Ubur-Ubur – Taksonomi, Morfologi, Jenis, Sebaran, Reproduksi & Manfaat

Ubur-ubur adalah salah satu spesies purba yang telah hidup sejak zaman dinosaurus. Hewan air yang juga disebut Jelly Fish ini merupakan biota laut yang tidak memiliki tulang belakang.

Secara fisik bentuknya ada kemiripin dengan struktur fisik gurita, namun tentakel ubur-ubur lebih kecil, berserabut dan bertubuh transparan. Karakteristik morfologi inilah yang membuat binatang dari kelas Schypozoa ini terlihat begitu indah.

Akan tetapi dibalik keindahan tersebut juga ada bahaya yang bisa ditimbulkan. Ubur-ubur memiliki kemampuan menyengat yang membahayakan manusia bahkan dapat berujung kematian. Oleh sebab itu, dibeberapa lokasi wisata pantai yang dihuni oleh ubur-ubur beracun akan diberi tanda larangan berenang.

Taksonomi

Ubur-ubur adalah istilah yang merujuk untuk binatang tak bertulang belakang dari kelas Schyphozoa yang kemudian juga disebut sebagai ubur-ubur sejati. Disebut ubur-ubur sejati karena ada beberapa species lain yang juga disebut ubur-ubur namun berasal dari kelas berbeda.

Berikut adalah klasifikasi ilmiah atau taksonominya, yaitu:

KingdomAnimalia
FilumCnidaria
KelasScyphozoa
OrdoCoronatae, Semaeostomeae, dan Rhizostomae

Berdasarkan taksonomi tersebut dapat disimpulkan bahwa istilah ubur-ubur digunakan untuk menyebut kelompok satwa yang berada dalam kelas Schyphozoa. Adapun spesies yang lebih spesifik biasanya akan diberi tambahan nama belakang, seperti ubur-ubur meriam (Stomolophus meleagris) dan jelantang laut (Chrysaora quinquecirrha).

Dari kelas Scyphozoa kemudian ubur-ubur terbagi menjadi tiga Ordo, yaitu Coronatae, Semaeostomeae, dan Rhizostomae. Lalu didalam ordo tersebut ubur-ubur diklasifikasikan berdasarkan famili, genus, dan spesiesnya. Total keseluruhan ubur-ubur yang hidup di dunia sekitar 200 jenis spesies.

Morfologi

Rata-rata ubur-ubur mempunyai ukuran tubuh relatif kecil, yaitu antara 2 sampai 40 cm. Namun ada beberapa spesies yang ukurannya sangat besar hingga mencapai 1 atau 2 meter. Salah satu contoh spesies ubur-ubur raksasa adalah surai singa dengan nama latin Cyanea capillata.

jellyfish Pixabay

1. Anatomi Tubuh

Secara umum tubuh ubur-ubur dewasa dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu medusa dan polip. Ubur-ubur berbentuk polip berarti hidup menempel pada sesil atau substrat di dasar laur, sedangkan ubur-ubur medusa bentuknya mirip seperti cangkir terbalik dan mampu berenang bebas di lautan.

Ubur-ubur medusa dapat berenang bebas karena pada tubuhnya terdapat mesoglea bertekstur elastis dan tebal. Jenis spesies ini mampu bergerak di air dengan cara meluncur kemudian mengembalikan bentuk tubuhnya. Baik ubur-ubur polip ataupun medusa keduanya mempunyai simetri radial.

Perbedaan paling mencolok antara ubur-ubur medusa dan ubur-ubur polip adalah arah mulut dan tentakelnya. Ubur-ubur polip yang menempel di dasar laut memiliki tubuh berbentuk tabular dengan mulut dan tentakel yang mengarah ke bagian atas. Sedangkan ubur-ubur medusa mulut dan tentakelnya mengarah ke bawah.

Ubur-ubur adalah binatang laut tanpa kepala dengan bentuk tubuh hanya berupa tubuh dan tentakel. Bahkan mulut dan anusnya berada pada lubang yang sama. Sisi tubuh yang berdekatan dengan mulut disebut oral, sedangkan sisi yang jauh dari mulut disebut aboral.

Tubuh ubur-ubur transparan karena 95 persen unsur penyusun badannya adalah air, sehingga memudahkan proses penyamaran. Oleh sebab itu jika dilihat sepintas ubur-ubur nampak seperti riak air yang bergerak. Berdasarkan ciri fisiknya, tubuh ubur-ubur dibagi menjadi tiga, yaitu payung, lengan oral yang berada di dekat mulut, serta tentakel.

