eutrofikasi
eutrofikasi

Eutrofikasi – Pengertian, Akibat dan Pencegahan

Menjaga keseimbangan ekosistem air wajib dilakukan agar keberlangsungan makhluk hidup tetap terjamin. Kegiatan penjagaan lingkungan juga menghindarkan kawasan dari dampak gangguan, seperti eutrofikasi.

Jika kita pernah mendengar berita mengenai matinya ribuan bahkan jutaan ikan secara mendadak, itu adalah salah satu contoh dari dampak eutrofikasi.

Berikut adalah pengertian, akibat, sejarah, pencegahan serta hal-hal berkaitan dengan eutrofikasi.

Pengertian Eutrofikasi

Eutrofikasi adalah salah satu masalah lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah fosfat (PO43-). Secara mendasar, definisinya adalah pencemaran air yang disebabkan karena munculnya nutrisi yang berlebihan pada ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosporus di dalamnya berada dalam rentang 35-100 ug/L.

Pixabay

Eutrofikasi ialah rangkaian proses alamiah, misalnya pada danau air tawar yang mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Proses air tawar sampai pada kondisi eutrofik memerlukan proses hingga ribuan tahun.

Namun tanpa disadari, proses alamiah ini dapat berjalan lebih cepat akibat aktivitas manusia modern. Sehingga, hitungan proses eutrofikasi akan terjadi hanya dalam beberapa dekade bahkan hanya beberapa tahun saja.

Tak heran jika saat ini eutrofikasi merupakan masalah yang hampir ada pada ribuan danau di seluruh dunia.

Akibat Eutrofikasi

Akibat kondisi eutrofik sebuah kawasan air tawar akan memperbesar peluang alga serta tumbuhan air berukuran mikro tumbuh lebih pesat (blooming). Pertumbuhan pesat tersebut terjadi karena ketersediaan fostat yang berlebihan. Kondisi ini juga akan mengakibatkan sejumlah hal lain, seperti:

  • Warna air yang menjadi kehijauan, berbau tidak sedap, hingga kekeruhan yang meningkat menjadi pertanda adanya kondisi eutrofik.
  • Banyaknya enceng gondok di rawa dan danau-danau juga disebabkan karena fostat yang berlebihan. Kualitas air di banyak ekosistem air pun menjadi menurun.
  • Ikan dan makhluk hidup air lainnya juga tidak dapat bertahan karena konsentrasi oksigen terlarut rendah bahkan sampai batas nol.
  • Rantai makanan akan terganggu karena komponen dalam rantai makanan hilang sehingga memutus mata rantai di ekosistem air tawar.
  • Pertumbuhan alga secara pesat juga bisa menyebabkan hilangnya nilai estetika, konservasi, reaksional, serta pariwisata. Tentu saja perlu biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasi permasalahan tersebut.
danau dan bebek Pixabay

Sejarah Eutrofikasi

Masalah eutrofikasi di ekosistem air tawar baru disadari pada dekade awal abad ke-20. Saat itu, banyak alga tumbuh di danau-danau serta ekosistem air tawar lainnya. Masalah ini disinyalir disebabkan oleh akibat langsung dari aliran limbah domestik.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti unsur kimiawi sesungguhnya yang berperan besar dalam munculnya eutrofikasi. Penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar pun dilakukan. Berdasarkan hasil ilmiah, para peneliti menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen utama diantara nutrient tanaman dalam proses eutrofikasi.

Percobaan skala besar pernah dilakukan pada tahun 1968 di perairan Danau Erie di Amerika Serikat. Percobaan tersebut membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan nitrogen dan karbon tidak mengalami fenomena algal bloom selama delapan tahun pengamatan.

Namun pada danau yang ditambahkan fosfor (dalam senyawa fostat), terbukti nyata mengalami algal bloom.

alga hijau Pixabay

Perhatian saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup pun semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Terlebih setelah menyadari bahwa fostat adalah penyebab eutrofikasi.

Hal ini menuntut pencarian solusi, yaitu ada beberapa kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fostat. Misalnya pada detergen serta limbah manusia.

Ada pula kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pun pernah dicanangkan melalui institusi St Lawrence Great Lakes Basin di Amerika Serikat. Program tersebut dilaksanakan untuk mengontrol keberadaan fostat dalam ekosistem air.

Kemudian lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan fostat serta pembuangan limbah fostat rumah tangga dan pemukiman. Mengganti pemakaian fostat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.

