan agar telur tersebut menetas sekitar dua bulan.

Menariknya satu tempat bertelur dapat digunakan oleh beberapa ekor tekek secara bersama-sama tanpa batas teritori yang jelas. Selain itu tidak semua spesies tokek dapat bertelur melalui proses perkawinan, karena ada juga spesies lain yang memiliki kemampuan bertelur tanpa harus kawin.

Status Kelangkaan

Berdasarkan fakta bahwa tokek dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan dan di banyak negara, maka status satwa dengan nama Latin Gekko gecko ini berada dalam kondisi Least Concern (LC). Status yang diberikan oleh International Union for Conservation of Nature menunjukkan bahwa keberadaan tokek di alam dalam status berisiko rendah.

bahaya tokek Pixabay

Populasi tokek terbesar diperkirakan terdapat di kawasan hutan lindung, sehingga satwa satu ini memiliki peluang kecil untuk mengalami penurunan populasi secara cepat. Hanya saja yang menjadi masalah saat ini, tingkat eksploitasi tokek terus meningkat akibat pemanfaatannya sebagai obat, tetapi hal ini pun tidak terlalu berarti.

Manfaat Tokek

Sebelumnya tahun 2008, tokek hanya dianggap sebagai satwa yang tidak memiliki nilai medis apapun. Akan tetapi setelah ada penelitian dari China yang menyebutkan bahwa tokek mempunyai kandungan untuk mengobati penyakit HIV dan AIDS, namanya pun semakin populer. Hanya saja pernyataan ini belum terverivikasi karena hingga kini tidak ada pernyataan resmi dan jelas dari WHO.

Ada banyak pihak yang mulai membudidayakan tokek untuk dijadikan obat HIV / AIDS. Hal ini bisa dilihat dari harga jual tokek yang meroket mulai dari puluhan hingga ratusan juta.

Harga tersebut tergantung pada jenisnya. Misalnya tokek hutan dibaderol seharga 50 jutaan, stone gecko dijual hingga 500 juta, serta giant gecko seharga 3 miliar.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan tokek sebagai obat HIV dan AIDS. Syarat utamanya adalah harus berada dalam kondisi hidup dan memiliki berat lebih dari 3 ons. Sebab pada kondisi seperti itu empedu tokek yang memiliki sederet manfaat dapat mengalami kristalisasi dan diyakini ampuh menjadi obat HIV dan AIDS. 

Empedu tokek juga mempunyai manfaat sebagai obat anti kanker dan anti tumor,karena mengandung senyawa yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh ketika dikonsumsi. Selain itu bagian kulit tokek juga dipercaya mempunyai khasiat untuk mengatasi gatal pada tubuh. Pemanfaatan tokek sebagai obat cukup bervariasi mulai dari dikeringkan hingga dibuat menjadi serbuk.

Penelitian tentang kandungan daging tokek  yang mampu mengobati gatal diungkapkan dalam World Journal of Gastroenetrology pada tahun 2008. Jurnal ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan di China. Begitu pula dengan penelitian tentang zat anti tumor pada tokek yang tidak hanya sebatas meningkatkan imunitas, tetapi juga langsung menginduksi sel tumor di dalam tubuh.