2. Indera dan Sistem Saraf

Ubur-ubur adalah biota laut yang tidak memiliki otak ataupun sistem saraf pusat. Binatang ini hanya mengandalkan jaringan saraf berupa neuron untuk merespon rangsangan yang didapatkannya. Selain itu ubur-ubur juga memanfaatkan silia yang terdapat pada sel penyengat atau knidosit pada tentakel sebagai alat pendeteksi.

Silia tersebut mempunyai kemampuan untuk mendeteksi berbagai jenis zat kimia seperti bau dan berfungsi saat terjadi kontak fisik. Oleh sebab itu knidosit dapat menyengat atau menembak sasaran dengan tepat. Apabila salah satu knidosit pada tentakel ubur-ubur mengeluarkan tembakan, maka knidosit di dekatnya juga akan ikut terangsang.

3. Sel Utama Ubur-Ubur

Secara umum ubur-ubur merupakan binatang diploblastik yang artinya memiliki dua lapis sel utama. Adapun spesies yang lebih kompleks biasanya dilengkapi dengan tiga lapis sel utama yang disebut triploblastik. Kedua lapis sel utama pada ubur-ubur adalah eksoderm yang berada di sebelah luar dan gastoderm yang berada di dalam.

4. Nematosista di Tentakel

Nematosista ialah sel yang ada di tentakel ubur-ubur dengan fungsi untuk menusuk lalu menyuntikan racun pada tubuh mangsa atau musuhnya. Sel ini terdiri dari knidosista yang disebut sebagai organel knida. Knidosista berbentuk kapsul dengan gulungan benang yang mengandung racun.

Tepat di ujung benang knidosista terdapat kait yang berfungsi untuk menusuk objek saran. Pada bagian ini juga terdapat silia, yaitu rambut halus yang menjadi alat penembak sel nematosista. Hingga saat ini belum ada penjelasan ilmiah bagaimana proses ubur-ubur ketika menyengat.

Namun ada tiga hipotesis yang paling populer tentang hal tersebut, yaitu:

  • Hipotesis pertama menyatakan bahwa benang pada knidosista merupakan suatu pegas dengan kemampuan untuk meregang dalam waktu cepat pada saat overkulum terbuka.
  • Hipotesis kedua beranggapan bahwa ketika pemicu tembakan aktif maka zat kimia dalam tubuh ubut-ubut mengalami perubahan yang menghasilkan tekanan osmosis. Akibatnya air akan masuk melalui selaput atau membran yang kemudian memaksa benang pada knidosista untuk menembak.
  • Hipotises ketiga menyebutkan bahwa pada saat pemicu tembakan mulai aktif maka knida akan mengalami kontraksi yang begitu cepat, sehingga tekanan di dalam kapsul terus meningkat dan benang bisa menembak.

Nematosista merupakan senjata ubur-ubur yang paling efektif karena cukup satu sengatan kecil sanggup melumpuhkan ikan kecil dan keluarga antropoda. Sayangnya sel ini hanya bisa digunakan satu kali dan akan mengalami regenerasi kembali dalam waktu 48 jam atau selama dua hari.

Oleh sebab itu agar satu tembakan nematosista tidak sia-sia, maka tubuh ubur-ubur diciptakan dengan mekanisme yang sesuai. Sebelumnya telah disebutkan bahwa pada sel knidosit terdapat silia sebagai bagian untuk merespon kontak fisik dan sel indera untuk mendeteksi keberadaan zat kimia dalam air.

Habitat dan Sebaran

Ubur-ubur merupakan biota laut yang dapat ditemukan di kawasan perairan seluruh dunia, baik pada laut ataupun samudera. Selain jumlah spesies yang sangat banyak, ubur-ubur juga mampu bertahan hidup di perairan air hangat laut tropis dan juga perairan air yang sangat dingin di wilayah kutub selatan dan kutub utara.

Makanan Ubur-Ubur

Kebanyakan spesies ubur-ubur memakan organisme kecil, telur ikan, larva, moluska, dan plankton. Ubur-ubur yang berukuran sangat kecil biasanya mengonsumsi makanan yang jatuh ke dalam air dan melakukan simbiosis dengan kelompok alga fotosintetik untuk mendapat pasokan nutrisi.

Ubur-ubur memperoleh makanan dengan banyak cara, mulai dari berburu mangsa berupa biota laut, menyaring partikel makanan yang terdapat dalam air, menyerap zat organik yang terlarut bersama air, serta melakukan simbiosis dengan beberapa jenis alga.

