Tsunami – Pengertian, Jenis, Penyebab, Dampak & Sejarah di Indonesia

Salah satu bencana alam yang paling sering melanda kawasan ring of fire seperti Indonesia, Papua Nugini, Filipina, Jepang, India, Maladewa, dan Australia adalah tsunami. Bukan tanpa alasan, sebab kawasan tersebut berpotensi besar mengalami gempa tektonik dan gempa vulkanik. Perlu kita ketahui, kedua jenis gempa tersebut dapat memicu tsunami jika terjadi di laut.

Tsunami menjadi ancaman bencana paling mengerikan di Indonesia sejak menerjang Aceh pada tahun 2004 silam. Belum lagi tsunami lain setelah itu, termasuk yang terjadi di Palu pada tahun 2018 lalu. Ketakutan masyarakat terhadap bencana ini sangat tinggi, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat mengerikan.

Pengertian Tsunami

Secara sederhana tsunami dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketika gelombang air laut naik dan menerjang daratan. Kejadian ini bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk letusan gunung berapi serta gempa bawah laut.

tsunami Pixabay

Meski begitu, menurut para ahli ada banyak pengertian tentang tsunami secara lebih detail, antara lain:

1. Pengertian Secara Etimologi

Tsunami sebenarnya berasal dari kosakata bahasa Jepang yang kemudian diadopsi dan digunakan oleh seluruh masyarakat dunia. Adapun kosakata tersebut adalah ‘tsu’ yang artinya ‘pelabuhan’ dan ‘nami’ yang artinya ombak. Penggunaan kata tersebut merujuk pada kebiasaan orang Jepang yang datang ke pelabuhan setelah terjadinya tsunami.

2. Pengertian Menurut Para Ahli

Menurut Simandjuntak (1994), tsunami adalah satu dari sekian kejadian alam yang ditandai dengan pasangnya air laut dalam skala besar dan terjadi secara mendadak, kejadian ini biasa terjadi setelah adanya goncangan gempa bumi tektonik. Gelombang air laut yang dihasilkan mampu menghancurkan area pemukiman di sekitar pantai.

Sementara itu, Djunire (2009) juga menyebutkan bahwa tsunami adalah salah satu jenis bencana alam yang kerap terjadi di kawasan Indonesia. Menurutnya tsunami merupakan gelombang besar yang terjadi akibat adanya gempa bumi di bagian dasar samudera, letusan gunung api, serta longsoran massa batuan di sekitar kawasan basin samudera.

Sedangkan menurut Sudrajat (1994), tsunami yang terjadi mempunyai kaitan erat dengan terjadinya perubahan bentuk di dasar laut dalam secara cepat yang diakibatkan oleh berbagai faktor geologi. Faktor-faktor tersebut dapar berupa adanya letusan gunung berapi dan juga gempa bumi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG (2006) juga menjelaskan bahwa pengertian tsunami adalah bencana alam berupa gelombang laut yang diakibatkan oleh gempa bumi di dasar laut dan memiliki kemampuan untuk menjalar dengan kecepatan tinggi, bahkan kecepatannya bisa melebihi 900 km/jam.

Sejarah Tsunami

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, penggunaan istilah tsunami baru mulai dikenal dunia setelah gempa besar mengguncang Jepang pada tanggal 15 Juni 1896. Akibat dari gempa tersebut adalah naiknya gelombang tsunami yang menewaskan kurang lebih 22.000 jiwa serta menghancurkan area pantai timur Honshu sejauh 280 kilometer.

Sebenarnya tidak ada sejarah pasti yang mengisahkan tentang awal mula bencana tsunami. Akan tetapi sejauh sejarah pengetahuan, Jepang adalah negara yang paling sering mengalami gempa dan tsunami. Jadi sejarah munculnya tsunami selalu merujuk kepada negara matahari terbit tersebut, apalagi didukung dengan asal usul istilah tsunami itu sendiri.

Walau banyak negara lain yang juga telah mengalami tsunami sejak lama, termasuk Indonesia. Namun nenek moyang pada masa itu belum mengenal istilah tsunami sampai terjadinya bencana di Jepang tahun 1896. Sebagai contoh, masyarakat Sulawesi Tengah sering menyebut kejadian tersebut sebagai ‘air laut berdiri’.