Asal-Usul Fostat

Menurut Morse et al, sebanyak 10% fostat berasal dari proses alami di lingkungan air itu sendiri. Sedangkan 7% dari industri, 11% dari detergen, 17% dari pupuk pertanian, 23% berasal dari limbah manusia, serta yang terbesar dari limbah peternakan sekitar 32%.

pupuk nitrogen Pixabay

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat modern serta kian besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang terbesar lepasnya fosfor ke lingkungan air.

Merujuk pada buku Phosporus Chemistry in Everyday Living, manusia memiliki andil besar sebagai penyumbang limbah fostat. Jumlah fostat yang dikeluarkan manusia secara fisiologis sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya.

Pertanyaanya, berapa jumlah fosfor yang dilepaskan oleh penduduk bumi yang sekarang sudah mencapai 6,3 miliar jiwa? Tentu saja jika dihitung akan menghasilkan angka yang fantastis. Ini belum termasuk fostat yang ada pada detergen.

Tanpa pengelolaan limbah domestik yang baik, tentu dapat dibayangkan bagaimana dampak eutrofikasi bagi lingkungan hidup, terutama pada ekosistem air. Sebenarnya hanya dengan kosentrasi 10 part per billion (ppb/sepersatu miliar bagian) fosfor, blue-green algae sudah bisa tumbuh.

Tak heran jika alga bloom saat ini semakin banyak di ekosistem air. Dalam waktu 24 jam saja, populasinya dapat berkembang 2 kali lipat dengan jumlah ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fostat.

Pencegahan Eutrofikasi

Meskipun merupakan suatu proses alami, namun diperlukan tindakan pencegahan eutrofikasi. Tindakan ini diperlukan agar lingkungan tidak terpapar dampak semakin buruk.

Menggunakan Pupuk Organik

Sosialisasi pemerintah serta komunitas pemerhati lingkungan gencar menyarankan para petani agar menggunakan pupuk organik. Kita tahu bahwa penggunaan pupuk organik lebih bermanfaat untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kebanyakan penggunaan pupuk anorganik yang lebih dominan.

petani Pixabay

Penggunaan pupuk organik dalam pertanian organik seperti kompos sangat bermanfaat dalam mengurangi pencemaran air dan tanah. Pencemaran tersebut biasanya disebabkan oleh fosfat dan nitrat. Selain itu, pupuk organik juga mampu memulihkan kandungan mineral dalam tanah.

Jika penggunaan pupuk organik terus dilakukan, struktur tanah dapat diperbaiki dan aerasi tanah pun akan normal kembali.

Menggunakan Parasitoid

Penggunaan parasitoid untuk mengusir hama lebih aman bagi lingkungan. Populasi hama akan menurun tanpa meninggalkan residu pestisida di dalam tanah maupun tanaman. Pertanian organik semacam ini mulai dikembangkan di berbagai negara maju.

Parasitoid juga mampu membuat tanaman bernilai tinggi dibandingkan dengan penggunaan pestisida. Hasil tanaman pun lebih aman dan layak untuk dikonsumsi. 

Jangan Gunakan Bahan Peledak dan Racun

Pemulihan danau dan sungai dari eutrofikasi dapat dimulai dari kegiatan penangkapan ikan dengan tidak menggunakan racun maupun bahan peledak. Penggunaan kedua metode ini kerap dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab.

Penggunaan racun maupun bahan peledak hanya membuat organisme di sungai akan mati karena sungai yang tercemar. Ikan yang sebenarnya belum layak tangkap pun ikut terjaring karena penggunaan bahan peledak atau racun.

Jangan Membuang Limbah ke Sungai

Pembuangan limbah secara sembarangan juga dapat merugikan ekosistem air sungai. Limbah yang dapat mencemari sungai dapat berasal dari rumah tangga dan limbah yang dibuang oleh pabrik. Pembuangan limbah ke danau atau sungai tentu akan mengakibatkan eutrofikasi.

Perencanaan AMDAL Secara Matang

Pembangunan industri yang berada di kawasan sungai maupun tidak, sudah seharusnya memiliki perencanaan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL sangat diperlukan untuk menjaga ekosistem air maupun di sekitar pabrik agar tidak menyebabkan berbagai masalah yang tidak diinginkan.

saluran limbah Pixabay

Demikian berbagai penjelasan mengenai eutrofikasi dan apa saja dampaknya bagi lingkungan. Semoga dengan artikel diatas dapat menambah wawasan dan kesadaran kita akan pentingnya menjaga lingkungan, termasuk ekosistem air tawar.

Referensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Eutrofikasi | https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/sungai/cara-pemulihan-sungai-yang-mengalami-eutrofikasi