Contohnya Jelly Fish dari keluarga Cnidaria memperoleh makanan dengan cara berburu mangsa dan membentuk simbiosis dengan alga. Ubur-ubur Cnidaria memberikan keuntungan berupa perlindungan kepada alga, zat karbondioksida, serta memberi tempat yang mendapat cahaya matahari.

Ubur-ubur berburu dengan melumpuhkan mangsa dengan nematosista, selanjutnya mangsa akan dimasukkan ke dalam mulut dengan menggunakan tentakel. Makanan tersebut lalu melewati serangkaian proses pencernaan hingga akhirnya menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya.

Proses pencernaan ubur-ubur dimulai dari makanan yang masuk ke mulut, kemudian makanan masuk ke dalam rongga pencernaan. Sementara itu sel kelenjar yang berada di gastoderm akan mengeluarkan enzim pencernaan yang menghasilkan nutrisi. Nutrisi tersebut kemudian disalurkan ke seluruh tubuh melalui air dengan gerakan otot serta difusi untuk lapisan sel paling luar.

Perkembangbiakan Ubur-Ubur

Proses perkembangbiakan ubur-ubur adalah melalui metagenesis yang terbagi menjadi perkembangbiakan seksual atau tahap medusa dan perkembangbiakan aseksual atau tahap polip. Selain itu tidak jauh berbeda dengan kelompok biota sebangsanya, alat kelamin ubur-ubur juga bersifat diocious yang artinya terpisah dari tubuh.

jenis ubur-ubur Pixabay

1. Reproduksi Seksual (Medusa)

Perkembangbiakan ini terjadi pada ubur-ubur medusa. Pada masa ini spermatozoid yang dimiliki medusa jantan akan dikeluarkan melalui mulut untuk kemudian dimasukkan ke dalam usus milik medusa betina. Sperma yang masuk selanjutnya berfungsi untuk membuahi telur yang akan menghasilkan zigot.

Zigot tersebut akan mengalami perkembangan hingga menjadi blastula. Setelah sampai pada fase blastula akan terus terjadi perubahan sampai menghasilkan larva yang memiliki silia. Larva dengan silia tersebut dikenal sebagai planula yang terbentuk melalui serangkaian proses fertilisasi eksternal yang artinya terbentuk di luar tubuh induk.

Ketika telah berubah menjadi larva, maka larva tersebut akan berenang mencari tempat yang cocok untuk menempel. Tempat penempelan tersebut disebut substrat, sedangkan larva yang telah menempel dan berbentuk polypoid umumnya disebut dengan istilah scyphistoma. Berikutnya scyphistoma akan terus berkembang hingga menjadi polip.

2. Reproduksi Aseksual (Polip)

Polip yang telah terbentuk dari larva dan menempel pada substrat di dasar laut akan terus berkembang dan tumbuh hingga dewasa. Ketika telah dewasa, polip tersebut akan menarik tentakelnya serta memotong sendiri tubuhnya secara horizontal. Proses pemotongan tubuh ini dikenal dengan istilah strobilasi.

Selanjutnya bagian tubuh yang sudah terpotong tersebut akan berenang bebas dan disebut sebagai medusa muda. Adapun polip yang tertinggal akan terus melanjutkan hidup dan nantinya kembali melakukan strobilasi. Sedangkan medusa muda akan tumbuh dewasa dengan mempunyai kelenjar reproduksi di lapisan gastodermnya.

Perkembangbiakan aseksual pada ubur-ubur polip ini juga dikenal sebagai kemampuan regenerasi. Sebenarnya ubur-ubur medusa juga memiliki daya beregenerasi meskit tidak secara penuh. Sementara polip dapat melakukannya seperti koral, sehingga ketika sudah hancur oleh predator maka polip tetap bisa hidup kembali.

Jenis Ubur-Ubur

Sebelumnya telah disebutkan bahwa ubur-ubur adalah istilah yang merujuk pada kelas Scyphozoa. Kelas ini kemudian terbagi kembali menjadi tiga ordo, yaitu Coronatae, Semaeostomeae, dan Rhizostomae. Ketiga ordo inilah yang berikutnya menjadi pengelompokkan ubur-ubur.

ubur-ubur danau kakaban airyrooms.com

1. Ordo Coronatae

Ubur-ubur yang masuk dalam Ordo Coronatae umumnya dikenal dengan istilah ubur-ubur mahkota atau crown jellyfish. Jenis ini terdiri dari tujuh famili. Sesuaty yang menjadi ciri khasnya adalah keberadaan alur di sepanjang payung atau mangkoknya. Alur tersebut kemudian menghasilkan bentuk mirip dengan mahkota.