Di Indonesia, tsunami diperkirakan pertama kali terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 1618. Sejak saat itu jumlah tsunami yang terjadi di Indonesia terus bertambah dan sepanjang tahun 1600 hingga 2018 setidaknya Indonesia telah mengalami tsunami lebih dari 110 kali.

Hal berbeda justru diungkapkan oleh Badan Sains Amerika Serikat dalam hal ini National Oceanic Atmospheric Administration atau NOAA. Menurut badan tersebut, tsunami pertama di Indonesia terjadi pada tahun 416 dan sejak saat itu hingga akhir Desember 2018 tercatat sudah ada 246 kali tsunami terjadi.

Meski ada beberapa pernyataan berbeda mengenai sejarah tsunami di Indonesia, tetapi dapat dipastikan bahwa bencana alam tersebut dipicu oleh gempa dan letusan gunung berapi. Disebutkan bahwa kira-kira 90% tsunami terjadi akibat gempa tektonik, 9% diakibatkan oleh letusan gunung berapi, dan 1% disebabkan tanah longsor.

Karakteristik Tsunami

Pembahasan mengenai tsunami tidak akan lepas dari ombak yang terjadi di lautan. Sebab baik tsunami ataupun ombak, keduanya sama-sama menunjukkan kejadian berupa gelombang air laut. Akan tetapi pada keduanya ada perbedaan, di mana ombak merupakan kejadian normal dan tsunami adalah bencana.

Ombak adalah gelombang air laut yang terjadi karena adanya tiupan angin, sementara tsunami adalah gelombang air laut yang disebabkan oleh adanya aktivitas geologi bumi.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari gelombang tsunami berdasarkan pengamatan dari bencana tersebut, yaitu:

  • Panjang gelombang air laut pada tsunami dapat melebihi 150 kilometer dari bibir pantai.
  • Kecepatan gelombang tsunami menyamai kecepatan pesawat jet yaitu kurang lebih 800 km/jam. Pada dasarnya kecepatan tersebut sangat bergantung terhadap kedalaman laut, jika terjadi di laut dalam maka kecepatannya bisa mencapai 1.000 km/jam.
  • Panjang gelombang antara dua puncak gelombang tsunami di laut lepas bisa melebihi 100 kilometer dan selisih waktu terbentuknya kedua puncak gelombang tersebut kurang lebih 10 menit hingga 1 jam.
  • Kecepatan gelombang akan menurun ketika sudah mencapai area pantai dangkal, teluk, dan muara sungai. Namun tinggi gelombang justru akan terus bertambah, sehingga resiko kerusakan yang ditimbulkan semakin besar.
  • Perubahan tinggi gelombang tsunami disebabkan oleh terjadinya konversi energi yang awalnya berbentuk energi kinetik lalu menjadi energi potensial. Konversi energi ini jugalah yang mengakibatkan penurunan kecepatan gelombang dan peningkatan tinggi gelombang.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa karakteristik tsunami dipengaruhi oleh kedalaman gempa, panjang gelombang tsunami, dan juga kecepatan gelombang.

Berikut ini adalah hubungan dari ketiga hal tersebut, yakni:

  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut mengakibatkan tsunami berkecepatan 35,6 km/jam dan panjang gelombangnya 10,6 kilometer.
  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 50 meter di bawah permukaan laut menyebabkan tsunami berkecepatan 79 km/jam dengan panjang gelombang 23 kilometer.
  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 200 meter di bawah permukaan laut memicu tsunami berkecepatan 159 km/jam dan panjang gelombangnya 47,7 kilometer.
  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 2.000 meter di bawah permukaan laut memicu tsunami dengan kecepatan 504,2 km/jam dan kecepatan gelombang adalah 151 kilometer.
  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 4.000 meter di bawah permukaan laut menyebabkan tsunami dengan kecepatan 712,7 km/jam dan panjang gelombang 213 kilometer.
  • Gempa yang terjadi pada kedalaman 7.000 meter di bawah permukaan laut menyebabkan tsunami berkecepatan 942,9 km/jam dan panjang gelombangnya 282 kilometer.

Jenis Tsunami

Jenis-jenis tsunami dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa aspek eksternal, seperti waktu terjadinya dan penyebabnya. Secara umum tsunami disebabkan oleh dua hal, yaitu gempa tektonik dan gempa vulanik yang terjadi pada struktur geologi bumi.

Meski begitu, ada lima jenis tsunami yang paling umum diketahui, yaitu sebagai berikut:

1. Tsunami Lokal

Tsunami lokal adalah jenis tsunami yang berkaitan dengan episentrum gempa yang terjadi di sekitar area pantai. Dengan begitu waktu tempuh yang diperlukan dari titik kejadian hingga tiba di bibir pantai sekitar 5-30 menit. Umumnya gempa lokal berdampak cukup besar, karena gelombangnya sangat terasa meski telah mencapai area daratan.

Selain tsunami lokal biasanya terjadi dalam jarak yang cukup dekat dari titik pemicu tsunami. Misalnya terjadi di area pesisir pantai atau sekitar 100 kilometer dari titik tsunami. Pemicu tsunami ini biasanya adalah gempa bumi dan longsor di bawah laut akibat erupsi gunung berapi. Durasi yang singkat membuat orang akan kesulitan menyelamatkan diri.

2. Tsunami Regional

Tsunami regional adalah jenis tsunami yang 10 kali lebih besar dari tsunami lokal. Jarak yang bisa dicapai oleh tsunami jenis ini kurang lebih 100 hingga 1.000 kilometer dari titik terjadinya. Biasanya waktu yang dibutuhkan gelombang mencapai daratan cukup lama.

Setidaknya perlu satu hingga tiga jam untuk menggulung daratan. Dengan begitu orang-orang memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri setelah ada informasi. Hanya saja jarak tempuh tsunami yang mencapai 1.000 kilometer nyaris mustahil untuk dicapai dalam waktu tiga jam. Jadi lebih baik segera mencari tempat tinggi untuk berlindung.

3. Tsunami Jarak

Tsunami jarak juga biasa disebut sebagai ocean wide tsunami atau tele tsunami merupakan tsunami desktruktif. Artinya jarak tempuh yang bisa dicapai terhitung dari titik tsunami bawah laut melebihi 1.000 kilometer. Dengan begitu setidaknya butuh waktu tiga jam untuk tiba di daratan.

Meski begitu, nyaris mustahil untuk menyelamatkan diri dari bencana alam ini. Jenis ini merupakan yang paling sering terjadi di kawasan pantai yang langsung bertemu dengan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Misalnya wilayah Indonesia yang bertemu langsung dengan samudera menjadi salah satu negara langganan tsunami.

4. Tsunami Meteorologi

Tsunami meteorologi juga biasa disebut meteo-tsunami atau tsunami atmosfer merupakan suatu fenomena alam yang menyerupai tsunami. Hanya saja tsunami ini disebabkan oleh adanya gangguan pada atmosfer atau meteorologis seperti gelombang gravitasi atmosfer, lompatan tekanan, angin topan, saluran depan badai, dan sebagainya.

Skala spasial dan skala temporal yang dihasilkan oleh tsunami meteorologi sama dengan tsunami pada umumnya dan dampaknya juga bisa sampai menghancurkan pesisir pantai. Apalagi pesisir yang berada di teluk atau ceruk dengan amplifikasi kuat. Sebenarnya fenomena ini juga dikenal dengan sebutan rissaga.

5. Microtsunami

Microtsunami adalah jenis tsunami yang berukuran sangat kecil, sehingga akan sulit untuk diketahui dengan mata telanjang atau visual. Meski begitu tsunami juga cukup berbahaya karena sulit terdeteksi. Dibutuhkan alat tertentu jika ingin mendeteksi keberadaan microtsunami.

Penyebab Terjadinya Tsunami

Seperti telah disebutkan, penyebab utama tsunami adalah gempa vulkanik dan gempa tektonik. Akan tetapi kebanyakan gempa yang terjadi disebabkan oleh adanya gempa tektonik di bawah laut.

Berikut ini adalah beberapa syarat yang berpotensi tsunami menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yaitu:

  • Pusat gempa tektonik atau gempa vulkanik harus terjadi di bawah dasar laut.
  • Kedalaman pusat gempa tidak mencapai 60 kilometer.
  • Magnitude atau kekuatan gempa melebihi 6.0 Skala Richter.
  • Patahan yang mengakibatkan gempa adalah sesar naik dan sesar turun.