Crown jellyfish rata-rata ditemukan hidup di laut dengan kedalaman yang cukup jauh di bawah permukaan laut dengan kondisi relatif gelap. Oleh sebab itu jenis ini mempunyai kemampuan untuk menghasilkan cahaya yang disebut sebagai bioluminesence. Cahaya tersebut juga akan terpancar ketika tubuhnya disentuh atau terganggu.

Sedangkan jika sudah tidak merasa sedang terganggu, warna tubuh crown jellyfish akan kembali transparan seperti semula. Cahaya tersebut juga dimanfaatkan oleh ubur-ubur ini untuk mengejutkan serta mengalihkan perhatian musuhnya ketika sedang diserang dengan cara memancarkan cahaya yang sangat silau.

Begitu pula pada saat berburu mangsa, ubur-ubur mahkota memancarkan cahaya yang indah untuk menarik perhatian mangsa. Selanjutnya ketika mangsanya mulai mendekat, dengan cepat biota ini akan mengeluarkan cahaya menyilaukan agar bisa mengangkap mangsa. Beberapa contoh jenisnya adalah Periphylla periphylla dan Nausithoe aurea.

2. Ordo Semaeostomeae

Ubur-ubur dalam ordo Semaeostomeae merupakan jenis yang paling umum diketahui oleh masyarakat. Istilah Semaeostomeae secara epistemologi dapat diartikan sebagai ‘mulut bendera’ dan menjadi kelompok ubur-ubur dengan tubuh paling besar di antara jenis lainnya.

Ciri khas ubur-ubur Semaeostomeae adalah keberadaan empat tentakel oral, yaitu tentakel panjang yang menempel pada bagian mulutnya. Adapun tentakel lain menempel di sekitar payungnya. Total ada delapan tentakel yang dimiliki oleh jenis ini. Ubur-ubur ini juga memiliki tubuh yang berbentuk seperti kubah dengan batas bergerigi.

Jelly Fish dari kelompok Semaeostomeae hidup di seluruh perairan laut dunia dan terdiri atas lima sub ordo. Salah satu jenis yang paling terkenal adalah ubur-ubur bulan (Aurelia aurita). Spesies berukuran antara 25 hingga 40 cm dan biasanya hidup dengan cara berkoloni dengan pergerakan terbatas, sehingga gerakannya hanya mengandalkan arus air.

3. Ordo Rhizostomae

Ubur-ubur dalam ordo Rhizostomae dikenal dengan ciri khas tubuhnya yang tidak memiki tentakel. Akan tetapi jenis ini mempunyai delapan lengan bercabang yang dipenuhi dengan sel nematosista. Semakin ke bagian tengah lengan ini akan terus menyatu. Selain itu jenis ini juga mempunyai mulut berjumlah banyak dengan ukuran kecil-kecil.

Tidak adanya tentakel di tubuhnya membuat ubur-ubur Rhizostomae tidak bisa menyengat. Oleh sebab itu jenis ini aman dikonsumsi, khususnya sebagai makanan dan pengobatan. Pusat industri pengolahan ubur-ubur menjadi makanan sebagian besar ada di China dan Asia Tenggara yang kemudian diekspor ke Jepang.

Total ada sepuluh famili dan dua sub ordo dari ubur-ubur Rhizostomae yang terbagi menjadi sekitar 90 spesies. Beberapa contoh jenis yang bisa dimakan antara lain ubur-ubur meriam (Stomolophus meleagris) dan ubur-ubur api (Rhopilema esculentum). Kedua jenis ini umumnya hanya diberi garam sebelum dimasak ataupun dikeringkan. 

Manfaat Ubur-Ubur

Ubur-ubur tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan, tetapi ada banyak manfaat lain yang jarang diketahui. Berikut adalah beberapa manfaat dari ubur-ubur, antara lain:

  • Pupuk organik. Serat ubur-ubur yang telah kering dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena kandungan gizinya yang tinggi. Metode ini sudah banyak diterapkan di Jepang.
  • Popok ramah lingkungan. Suatu penelitian menyatakan bahwa tubuh ubur-ubur yang telah dihancurkan dan melewati serangkaian proses tertentu dapat menahan cairan dalam jumlah yang besar tanpa larut. Hanya penerapan metode dan produksi ini cukup rumit.
  • Penyelamat dari mikroplastik. Mikroplastik adalah salah satu zat berbahaya bagi kelangsungan lingkungan. Zat ini biasanya terdapat di dalam sabun mandi. Belakangan diketahui bahwa ada spesies ubur-ubur yang mampu mengikat zat berbagaya tersebut, sehingga dapat menjadi biofilter untuk menyelamatkan lingkungan.