Badan Meteorologi dan Geofisika (2010) mempunyai pendapat yang sedikit berbeda mengenai kekuatan gempa dan kedalaman yang memicu tsunami. Kekuatan gempa yang memicu tsunami adalah melebihi 7.0 Skala Richter dan kedalaman pusat gempa di bawah laut tidak mencapai 70 kilometer, serta ada deformasi vertikal yang terjadi di dasar laut.

Sementara itu, King (1972) dan Anhert (1996) sependapat mengenai faktor yang memicu terjadinya tsunami. Menurut keduanya, ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab bencana alam ini, yaitu:

  • Ada retakan yang terjadi di dasar laut dan diiringi dengan suatu gempa bumi. Retakan yang dimaksud adalah zona planar yang bersifat lemah dan bergerak melalui wilayah kerak bumi.
  • Ada tanah longsor yang terjadi baik di atas lautan atau di bawah laut, kemudian longsoran tersebut menimpa air dengan keras.
  • Ada aktivitas dari gunung api yang lokasinya dekat dari pantai atau memang terletak di bawah air. Gunung api tersebut bisa terangkat atau mengalami tekanan layaknya pergerakan pada suatu retakan.

Dampak Tsunami

Bencana tsunami sudah dipastikan berdampak buruk untuk kondisi alam, khususnya kawasan pantai. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya kerusakan material, melainkan juga selalu memakan korban jiwa.

dampak bencana tsunami busy.org

Berikut ini adalah beberapa dampak yang diakibatkan oleh tsunami, antara lain:

  • Kerusakan di mana-mana seperti menghancurkan bangunan yang ada di sekitar pantai termasuk usaha masyarakat setempat.
  • Rusaknya lahan pertanian dan perikanan.
  • Kegiatan perekonomian terhambat, karena aktivitas produksi seperti perdagangan tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.
  • Jumlah kerugian material yang dialami oleh masyarakat mulai dari hancurnya bangunan hingga usaha mereka.
  • Gangguan kejiwaan, biasanya korban yang menghadapi tsunami khususnya anakkecil mengalami trauma yang membutuhkan terapi untuk menyembuhkannya.
  • Munculnya berbagai penyakit baik yang disebabkan oleh sisa-sisa tsunami maupun kondisi di pengungsian yang tidak sehat.

Tsunami di Indonesia

Indonesia adalah negara ketiga sebagai kawasan rawan terhadap bencana tsunami setelah Jepang di urutan pertama dan Amerika Serikat di urutan kedua. Ketiga negara tersebut rawan karena dilalui oleh ring of fire atau cincin api. Selain itu Indonesia diapit tiga lempeng aktif, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.

Ketiga lempeng tersebut mengakibatkan risiko terjadinya gempa dan tsunami di Indonesia semakin meningkat. Beberapa kawasan yang rawan gempa dan tsunami di Indonesia adalah bagian barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, utara Papua, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan timur Pulau Kalimantan.

Menurut Yulianto (2008), Indonesia setidaknya mengalami gempa bumi rata-rata sebanyak 15 kali dalam satu hari. Gempa tersebut ada yang berpotensi tsunami dan ada juga yang tidak. Selama setahun terjadi kurang lebih satu kali tsunami di Indonesia.

Berikut ini adalah daftar tsunami di Indonesia dari tahun 1961 hingga 2018, yaitu:

  • Tsunami Flores Tengah, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1961 menelan korban luka-luka sebanyak 6 orang dan korban meninggal 2 orang.
  • Tsunami Sumatera pada tahun 1964 memakan 479 jiwa korban terluka dan 110 jiwa korban meninggal.
  • Tsunami Maluku, Sanan, dan Seram pada tahun 1965 menelan 71 orang korban meninggal. Tsunami dengan ketinggian 4 meter ini dipicu oleh gempa bermagnitudo 7,5 Skala Richter (SR).
  • Tsunami Tinambung, Sulawesi Selatan pada tahun 1967 memakan 100 korban terluka dan 58 korban meninggal. Tsunami ini disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 5,8 SR.
  • Tsunami Tambo, Sulawesi Tenggara pada tahun 1968 menelan 392 jiwa yang meninggal. Tsunami ini memiliki ketinggian 10 meter dan dipicu oleh gempa bermagnitudo 7,4 SR.
  • Tsunami Majene, Sulawesi Barat pada tahun 1969 memakan 97 korban terluka dan 64 korban meninggal. Tsunami ini disebabkan oleh gempa 6,9 SR dan ketinggiannya 10 meter.
  • Tsunami Pulau Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat pada tahun 1977 menelan 316 jiwa korban yang meninggal. Gelombang tsunami ini memiliki ketinggian 15 meter dan disebabkan gempa 8 SR.
  • Tsunami Nusa Tengara Timur, Flores, dan Pulau Atauro pada tahun 1977 menelan 2 korban meninggal dan 25 korban terluka.
  • Tsunami Sumbawa, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Barat pad atahun 1979 memakan 200 korban terluka dan 27 korban meninggal.
  • Tsunami Larantuka, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1982 disebabkan oleh gempa 5,9 SR serta menelan 400 korban luka-luka dan 13 orang korban meninggal.
  • Tsunami Flores Timur, Pulau Pantar, dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 1987 menelan 108 korban luka-luka dan 83 jiwa melayang.
  • Tsunami Pulau Alor dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 1989 menyebabkan 7 nyawa melayang.
  • Tsunami Flores, Pulau Babi, dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 1992 memakan 2.126 korban terluka dan 1.952 jiwa meninggal. Bencana ini tercatat sebagai tsunami paling dahsyat sebelum tsunami Aceh dengan ketinggian 26 meter dan gempa 7,5 SR.
  • Tsunami Banyuwangi, Jawa Timur pada tahun 1994 memiliki ketinggian gelombang 14 meter yang dipicu gempa 6,8 SR serta mengakibatkan 400 orang terluka dan 38 orang meninggal.
  • Tsunami Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 1996 disebabkan oleh gempa 7,7 SR serta memakan 63 korban terluka dan 3 nyawa melayang.
  • Tsunami Pulau Biak di Irian Jaya pada tahun 1996 setinggi 12 meter disebabkan oleh gempa 8 SR dan mengakibatkan 107 jiwa melayang.
  • Tsunami Tabuna Maliabu, Maluku pada tahun 1998 setinggi 3 meter dan disebabkan gempa 7,7 SR serta memakan 34 nyawa yang meninggal.
  • Tsunami Banggai, Sulawesi Tengah pada tahun 2000 mengakibatkan empat orang meninggal.
  • Tsunami Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pada tahun 2004 sebagai tsunami terdahsyat memakan lebih 250.000 jiwa melayang. Penyebab tsunami berketinggian 34,5 meter adalah gempa dengan skala 9,2.
  • Tsunami Pulau Nias pada tahun 2005 yang disebabkan gempa 8 SR tidak memakan korban jiwa.
  • Tsunami Pangandaran di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang disebabkan gempa 7,7 SR memiliki tinggi gelombang 8,25 meter pada tahun 2006 menelan korban tewas sebanyak 668 jiwa.
  • Tsunami Bengkulu dan Sumatera Barat pada tahun 2007 dengan tinggi 3,8 meter disebabkan gempa 8,4 SR dan juga tidak memakan korban jiwa.
  • Tsunami Mentawai pada tahun 2010 setinggi 7 meter disebabkan gempa 7,2 SR serta mengakibatkan 448 orang luka-luka dan 413 nyawa melayang.
  • Tsunami Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 2018 juga merupakan salah satu tsunami dahsyat di Indonesia dengan ketinggian 11,3 meter yang disebabkan oleh gempa berkekuatan 7,4 SR dan menyebabkan lebih 2.000 jiwa melayang.
  • Tsunami Selat Sunda di Serang, Pandeglang, dan Lampung pada tahun 2018 yang menelan 431 korban meninggal.

Tsunami Terdahsyat

Ada lima bencana tsunami paling dahsyat yang terjadi di Indonesia, yaitu tsunami Selat Sunda tahun 1883, tsunami Flores tahun 1992, tsunami Aceh tahun 2004, tsunami Pangandaran tahun 2006, dan tsunami Palu tahun 2018. Tiga dari tsunami tersebut bahkan juga masuk ke dalam 5 tsunami terdahsyat yang ada di dunia hingga tahun 2018.

peta tsunami Pixabay

1. Tsunami Selat Sunda

Tsunami Selat Sunda terjadi sudah cukup lama, yaitu pada tahun 1883 yang diakibatkan oleh letusan Gunung Krakatau. Tsunami ini menerjang Pulau Jawa dan Pulau Sumatera serta memakan korban jiwa sebanyak 36.000 jiwa. Ketinggian gelombangnya sangat fantastis karena mencapai 41 meter dan menjadi salah satu pemicu menurunnya populasi badak bercula satu.

2. Tsunami Flores

Tsunami Flores pada tahun 1992 juga tercatat sebagai tsunami paling dahsyat di Indonesia. Bencana ini disebabkan oleh gempa berkekuatan 7,8 SR dan gelombang yang terjadi menerjang berbagai daerah selain Flores. Ketinggian gelombang di Flores memang hanya 1,8 meter, tetapi di daerah lain berkisar antara 2 meter, 3 meter, 5 meter, 7 meter, dan 12 meter.

3. Tsunami Aceh

Tsunami Aceh pada tahun 2004 dikenal sebagai tsunami paling dahsyat di dunia yang dipicu oleh gempa berkekuatan 9,3 SR yang disebut setara bom dengan bobot 100 giga ton. Gempa tersebut berpusat pada kedalaman 30 kilometer di bagian bawah kerak bumi. Gempa ini mengakibatkan lempeng Australia dan lempeng Hindia menyeret lempeng Eurasia.

Akibatnya, sebagian lempeng Eurasia masuk ke bagian dalam melalui pergerakan tektonik lempeng. Tidak sampai itu, pergeseran lempeng tersebut secara mendadak menyebabkan salah satu lempeng bergerak ke atas, sehingga terjadilah gelombang tsunami di pantai yang berbatasan dengan selat Hindia seperti Myanmar, Maladewa, dan Aceh.

4. Tsunami Pangandaran

Tsunami Pangandaran, Jawa Barat tahun 2006 juga tercatat sebagai tsunami paling dahsyat di dunia dengan pusat gempa di Samudera Hindia atau sekitar 225 kilometer dari arah barat daya Pangandaran. Ketinggian tsunami tersebut adalah 5 meter dan kerusakannya mencapai sebagian wilayah Jawa Tengah.  

5. Tsunami Palu

Tsunami di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah baru terjadi pada tahun 2018 lalu, tetapi juga menjadi salah satu bencana tsunami terbesar di dunia. Tsunami ini menjadi sangat parah karena juga terjadi bersamaan dengan likuifikasi atau pergerakan tanah di Petobo yang menyebabkan ratusan nyawa hilang begitu saja.

Mitigasi Bencana

Mitigasi merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi kerusakan termasuk yang diakibatkan bencana alam. Mitigasi bencana alam dapat dilakukan setelah melakukan serangkaian analisis terhadap resiko bencana, sehingga dapat dilakukan perencaan mitigasi.

Sementara itu, menurut Ihsan (2017) yang dimaksud mitigasi adalah seluruh tindakan yang dimaksudkan untuk mengurangi dampak akibat bencana. Tindakan tersebut diterapkan sebelum terjadinya bencana yang meliputi kesiapan menghadapi serta upaya pengurangan resiko untuk jangka panjang.

Secara umum ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan mitigasi bencana, khususnya bencana tsunami. Kedua pendekatan tersebut adalah pendekatan fisik dan pendekatan non fisik, yaitu:

1. Pendekatan Mitigasi Fisik

Pendekatan fisik terhadap mitigasi bencana dilakukan dengan menerapkan upaya yang berfisat struktural, non-struktural, serta gabungan antara keduanya. Pemilihan upaya  tersebut sangat bergantung pada keadaan fisik tata ruang, pantai, tata guna lahan, dan juga modal yang ada.

Ada beberapa cara untuk melakukan mitigasi fisik, yaitu sebagai berikut:

a. Pendekatan Non Struktural dengan Sabuk Hijau atau Green Belt

Pendekatan non struktural dengan memanfaatkan sabuk hijau artinya upaya perlindungan area pantai dengan memanfaatkan vegetasi yang memang berhabitat di sekitar pantai. Beberapa vegetasi tersebut adalah pohon api-api, cemara laut, bakau, dan nipah. Hutan mangrove juga dipercaya sangat efektif untuk meredam gelombang tsunami.

Syarat teknis yang harus dipenuhi oleh vegetasi untuk bisa meredam gelombang adalah lebar hutan bakau terhitung dari area pantai hingga ujung hutan mangrove yang tepat menghadap ke laut (B) dan panjang gelombang tsunami (L) yang dirumuskan sebagai B/L harus besar agar upaya mitigasi dapat berhasil dengan memanfaatkan sabuk hijau.

b. Pendekatan Struktural dengan Peringatan Dini

Peringatan dini merupakan salah satu bentuk pendekatan struktural dari mitigasi fisik. Artinya ketika terjadi gempa bumi di dasar laut yang berpotensi tsunami, maka akan segera dikeluarkan pemberitahuan dini untuk bersiap-siap. Ada banyak cara untuk mengeluarkan penyampaian ini baik dengan menggunakan lonceng, bel, atau sirine.

Sehubungan dengan itu untuk bisa mendeteksi potensi terjadinya tsunami, maka diperlukan alat pendeteksi tsunami. Sistem dari peringatan dini ini memanfaatkan alat sensor yang akan mendeteksi satelit, receiver gelombang, dan kenaikan ketinggian air laut, serta langsung terkoneksi dengan alat  untuk memberitahu adanya potensi tsunami.

c. Bangunan Sipil untuk Menahan Tsunami

Bangunan sipil yang berfungsi untuk menahan tsunami sudah diterapkan di negara Jepang yang memang langganan tsunami. Sementara di Indonesia belum ada bangunan sipil dengan manfaat seperti itu. Hanya saja kekurangan dari keberadaan bangunan sipil seperti ini adalah mengurangi nilai estetika dari pantai.

d. Bangunan Sipil untuk Evakuasi

Telah disebutkan sebelumnya bahwa waktu untuk menyelamatkan diri dari tsunami nyaris mustahil untuk dilakukan jika memang sedang berada di sekitar pantai. Oleh sebab itu di sekitar pantai harus ada bangunan sipil yang bisa dimanfaatkan untuk evakuasi apabila ada ancaman tsunami.

Lokasi evakuasi wajib berada di atas lahan dengan ketinggian tertentu dan dilengkapi bangunan yang memiliki ketahanan baik terhadap getaran gempa dan gelombang, serta akses menuju lokasi evakuasi tersebut mudah untuk dijangkau, khususnya bagi orang-orang yang ada di sekitar pantai.

Akan tetapi jika pemukiman penduduk kebetulan tidak berada di wilayah dataran yang elevasinya tinggi, maka pada saat itulah diperlukan bangunan sipil yang memang difungsikan sebagai tempat evakuasi. Bangunan tersebut setidaknya bisa mengurangi kuantitas korban tsunami apabila proses evakuasi ke tempat tinggi berjalan lambat.

2. Pendekatan Mitigasi Non Fisik

Mitigasi bencana melalui pendekatan non fisik dilakukan dengan tiga tahap, yaitu pemetaan, sosialisasi, dan simulasi. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui sejauh apa tingkat kerawanan suatu daerah terhadap bencana tsunami. Setelah itu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan tersebut.

Ada lima poin penting yang harus ada dalam sosialisasi kepada masyarakat mengenai bencana tsunami yaitu pengertian tsunami, faktor-faktor yang menyebabkan tsunami terjadi, gejala akan terjadinya tsunami, dampak yang ditimbulkan dari tsunami, serta bagaimana upaya penyelamatan diri dan evakuasi ketika tsunami terjadi.

Setelah dilakukan sosialisasi, maka perlu diadakan simulasi yang dimaksudkan supaya masyarakat tidak langsung panik ketika ada informasi akan terjadi bencana. Melakukan simulasi juga dapat membantu masyarakat untuk lebih terbiasa mengadapi keadaan genting, sehingga apabila benar-benar terjadi mereka sudah paham yang harus dilakukan.